EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 54


__ADS_3

...


 


Bayu menegakkan kepalanya, kelopak matanya terbuka dan dia sedang menatapku, menunggu ucapanku selanjutnya. “Aku tak pernah berpikir tentang adanya malam tanpa tertidur, ternyata itu benar adanya, bukan sebuah kebohongan dan itu akan membuatku menjadi lebih kuat. Lalu apa itu cinta? Jika ada jawabannya, aku ingin tahu saat ini juga. Aku terpuruk, aku bisa melihat cahaya dalam keterpurukkan itu, dalam gelapnya malam, fajar akan datang.”


Aku merasakan tangannya mengusap puncak kepalaku. Seperti sudah lama sekali aku tidak merasakannya.


 


“Ada keindahan dalam segala hal, hanya saja tidak semua orang melihatnya.” Katanya, refleks aku menatapnya yang juga sedang menatapku dengan sorot mata lembutnya.


“Ketika aku memejamkan mata, dalam kegelapan ada cahayamu. Kita bisa terus berjalan tanpa rasa takut. Putuskan sendiri  apa artinya kebahagiaan. Setiap hari mengambil langkah untuk tumbuh dewasa. Tapi tak masalah kadang-kadang menunjukkan kelemahanmu, tidak apa-apa menjadi diri sendiri. Jangan membohongi dirimu sendiri lagi, hm?”


Pandanganku sudah memburam, mataku memanas dan tenggorokkanku sakit menahan tangis. Aku tidak ingin menangis di hadapannya tapi ucapan Bayu seolah menyadarkanku jika aku tidak harus selalu memakai topeng. Aku yang juga harus melangkah maju dan keluar dari keterpurkkanku.


 


Dia menyemangatiku dan sepenuhnya membiarkan aku bebas berpikir dan memutuskan. Pesan tersirat dari matanya menunjukkan jika dia akan ada untukku.


Tidak bisa di tahan, aku tersenyum mendengarnya lalu merasakan setetes air mata jatuh membasahi pipiku. Seharusnya aku lebih bersyukur dengan adanya lelaki ini di sampingku. Dia selalu memperjuangkan cintanya padaku. Tapi aku merasa belum cukup memperjuangkannya selama ini. Aku hanya kabur seperti seorang pengecut.


“Aku mencintaimu.”


Kedua mata Bayu melebar mendengar ucapanku. Aku terkekeh pelan sembari mengusap pipiku. Mataku terus saja


mengeluarkan air mata. Perpaduan antara sesak di rongga dadaku dan kehadiran Bayu yang membuat jantungku berdetak cepat.


“Kamu masih demam. Lebih baik kau istirahat sebelum penerbangan kita beberapa jam lagi.” Aku menahan tangan Bayu yang mencoba menarikku untuk bangkit. Dia kembali duduk di sampingku dengan pandangan khawatir.


“Maafkan aku. Selama ini aku belum cukup memperjuangkanmu. Aku hanya memikirkan bagaimana perasaanku saja.”

__ADS_1


Bayu menggeleng pelan, menggenggam kedua tanganku dengan erat lalu menjawab. “Cinta adalah tentang komitmen, kesabaran, dan kepercayaan kita kepada orang yang kita rasa tepat bagi kita. Aku menunggu saat aku merindukanmu setiap hari. Ada begitu banyak perasaanku padamu yang harus kulepaskan, berada di dalam level di mana susunan itu tak bisa kembali ke bentuk semula. Biarkan saja dan jangan menangis.”


Justru aku semakin terisak pelan mendengarnya. Aku menutup kedua mataku dengan tangan kananku, berharap rasa sesak ini menghilang.


“Aku akan menunggumu, mari kita mulai dari awal lagi. Agar aku bisa menemuimu lagi dengan sebuah senyuman.” Katanya lembut.


 


Aku ingat tadi siang, saat Bayu menarikku. Dia sama sekali tidak tersenyum padaku. Dia bahkan mengabaikanku.


“Bahkan melewati seratus tahun pun, asalkan setelahnya aku bisa berjalan bersamamu. Aku baik-baik saja. Bisakah aku menjadi milikmu?” Ungkapannya membuat jantungku berdetak sangat cepat, aku takut jika Bayu sampai mendengarnya.


Dia menatapku sangat serius. Jari-jari tangannya mengusap pipiku. Menghapus tetesan air mata dari sana. Kehangatan yang tulus ini, semoga bertahan selamanya. “Aku tak punya cukup banyak kata, aku akan berkata apa adanya. Bisakah aku menyentuh hatimu? Aku ingin kau percaya, aku pasti akan mendapatkanmu.”


Kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku. Ketulusannya menyentuh hatiku. Dia memberikan cintanya. Dia membuatku menjadi gadis paling beruntung di dunia ini.


 


Lelaki ini menatapku setelahnya, menghembuskan napasnya dan mengangguk pelan. “Sejak dulu, Hari yang padat, aku terus menyibukkan diriku, untuk mengalihkan perhatianku, aku mengisi jadwalku. Tapi aku tak bisa melupakanmu, seakan namamu telah terukir dan melekat di hatiku seperti tattoo.”


Aku terkekeh pelan mendengar jawabannya. Aku sedikit menjauhkan kepalaku agar terlepas dari kedua tangannya,


wajahku memanas karena malu dan tentu saja aku tidak ingin Bayu menyadari itu.


“Aku akan menceritakannya.”


“Apa?”


“Alasan dulu aku memutuskanmu.”


Bayu menatapku serius, dia diam menungguku berbicara. “Tapi sebelum itu, tolong jangan mengasihaniku, hm?”

__ADS_1


Lelaki ini mengangguk pelan, memiringkan posisi duduknya untuk lebih nyaman menatapku. Aku menyadarkan


punggungku di sandaran kursi kayu ini. Menghembuskan napas pelan dan merapatkan selimut yang sejak tadi melingkar di sekitar bahuku. Aku merasa gugup jika harus menghadapnya untuk menceritakan masalahku, jadi aku hanya menatap ke depan, ke langit yang masih di penuhi bintang.


Lalu semuanya mengalir begitu saja saat aku menceritakan bagaimana ayah dan ibu bercerai ketika umurku enam tahun karena aku yang mengetahui ayah berselingkuh dan mengatakannya pada ibu. Ayah menyalahkanku karena aku yang terlalu cerewet, lalu semenjak saat itu ibu berubah


Dia selalu menyalahkanku atas apapun yang terjadi, ibu juga menuntutku banyak hal salah satunya tentang uang hingga ketika lulus SMA aku yang ketakutan Bayu akan di manfaatkan oleh ibu, mengingat ibu pernah memanfaatkan pacarku saat SMP dan bahkan tak jarang teman-temanku juga, hingga mereka yang tidak tahan menjauhiku.


Akhirnya aku memilih menjauh dan menyibukkan diri dengan aktifitas bekerja dan kuliah. Sampai pada akhirnya aku mengetahui kalau Daniel lah yang selama ini aku biayai sekolahnya sampai kuliah, aku yang membayar semua hutang investasinya yang justru dia sendiri menyewa seseorang untuk membuatku menderita.


Bayu mendengarkanku tanpa menyela sedikitpun. Dia menatapku tanpa mengalihkan pandangannya sejak tadi. Memperhatikan wajahku dari samping. Tubuhku terlalu lelah dan ingin sekali beristirahat namun tidak bisa. Aku tahu mataku sudah sangat sayu, ingin terpejam tapi otakku seolah tetap bekerja dan tidak ingin beristirahat. Karena itulah aku tidak sanggup lagi menangis ketika menceritakan semua itu.


“Jadi separah itu? Tapi dia ibu kandung—“


“Aku rasa bukan.” Aku memotong ucapan Bayu.


“Aku baru dengar akhir-akhir ini. Ibu tanpa sengaja mengatakan jika aku anak tiri bibi Rose, orang yang begitu


perhatian padaku dan yang mewariskan semua hartanya padaku. Yang membuat ibu dan ayah memperebutkannya. Mungkin alasan itulah Daniel membeli racun untuk membuatku menderita. Mungkin dia sudah tahu sejak awal jika aku bukan kakak kandungnya.”


“Apa kamu sudah mencari tahu kebenaran informasi mengenai perkataan terakhir ibumu itu?”


“Belum. Sebenarnya setelah pertengkaran kita terakhir kali aku tidak di rumah, aku cuti kerja dan kuliah.


Aku--” Aku menghentikan ucapanku, melirik Bayu sekilas. Dia tampak mengerutkan kening menunggu jawabanku.


Apa aku harus mengatakannya juga? Masalah tentang keluargaku saja membuatku malu jika berhadapan dengan lelaki ini. Terlebih kalau dia tahu bahwa aku sakit, apakah dia akan menjauhiku dan meninggalkanku? Tapi, sejak memutuskan untuk menceritakan masalahku ini aku sudah tahu bahwa aku mempercayainya.


 


...

__ADS_1


__ADS_2