
...
Tingginya yang tidak lebih jauh dari ku memudahkan ku untuk menyudutkannya seperti ini.
“Siapa yang menyuruhmu menabrak kami??”
“A—apa? A—aku tidak tahu! Aku hanya mengantuk tadi.”
“Jangan bohong! Kau ingin menabrak taksi di jalan sepi seperti ini? Apa kau berpikir kalau keluarga supir itu di rumah sedang menunggunya pulang dengan selamat? Apa kau berpikir kalau penumpang di sana salah satunya baru saja kehilangan suaminya malam ini? Apa kau berpikir kalau pengendara motor yang hampir kau tabrak itu adalah suamiku?! Bagaimana kalau suamiku tidak dengan cepat melompat dari motornya sehingga melukainya?!”
“A—aku tidak tahu! Sungguh!” Katanya dengan wajah penuh keringat. Dia terlihat sangat gugup dan takut.
Aku semakin jijik melihatnya dan semakin menekan lehernya.
“Icha. Biar polisi yang mengurusnya.” Suara Camila terdengar di belakangku.
“Kau masih tidak mau mengaku? Aku akan melukaimu dengan kaca ini dan menyuruh saksi di sini untuk mengatakan kalau kau terluka karena kecelakaan.”
“Ha ha ha. Kau? Kau mana berani.” Nada bicara pria ini berubah meremehkan. Aku hendak memukulnya tapi dengan tarikkkan bahuku dari belakang, Bayu berhasil menjauhiku dari pria itu.
“Tenang Boo, biar aku saja.” Katanya lembut ketika aku memberontak untuk melepaskan diri.
Aku memperhatikan Bayu yang melangkah mendekatinya, pria itu ketakutan dan hendak kabur tapi Bayu sudah menangkapnya dan tanpa di duga langsung memukul wajah si penabrak hingga aku bisa mendengar suara berderak.
“Arrrgggghh sakit!” Jeritnya memegangi hidunya.
“Katakan sekarang siapa yang menyuruhmu? Atau aku mematahkan tangan dan kakimu.” Kata Bayu penuh ancaman.
Sekarang aku bisa merasakan aura yang menakutkan dari lelaki ini. Ingin menghentikannya tapi egoku berkata lain.
Bayu melangkah mendekat dan akan merah tangan pria itu tapi dengan cepat dia menjerit minta ampun sambil mengangguk keras-keras. “B—baik, akan aku katakan.”
“Kalau kau bohong, aku akan tahu!” Jawab Bayu sembari satu langkah mundur.
“Seseorang memberiku uang untuk menabrak kan mobil di jalan yang sepi di sini, aku b—baru saja di beritahu jamnya. Aku tidak tahu kalau i—itu ada orang lain.”
“Ada orang lain? Memang nya siapa yang ingin kau celakai?” Tanyaku tidak sabar melangkah maju untuk berdiri di samping Bayu.
Supir taksi, Camila dan seorang pria yang lewat dan turun untuk melihat apa yang terjadi, semuanya diam menunggu apa yang akan di katakan pria ini selanjutnya.
__ADS_1
“K—katanya, aku harus bisa menabrak wanita yang baru saja kehilangan suaminya.”
“Apa?? Kau menargetkan aku?!” Camila melangkah maju, menatap tidak percaya pria ini.
“Hanya itu! Aku hanya tahu itu saja! Sungguh, aku tidak tahu apa-apa lagi!!” Dia cepat-cepat mengatupkan kedua tangannya, meminta pengampunan agar kami tidak memukulnya lagi.
Sebuah dugaan tiba-tiba terlintas dalam pikiranku, mungkin kah kecelakaan Dimas adalah sesuatu yang di sengaja?
Namun suara sirine polisi membuyarkan lamunanku, warna lampu terang biru dan merah memenuhi tempat kejadian, kami langsung di intrograsi apa yang terjadi dan si penabrak langsung di borgol.
***
Perlahan, tempat kejadian kecelakaan di penuhi oleh polisi dan beberapa media. Aku menatap jam tanganku yang menunjukkan hampir pukul satu pagi. Udara semakin dingin tapi keributan terdengar di sekeliling kami.
“Sudah selesai. Ayah dan bunda sudah tahu tentang ini. Sebentar lagi Zac akan sampai untuk menjemput kita.” Bayu muncul di belakangku, aku mengangguk dan segera menempatkan diri di sampingnya, melingkarkan
tanganku di sekeliling pinggangnya, menyandarkan kepalaku di dadanya untuk mencari kehangatan di sana.
