
...
“Aku yang memilih jalan ini, jadi kumohon Icha, jangan bersedih.” Isak tangisku kembali muncul mendengar Bayu benar-benar mengatakan sama persis seperti yang aku katakan. Perasaan terharu sekaligus jengkel membuat tenggorokkanku sakit.
Lelaki ini menghapus jejak air mata di pipiku, dia juga mengecup kedua mataku sangat lembut. Sembari berusaha menghentikan tangisku, aku menjawab, “dan kau menjawab, yang kau katakan sangat tak masuk akal. Kau sangat penting bagiku.”
“Ahh, jadi kau ingat juga?”
“Tentu saja, bodoh!” Sekarang aku melempar tubuhku kepadanya, melingkarkan kedua tanganku di lehernya, memeluk lelaki ini dengan sangat erat.
Kemudian Bayu terkekeh, membalas pelukanku. Kami tidak bosan-bosannya berpelukan sejak tadi, tersenyum, jengkel, marah, khwatir, bahagia dan bahkan sampai menangis hari ini.
“Menurut Virginia Satir, seorang terapis keluarga, dia mengatakan, seseorang butuh 4 pelukan perhari untuk bertahan hidup, 8 pelukan perhari untuk kesehatan dan 12 pelukan perhari untuk pertumbuhan dan kebahagiaan.” Katanya.
“Tapi aku butuh lebih dari 12 pelukan perhari hanya untuk bertahan hidup.” Aku bergurau.
“Aku tahu itu.” Dia mendesah menanggapi gurauanku.
“Aku akan memberikan tubuhku padamu. Kau bisa bebas memelukku kapan saja, sebanyak apapun, aku hanya milikmu.” Bisiknya seduktif. Tidak tahu siapa yang memulai, tapi untuk yang kesekian kalinya, kami mulai berciuman lagi, kali ini hanya ada perasaan bahagia membuncah di dalam diri kami.
Diam-diam dia melepas ikat rambutku, membuat rambut panjangku terurai jatuh di punggung, lalu dia menyingkap segenggam rambutku ke samping. Ciumannya pindah menyentuh leherku yang seketika memberikan sengatan geli ke sekujur tubuhku.
Tanpa sadar, pakaian kami menghilang. Kedua tubuh telanjang saling berpelukan erat dan kesenangan yang belum pernah terjadi sebelumnya membajiri hati kami seperti gelombang pasang. Seluruh jiwaku dipenuhi oleh sosok pria ini.
Jantungku bergetar, jiwaku bergetar, menjawab dengan panik, kemudian dari pasif ke inisiatif. Ini masih pertama kalinya aku bersama seorang pria.
Tubuh kami kejang ketika ******* pasang itu berlangsung. Perasaan cinta, kerinduan, bahagia, sakit, penderitaan, meletus sepenuhnya pada saat ini.
***
“......yang berarti, jika pembunuhnya adalah orang yang ada di sekolah, maka kasus itu akan cepat terpecahkan.”
__ADS_1
“Bisakah kamu menghormati pembunuhnya? Pembunuhnya juga punya akal. Jelas-jelas dia tahu sidik jarinya ada di dalam sistem penduduk. Setelah selesai membunuh, dia meninggalkan senjata yang telah ternoda oleh sidik jarinya di lokasi? Kalau seperti itu, dia terlalu baik pada polisi yang menangani kasus itu.” Bayu menggeleng tidak
setuju.
“Berdasarkan penjelasanmu, sidik jari yang ada di pistol bukan milik si pembunuh, sebaliknya itu milik korban. Pembunuhnya ingin menjebaknya!” Aku berseru penuh semangat, dugaanku terdengar luar biasa.
“Jebakan yang begitu banyak kelemahan, kamu pikir pembunuhnya memiliki pemikiran yang sederhana seperti kamu?” Bayu meledekku.
Aku mencubit-cubit lengannya penuh kesal karena sifat meledeknya kembali muncul. Bayu justru tertawa dan balas menggelitik ketiak dan sisi tubuhku.
Saat ini kami sedang menonton serial drama bergenre kriminal di ruang tengah dengan dua botol soda dingin, sepiring lasagna, sekotak chicken drumstick dan sekotak pizza bertabur daging, yang sebagian dari makanan itu sudah kami makan.
Bukan makanan sehat, tapi berhubung kulkas kecil di apartemen ini hanya berisi minuman soda, botol kopi instan, dan air mineral, maka kami memutuskan untuk memesan makanan itu karena kelaparan.
