
...
“Jadi kau senang karena wanita itu mengatakan kalau kau di anggap pacar oleh mereka bersama?!” Aku bertanya kesal padanya.
“Sayang, jangan di anggap serius ucapan mereka. Lagi pula kau sangat keren! Kau pintar sekali menghadapi mereka!” Bayu berbinar kagum padaku tapi tidak menghilangkan rasa kesalku.
“Jadi, kalau aku juga di anggap pacar bersama oleh pria lain, kau tidak keberatan?”
“Apa?! Pria mana yang mengatakan itu?? Aku akan menemuinya sekarang juga!” Sekarang lelaki ini menjadi kesal.
Aku mendengus dan menggeleng. “Lihat! Kau juga kesal ‘kan? Apa lagi aku yang menghadapi mereka langsung! Aku juga tidak bisa terus terang mengatakan kalua aku pacarmu mengingat di sini posisiku bukan sebagai Icha, tapi Putri!”
Bayu tiba-tiba menangkup kedua pipiku dengan tangannya, menatapku serius. “Beritahu aku, apa yang bisa membuat perasaanmu lebih baik?”
“Aku—“
BRAAK!
Kami berdua tersentak kaget mendengar suara pukulan keras di atas meja. Bayu melepaskan tangannya dari pipiku dan kami sama-sama menciut melihat kakek Jeremy yang berdecak memperhatikan kami.
“Apa kalian menganggap aku ini obat nyamuk?”
“Maaf kek.” Jawabku benar-benar merasa bersalah.
Kakek Jeremy menghela napas pelan dan kembali menatapku. “Aku dengar, tadi pagi kau menyelematkan anak nakal ini ketika dia hampir tertusuk.”
“Tidak! Aku lah yang harusnya berterima kasih karena Bayu dan Benny, mereka datang menyelamatkanku.” Aku mendongak, menatap lagi pria tua ini.
“Tapi semua ini terjadi karena pengamanan acaraku yang lengah hingga membuat tiga orang penculik dadakan berhasil masuk. Sekali lagi aku berterima kasih padamu.” Nada suara kakek terdengar tenang. Aku tersenyum kecil dan mengangguk.
__ADS_1
“Lalu, apa alasanmu mencintai cucuku ini?”
“Kek, berhenti basa basinya. Aku sudah menceritakan semuanya padamu lebih dari aku bercerita pada Bunda.” Bayu menjawab, seperti ingin mengeluarkanku dari pertanyaan serius kakek saat ini tapi aku segera menyentuh tangannya.
Dia melirikku dan aku menggeleng pelan sembari tersenyum padanya. Meskipun Aura kakek Jeremy saat ini terasa lebih menyeramkan namun Bayu sudah menerima aku yang banyak kekurangan ini, menerima siapa aku, menerima keluargaku dan menerima cintaku. Setidaknya aku ingin memperjuangkannya kali ini.
“Aku dan Bayu sudah mengenal sejak kecil, kami juga sudah pernah pacaran saat SMA dan aku juga pernah mengecewakannya. Banyak yang terjadi di antara kami hingga sekarang, suka dan duka. Kami bisa sering bercanda seperti sekarang karena kami sadar bahwa sikap toleransi, saling percaya, respek dan mau mendengarkan adalah pondasi awal untuk suatu hubungan.”
Aku menoleh, menatap Bayu dengan lembut dan melanjutkan. “Bayu adalah cinta pertamaku dan dengan yakin aku mengatakan kalau dia juga akan menjadi cinta terakhirku, kek.”
Aku kembali menoleh pada kakek Jeremy yang masih diam mendengarkan. “Mungkin kakek sudah tahu latar belakangku, aku bukan dari keluarga yang sempurna. Sebelumnya tak mudah bagiku, tertawa sendiri di kehidupan yang kelam ini, sebelumnya, rasanya tak perlu membagi kisahku karena tak ada yang mengerti tapi sekarang
Bayu di sini menghilangkan semua bimbang, tangis dan kesepian.”
Tanganku terasa hangat, lelaki ini menyentuh tanganku, lalu menggenggamnya erat. Hal itu tidak mengalihkan tatapanku pada kekak. “Jika kakek menginginkan alasan apa aku mencintai Bayu maka aku tidak bisa menjawabnya. Selama ini aku tidak pernah benar-benar memikirkan alasan yang tepat untuk mencintainya, aku hanya suka kehadirannya di sisiku, aku suka bagaimana dia tersenyum, aku suka mendengar suaranya, aku suka perhatiannya, aku suka semua ekspresinya dan aku juga suka ketika harus merindukannya.”
