
...
Secangkir latte caramel hangat menemaniku dan sudah hampir habis, aku ingin tambah lagi tapi sepertinya aku harus berhenti. Terlalu banyak kafein ketika aku kurang tidur bukan hal baik.
Lalu mataku berhenti menatap pintu kamarku. Ayah masih tidur di dalam sana, apakah harus aku lihat keadaannya?
Ya! mungkin aku harus memastikannya baik-baik saja.
Aku yang perlahan bangkit dan jalan perlahan menuju pintu, meraih gagang pintu yang terasa dingin di telapak tangan. Di atas kasur pria paruh baya itu masih tertidur dengan napas yang teratur.
Tidak ingin mengganggu, akhirnya aku hanya menatapnya sebentar dari ambang pintu lalu kembali menutupnya. Begitu aku berbalik, Bayu sudah berdiri di hadapanku, dia tersenyum kecil lalu berkata. “Jack mengatakan jika obat bius itu tidak mengandung dosis yang tinggi. Maka dari itu kamu harus tidur dan istirahat sekarang. Aku dan semua anggota timku akan berjaga di sini.”
“Bukankah kalian juga harus istirahat? Apa tidak apa-apa memanggil semua anggota tim mu untuk bekerja? Aku kira kalian sedang masa libur.” Bayu menggeleng kecil dan menarikku pelan menuju kursi meja makan yang tadi aku duduki.
Lelaki ini ikut duduk di kursi samping kiriku. “Sebenarnya aku sudah memikirkan ini sejak kau tahu--kita bertemu lagi. Boleh aku mengatakannya?”
“Apa?” Aku mengerutkan kening heran dan waspada yang justru membuatnya terkekeh pelan melihat ekspresiku. Tangan kanannya terangkat, mengusap keningku sampai kerutan itu perlahan hilang seiring dengan usapannya.
“Kau semakin cantik—“
“Tentu saja! Itu tidak di ragukan lagi. Sekarang katakan yang sebenarnya, engga usah basa basi!” Aku melipat kedua tangan di atas perut, siap untuk mendengarkan apapun.
“Sshhh.. Sepertinya semua itu tidak mempan lagi.” Aku mencubit kecil lengannya begitu kilatan jahil melintas di sorot matanya. Bayu terkekeh pelan lalu detik berikutnya tatapan matanya berubah lebih serius.
“Apa ada sesuatu yang menganggumu? Aku sering kali melihatmu diam seperti sedang memikirkan sesuatu.” Bayu bertanya lembut padaku. nadanya yang tidak ingin terkesan memaksa ini entah mengapa membuatku begitu menganguminya.
Aku selalu suka caranya berbicara. Tidak terlalu cepat tapi tidak terlalu lambat, tidak sulit tapi persuasive, sangat gentle dan lembut seperti angin sepoi di bukit yang membuatmu merasa sangat baik.
__ADS_1
Aku bingung harus menjawab seperti apa. “Aku tidak tahu.” Kataku akhirnya. Bayu mengerutkan keningnya bingung tapi dia tidak bertanya lebih lanjut, menunggu ucapanku selanjutnya.
“Err—Maksudku, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Memang benar akhir-akhir ini banyak sekali hal baru yang aku hadapi. Salah satunya rumah ini, tadi siang aku bertemu ibu bersama pengacara pak Seno. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan semua warisan dari bibi Rose pada ibu dan Daniel. Aku juga sudah mulai mencari
tempat tinggal baru.”
“Kau akan pindah? Kemana?”
“Aku belum tahu, tapi temanku Bela akan membantuku mencari tempat baru di sekitar daerah rumahnya juga.”
Bayu terdiam sebentar, seolah sedang mencari kata yang cocok. “Apa semua ini karena Daniel yang membayar Rey untuk suntikan itu?”
“Hmm.. Mungkin salah satunya, tapi alasan kuatku menyerahkan semuanya pada ibu karena aku pikir aku tidak berhak atas semua ini. Kau tahu ‘kan bagaimana aku tidak akur dengan ibu, semua itu karena ternyata aku bukan anak kandung ibu.”
