
...
Pria yang matanya terlihat seperti kucing ini mengangguk dan segera berbalik menuju kumpulan meja karyawan tak jauh dari kami. Hanya sepuluh detik, dia bisa langsung membawa Diana kehadapanku.
“Diana, bisa antar Icha ke restoran langgananku?”
“Tentu pak.”
“Kalau gitu, sampai bertemu.” Ayah Evano pamit yang di angguki olehku. Dia bersama Yudha kemudian berbalik kembali ke ruangannya.
Tersisa aku, Lucy dan Diana di depan pintu lift yang masih tertutup. Aku tidak sadar kemana karyawan lain yang tadi hendak ingin memakai lift, mereka tidak ada.
“Maaf merepotkanmu, Diana.” Kataku sekedar basa basi padanya.
Diana yang berdiri di sampingku mengangguk dengan senyum lebar. “Tidak merepotkan sama sekali. Baru pertama kali ke sini, ya?”
“Ya, ini pertama kalinya aku ke sini.” Jawabku.
“Pak Evano baik sekali, meski dia pengusaha besar, tapi sangat kompak dengan dua adiknya. Beliau juga memberi kesempatan bagi orang berpendidikan minimal untuk bekerja di sini.”
“Sepertinya kamu sangat mengenal pak Evano, ya?”
Ting!
Pintu terbuka dan kami bertiga segera masuk ke dalam lift kosong. Diana menekan tombol satu setelah pintu tertutup lalu melirikku dan berkata. “Aku tidak pernah tahu kalau pak Evano punya anak. Orang-orang di kantor pun tidak ada yang tahu kalau beliau punya anak perempuan.”
“Aku bisa mengerti kenapa tidak ada yang tahu.” Aku tersenyum dan mengangguk menanggapi tatapan penasaran dari Diana.
“Tapi pak Evano selalu menganggap karyawan muda seperti kita adalah anaknya.” Tambah Diana yang terdengar menyinggungku.
Sekali lagi aku tersenyum kaku dan mengangguk. “Betul, aku bisa lihat itu tadi.”
“Nyonya muda Jeremy, mau saya bantu bawakan jaketnya?” Tiba-tiba Lucy bersuara yang refleks membuatku dan Diana menoleh ke belakang.
__ADS_1
Mata Lucy masih terpaku pada tangan kiriku yang masih membawa jaket, aku tersenyum dan mengangguk. Setidaknya hal ini mungkin bisa sedikit mencairkan suasana kaku di antara kami berdua.
“Terima kasih.”
“Bukan apa-apa.” Lucy terlihat senang, dia tersenyum kecil membalasku.
“Nyonya muda Jeremy? Bukan kah tadi pak Evano mengatakan kalau kamu Danendra?” Sekarang ekspresi Diana terlihat menuduh, aku menatapnya sembari mengerutkan kening tidak suka.
“Bagaimana kalau kita luruskan keadaan di sini.” Kataku melipat kedua tangan di atas perut. Mataku melirik layar kecil yang menunjukkan angka lantai yang kami tuju, kami sudah ada di lantai dua, maka aku segera menekan tombol stop yang seketika saja membuat lift berguncang dan terhenti.
“Apa yang kamu lakukan?” Diana bertanya kaget.
Lucy menatapku juga dan aku hanya mengangkat tangan yang di balas anggukan olehnya.
“Ayo kita mengobrol, jadi Diana, benar ‘kan?”
“Ya.” Jawab Diana singkat, wajahnya cemberut bercampur panik.
‘kan?”
“Benar, aku sudah bekerja di sini sejak lulus SMA, pak Evano sendiri yang mengajariku langsung hingga aku bisa seperti ini. Orang-orang di sini sudah menganggapku sebagai putri pak Evano. Aku tahu semua tentang beliau, dia tidak punya anak. Bahkan karyawan lamanya di sini pun tidak pernah mendengar tentang anak pak Evano.”
“Ya. Benar. Aku tidak bisa membantah itu.” Aku mengangguk menyetujui.
“Lalu apa benar kamu anak pak Evano?”
“Kalau soal itu, aku tidak pernah tes DNA dengannya.” Jawabku setengah bergurau.
“Nyonya!” Lucy memekik kaget menatapku, hendak membantah tapi aku menggeleng padanya.