Ada jeda sebelum aku melanjutkan semua yang selama ini aku pikir dan rasakan. “Mungkin bagi dunia ini Bayu hanya satu orang tapi bagiku Bayu adalah duniaku. Jadi kek, izinkan aku untuk menjaga dan merawat cucu kesayangan kakek ini sampai aku berhenti bernapas.”
Perasaan lega ini muncul seketika setelah apa yang bisa aku deskripsikan dalam pikiranku tersampaikan. Kakek dan Bayu sama-sama diam, tidak ada yang bersuara. Kakek Jeremy tampak menunduk dan dia tengah memijat keningnya.
“Err.. Maaf kek kalau ucapanku terlalu ber—“
“Tidak! Aku sudah mengerti!” Kakek mengangkat tangannya menghentikan ucapanku.
Aku melirik Bayu dan lelaki ini juga tidak sedang menatapku, dia seperti sedang memikirkan jauh ke depan.
“Ayah?” Suara itu terdengar dari belakangku, aku menoleh dan mendapati Bunda Kirana dan suaminya sedang berdiri di ambang pintu yang terbuka.
“Ada apa?” Bunda berjalan mendekati kakek karena kakek masih diam menunduk.
Aku semakin tidak mengerti apa yang terjadi di sini.
__ADS_1
“Tiba-tiba saja aku merindukan ibumu.” Kakek menjawab pertanyaan Bunda ketika Bunda sudah duduk di sampingnya.
“Ibu pasti senang karna cucu kesayangannya mendapatkan wanita yang tulus mencintainya, iya ‘kan ayah?”
“Iya! Sekarang aku mengerti kenapa anak nakal ini sampai mau memenjarakan pejabat dan pengusaha tempo hari padahal selama ini dia tidak pernah ingin menggunakan namaku di kemiliteran!”
“Bahkan Bayu tidak mau menggunakan nama ayahnya sendiri ketika dia dalam kesulitan. Dia akan menyelesaikan semuanya dengan kemampuannya sendiri.” Ayah Rasha yang semula berdiri di ambang pintu sudah melangkah masuk dan duduk di samping Bayu.
“Sekarang, katakan berapa yang kau keluarkan untuk menyewa ilmuan itu dan membuatkan penawar racun??” Kakek menatap Bayu.
Aku mengerutkan kening bingung dengan reaksi mereka.
“Kek, aku kan udah bilang kalau aku membayar dengan membantunya. Apapun biaya yang aku keluarkan selama pembuatan, itu semua sudah aku bayar dengan tabunganku sendiri. Selama aku mampu, aku tidak ingin uang kakek atau ayah untuk menyelamatkan pacarku.”
“Tunggu! Aku melupakannya saat itu! Jadi benar ada biaya untuk penawarnya?” Aku menarik tangan Bayu agar lelaki ini memperhatikanku.
Aku benar-benar lupa dengan yang satu ini!
“Semuanya sudah beres jadi tidak usah mengungkitnya, oke?”
“Tidak bisakah kau memberitahuku nominal biayanya? Aku janji tidak akan berkata akan menggantinya!” Kataku cepat membaca sorot matanya.
Kakek, bunda dan ayah Rasha terdiam menatap Bayu, menunggu jawaban lelaki ini.
Bayu menghela napas pelan, seolah menyerah dengan tatapanku. “Aku tidak ingat nominal pastinya tapi biaya bahan dan beberapa penelitian yang harus di lakukan di luar menghabiskan sekitar enam puluh juta.”
“Sebanyak itu??” Aku memekik tidak percaya. Bayu mengangguk sembari tangannya mengusap kepalaku.
Lalu aku mendengar helaan napas kakek. “Baiklah, sekarang katakan apa permintaanmu? Tadi pagi kau bilang akan mengatakannya ketika kalian datang bersama.”
Aku menoleh, menatap wajahnya dari samping. Sorot matanya yang serius membuatku sedikit gugup dengan apa yang akan di katakan.
“Kakek, ayah, ibu! Aku ingin menikahi Icha akhir bulan ini!” Aku mengerjap tidak percaya. Nada suaranya terdengar sangat serius dan tegas. Aku bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
__ADS_1
…