EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 25


__ADS_3

...


Meskipun enggan menunggu, aku akhirnya diam menunggu mengingat ini adalah gedung tempatku bekerja. Kurang dari satu menit aku melihat Gilang sudah keluar dari sana bersama Pak Ronald yang mengikuti dari belakang.


Lelaki itu sempat melirikku tajam sebelum dia masuk ke sebuah mobil hitam mewah yang sejak tadi terparkir tak jauh dari tempatku berdiri.


Aku tidak dengan seenaknya bersikap tidak peduli pada Gilang atau Rey. Tapi aku melakukan itu karena aku tahu,


mereka bukanlah orang biasa. Aku sudah bersikap tegas sejak awal entah untuk Bayu, Rey atau Gilang jika aku tidak ingin ikut campur urusan mereka. Aku bahkan tidak bertanya tentang pekerjaan Bayu seperti apa ketika ia harus bertugas. Lelaki itu mengerti dan dia tidak menceritakan apapun tentang jati dirinya sebagai tentara.


Tepat sepeninggalan Gilang, aku melihat sebuah motor trail berwarna hijau memasuki area parkir dan berhenti


tepat di depanku. Kemudian kaca helm sang pengendara di buka lalu melirikku. Meskipun cahaya tempat parkir samar-samar tapi aku bisa mengenali mata itu.


“Maaf telat.” Itu Bayu.


“Hmm.. Kebiasaan! Engga ngasih kabar kalau memang telat. Gimana kalau aku beneran pulang duluan?”


“Tapi buktinya kan engga. Hehehe.” Bayu sudah melepaskan helmnya. Sekarang aku bisa melihat ekspresi tertawanya, sorot mata jahilnya ada di sana.


“Sibuk banget ya sampai ga bias kirim pesan singkat?”


“Iya, tadi ada keperluan mendadak.”


“Kerjaan?”


Bayu menggangguk dan melanjutkan. “Maaf ya pacarnya Bayu. Jangan marah lagi. Nanti makin cantik loh!”


Aku mendengus memutar mata masih kesal. Moodku rusak sebenarnya gara-gara kehadiran Gilang juga.


“Pacar Bayu? Sejak kapan?”


“Sejak aku menemukanmu kembali.” Bayu tersenyum lebar hingga kedua matanya berubah menjadi bulan sabit. Tapi aku masih diam, menatapnya tanpa berniat membalas senyumannya seperti biasa.


Seolah sudah mengerti apa yang terjadi, ekspresi Bayu berubah cemberut, sekarang dia terlihat sangat bersalah. Kemudian Bayu menarik lenganku agar aku lebih dekat dengannya. Lalu dia menatapku penuh selidik sembari tangan kanannya menepuk-nepuk puncak kepalaku.


“Apa yang terjadi? Sepertinya kamu kesal bukan hanya karena aku, iya ‘kan?”


Bayu memang selalu bisa tahu apa yang aku rasakan. Aku masih enggan buka mulut dan hanya diam.


“Aku akan menceritakan tentang keperluan apa yang tadi—“ Aku menggeleng cepat, tidak ingin tahu tugas dadakan


apa yang tadi dia terima.


Lalu aku mendengar suara hembusan napas Bayu, dia menghela napas pelan seolah menerima moodku yang sedang jelek.


“Pekerjaanmu selesai jam berapa tadi?”

__ADS_1


“Tadi ada pemadaman listrik sore, jadi aku dan karyawan lain harus menyelesaikan laporan harian yang terlambat tiga jam dari biasanya—“


“Nah kan! Kamu juga terlambat!”


“Ihhh Tapi kan beda! Yang penting, kamu tidak mengabari sama sekali jika akan terlambat!” Aku memberinya sebuah pukulan pada lengan atasnya. Antara gemas dan kesal.


“Aww! Ini namanya KDRT!!”


Sebenarnya aku sedikit terkejut merasakan lengannya yang keras berotot dari balik jaket, padahal jika di lihat


dari luar badannya biasa saja, normal.


“Skinsip pertama setelah kita resmi pacaran lagi kamu pakai untuk memukulku?! Wanita ini benar-benar tidak ada


romantisnya!” Bayu sekarang terlihat kesal. Aku yang merasa jadi ingin menggodanya kembali melayangkan beberapa pukulan.


Lelaki ini menjerit tertahan seolah pukulanku lebih sakit dari pukulan pegulat professional. Namun hal itu justru membuatku tertawa puas.


“Ohh! Lihat! Sekarang kamu udah bias ketawa!!” Tiba-tiba Bayu merubah nada bicaranya yang semula terdengar kesal berubah menjadi nada jahil.


Aku yang baru menyadari perubahan moodku secara mendadak langsung terdiam. Bayu benar, aku baru saja tertawa karena sikapnya.


“Aku jadi tidak bisa kesal lagi padamu!” Jawabku mengalah. Bayu tersenyum puas kemudian tangan kanannya memberikan aku helm hitam yang di bawanya.


