EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 280


__ADS_3

 


 


...


 


 


 


 


 


 


“Natasha, aku tidak peduli tentang dia yang coba mencelakaiku, aku tidak butuh untuk membuatnya ingat tentang itu, yang penting sekarang kau memberi dia kesempatan untuk menyerangmu tadi dan itu sangat berbahaya! Bagaimana kalau kamu terluka saat aku tidak ada di sampingmu?”


 


 


“Tapi aku harus mengingatkan dia tentang perbuatannya! Aku tidak bisa memaafkan orang yang menyakitimu, dan lagi, aku baik-baik saja. Aku tidak terluka.”


 


 


“Lain kali, aku tidak ingin kau bertindak seperti ini—“


 


 


“Maksudmu, aku harus diam saja ketika melihat ada pria yang memukuli wanitanya? Atau diam melihat orang yang ingin mencelakaimu?”


 


 


“Aku bisa menjaga diriku sendiri, kau tidak perlu khawatir! Lalu, ada Dika dan Lucy, biar mereka yang mengurus orang-orang itu!”


 


 


Perasaan kesal sekali lagi menggulung memenuhi rongga dadaku. “Jadi maksudmu, aku tidak boleh khawatir dan harus menurutimu, bahkan saat kau berada dalam bahaya?”


 


 


“Aku tidak sedang dalam bahaya. Kau! Kau yang dalam bahaya tadi! Icha, kamu harus ingat, justru tentara bayaran Ceasar itu melukaimu, bukan aku!”


 


 


“Tapi niat awal mereka untuk mencelakaimu! Bukan aku! Kau ingin aku diam saja ketika bertemu dengan orang yang punya niat mencelakaimu? Kau ingin aku diam ketika kau justru sedang menjadi tameng untukku? Kau ingin aku tidak perlu khawatir? Kalau gitu, aku ini siapa bagimu? Kau menganggapku boneka? Aksesoris?”


 


 


“Aku tidak pernah menganggapmu boneka atau aksesoris!”


 


 


“Kalau gitu, kenapa kau selalu mengomeliku ketika aku ingin melindungimu juga? Sadar tidak? Pertengkaran kita itu selalu dengan masalah yang sama! Dulu atau sekarang, sama saja!.” Aku marah sekarang! Hubungan kami lima belas menit lalu baik-baik saja, tapi sekarang, dengan mudah kami sudah bertengkar.


 


 


“Dan kau pun tidak menuruti perkataanku! Aku yang lebih tahu bagaimana berada dalam situasi bahaya. Aku tidak bisa melihatmu terluka, tidak lagi!” Ekspresi serius Bayu di layar ponsel tidak membuatku takut atau mengalihkan pandangan.


 


 


“Tapi kan aku baik-baik saja sekarang—“


 


 


“Kalau kau sekarang tidak menurutiku untuk mundur, bagaimana kau akan mendengarkanku kalau ada situasi yang sama lagi? Aku begini untuk kebaikanmu juga! Apa kau tahu bagaimana frustasinya aku karena tidak ada di sampingmu tadi? Tidak bisa membantumu! Tidak bisa melindungimu!”


 


 


Tenggorokkanku sakit menahan amarah dan sedih. Mataku mulai buram karena air mata, aku bisa merasakan kasih sayang Bayu. Aku bisa merasakan kesedihan dari nada suaranya, tapi aku adalah wanita yang punya prinsip dan pendapat.


 


 


“Itu artinya kau tidak mempercayaiku, kau sama saja menganggapku lemah. Apa aku tidak boleh mencoba lebih kuat lagi untukmu?”


 


 


“Kau tidak harus memikirkan itu untukku. Hanya kamu yang biasanya saja sudah cukup. Yang utama kau harus memikirkan keselamatan dirimu sendiri—“


 


 


“Apa kamu bodoh? Tentu saja aku akan memikirkanmu! Kau adalah cinta dalam hidupku! Kau adalah kekasihku! Kau adalah teman hidupku! Kau adalah suamiku sekarang! Kalau aku tidak memikirkanmu, tidak mengkhawatirkanmu, lalu, apa aku harus mengkhawatirkan tetangga sebelah?”


 


 


“Jangan konyol! Aku kan sudah bilang, aku tidak ingin melihatmu terluka! Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Aku ingin kamu, milikku! Istriku! Cintaku! Hatiku! Rinduku! Kebahagiaanku—selalu bahagia dan aman.”


 


 


“K—kau sedang menggodaku sekarang, huh!” Wajahku memanas dengan cepat tapi kejengkelan ku padanya masih tinggi.


 


 


“Kau yang menggodaku lebih dulu!”


 


 


“Pokoknya, aku tidak akan berhenti memikirkanmu! Aku akan mengkhawatirkanmu, jadi jangan terobsesi menjadikanku boneka yang bisanya cuma diam dan tersenyum!”

__ADS_1


 


 


“Apa sekarang kau mencoba untuk menakutiku? Mana mungkin aku membiarkanmu jadi boneka yang cuma bisa tersenyum! Aku akan memastikan kau aman dan menjauh dari situasi seperti tadi.”