“Ya, aku tahu. Pak Evano memang selalu baik pada anak-anak yatim piatu.” Diana tersenyum senang yang seketika saja membuat Lucy bergerak maju, tapi aku segera menahannya.
“Senang mendengar pak Evano sebaik itu di matamu.” Aku mengangguk, senyum Diana tidak memudar bahkan untuk beberapa detik berikutnya.
“Tapi Diana, aku pikir sikapmu sedikit berlebihan tadi. Mungkin kamu bisa menganggapnya seperti ayahmu sendiri, tapi di tempat kerja, kamu tetaplah karyawannya jadi tolong kontrol sifat keingintahuanmu, harus ada batasan yang jelas di setiap tempat.” Kataku serius.
“Jadi kamu, yang baru saja aku temui sedang mengajariku?”
__ADS_1
“Bukan. Ini adalah peringatan. Dengan sikapmu tadi, untuk orang yang baru aku temui itu agak memalukan. Kalau orang lain yang ada di posisiku, mungkin mereka akan memandang rendah pak Evano karena mempekerjakan karyawan sepertimu di dekatnya.” Selesai mengatakan itu aku kembali menekan tombol lift agar lift kembali menyala.
Diana menatapku tidak percaya, seolah aku baru saja menamparnya. Dia kemudian mendelik tidak suka sembari mendecak kesal.
“Tapi aku yakin, pak Evano mempertahankan mu di sampingnya karena kamu bagus dalam bekerja. Jadi, terima kasih sudah membantunya selama ini.” Lanjutku tersenyum lembut padanya. Aku tidak benar-benar membencinya.
Diana berbalik menatapku tidak percaya, sebelum dia menjawab, pintu lift terbuka di hadapan kami. “Ayo.”
Karyawan yang menunggu di depan lift segera menyapa Diana saat wanita ini berjalan keluar di hadapanku. Di lihat dari reaksi mereka, pasti wanita ini memang terkenal sebagai orang kepercayaan ayah.
Lobi perusahaan siang ini masih ramai seperti kedatanganku tadi, Diana melangkah cepat menuju pintu tapi aku segera menahan tangannya. “Tunggu sebentar.”
Begitu langkahnya terhenti, aku mengedarkan pandangan ke penjuru lantai ini, mencari sosok Bayu yang ternyata ada di sudut sedang memainkan ponselnya.
Lelaki itu memakai topi dengan Dika di dekatnya, berdiri kaku sembari menatap ke sekitarnya. Saat matanya menemukan kami, dia memanggil Bayu dan menunjuk ku dengan dagunya.
Bayu yang awalnya sedang menunduk langsung mendongak dan tersenyum lebar dari tempatnya begitu melihatku. Sembari melangkah mendekatiku, tangannya menyimpan kembali ponsel di saku celana.
Senyum ku semakin lebar seiring dengan sosoknya yang mendekat, padahal kami tidak bertemu beberapa jam saja rasanya aku sudah lama sekali tidak melihatnya.
“Nyonya...” Tiba-tiba Lucy menarik pelan tangan kiriku yang langsung saja menyadarkan ku tentang sengatan kecil luka jahit di bahu.
Aku berbalik dan mendapati seorang karyawan pria sedang membawa dus-dus di tangannya sampai kepalanya tidak terlihat.
“Maaf, permisi.” Katanya sembari melewati kami.
“Nyonya tidak apa-apa?” Tanya Lucy menatapku. Aku menggeleng dan tersenyum menenangkan ekspresi tegangnya.
“Kau tadi sedikit terkejut.” Kata Lucy lagi.
“Kau pengawalnya?” Diana bertanya pada Lucy. Aku meliriknya dan hanya menggeleng pelan. Sepertinya sifat wanita ini memang selalu ingin tahu bahkan pada orang yang baru dia kenal. Lucy hanya meliriknya tanpa menjawab.
“Ada apa, Boo?” Bayu langsung merangkul ku begitu dia sudah ada di dekatku.
“Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong ini Diana, karyawan ayah yang akan mengantar kita ke restoran.” Aku segera memperkenalkan Diana yang secara terang-terangan memperhatikan Bayu dari atas ke bawah.
...
__ADS_1