EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 320


__ADS_3

...


 


 


 


 


Aku menjerit, menunduk, jongkok sembari menutup kedua telinga. Tubuhku mengigil dan bergetar. Jantungku berdetak sangat cepat, menggedor rongga dadaku dengan keras sampai membuatnya nyeri. Kakiku lemas dan telapak tanganku berkeringat.


Banyak suara jeritan di sekitarku dan suara langkah kaki panik. Nyatanya, jeritan paling keras berasal di hadapanku.


“....aa!”


Pria berseragam perawat ini sudah tergeletak jatuh dengan lengan yang tadi memegang pistol terluka parah, darah dengan cepat sudah menggenang di lantai dan dia menjerit kesakitan.


“.....cha!!!


Aku merasa sangat mual mencium bau darahnya, isi perutku sudah naik ke tenggorokkan melihat pria ini pucat dan jeritannya memekakkan telinga.


“Icha! Hei!!” Aku mengerjap, sadar kalau Bayu ada di sampingku, sebelah tangannya menyentuh sisi wajahku.


“..huh?”


“Kau terluka?” Dia menatapku khawatir. Wajahnya terlihat pucat dan berkeringat.


Aku menggeleng dan mataku melihat tangan kanannya sedang memegang pistol.


Lelaki ini memeriksa wajah dan tubuhku, memastikan tidak ada luka, dan sebelum kami bisa bernapas lega, sudut mataku menangkap pria yang terluka itu sudah meraih pistolnya dengan susah payah dengan tangan yang lain dan dua orang perawat wanita yang hendak mendekatinya terhenti karena takut.


Semuanya terjadi begitu cepat saat Bayu sadar dengan pergerakan pria itu, dia segera menendang tangan yang meraih pistol itu hingga terlepas, dengan tenang mengambil pistol itu dan mengeluarkan isi pelurunya dan mengamankan benda itu ke sakunya.


“Tolong ikat dan obati dia. Panggil petugas keamanan untuk mengawasinya.” Bayu berbicara pada dua perawat yang masih berdiri ketakutan.


Mereka mengangguk dan salah satunya mendekat dan yang lain berbalik pergi.


Tanganku masih bergetar ketakutan dan kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit. Bayu menghampiriku, dia berlutut dan segera membawaku ke pelukannya.


Suaranya bergetar, mengatakan, “padahal kau ada di dekatku, tapi aku tetap tidak bisa melindungimu dengan benar.”


Seperti mendapat udara segar, aku menghela napas panjang untuk memenangkan jantungku. Mataku sudah memanas ingin menangis dan aku merasa sangat pusing di saat yang bersamaan.


Kedua tanganku terangkat, ingin balas memeluknya tapi seketika itu juga aku merasa kesadaranku di tarik secara paksa hingga semuanya gelap dan aku terkulai lemas di pelukannya.


***


Mataku terbuka perlahan ketika merasakan angin sejuk menyentuh kulitku, menerbangkan rambut dan seragam SMA ku. Begitu pandanganku sudah jelas aku sadar kalau sedang ada di depan gerbang sekolah SMA.

__ADS_1


Pohon besar yang tumbuh di samping gerbang selalu membuatku betah jika harus menunggu. Sangat sejuk dan teduh.


Aku sadar di tempat ini tidak ada siapapun, sepi, bahkan jalan raya di depan gerbang juga sepi, tidak ada satupun kendaraan.


Karena penasaran dan rasanya bernostalgia, aku berjalan mendekati pohon itu, berdiri di sana sembari mendongak memperhatikan daun dan ranting yang tumbuh lebat.


Lalu mataku menangkap ada sesuatu berwarna emas terang di antara ranting pohon. Aku sadar kalau ini mimpi tapi aku memutuskan untuk memanjat pohon.


Dalam kehidupanku, aku tidak pernah bisa memanjat pohon besar seperti ini, tapi dalam mimpi ini dengan mudah aku bisa memanjat, bahkan lebih cepat.


Penasaran dengan kilauan emas itu, aku mendekatinya, yang ada di antara ranting teratas.


Begitu pijakan dan peganganku sudah stabil di hadapan kialau emas itu, sekarang mataku bisa dengan jelas melihat benda apa itu.


Bukan benda, itu adalah seekor anak kucing, sedang tidur bergelung di atas ranting, bulunya berwarna emas terang dan sangat cantik.