Sebenarnya aku malu mengatakan semua ini padanya, tapi aku juga tidak bisa menyembunyikan lagi. Cepat atau lambat Bayu pasti akan tahu. “Maaf. Kau yakin tidak apa-apa jika aku mendengar tentang ini?”
Aku terkekeh pelan melihat bagaimana Bayu justru salah tingkah. “Tidak. Lagi pula sejak dulu kau tahu aku tidak begitu dekat dengan ibu. Sikapnya juga selalu berbeda jika di bandingkan kepada Daniel. Yang penting sekarang aku lega sudah menyerahkannya.”
“Terima kasih. Err—tapi ada satu lagi. Bisakah kau membantuku?”
“Apa?”
“Aku tidak bisa mencarinya sendiri, aku ingin memanfaatkan pacarku ini untuk mencari informasi tentang grup Eternity.” Bayu ters enyum lebar dan tubuhnya refleks menegak.
“Serahkan semuanya padaku. Apa yang ingin kau tahu?”
“Semuanya. Informasi pemilik, nama-nama pemilik sahamnya bahkan silsilah keluarga dari pemiliknya. Kau akan tahu kenapa aku mencari info tentang perusahaan ini saat mencarinya nanti.”
Bayumengangguk tidak banyak bertanya. Karena lelaki ini bersikap patuh sejak tadi aku memberanikan diri maju mendekatinya lalu bibirku mengecup pipi kanannya. Jantungku berdetak sangat cepat saat melakukannya, wajahku terasa panas dan aku malu sekali saat melihat Bayu terkekeh pelan antara kaget dan menerima mendapat kecupan singkat.
__ADS_1
“Apa ini semacam ucapan terima kasih?” Bayu tersenyum lebar, alisnya bergerak naik turun menggodaku. Namun dia kemudian menarikku pelan dan membawaku ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan pipinya menempel di pucak kepalaku, telingaku menempel di dadanya dan kedua tangannya melingkar di punggungku.
Tapi tiba-tiba pelukannya terlepas dan tangannya mendorongku agar dia bias menatapku. Bayu mengerutkan kening dan tangan kanannya terangkat menyentuh keningku dan leherku. “Kamu demam!! Pantas saja kamu tidak ingin pergi tidur! Aku pikir tadi tanganmu terasa hangat karena normal, tapi ini memang demam!”
“Oh benarkah?” Aku bertanya balik menyentuh sendiri kening dan leherku. Benar-benar tidak menyadari jika aku memang demam. Bayu hendak berdiri tapi aku menahan tangannya. Dia menatapku menuntut penjelasan tapi aku hanya menggeleng pelan.
“Bisakah kamu ceritakan padaku tentang penjahat tadi? Atau tentang penawar racun itu?” Bayu sempat terdiam sebentar namun dia tidak membantah dan kembali duduk di hadapanku. Dari sorot matanya aku bisa melihat dia seperti sedang berpikir keras.
Kemudian lelaki ini menghembuskan napas pelan diikuti dengan ekspresi wajahnya yang terlihat lebih santai. “Baiklah, apa yang ingin kau tahu?”
“Aku ingin mulai dengan penawar racun itu.” Jawabku langsung tanpa mengalihkan tatapanku padanya.
“Penawar racun itu sedang di periksa oleh dokter Stefan apakah aman untuk di gunakan. Pagi ini kita akan tahu hasilnya.”
“Kau mendapatkannya? Benar-benar mendapatkannya?”
“Ya! Ada apa?” Bayu bertanya balik, heran dengan reaksiku.
“Rey mengatakan jika kau gagal mendapatkan penawar itu dan—“
“Ohh benar!! Aku hampir melupakannya!! Kau sempat di culik olehnya. Untunglah kau baik-baik saja. Apa saja yang dia katakan?” Bayu terlihat kesal dan khawatir. Tangannya terangkat mengusap sisi kepalaku.
Manis sekali!
“Dia menawarkanku akan memberikan penawar racun itu. Selebihnya dia terus memaksa agar aku mau menerima tawarannya dan tinggal bersamanya.”
“Tinggal bersamanya??”
“Tapi aku sudah memakinya beberapa kali kalau dia penculik gila! Sikapnya padaku berubah-ubah.” Aku menjawab cepat, tidak ingin membuat Bayu kesal.
__ADS_1
...