“Ayo pulang.” Mendengarnya mengajakku untuk pulang membuat hatiku tiba-tiba menghangat. Sudah lama tidak ada yang mengatakan kata sederhana itu padaku karena aku terbiasa sendiri.


Rumah warisan dari bibi Rose hanya di huni olehku, berangkat atau pulang tidak ada yang menyambutku beberapa tahun terakhir ini.


semangat.


“Tenang saja nona. Aku, Bayu Christ Jeremy akan mengawalmu dengan senang hati.” Kami berdua tertawa bersama, meskipun tidak melakukan hal yang romantis atau menakjubkan sebagai sepasang kekasih tapi hal-hal kecil seperti ini lah yang lebih membahagiakan.


 


.


..


...


 


 


“Jadi dua minggu sekali?”


“Hmm.. Aku hanya membeli sedikit saja makanan yang gampang di olah. Seperti ini, ada roti, susu, yogurt, telur, kol, nugget, kornet dan satu lagi yang belum di temukan, jeruk sunkis.”

__ADS_1


“Kau pasti sibuk sekali di luar.” Aku mengangguk, menatap sekilas Bayu yang ada di samping kiriku sembari membawa troli kecil. lalu aku tidak lagi mendengar Bayu bertanya lebih lanjut, padahal sejak tadi dia terus menanyakan hal-hal tentang kebiasaanku, karena penasaran, aku menghentikan langkah untuk menatapnya.


Lelaki ini tampak diam, memikirkan sesuatu sembari matanya menatap ke dalam troli di hadapannya. Aku baru kali ini melihat wajahnya yang sedang diam berpikir.


Bibirnya membentuk garis lurus, matanya yang menunduk membuatku bisa melihat lebih jelas bulu matanya yang panjang. Dan aku baru melihat ada lesung pipi kecil hampir tidak terlihat di sudut kanan bibirnya.


Tidak ingin mengganggu, aku hanya tersenyum kecil dan kembali melanjutkan langkahku mencari jeruk sunkis. Melihat bahan makanan di tempat ini membuatku berpikir, sudah lama sekali aku tidak makan makanan kesukaanku.


“Ahhh.. Aku ingin makan sesuatu yang enak!”


“Kenapa kau bersikap seperti ini di tempat umum?”


Aku berbalik menatap Bayu tidak mengerti. Padahal tadi aku hanya bergumam. “Apa maksudmu?”


“Kau ingin aku membelikanmu makanan enak. Besok kan akhir pekan, jadi kau ingin kita berduaan saja dan makan


sesuatu yang enak, ya ‘kan?”


“Bukan begitu, diamlah!” Jawabku berbisik padanya karena orang-orang di sekitar kami mulai melirik ingin tahu. Bukannya membalas bisiskanku, Bayu justru tersenyum jahil.


“Apanya yang bukan? Kau malu karena ini di tempat umum? Baiklah. Akan kulakukan apa yang kau mau, pakai baju yang bagus besok!” Suara normalnya terdengar lebih keras di telingaku. Dia mendekatiku lalu mengusap puncak kepalaku sebelum lelaki ini berjalan melewatiku begitu saja.


Aku merasa malu karena orang-orang sempat tertawa melirikku. Bayu yang sudah mulai menjauhiku tidak berniat untuk berbalik, dari punggungnya saja aku tahu dia sedang tertawa sekarang.


“Sini kau!!” Tidak peduli, aku melangkah cepat menyusulnya. Bukannya berhenti, Bayu justru ikut melangkah


cepat sembari mendorong troli, menyelip antara orang-orang yang sedang berbelanja.


Dia tertawa puas karena berhasil menggodaku. Aku berlari kecil mengejarnya dan Bayu tidak menyerah meskipun dia harus mendorong troli.


Kemudian, aku berhasil menangkapnya dengan cara menarik jaket belakangnya, lalu aku menghadiahinya pukulan-pukulan di punggung.


“Aduhh sakit! Sakit!”


“Hei! Kau sebegitu sukanya ya menjahili orang?”


“Tidak.” Bayu menggeleng dengan wajah berubah serius kemudian melanjutkan.


“Aku hanya suka menjahili orang-orang yang mudah di jahili aja.”


“Jadi aku orang yang mudah di jahili? Aku?!” Bayu tersenyum puas, memikirkannya saja tidak masuk akal, aku yang seorang wanita berumur dua puluh empat tahun yang menjabat sebagai kepala bagian di sebuah perusahaan? Aku yang sedang melanjutkan kuliah pasca sarjana? Apa dia tidak salah memilih?


Aku memejamkan mata, berusaha memahami sifat jahilnya. “Sabarlah! Aku lebih dewasa, jadi aku harus sabar! Baiklah!”


Sekarang aku bisa mendengar suara tawa kecil Bayu yang melihatku berbicara sendiri. Lalu dia cepat-cepat menarik lenganku, sedikit menyeretku untuk mengikuti langkah kakinya yang panjang seraya dia berkata.


“Di sini tidak ada jeruk sunkis. Aku akan membelikannya di tempat lain.”

__ADS_1


 


...


__ADS_2