Aku melirik jam dinding, menunjukkan pukul sebelas malam. Sembari menjauhkan tangan Bayu dari ketiak ku karena mengingat sesuatu, aku mengatakan, “aku mau membongkar koperku dulu. Semua pakaianku masih ada di sana.”
“Tidak usah buru-buru. Kau bisa memakai bajuku untuk malam ini.” Jawabnya jahil.
Memang benar, saat ini aku meminjam kaos putih dan celana hitam pendeknya. Tiba-tiba saja aku ingin menggodanya, “jadi, aku bisa memakainya, hanya untuk malam ini, eh?” tanyaku sembari pindah duduk di pahanya.
Wajahku terasa panas tapi aku tidak mengalihkan tatapan kami, aku tidak mau kalah darinya!
“Kalau aku tidak mau memakai apapun, apa kau akan terganggu?” Balasku berbisik seduktif.
“Aku akan sangat terganggu!” Katanya mengangguk, “tapi di samping itu, aku akan membuatmu tidak bisa turun dari tempat tidur.”
“Tidak!! Aku tidak bisa lagi meneruskan ini!!” Aku menjerit malu. Menyudahi topik pembicaraan ini, tapi Bayu tertawa dan mencubit pipiku dengan gemas.
“Kau mencoba untuk menggodaku, eh? Apa kau tidak takut aku akan ‘memakanmu’ sekarang juga?”
Aku merajuk, menjatuhkan diri kepelukannya dan menjawab, “aku masih merasakan sakit, ini semua salahmu!!”
“Tentu saja sayang, kau boleh menyalahkanku untuk itu.” Lelaki ini menyeringai puas.
Aku mencubit pipinya gemas, “kau sangat menjengkelkan, tapi aku bahagia.”
“Oh cintaku, aku juga bahagia.” Dia membungkusku dengan dua tangan kokohnya, membawa hatiku merasakan cinta yang nyata darinya.
__ADS_1
“Istriku, seribu hantu tidak akan sedikit pun membuat nyaliku ciut, karena ketakutan terbesarku adalah kehilangan kamu.”
“Aku juga tidak mau kehilangan kamu.”
“Aku akan membahagiakanmu.”
“Seorang istri tidak menuntut suami membahagiakan dirinya. Namun, dia menghargai usaha suami membahagiakan dirinya. Aku ingin kita sama-sama merasakan kebahagiaan.” Jawabku sembari menangkup wajahnya.
“Begitu banyak senyuman dimulai dari dirimu.” Bayu tersenyum lembut, merasakan hembusan napasnya menerpa wajahku. Selanjutnya dia mencium bibirku dengan hati-hati seolah aku bisa pecah dengan sentuhan kecil.
“Aku cinta kamu.” Bisiknya kecil di sela ciuman kami.
“Aku juga cinta kamu.” Balasku sembari menyelipkan jari tanganku di rambut belakangnya, lalu bibir kami kembali bersentuhan, kali ini lebih dalam dan menuntut. Tangannya menekan punggungku, menahannya, meski tubuh kami sudah bersentuhan sejak tadi tapi aku bisa merasakan pelukan kami tidak cukup untuknya.
Aku melepas ciuman kami ketika oksigen sudah menipis. Kelopak matanya perlahan terbuka, memperlihatkan lensa kehitaman miliknya yang jernih, lalu aku berbisik seduktif, “suamiku, aku mau kamu.”
Bayu menyeringai dan menjawab, “aku sepenuhnya untuk kamu, istriku.”
Kemudian aku tertawa kecil saat lelaki ini tiba-tiba mengangkatku, menggendongku di depan perut dan dadanya. Langkah lebarnya membawa kami menuju kamar.
Sebelum menutup pintu kamar, dia menggumamkan, “setiap malam yang aku habiskan dengan kamu adalah kesukaan baruku.”
Aku tertawa kecil, langsung bersembunyi di dadanya, tidak tahu lagi semerah apa jadinya wajahku.
***
“....ya ayah. Aku akan hati-hati. Baik. Sampai jumpa.” Aku menghela napas panjang ketika layar ponselku menunjukkan panggilan bersama ayah Evano terputus. Dia mengomeliku karena tidak membawa Dika dan Lucy, pada akhirnya ayah sudah mengirim dua orang itu pagi ini untuk menyusulku, padahal aku masih ingin berdua saja dengan Bayu tanpa di bayang-bayangi dua orang bodyguard.
...
__ADS_1