
...
“Siapapun itu, aku harap dia benar-benar bisa menemani kalian—“
“Tidak! Jangan katakan itu! Aku belum siap menerima yang baru dan menyesuaikan kembali pekerjaan kita padanya!” Camila memekik kesal yang justru membuat kami semua tertawa.
“Paket! Kiriman!” Kali ini suara Tiwi memekik bersemangat sembari menutup pintu di belakangnya.
Kami semua menatapnya dan aku melihat sebuah buket bunga yang di bungkus plastik merah muda di tangan kirinya dan kotak sedang berwarna hitam di tangan lain.
“Buat siapa?” Kiki maju menghampirinya, tapi tanpa menjawab pun Tiwi berjalan cepat ke arah ku dengan senyum menggoda.
“Di sini di tuliskan untuk nyonya muda Jeremy. Itu nama keluarga suamimu ya? Bayu Jeremy.” Tiwi meletakkan dua benda itu di atas mejaku
“Bayu Christ Jeremy.” Koreksiku.
Aku mengerutkan kening heran, tidak tahu siapa yang mengirim ini semua. Terlebih buket bunga? Bunga yang tersusun rapih dalam balutan kertas merah muda. Kelopak bunganya memiliki tekstur halus dan kelihatan seperti potongan kertas, terlebih setiap kelopak bunga ini memiliki campuran dua warna merah dan putih, bukan susunan tangkai warna merah dan putih tapi benar-benar merah putih setiap helai kelopaknya. Keindahannya tidak membuat mataku bosan.
“Anyelir dua warna.”
“Kau tahu bunga ini?” Aku menatap Bela tidak percaya karena dia tipe wanita yang sedikit tomboy jadi rasanya aneh sekali dia bisa menebak bunga.
“Temanku pernah mendapatkan bunga itu. Anyelir warna putih berarti sweet dan lovely, sedangkan anyelir warna merah adalah aku tidak akan pernah melupakanmu. Tapi anyelir dengan dua warna diartikan sebagai aku tidak dapat bersamamu.”
“Aku tidak dapat bersamamu. Ya ampun.” Camila menatapku dengan desah kagum “romantis sekali suamimu, Cha.”
“Justru karena artinya itulah membuatnya terdengar mengkhawatirkan di telingaku.” Setelah mendengar makna bunganya dari Bela, aku jadi mengerutkan kening, sedikit khawatir.
Lalu aku menemukan catatan kecil di antara bunganya, menarik kartu ucapan seukuran post-it dan
membukanya.
Ketahuilah, cinta.
Tak ada jarak yang mampu membuatku beranjak darimu. Aku merindukanmu bahkan lebih dari yang bisa aku percaya, dan aku telah ditakdirkan untuk merindukanmu.
Salam sayang
Bee-mu
__ADS_1
Ps.
Boo, tolong jangan pikir berlebihan tentang makna bunga ini. Pokoknya aku merindukanmu. Bunga ini hanya mewakili kekesalanku karena tidak dapat bersamamu sekarang.
Aku tidak bisa menyembunyikan tawa kecilku membaca kartu ucapan yang di tulis dengan tinta hitam oleh tulisan Bayu sendiri. Pikiranku tiba-tiba teringat terakhir kali dia memberi kabar singkat, tiga hari lalu melalui pesan singkat 'aku baik-baik saja disini, jangan khawatirkan aku.'
Setelah obrolan pertama kami malam itu, hanya pesan singkat tiga hari lalu kabar yang aku dapatkan darinya. Setiap hari aku juga mengirimkan pesan padanya, menceritakan semua yang terjadi atau keluh kesahku. Aku tahu, dia belum membacanya tapi aku tetap mengirimkan pesan padanya, berharap dia akan membacanya ketika ponselnya aktif kembali.
Bunda juga mengingatkanku kalau Bayu tidak mengabariku, berarti dia dan tim nya sedang ada dalam tugas rahasia mereka.
“Ditakdirkan untuk merindukanmu.” Suara Camila membuyarkan lamunanku. Aku tidak sadar sekarang teman-temanku telah berdiri mengelilingiku untuk membaca kartu di tanganku.
“Aku pernah bertemu dengan Bayu, tapi rasanya dia bukan tipe pria yang akan menuliskan kata cinta.” Gumam Camila tampak berpikir keras.
