
...
Lamunanku buyar saat mendengar suara getaran ponsel pertanda ada panggilan masuk. Aku segera menatap ke layar dan menemukan wajahku di sana. Ini panggilan dari Camila, dan dia menelponku dalam mode panggilan video.
Aku tersenyum lebar, rasanya sangat rindu dengan teman-teman kantor. Sebelum menjawab aku segera merapihkan rambut dan baju pasien ini sebentar lalu segera menjawab.
“Hai!!!” Aku memekik senang begitu layar ponsel menunjukkan wajah Camila dan beberapa wajah lain yang berdesak-desakan di sampingnya.
“Ohh ibu Icha! Beneran di rumah sakit? Tapi wajahnya ko engga keliatan sakit?” Camila bergurau senang membalas senyum lebarku.
“Ibu?? Tolong itu kedengaran menggelitik.” Jawabku menghela napas panjang. Mereka semua jarang sekali memanggilku Ibu mengingat umurku yang paling muda di antara semuanya, aku tidak keberatan kalau mereka memanggilku nama saja. Hanya dalam situasi formal tertentu mereka akan menyebutku ibu Icha.
“Ibu kepala bagian, gimana kabarnya? Sakit apa?” Itu pertanyaan Rima
“Hanya luka jahit kecil.”
“Sampai di jahit? Ini aku jago menjahit.” Aku bergidik membayangkan Kiki yang menjahit luka ku.
“Itu luka! Bukan baju sayang!” Meski wajah Tiwi tidak terlihat di layar, tapi aku mendengarnya menjawab pada Kiki.
“Gimana ceritanya sampai luka gitu?” Kali ini Bela yang bertanya penasaran, mengambil alih ponsel dari tangan Camila.
Aku meringis dan menjawab. “Jatuh. Kemarin ada acara di vila puncak. Udah enggak apa-apa ko sekarang.”
“Eh tapi ngomong-ngomong gimana soal kerjaan di sana? Aman?” Tanyaku cepat sebelum mereka semua bertanya lebih lanjut tentang kejadian di Vila.
“Hari ini udah closing, beres. Pak Yudha juga ikut membantu.” Bela menjawab pertanyaanku.
“Oh syukur kalau gitu.”
“Tapi Pak Ginanjar marah-marah karena kamu cuti lagi.” Bisikkan Camila membuat mereka semua menatapnya.
“Dia marah-marah?”
“Kapan?”
“Gimana marahnya?” Tiwi, Rima dan Kiki justru penasaran dengan cerita Camila.
“Marah-marah di bawah gitu, tadi aku lewat juga dia yang lagi sama tim marketing kaya ngingetin mereka untuk jangan selalu cuti.” Bela menceritakan.
“Pak Ginanjar kan kalau marah-marah jadi nyindir-nyindir gitu.” Lanjut Camila padaku.
“Yaah udah enggak aneh sih marahnya pak Ginanjar emang kaya gitu.” Jawabku menanggapi.
__ADS_1
“Jadi inget waktu dia marah-marah di depan kita berdua.” Kata Camila padaku. Refleks aku tersenyum kecil dan mengangguk mengingatnya.
Kejadian itu terjadi pada saat aku baru di pindahkan lagi dari kantor cabang timur setelah membantu selama enam bulan admin di sana dan kembali. Suasana kantor sedang panas karena mendekai closing bulanan dan target marketing belum tercapai, Camila yang memang sering berhubungan dengan tim marketing di panggil oleh Pak Ginanjar lalu memanggilku juga.
“Yaa. Dia marah-marah sembari menggebrak meja.” Aku menjawab.
“Eh udah jangan ngomongin pak Ginanjar aja! Cha, kita menelpon karena mau ngabarin.” Rima menginterupsi suasana yang sempat suram.
“Tadinya kita mau ngejenguk, tapi ayah dari OB Dani meninggal tadi siang, perwakilan tim marketing dan tim service udah berangkat dari tadi jam lima. Jadi sepertinya kita menunda kunjungan ke sana.”
“Oh ya enggak apa-apa!! Kalian pergi saja sebagai perwakilan divisi admin, dan tolong sampaikan belasungkawa dariku juga.”
“Oke Cha, semoga cepet sembuh cha.” Kali ini wajah Tiwi muncul di layar dan tersenyum lembut padaku.