Ini kucing langka!


Aku ingin menyentuhnya dan—


“Icha!!” Teriakkan terdengar dari bawah.


Aku menunduk, mendapati Bayu berdiri di bawah pohon, melambai padaku dengan senyum lebar. Dia memakai seragam SMA nya dan terlihat sangat tampan.


“Ayo pulang!” Katanya.


“Bayu, lihat! Ada kucing emas! Kamu harus melihatnya! Cepat naik!!” Teriakku penuh semangat.


“Aku sudah teriak!! Masa tidak dengar?!” Gerutuku.


“Ayo turun dulu!”


“Tapi—“


Brakk


Tiba-tiba saja pijakan ku tidak stabil dan kakiku terpeleset dari dahan pohon. Jantungku berdetak cepat karena ini adalah moment aku harus jatuh, bahkan sebelum aku bisa menyentuh kucing berbulu emas.


.


..


...


 


 


Tubuhku mengejang, terkejut sebentar, sembari mataku langsung terbuka lebar. Aku sadar kalau dalam mimpi, aku akan jatuh dan hal itu membuatku panik sampai terbangun.

__ADS_1


Pandangan mataku langsung melihat langit-langit di sebuah kamar yang asing. Terlebih mencium aroma obat-obatan yang menyengat. Aku ingat kalau sedang ada di rumah sakit.


Ahh benar juga, aku pingsan karena terlalu kaget dengan kejadian penembakan itu.


Aku ingin bangkit duduk tapi tiba-tiba saja denyutan di punggung terasa nyeri, juga perutku rasanya keram, hal itu membuatku kembali berbaring.


Sembari menghela napas panjang, telingaku berusaha untuk mendengar suara ribut-ribut di luar.


Lalu ingatan tentang penembakan, pisau, darah, berputar dalam bayanganku. Refleks aku menutup mulut, ingin muntah ketika aroma darah masih jelas di ingat.


“Icha?” Mataku melirik Bayu yang membuka pintu kamar dan segera masuk menghampiriku.


“Kau sudah sadar? Syukurlah.” perawakannya yang tinggi dengan pakaian serba hitam dan topi hitam tanpa rompi anti peluru tadi, dia terlihat jauh lebih tampan dari sosoknya yang ada di mimpiku.


“Apa yang terjadi?” Aku menatapnya, mengernyit berusaha mengabaikan isi perut yang sudah naik ke tenggorokkan.


“Kau pingsan, aku takut terjadi apa-apa padamu, jadi aku minta dokter untuk melakukan tes lagi.” Dia duduk di kursi samping tempat tidurku, tangannya menggenggam tanganku erat dan wajahnya terlihat agak pucat.


Aku menggeleng, tapi bayangan darah itu tidak menghilang. Rasanya aku tidak tahan lagi untuk menahan rasa mual, aku segera bangun, menutup mulutku dengan dua tangan hingga genggaman lelaki ini lepas, lalu dengan gesture cepat, aku memintanya untuk membantuku turun.


“Apa? Ada apa? Kau mau kemana?” Dia bertanya panik, segera berdiri dan memegangi lenganku.


Aku tidak sanggup membuka mulut, takut akan langsung muntah di hadapannya. Yang aku pikirkan sekarang adalah segera ke toilet.


Pintu di belakang Bayu tertutup, kamar rawat ini hanya ada satu ranjang dan aku yakin itu adalah pintu toilet.


Tapi, aku tidak sadar kalau saat aku melompat turun dari atas ranjang, tangan kiriku terasa sakit dan sesuatu tertarik keluar dari bawah kulitku, di ikuti dengan rasa nyeri dan basah.


Namun fokusku hanya untuk ke toilet. Aku tidak peduli dan berlari, meraih kenop pintu, membukanya dan langsung menghampiri wastafel.


Meski cairan isi perutku yang sejak tadi tertahan di tenggorokan sudah keluar, tapi aku sama sekali tidak merasa lega sedikitpun.


“Icha? K—kenapa?”


“Berhenti di situ. Jangan lihat!” Aku memekik, melarang Bayu untuk masuk.


Dari sudut mataku, Bayu berdiri khawatir di ambang pintu, “kenapa?”


“Jangan lihat! Ini menjijikan.”


 


 


 


 


...

__ADS_1


 


 


__ADS_2