“Aku juga memikirkan hal yang sama.” Jawabku mengangguk padanya “tapi, setelah spekulasinya tentang cincin, aku jadi memikirkan lagi sisi romantisnya. Ternyata dia memang punya sisi itu.”
“Teman-temanku biasanya menceritakan betapa tidak romantisnya suami mereka setelah mereka menikah di bandingkan ketika pacaran. Tapi sekarang ada bukti nyata di depanku kalau ada kebalikan dari itu, lebih romantis bahkan setelah menikah.” Ujar Kiki yang lagi-lagi membuatku tidak bisa berhenti untuk tersenyum senang.
Semoga harimu lebih bahagia.
Salam rindu
Bee-mu
Ps.
Sampaikan maafku karena tidak bisa memperkenalkan diri secara langsung pada teman-temanmu, sebagai ucapan maaf, kartu ini sudah mendapat reservasi makan malam kalian. Dika akan mengantar ke tempat itu.
Meski singkat tapi kekesalanku tadi menguap dengan cepat, kejutan yang Bayu berikan menghangatkan sekujur tubuhku. Perhatiannya pada teman-temanku juga membuatku beruntung memilikinya. Sekarang, aku benar-benar punya keluarga yang akan aku tunggu-tunggu kepulangannya.
Kemudian, Tiwi, Rima, Bela, Kiki dan Camila mulai menggodaku habis-habisan yang menyebabkan keributan sampai karyawan di bagian lain mengintip ingin tahu.
Dan begitulah gosip baru mulai menyebar ke karyawan di cabang ini. Rima mengusulkan untuk menyebarkannya agar gosipku yang lama tertimpa dengan gosip romantis ini. Kali ini aku tidak keberatan.
***
__ADS_1
Sorenya, sepulang kerja, Dika yang telah menggantikan Lucy menemaniku mengatakan kalau ada pesan dari sopir ayah Evano, beliau meminta agar aku di antarkan menemuinya. Karena hari ini hari sabtu yang seharusnya pulang tadi siang dan tidak ada jadwal kuliah, aku mengiyakan saja. Persiapan untuk serah terima sudah selesai di kumpulkan, hari senin, aku siap memberikan dokumen itu pada orang yang akan menggantikanku untuk dia cek dan di tandatangan.
Mobil yang di kendarai Dika mengikuti mobil jemputan ayah Evano di depan, tidak lama kami menepi masuk ke lapangan parkir, ternyata ayah menungguku di cafe. Terlihat sosoknya bersama Wildan sedang duduk di meja samping jendela besar begitu aku turun dari mobil.
Sebelum aku menyapa mereka, ayah sudah melihatku dari ambang pintu, dia melambaikan tangan sembari memanggil namaku.
“Ayah, Wildan.” Aku menyapa mereka berdua begitu di persilakan duduk di hadapan mereka.
“Mau minum apa, Cha?”
Aku mengerutkan kening berpikir sebentar untuk menjawab pertanyaan ayah. “Apapun selain kopi hitam.”
Tanpa di suruh, Wildan yang berdiri, sepertinya dia sengaja membiarkan kami berbicara terlebih dahulu.
“Bagaimana kabarmu, Cha?”
“Baik. Ayah bagaimana?”
“Tidak pernah lebih baik ketika bertemu dengan putriku.” Jawabannya membuat jantungku seketika berdetak cepat. Senyum lembut dengan tatapan mata menenangkannya membuatku tidak sadar menahan napas.
Sejujurnya aku belum siap dan belum terbiasa dengan sikap seorang ayah. Tapi, perasaan ini cukup menyenangkan.
“Ayah memintamu datang karena ada tiga hal yang ingin ayah bicarakan padamu. Kalau boleh.” Katanya.
“Apa?”
Sesaat, ayah tampak memperhatikanku dalam diam, seperti sedang memutuskan menggunakan kalimat apa.
“Pertama, ayah sudah dengar tentang kondisimu di cabang perusahaan.”
“Oh…” Aku sudah tidak heran lagi dari mana ayah tahu, mungkin gosip yang beredar tentangku sampai terdengar ke pimpinan grup Eternity.
“Yeah, kita tidak bisa mengontrol mulut orang lain.” Jawabku karena ayah diam menungguku.
...
__ADS_1