 


 


“Tadi itu Ceasar memukuli pacarnya! Kalaupun pria itu bukan Ceasar, aku tetap akan membelanya!”


 


 


“Kenapa kau keras kepala sekali?!”


 


 


“Karena aku melihatnya! Tidak mungkin aku tidak peduli! Berhenti terus membuatku aman! Kau pikir situasi tadi selalu bisa di hindari? Kau yang keras kepala!” Aku menghentakkan kaki, rasanya ingin sekali mencekik seseorang. Gemas dengan sikap keras kepala lelaki ini!


 


 


“Aku seperti ini karena aku mencintaimu!”


 


 


“Aku juga! Aku seperti ini karena aku cinta kamu! Meski kamu adalah prajurit yang akan ada di garis depan medan perang, tapi aku juga ingin melindungi semua yang ada pada dirimu! Bahkan aku akan melindungi namamu! Tidak ada yang boleh mempermainkannya!”


 


 


“Konyol! Aku yang sebagai kepala keluarga sekarang, seharusnya aku yang melindungimu.”


 


 


“Keras kepala!


 


 


“Kau lebih keras kepala dari pada aku!


 


 


“Hah! Tidak ada alat ukur untuk mengetahui siapa yang lebih keras kepala!”


 


 


“Kalau gitu, tolong dengarkan aku. Jangan lagi terlibat dengan situasi seperti tadi. Titik!”


 


 


“Tidak mau!”


 


 


 


 


“Aku mendengarkanmu sekarang!”


 


 


“Icha!!”


 


 


“Bayu!!”


 


 


 


 


 


 


Tut tut tut


 


 


 


 


 


 


 


Tiba-tiba ada peringatan baterai ponsel di layar milikku menunjukkan angka 2%.


 


 


“Oh! Baterainya habis.”


 


 


“Lihat! Ponselmu saja sudah cape untuk menghadapimu.” Bayu meledekku. Wajahnya yang menyeringai tampak di layar ponsel yang cahaya nya mulai meredup.


 


 

__ADS_1


“Justru ponselku ini cape karena berdebat denganmu! Padahal tadi baterainya masih cukup banyak.”


 


 


“Tidak mungkin! Ponselmu yang ada di hadapanmu sekarang.”


 


 


“Tapi dia menerima sambungan darimu, jadi tentu saja kamu yang membuat ponselku kehabisan baterai!”


 


 


“Aku tidak pernah merasa selelah ini hanya karena berdebat.” Bayu mendesah lelah, kepalanya menunduk dan menggeleng.


 


 


“Selamat datang di duniaku!”


 


 


Bayu sudah mendongak kembali, akan menjawab tapi layar ponselku langsung mati dan sambungan video kami terputus.


 


 


Aku menatap layar ponselku dengan jengkel dan memasukkannya ke tas tangan kecil bersama sepasang airpods.


 


 


Begitu aku berbalik, akan kembali ke kerumunan tadi, aku di kagetkan dengan nenek dan kakek yang berdiri satu meter di belakangku, kedua tangan mereka terlipat di atas perut. Selain itu, Lucy dan Dika berdiri tak jauh di belakang nenek dan kakek, tapi pandangan mereka terlihat canggung ketika aku melirik mereka, berusaha agar tidak bertemu pandang denganku.


 


 


“Apa yang tadi itu?” Tanya nenek melangkah mendekatiku.


 


 


“Apanya?” Aku tidak mengerti.


 


 


“Hahahaha. Menjadi muda dan merasakan sengatan cinta.” Kakek sekarang sudah berdiri di sampingku, merangkul bahuku dan menepuk-nepuknya.


 


 


Kerutan di dahiku semakin dalam, tapi aku tidak pernah sedekat ini dengan kakek. Tangan besarnya terasa hangat dan auranya mirip dengan ayah Evano.


 


 


“Kakek mendengarnya?” Aku berbisik hati-hati, sekali lagi kakek Alvaro tertawa dan mengangguk.


 


 


“Kakek, nenekmu, bahkan dua pengawalmu mendengar perdebatan kalian tadi—oh tidak tidak! Yang tadi itu tidak bisa di sebut perdebatan, iya ‘kan sayang?”


 


 


“Yang tadi itu lebih cocok di sebut pengungkapan cinta.” Jawab nenek mengangguk pada kakek.


 


 


Seketika wajahku memanas, kalau di pikir-pikir lagi, kami berdebat tadi terlihat konyol.


 


 


“Apa kami terlihat konyol?” Tanyaku, meringis pada mereka berdua.


 


 


“Tidak tidak!” Kakek menggeleng cepat.


 


 


“Kata-kata itu bukan untuk membuat saling mengerti, kata-kata itu ada untuk membuat kita saling bicara. Meskipun kita berbenturan dan tidak saling memahami, kita akan membicarakannya lagi, agar bisa menemukan hasil yang paling sesuai.” Kata nenek sembari menatapku.


 


 


Aku mengerjap dan mengangguk perlahan, memikirkan kata-katanya yang menginspirasi, aku jadi punya sudut pandang baru dalam memahami sesuatu.


 


 


 


 


 


 


 


...


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2