Meski Bayu sedang berkonsentrasi dengan ponselnya, tapi satu tangannya yang lain balas merangkul bahuku.
Ketika aku menguap lebar baru lah lelaki ini menyimpan ponselnya ke saku celana lalu memelukku dengan kedua tangannya. “Kau ingin tidur?”
“Di sini?” Tanyaku.
“Aku bisa menggendongmu, kau pejamkan mata saja dan pura-pura sudah tidur nyenyak, jadi kalau orang-orang menanyakan apa yang terjadi padamu, aku akan bilang kau sudah tidur karena ngantuk berat.” Usulnya yang terdengar sangat manis di telingaku.
“Bisakah?” Tanyaku antusias.
Bayu mengangguk. “Tentu saja bisa!”
Masih dalam pelukannya, aku tertawa kecil sembari mengeratkan pelukanku. Suara tawa Bayu semakin membuatku senang.
__ADS_1
Suara klakson mobil terdengar untuk mengalihkan perhatian kami. Tak jauh di belakang garis polisi, ada mobil jeep hitam dengan nomor plat yang sudah sangat aku kenal.
“Itu Zac. Ayo kita pulang.” Aku mengangguk senang sembari melepaskan pelukan kami. Lelaki ini kemudian menggenggam tanganku untuk menuntun ku menuju mobil polisi yang di dalamnya si penabrak sudah terborgol.
“Pak, kami pamit pulang. Kalau ada apa-apa bisa menghubungiku ke nomor yang tadi.” Kata Bayu pada polisi yang ada di depan pintu.
“Baik. Hati-hati di jalan. Terima kasih atas kerja samanya, Bayu dan Natasha.” Pria di hadapan kami mengulurkan tangannya, aku dan Bayu balas menjabat tangan sambil mengangguk. Senang rasanya semua urusan ini sudah di serahkan pada polisi.
“Natasha Icha? Namamu Natasha Icha Danendra?” Suara tertahan dalam kaca mobil membuatku refleks berbalik, menatap si penabrak yang menatapku kaget.
Seluruh wajahnya menempel di kaca seolah dia ingin menembus itu untuk bisa melihatku lebih jelas.
“Diam!!” Bentak polisi yang baru saja bersalaman denganku.
“Apa hukumanku akan di ringankan kalau aku memberi informasi?” Teriak nya dalam mobil.
Aku melirik Bayu yang juga sedang melirikku, kami sama-sama diam dan memandang petugas polisi meminta persetujuannya.
“Buka kacanya.” Perintahnya pada polisi lain yang berdiri di sisi pintu kemudi. Setelah kaca di buka, pria ini menatapku penuh perhatian dengan senyum misterius yang tampak ganjil dan menakutkan.
“Katakan! Informasi apa?” Tanyaku tidak sabar.
“Orang itu mengatakan sesuatu tentang menjemput pulang.”
“Apa??”
“Orang misterius itu yang menyuruhku melakukan ini, aku sempat mendengarnya berbicara di telpon kalau mereka akan menjemput gadis bernama Natasha Icha Danendra! Kalau begitu, bukan kah kau harus siap-siap? Kau pasti tidak pernah menyangka suami temanmu itu dan kau sendiri ada yang menghubungkan kalian? Hahahaha.”
“Siapa?!! Katakan siapa?!” Aku kesal sekali melihatnya tertawa, tidak mempedulikan polisi yang ada di sekeliling kami, aku menerjangnya dan menarik kerah bajunya dari jendela mobil yang terbuka.
Namun yang aku dapatkan justru pria ini tertawa puas akan reaksiku, aku juga merasakan Bayu menarikku menjauh dan polisi yang tadi berjabat tangan denganku berusaha menghentikanku juga.
Sebelum kaca mobil benar-benar tertutup sepenuhnya, aku masih melayangkan tatapan setajam yang aku bisa tapi pria itu sudah gila! Dia justru tertawa semakin puas.
Aku tahu! Sejak kejadian orang yang mengikuti kami dari toserba juga kecelakaan ini pasti ada hubungannya. Bahkan Dimas, suami Camila yang selama ini aku kenal, entah benang apa yang menghubungkan kami tapi yang jelas aku punya firasat kalau itu bukan suatu hal yang baik.
__ADS_1
...