EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 286


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Oke. Sampai jumpa besok.” Aku memutuskan sambungan telepon, membaca sekilas nama yang tertara di layar.


 


 


 


 


Camila.


 


 


 


 


Wanita itu memberitahuku sesuatu yang sangat penting.


 


 


“Pagi ini, aku membuka lemari pakaian Dimas untuk pertama kali setelah dia meninggal, bermaksud untuk menyimpan pakaiannya di gudang, tapi ada barang yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, bungkusannya bertuliskan Osa. Aku coba mencari tahu di internet, tapi tidak menemukan apa-apa. Kamu mengatakan, kalau ada sesuatu yang mencurigakan, aku harus mengabarimu. Dan satu lagi, aku merasa dari kemarin ada orang yang mengikutiku, agak menakutkan.”


 


 


 


 


Aku menatap keluar jendela mobil. Jalanan masih macet ketika jam menunjukkan hampir ke angka tujuh.


 


 


Langit sudah gelap dan perjalanan pulang kami lebih lama dari perkiraan. Untuk sampai ke rumah ayah Evano membutuhkan waktu perjalanan dua puluh menit sedangkan pulang ke rumah bunda Kirana hanya sepuluh menit. Tapi aku tetap harus pulang ke rumah ayah Evano, pulang ke rumah bunda Kirana tanpa pamit pada keluarga Danendra adalah tindakan yang tidak sopan.


 


 


Rasanya hari ini lelah sekali, banyak hal yang mengganggu pikiranku. Apalagi, ketika aku sedang tidak punya rencana untuk mencari tahu tentang Red Apple atau perusahaan Raksasa dan laboratorium Asura, tiba-tiba saja topik itu datang tanpa bisa di cegah dari dua orang sekaligus.


 


 


Aku menghela napas panjang, kembali menatap ponselku dan mencari aplikasi pesan untuk mengirim pesan pada Talia.


 


 


Memikirkan suara Camila yang bergetar karena takut tadi, aku harus segera meminta bantuan pada Talia untuk menjaga Camila dari orang yang mengikutinya.


 


 


 


“Nyonya, ini makan dulu roti. Anda tadi siang hanya makan sedikit dan tadi pagi tidak sarapan, hanya minum kopi. Perjalanan pulang kita juga lebih lama dari yang di perkirakan.” Suara Lucy dari jok samping kemudi mengalihkan pandanganku ke depan.


 


 


Wanita ini menyodorkan sebungkus roti lapis tapi aku langsung menggeleng, “makasih Lucy, tapi aku sedang tidak ingin makan apa-apa saat ini, juga tidak biasa makan dalam mobil.”


 


 


“Ekspresi nyonya muram sekali. