EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 39


__ADS_3

...


 


“Aku akan membuktikan bahwa aku telah membatalkan pertunangan ini seperti perkataanku tadi. Jika dengan tidak melihatku kamu akan berhenti menangis, aku akan pergi sekarang.” Aku mengerjap, tanpa sadar aku sudah menangis dalam diam di hadapannya. Ingin menghapus jejak basah di kedua pipiku tapi percuma karena nyatanya air mataku semakin banyak ketika melihat Bayu sudah berbalik berjalan menjauh dariku.


Tenggorokkanku sangat sakit menahan suara isak tangis. Rongga dadaku kesakitan, lebih sakit dari sebelumnya.


 


Apa aku terlalu kejam padanya? Tapi aku dengan segala gengsiku tidak ingin mencegahnya. Mungkin lebih baik aku harus segera berbalik dan masuk ke dalam rumah ibu, membiarkan rasa kecewa ini mengalir tanpa bisa di hentikan.


“Ibu, aku ingin berbicara denganmu.” Aku melihat ibu sedang duduk di sofa ruang tamu tadi. Wanita paruh baya ini


tampak terkejut melihatku datang.


“Ada apa? Jadi benar kamu telah merebut tunangan Jane?” Lagi-lagi ibu menyalahkanku.


“Tidak. Itu salah paham.”


“Salah paham apa? Ini namanya kamu sudah ketangkap basah, masih aja ngelak.” Ibu menjawab dengan nada ketusnya seperti biasa. Aku menghembuskan napas beberapa kali agar suaraku tidak terdengar menyedihkan.


Aku muak dengan sikap ibu yang selalu menyalahkanku. “Bu, kenapa sih ibu selama ini selalu menyalahkanku?”


“Apanya? Menyalahkan apa? Ibu itu sedang menasihatimu! Kamu ini dasar anak bodoh!”


Ingin rasanya aku menghilang dari hadapan ibu, dia selalu seperti ini. “Ibu sadar engga sih? Perkataan ibu itu selama ini menyakiti hatiku. Sejak perceraian ibu dan ayah, ibu bersikap dinging padaku. Ibu mengejekku di setiap perkataan yang ibu keluarkan, contohnya barusan. Ibu memanggilku anak bodoh.”


“Kamu ini, masalah sepele seperti ini saja menuntut ibu habis-habisan!” Nada suara ibu terdengar lebih tinggi


dari nada tenang yang aku keluarkan.


Aku sadar sekarang aku sudah menangis di hadapan ibu, tapi sikap ibu yang tidak tersentuh sama sekali membuatku lagi-lagi merasa kecewa.


“Bukan masalah sepelenya bu! Tapi ibu sudah sejak dulu seperti ini. Ingat tidak ibu pernah mengatakan bahwa aku tidak pantas jadi anak ibu, ibu lebih sering menyalahkanku dalam segala hal, ibu lebih mendukung Daniel dari pada aku. Ibu juga menuntutku banyak sekali sejak kecil. Ibu tidak pernah menanyakan kabarku. Ibu tidak pernah memeluk atau menciumku lagi. Bahkan nada suara yang ibu pakai padaku selalu terdengar marah.”

__ADS_1


“Berhenti! Kamu mau sampai kapan terus-terusan nyalahin ibu?” Tiba-tiba ibu sudah berdiri menghampiriku. Aku


refleks ikut berdiri menghadapi ibu yang sedang marah dan tersinggung.


“Lihat? Bahkan untuk menyuarakan suaraku saja ibu sudah marah! Lalu aku harus bagaima--”


“TENTU SAJA IBU AKAN MARAH! KAMU INI SEBAGAI ANAK BISANYA NYALAHIN IBU!”


Aku tersentak, ibu sudah berteriak sekarang. Wajahnya merah dan matanya sudah sepenuhnya melotot.


“Aku sudah dewasa bu. Aku tahu mana yang salah dan yang benar. Yang ibu lakukan padaku itu menyakitiku bu. Aku engga minta macam-macam, aku hanya ingin ibu yang menanyakan kabarku, ibu yang akan memasakkan makanan, ibu yang mengkhawatirkan anak perempuannya karena pulang malam, ibu yang akan membelaku dan menasehatiku, ibu yang akan memujiku, ibu yang menyayangiku sepenuhnya--”


“Jadi maksud kamu ibu itu jahat??”


Arrgghh bisa gila rasanya menghadapi ibu. Semua perkataanku selalu negatif baginya. Aku menunduk, menangis terisak kencang di hadapan ibu. Rongga dadaku sesak sekali, seolah oksigen disekitarku tidak ada.


“Saat aku mengatakan sesuatu, ibu selalu menggapinya buruk. Jadi aku harus bagaimana bu? Sebenarnya apa salahku? Apa aku anak yang tidak baik? Ini sudah hampir delapan belas tahun ibu marah padaku, Apa yang harus aku perbaiki agar ibu tidak selalu marah padaku? Aku sangat menyayangi ibu lebih dari apapun.”


Ibu tiba-tiba mencengkram kedua bahuku, menatap padaku dengan sorot mata yang tidak berubah. “Kamu ini jangan jadi anak yang pura-pura lupa terus nyalah-nyalahin ibu!”


“Bu. Sakit.” Aku ingin melepaskan diri dari cengkraman kuat ibu, tapi ibu menahannya.


“Apa bu? Aku tidak kabur, cengkraman ibu terlalu kuat, sakit sekali.”


“SEMUANYA KARENA KAMU! KAMU INI CEREWET SEKALI. KAMU INI BANYAK NGOMONG!! KAMU YANG MENGATAKAN SEMUANYA SAAT ITU. KAMU YANG BUAT ORANG TUAMU SENDIRI CERAI! KAMU DAN SUARAMU ITU YANG MENGHANCURKAN KELUARGA KITA!”


Aku tersentak kaget, ibu berteriak mengungkit lagi kejadian itu ketika umurku masih tujuh tahun. “T—tapi ayah


memang berselingkuh, aku sering melihatnya di luar rumah saat itu. A—aku juga masih kecil saat itu bu, yang aku tahu hanya memberitahumu dihadapan ayah.”


“TETAP SAJA! SUARAMU ITU YANG MEMISAHKAN KAMI!! KAMU ITU CUMA ANAK TIRI ROSE TAPI TINGKAHMU ITU MEMUAKKAN!”


“A—apa yang ibu katakan?” Jantungku berdetak sangat cepat, keringat dingin muncul di sekujur tubuhku. Aku mendengarnya dengan jelas. Ibu mengatakan nama bibi Rose. Anak tiri apa maksudnya?


Ibu melepaskan cengkramannya, ia langsung memalingkan wajahnya menghindari tatapanku. Ibu bertingkah aneh, ibu menyembunyikan sesuatu dariku. Jadi aku ini anak siapa? Jadi selama ini tidak ada yang mendengar suaraku.

__ADS_1


Aku ingin bertanya lebih lanjut, tapi aku tidak bisa mendengar suaraku. Aku kehilangan suaraku. Sesuatu yang aku


takutkan akan terjadi selama ini tiba-tiba terjadi begitu saja di saat yang tidak tepat.


“PERGI DARI SINI!!” Setelah ibu menyeretku keluar, dia membanting pintu di depan wajahku.


Aku yang masih kaget dengan apa yang terjadi hanya bisa diam. Jantungku semakin berdetak kencang dan tanganku yang bergetar membuat pergerakkan kakiku menjadi kaku.


Semuanya seperti mimpi, jelas-jelas ibu tadi berteriak padaku. Mengatakan bahwa aku adalah anak tiri bibi Rose.


Tapi mengapa? Mengapa ibu yang merawatku? Apa benar ibu bukan ibu kandungku?


Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepalaku. Aku yang merasa pusing akhirnya berbalik untuk keluar dari


pekarangan rumah ibu. Tangan kananku mulai memukuli dadaku yang sesak, berharap aku bisa bernapas normal. Berharap rasa sakit ini hilang.


Sejak tadi air mataku terus keluar membasahi pipi, kakiku yang lemas terus menuntunku berjalan tak tentu arah.


Semua ingatakan dan kenanganku bersama ibu dan ayah berputar seperti sebuah film lama.


Seharusnya aku tidak seperti ini.


 


Aku harus kuat!


Aku tidak boleh terus menangis!


Masih banyak orang di luar sana yang mempunyai masalah lebih berat dari pada aku.


Pekerjaan dan tugas kuliah menungguku untuk di selesaikan. Aku sudah dewasa dan masalah ini seharusnya aku


sudah menduganya, menduga sikap ibu yang tidak pernah berubah sejak dulu.


Semua pikiran-pikiran penyemangat dalam hatiku terus di suarakan tapi aku sadar, kedua tanganku yang masih

__ADS_1


bergetar hebat menandakan hatiku masih sangat sakit.


...


__ADS_2