
...
Sekarang aku benar-benar tidakmengerti. “Tunangan? Apa yang kamu katakan? Siapa tunanganmu? Apa urusannya denganku?”
“Berbicaralah yang sopan padanya! Bagaimanapun dia lebih tua beberapa bulan darimu. Ibu tidak mendidikmu menjadi anak yang merebut pasangan orang lain.”
Aku refleks tertawa mendengarnya. Semua perasaan menghormati ibu tiba-tiba hilang. Tuhan maafkan aku.
“Apa aku tidak salah dengar? Ada apa dengan kalian berdua? Ibu yang mendekati pak Alexander. Dan sekarang dengan gaya angkuhnya, putrinya ini justru datang ke sini. Bukankah tempo hari kamu yang datang padaku dan mengancamku untuk memperingati ibuku agar tidak mendekati ayahmu?! Tolonglah kebodohanmu itu terlihat nyata di hadapanku!”
Jane tampak kaget dan malu mendengarnya, tapi tatapannya tetap tajam menatapku. “Kau! Aku kesini karena ternyata kamu dan ibumu itu sama saja. Kalian perebut pria!”
“Siapa? Siapa yang merebut priamu itu? Siapa tunanganmu itu, hah?”
Wanita ini segera menyerahkan ponselnya padaku. Aku merebutnya dan melihat apa yang di maksud Jane.
“Kami sudah bertunangan tiga tahun yang lalu! Ini adalah buktinya.”
Rongga dadaku tiba-tiba terasa kebas, jika ada kata yang lebih menyakitkan dari pada perih mungkin aku akan
menggunakannya. Di dalam foto yang Jane perlihatkan, dia sedang tersenyum menatap kamera menggandeng seorang pria jangkung yang bersamaku beberapa menit yang lalu.
Jane dan Bayu tersenyum lebar menatap kamera dengan memperlihatkan cincin pertunangan mereka. Denyut yang berdembu-debum di kedua telingaku semakin keras, mulutku sangat kering sehingga aku tidak mampu menelan, apalagi berbicara.
Sekuat tenaga aku menahan tangis, menyadari betapa malangnya hidupku. Aku sendirian. Orang-orang yang pada normalnya disebut keluarga atau pacar harus melakukan semua ini padaku.
Apa ini semacam karma untukku?
Apakah aku telah berbuat jahat? Apakah aku menyakiti seseorang tanpa sadar? atau apakah aku membuat orang-orang tidak nyaman? Sebenarnya apa salahku!
__ADS_1
Aku tidak tahu lagi bagaimana aku akan menghadapi rasa sakit hati ini. sekuat apapun aku mencoba percaya tapi pada akhirnya aku akan di kecewakan dan sendirian lagi.
“Benarkan?! Bayu adalah tunanganku! Dia akan menjadi suamiku!” Aku tersentak kaget dan sadar dari lamunan ketika menyadari Jane telah mendorong bahuku cukup keras hingga hampir membuatku terjatuh.
“Jadi benar?! Kau merebut tunangannya??” Sekarang Ibu melotot di hadapanku.
“Aku tidak tahu Bayu sudah bertunangan.”
“Beginilah kamu! Selalu beralasan! Ibu tidak pernah mengajarimu untuk berbuat hal seperti ini! Kau merusak kebahagiaan Jane! Selama ini dia pasti sudah banyak menderita karenamu. Ibu benar-benar malu menyebutmu anakku.”
Aku ingin tertawa keras sekarang tidak tahu lagi bagaimana pikiran ibu. Dia sekarang lebih membela anak dari selingkuhan ayah dari pada anak kandungnya sendiri. Aku sangat marah.
“Kamu, ikut aku!” Aku berbalik, berjalan terlebih dahulu agar Jane mengikutiku.
Tepat di depan gerbang, aku melihat Bayu sedang berjalan menghampiriku. Dari jauh aku bisa lihat tatapan kaget Bayu pada Jane yang berdiri di belakangku.
“Kamu sudah bertunangan dengannya?” Tanyaku tanpa basa basi setelah Bayu berdiri di hadapanku.
“Bayu, aku menelponmu beberapa minggu terakhir ini tapi kenapa selalu tidak di respon. Pasti gara-gara dia.
Bayu menatapku, wajahnya lebih serius dari biasanya. “Yaa. Tapi aku sudah membatalkannya.”
“Apa?! Kamu tiba-tiba membatalkannya?! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!!” Jane sudah berdiri di antara aku dan Bayu, mendorongku agar aku menjauh.