Aku balas tersenyum dan mengangguk. “Dan jangan lupa uang—”
“Udah di siapkan dari kas kecil, sesuai ketentuan.” Bela menjawab cepat. Sekali lagi aku mengangguk tersenyum lebar.
“Rencananya kapan bisa keluar dari rumah sakit, Cha?” Tanya Kiki
“Besok sepertinya udah bisa pulang.”
“Ladies, mobilnya udah siap.” Itu suara Yudha, wanita-wanita yang ada di layar ponsel ini serentak melirik ke arah yang sama.
“Apa Yudha mau nganterin kalian?” Tebakku. Camila mengangguk dan mereka semua mulai bubar dari depan kamera, sepertinya akan beres-beres.
“Pak Yudha, ini Icha.” Camila tiba-tiba menyerahkan ponselnya, untuk sesaat gambar di layar berubah gelap tak karuan hingga beberapa detik kemudian yang memenuhi layar adalah wajah pria itu.
“Tidak tidak! Sepertinya besok juga sudah bisa pulang. Yudha, tolong jaga mereka ya. Maaf aku sepertinya merepotkanmu lagi.”
Matanya yang seperti mata kucing itu mengkerut semakin meyipit, dia tersenyum lebar padaku. “Jangan terlalu memikirkan yang di sini, kamu harus cepat sembuh. Tenang saja aku akan membantu mereka.”
“Yaa, tolong awasi mereka ya. Kalau ada yang nakal laporkan saja padaku.” Kataku setengah bergurau.
“Icha!! Meja Camila berantakkan terus!” Terdengar suara teriakkan Rima dari balik layar. Di antara semua meja memang meja Camila yang selalu berantakkan.
“Aku sudah membereskannya! Akan rapih kalau udah closing.” Itu pembelaan Camila yang juga berteriak di belakang.
Aku tertawa mendengarnya, sangat merindukan suasana kantor.
“Pokoknya, kalau ada apa-apa, kau bisa mengabariku.” Yudha mengangguk menjawab perkataanku.
“Kalau begitu, selamat beristirahat. Cepat sembuh.” Ucap Yudha sekali lagi.
“Yaa terima kasih, kalian hati-hati di jalan.” Setelah mengatakan itu dan mendapat anggukan Yudha, panggilan video terputus.
__ADS_1
Setelah sambungan terputus tiba-tiba aku memikirkan tentang ayah dari office boy Dani yang meninggal. Memikirkan tentang ayahku yang saat ini masih ada meski aku tahu kalau dia bukan ayah kandungku, tapi selama hidupku ini, sosok ayah yang aku kenal adalah dia.
Kembali lagi pada kenyataan tentang ayah yang kembali lagi menemuiku setelah bertahun-tahun bukan untuk memuaskan rasa rindunya padaku, tapi karena dia membutuhkan sesuatu padaku.
Bohong kalau aku merasa kecewa, tapi hati kecil ku juga tidak bisa mengabaikannya.
Sebelum pikiranku memutuskan, tubuhku sudah bergerak lebih dulu. Aku turun dari atas tempat tidur, memakai sandal dan mulai melangkah mendekati pintu tidak lupa sembari mendorong tiang infus di tangan kananku.
Akuhanya ingat di lantai 6 dan lupa nomor berapa ruang rawatnya hingga meminta bantuan suster Lia yang berjaga untuk memberitahukan padaku.
Sepanjang perjalanan menuju lantai 6 dan kamar rawat nomor 923, aku terus memikirkan tindakanku ini, boleh kah aku datang melihat? Apa tidak apa-apa aku untuk berkunjung mengingat bagaimana sikap ayah.
Kalau nanti istrinya itu tidak menyukaiku dan sikapnya sama saja dengan ayah bagaimana? Aku pasti akan semakin membenci mereka ‘kan?
Tapi kalau aku tidak mempedulikannya dan balas membenci mereka bukan kah sama saja aku seperti mereka?
Setidaknya aku ingin berpikir positif tentang ayah, mungkin dia bersikap begitu padauk karena dia sedang kesusahan. Sejatinya manusia tidak ada yang benar-benar jahat.
Aku sudah sampai di depan pintu kamar inapnya, ada tiga nama lainnya yang tertera di samping pintu selain nama Hanna Davindra. Di lantai ini adalah kamar rawat umum yang satu kamar di isi oleh empat sampai enam orang, berbeda denganku yang Bayu menempatkanku di ruang VIP.
__ADS_1
...