
...
Sekali lagi aku tidak bosan menatap matanya yang sehitam samudera tengah malam, mata kami terkunci, ada lesung pipit kecil tampak di pipinya ketika dia tersenyum, hampir tidak terlihat tapi kalau di selidiki dia memang punya itu sedari dulu. Karena terlalu terpesona dengan tatapannya, aku hampir melupakan yang itu.
Suhu tubuhku naik beberapa derajat. Tatapan itu membuat kulitku panas. “Kau ingin apa?” Tanyaku.
“Sepertinya banyak sekali yang sedang kau pikirkan. Terlihat jelas di wajahmu.” Tangannya terangkat untuk menangkup wajahku.
“Bisakah aku ikut denganmu saja?” Tanyaku menyerah untuk terlihat baik-baik saja.
Bayu tertawa kecil. “Aku juga berpikir seperti itu.”
“Benarkah?”
“Tapi—” Kata Bayu cepat. “Pekerjaanku saat ini tidak memungkinkan untuk menetap. Kalau ada hari senggang, aku pasti akan menyempatkan pulang dalam enam bulan ini. Aku akan mengabarimu terus. Lagi pula kau juga punya tanggung jawab di sini, aku tidak ingin kau menyerah semua itu untukku. Aku akan berusaha bekerja keras untuk membanggakan mu.”
Entah kenapa tenggorokkan sakit dan mataku mulai berair, rasanya sedih sekali membayangkan dia tidak akan ada di sampingku selama enam bulan ke depan padahal pertemuan kami lagi setelah bertahun-tahun hingga saat ini tidak sampai enam bulan, bahkan tidak sampai dua bulan.
Bayu justru tertawa kecil melihatku yang cemberut di penuhi air mata di pelupuk mata, dia lalu menarik ku ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk pelan punggungku yang kontan saja membuatku langsung menangis di dadanya.
“Ya ampun.” Keluhku. “Aku tidak berniat menangis.” Aku segera menarik diri dari pelukannya, mengusap pipiku yang basah dengan punggung tangan.
Dia tertawa, Matanya melebar dan menatapku bulat-bulat. Senyumnya benar-benar nakal tapi lebih lembut. Sesuatu di balik perutku bergejolak.
“Aku sayang kamu.” Bisiknya sembari mencium puncak hidungku.
“Lalu?” Aku menggodanya.
“Aku cinta kamu.” Katanya kali ini mencium pipiku. Aku tertawa geli sembari tanganku menyentuh dadanya.
“Apalagi?”
“Aku milikmu. Cintaku. Tubuhku.” Lelaki ini mendekatkan mulutnya ke mulutku. Sentuhan pertama terjadi begitu saja—seperti sebuah sentuhan. Suatu kelembutan yang menggoda, membangkitkan gairah. Aku menjilat bibir dan senyum Bayu melebar.
“Lagi?” Dia bertanya.
Aku menyusupkan tanganku ke rambutnya, menariknya lebih dekat. “Lagi.”
__ADS_1
***
“Icha?”
“Ya.” Jawabku berteriak dari kamar. “Ini sudah selesai.” Setelah memandang bayanganku di depan cermin dan sedikit membubuhkan lipstik. Gaun koktail berwarna biru tua selutut dengan panjang lengan sampai siku, di padukan dengan rompi hitam. Aku memang jarang memakai rok untuk bekerja, tapi aku ingin tampil cantik di depan Bayu.
Lalu aku segera meraih tas kerjaku dan berlari kecil menghampiri Bayu yang menunggu di pintu depan.
Aku menghambur ke arahnya, ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat.
“Kau salah.” Gumannya di telingaku. “Kau sangat tidak pantas—tak seorang pun boleh terlihat begitu cantik dan menggoda, itu tidak adil.”
“Menggoda gimana? Aku bisa ganti…..”
Bayu mendesah, menggeleng-gelengkan kepala. Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku.
Jemarinya perlahan menelusuri dagu dan naik ke bibirku, aku terasa membeku saat dia memiringkan kepalanya perlahan dan menyentuhkan bibirnya ke bibirku.
Setelah ciuman singkatnya, aku mendorongnya menjauh. “Kita harus berangkat sekarang.” aku ingat Lucy dan Dika yang menunggu di mobil luar gerbang.
Bayu menatapku dengan senyum menggodanya tapi dia mengangguk juga. Kemudian aku berbalik untuk mengunci pintu, lalu memakai sepatu heels hitam ku yang kali ini aku putuskan memakai yang tiga senti saja.