Aku melihat Bayu hendak meraihku tapi tanpa di duga Jane memeluknya, menghentikannya. Adegan ini seperti dalam drama yang pernah aku tonton. Hatiku semakin bergemuruh antara cemburu dan sakit hati. Aku ingin pergi dan menghilang saja. Rasanya aku tidak sanggup lagi.
“Icha! Dengarkan penjelasanku dulu!” Bayu sudah melepaskan Jane dan meraih tanganku tapi seperti refleks alami, aku menghempaskannya. Tidak ingin bersentuhan dengannya.
“Kau berbohong padaku!”
“Aku hendak menjelaskannya padamu.”
__ADS_1
“Kapan? Setelah ketahuan seperti ini?”
“Oke. Aku minta maaf karena tidak menceritakannya padamu. Tapi aku bersumpah bahwa aku telah membatalkan pertunangan ini dua bulan setelah acara pertunangan itu. Semua ini karena perjodohan kedua orang tuaku. Kau harus percaya padaku!”
“Apa yang kamu katakan? Pembatalan apa? Bahkan orang tua kita tidak membahasnya.” Suara Jane semakin membuatku tidak menyukainya. Meskipun sekilas tapi aku bisa melihat ekspresi tenang gadis itu terlihat menyebalkan dari balik punggung Bayu.
Pertama kalinya aku melihat ekspresi Bayu yang seprti ini. Kalut, putus asa dan khawatir tapi lagi-lagi telingaku seolah tidak ingin mendengar apapun lagi darinya. Aku merasa muak menatapnya. Tapi aku sadar, dalam hatiku yang paling dalam ada setitik rasa harapan di sana. berharap aku bisa mempercayai perkataannya, berharap dia kembali padauk dan berharap aku bisa mendapatkan hatinya sepenuhnya.
“Bagaimana aku bisa percaya padamu jika hal seperti ini saja kamu tidak percaya padaku untuk menceritakannya! Kau membuatku menjadi gadis jahat, menjadi gadis yang merebut tunangan orang lain, menjadikan aku orang ketiga di antara kalian.”
“Aku tidak bermaksud! Maaf, tolong jangan seperti ini. aku bisa membuktikannya!”
“Selesaikan masalahmu dengan dia. Aku tidak ingin melihatmu. Aku tidak ingin selalu menjadi yang di salahkan.” Aku berbalik hendak membuka gerbang untuk masuk ke dalam tapi ucapan Bayu menghentikan gerakkanku.
“Lalu bagaimana denganmu? Apa selama ini kamu sudah percaya padaku? Apa kamu percaya padaku untuk menceritakan masalahmu itu? Kamu saja tidak mempercayaiku!”
“Yaa! Memang aku belum bisa percaya pada awalnya! Tapi ini masalahku sendiri dan bukan urusanmu mulai sekarang! Lagipula aku bukanlah orang yang akan berselingkuh seperti ini.” Aku balas menatapnya marah ketika Bayu menatapku dengan matanya yang merah menahan amarah.
Tiba-tiba dia meraih pergelangan tangan kananku sangat keras hingga aku dan dia sudah sangat dekat. Wajahnya
menunduk menatapku kesal. “Aku tidak berselingkuh! Aku akan membuktikannya padamu!”
“Tidak perlu! Aku tidak ingin lagi berurusan denganmu! Semua lelaki sama saja! Sekarang lepaskan aku!!” Aku berusaha melepas cengkramannya tapi Bayu benar-benar menggenggamnya sangat erat. Satu lagi sisi Bayu yang baru aku lihat.
“Jika kamu tidak menghindariku, aku tidak akan melakukan ini.” Bisikkan tajamnya semakin membuatku ingin menjauh darinya. Sebenarnya aku tidak mau seperti ini, aku ingin berbicara tenang dengannya tapi karena suasana hatiku yang hancur karena ibu dan Jane tadi, sepertinya aku melampiaskan pada Bayu.
“Bukankah tadi kamu sendiri yang mengatakan jika mungkin hanya akan ada kesalahpahaman. Kita tidak sama dalam 1 warna, kita juga beda dalam tulisan kata, namun indah selalu punya arti karena berbeda tidak harus menyakiti.” Bayu melanjutkan dengan pukulan telak. Perkataannya sama persis seperti yang aku lontarkan sebelumnya.
“Lepas! Please.” Aku berusaha menghindar, hatiku butuh waktu dengan semua ini. Begitu sering aku menelan kekecewaan hingga aku lagi-lagi harus melukai hatiku.
Bayu perlahan melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tanganku, matanya masih tajam menatapku. Ada sorot putus asa, permohonan, kekecewaan dan kasih sayang di dalamnya. Lelaki ini berhasil menggetarkan pertahananku. Cinta dan kasih sayangnya begitu nyata terlihat hanya untukku.
__ADS_1
...