
...
Saat kami sudah keluar, seketika aku bisa mendengar suara makian terdengar di mana-mana. Bahkan aku sempat melihat Jack turun dari mobil lalu berteriak pada pengendara di belakang mobil kami.
Di tengah jalan yang ramai seperti ini mobil-mobil di sekitarku sudah berhenti dan hampir semuanya keluar dari mobil masing-masing. Orang-orang yang melihat kecelakaan di sisi jalan mulai berkerumun.
Tepat saat Bayu yang menyeretku menaiki trotoar jalan, seorang pria dan wanita berjalan cepat berpapasan dengan kami. Sesaat keduanya menatap Bayu dan aku sekilas dan berlalu begitu saja. Karena curiga, aku menoleh melihat kedua orang itu yang berlari cepat memasuki mobil yang tadi kami tumpangi.
Suasana yang ramai dan berdesak-desakkan membuatku berpikir kalau tempat ini cocok untuk mengelabui seperti yang Bayu rencanakan.
Langkah cepat kami sudah akan memasuki gang, orang-orang juga mulai berlarian dari dalam gang ingin melihat kecelakaan yang terjadi dan genggaman Bayu semakin erat padaku. Dia terlihat sangat waspada pada orang yang melewati kami.
Aku balas menggenggam tangannya dan sedikit menggoyangkan tangannya, seperti yang pernah aku lakukan saat kejadian di mall. Perhatian Bayu akhirnya tertuju padaku sekilas, dia menoleh.
“Kita tidak akan ke rumah sakit pusat?” Bisikku.
“Tidak.” Bisiknya.
Aku tidak lagi bertanya, hanya memperhatikan wajahnya dari samping. Rahangnya yang mengeras dan sorot matanya yang fokus. Dia terlihat sangat serius di bandingkan dengan saat kejadian di mall.
Bayu menyeretku memasuki gang-gang yang tidak aku kenal. Kami berjalan sampai sepuluh menit berikutnya tiba di sebrang beberapa toko yang buka. Sisanya tempat itu masih tutup.
Kemudian kami menyebrangi jalan dan dia membawaku ke sebuah bengkel motor resmi yang tampak sepi dan tidak ada pelanggan di sana. Hanya karyawan yang sibuk membetulkan motor yang berjajar di sana.
Sesampainya kami di meja pendaftaran, seorang pria dengan seragamnya berdiri menyambut kami. Tanpa banyak bicara Bayu mengeluarkan sebuah kertas dari saku celananya tanpa melepaskan genggaman tangannya dariku.
Setelah pria di hadapan kami membaca isi dalam kertas, dia tersenyum dan meminta kami untuk menunggu.
__ADS_1
Sepeninggalannya, Bayu melirikku dan menatapku seperti memeriksa sesuatu. “Kau tidak terluka ‘kan?”
Aku mengerutkan kening dan menggeleng. Lelaki ini lebih gugup dari biasanya. “Aku tahu aku akan baik-baik saja selama bersama mu.”
Bayu terkekeh pelan dan wajahnya terlihat lebih santai sekarang. “Kenapa pagi ini rasanya kamu nurut-nurut aja apa yang aku katakan. Kamu tidak banyak bertanya.”
Melihat Bayu yang menatapku bingung membuatku hanya mengangkat bahu. “Kenapa tidak? Aku kan memang pada dasarnya wanita penurut.”
Lelaki ini mengusap puncak kepalaku dengan tangannya yang bebas lalu berkata pelan. “Aku akan menjelaskannya nanti. Terima kasih untuk tidak bertanya sekarang.”
Tepat setelah Bayu mengatakannya, suara klakson motor terdengar mengalihkan perhatian kami. Dari dalam bengkel yang luas, dua orang pria membawa motor sport hitam mendekati kami dan pria yang tadi menyabut kami sudah kembali ke tempatnya di depan meja.
“Kau bisa membayarnya di kasir.” Katanya menyerahkan selembar kertas lain.
Aku mengintip jumlah yang harus di bayar dan saat Bayu hendak melangkah, aku segera menahannya. “Biar aku yang bayar ke dalam. Kau periksa saja motornya.”