Semuanya siap dan Bayu meraih tanganku, menggandengku menuju mobil yang menyala. Tidak lupa mengunci pintu gerbang.
Pandanganku tidak sengaja melihat ibu-ibu yang sedang membeli sayur di gerobak pagi biasanya. Salah satunya ada ibu Lulu, aku tersenyum dan mengangguk pada ibu RT yang di balas senyuman olehnya.
Wanita itu sudah tahu kalau aku menikah lusa kemarin, berharap dia akan mengatakannya pada ibu-ibu yang sedang menatapku ini, agar tidak menimbulkan gosip berlebihan karena mendapati aku keluar dari dalam rumah bersama seorang laki-laki.
Ternyata Lucy sudah menunggu di depan pintu mobil yang terbuka, Bayu mempersilakan aku masuk terlebih dahulu sedangkan Dika, dia juga berdiri di pintu mobil sisi lain menunggu Bayu.
Setelah memastikan pintu mobil di sampingku tertutup, Bayu justru berjalan memutar untuk mencapai sisi lain, sekilas aku tahu kalau Bayu bertemu pandang dengan bu Lulu, dia sempat menyapa padanya sebelum masuk ke sisi pintu lain.
Dalam hitungan detik, Dika dan Lucy sudah di dalam mobil jok depan, Dika yang menyetir segera melajukan mobil, menjauhi pekarangan rumah.
__ADS_1
.
..
…
Sepanjang perjalanan, Bayu menggenggam tanganku, tidak melepaskannya meski dia harus merogoh saku celana untuk menjawab panggilan telpon. Manis sekali.
Kesedihanku tadi seolah terlupakan begitu saja, meski kami sedang dalam perjalanan mengantarnya dan, waktu kami bersama tinggal hitungan menit, tapi aku merasa sangat bahagia hanya seperti ini. Menggenggam tangannya. Menemaninya.
Seperti kata orang-orang, bahagia itu sederhana.
Dika dan Lucy berkonsentrasi menatap ke depan, menghiraukan kami yang duduk saling berdempetan.
“Oh ya ngomong-ngomong, Dika tidak akan ikut bersamaku karena kondisi tugas-tugas yang harus aku selesaikan dengan tim. Jadi, mereka berdua akan menjagamu.”
“Apa? Tapi dua keamanan membuatku tidak nyaman. Aku kira hanya Lucy.” Bayu menepuk genggaman tangan kami dengan tangan lainnya yang bebas.
“Aku akan lebih tenang kalau ada yang menjagamu dua puluh empat jam.” Katanya serius.
Aku melirik Dika dan Lucy yang sesekali melirikku. Seolah sedang menunggu tanggapanku. Kalau Bayu sudah menanggapinya dengan serius, aku tidak bisa membantah. Tapi aku tidak akan mau ditemani dua keamanan sekaligus, mungkin aku akan menjadwalkan mereka dalam sift. Bagaimanapun mereka juga butuh istirahat.
“Kau sudah menemukan caranya.” Tukas Bayu, itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan.
Lalu aku merasakan mobil melaju lebih pelan, ternyata kami sudah ada di depan pintu gerbang markas besar, seorang pria bersenjata berlari mendekati mobil.
“Oh? Apa seharusnya kita mengantarmu sampai sini?” Tanyaku melirik Bayu.
Lelaki ini menggeleng dengan mata memperhatikan percakapan singkat Dika dan penjaga gerbang.
Ternyata kami di perbolehkan masuk, jarak dari gerbang depan sampai ke gedung utama lumayan jauh, aku belum pernah masuk ke markas tentara.
“Hari ini mobil luar boleh masuk karena memang banyak keluarga yang akan mengantarkan kepergian para tentara.” Katanya. Sebelum aku menjawab, perkataannya terbukti ketika mobil ini semakin dekat ke lapangan luas tepat di depan gedung besar.
Orang berseragam kamuflase hijau ada dimana-mana, tas-tas besar lainnya tampak tergeletak di samping bersama mereka yang sedang mengobrol dengan keluarga masing-masing. Ada anak-anak dan kebanyakan wanita.
“Kalau aku tidak mengusulkan ide untuk mengantarmu, apa kau akan sendirian di antara keluarga yang mengantar ini?!” Tanyaku sembari menatapnya penuh ancaman.
...
__ADS_1