“Baiklah ini.” Barulah genggaman tangannya lepas. Bayu menyerahkan kertas itu dan merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet hitamnya dari sana.
Ada kekosongan saat tangan besarnya tidak lagi menggenggam tanganku, tapi aku hanya tersenyum kecil menatap punggungnya yang berjalan menjauh.
Lalu aku juga berbalik dan melangkah lebar mendekati kasir di dalam bengkel. Setelah membayar biaya service dengan uang tunai dan menerima bukti pembayaran, aku berbalik dan segera memasukkan dompet Bayu di dalam tas selendang kecil milikku.
“Ayo naik.” Ajaknya menyerahkan helm full face berwarna putih padaku. Bayu sudah siap di atas motornya. Aku hanya bisa melihat matanya karena dia sudah memakai helm yang sama denganku hanya saja warna miliknya hitam.
Aku mengangguk dan segera memakai helmnya, lalu naik ke atas motor dan setelahnya Bayu menyalakan motornya dan kami melesat bergabung di jalan raya Bersama kendaraan lain.
.
..
__ADS_1
…
Sepanjang perjalanan, kami tidak berbicara. Hanya diam dengan pikiran masin-masing. Bayu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi saat kami berada di jalan yang kosong. Sampai empat puluh menit berikutnya, kami memasuki suatu daerah. Jelas sekali Bayu membawaku jauh dari perkotaan.
Kemudian kami berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar tinggi. Orang-orang yang tinggal di sekitar tempat itu sempat menatap kami bingung dan penasaran.
“Rumah siapa ini?” Tanyaku setelah turun dari atas motor dan melepas helm. Tidak bias di pungkiri, sekarang badanku pegal. Bayu juga ikut turun dan membuka helm nya.
“Kita akan istirahat sebentar di sini.” Jawabnya berbisik pelan padaku dan mengetuk gerbang di hadapan kami. Lima detik berikutnya, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari dalam, kemudian gerbang tinggi ini terbuka.
Seorang pria berumur dengan rambut yang sepenuhnya sdah beruban tersenyum senang begitu melihat wajah Bayu. “Akhirnya kau datang berkunjung! Kenapa baru sekarang, huh!”
Kedua pria ini saling berpelukan, meskipun terlihat sudah tua, tapi badannya terlihat tegap. Apa mungkin ini kakek Bayu? Mengingat hampir semua keluarganya keturunan keluarga militer, tidak heran kalau kakeknya juga ‘kan.
“Siapa ini? Pacar kamu ya!” Lamunanku buyar melihatnya sedang menggoda Bayu sembari melihatku.
Aku hanya tersenyum kecil dan menyapa. “Halo kek. Saya Icha.”
“Masuklah! Kalian pasti cape di perjalanan. Kakek sudah menyiapkan makanan.” Katanya mengajakku, benar-benar sangat ramah. Selama ini bayanganku kakek Bayu adalah orang yang serius, keras dan sangat disiplin juga tidak se-ramah ini.
“Kakekmu?” Aku berbisik saat kakek berjalan duluan di depan kami. Bayu melirikku menunduk karena selisih tinggi kami.
“Kakek dari keluarga ibu ku sudah meninggal. Dia sudah aku anggap kakek ku sendiri karena dulu beliau sahabat kakekku.” Aku mengangguk mengerti mendengar cerita singkatnya.
Ketika aku masuk, rumahnya terlihat sangat rapih dan luas. Pantas saja gerbang di depan pintu itu tinggi, tidak pernah membayangkan ada rumah sebesar ini di pinggir kota.
Lalu banyak sekali foto yang tergantung di dinding atau pigura di atas meja dan lemari kecil sepanjang kami mengikuti kakek ke ruang tengah. Semua lengkap foto versi kakek kecil sampai sekarang, juga ada piala dan medali-medali yang tergantung. Hampir semuanya sekilas terlihat dari kemiliteran.
Jadi kakek dari keluarga ibu nya pun berasal dari keluarga militer? Aku baru tahu tentang ini.
__ADS_1
...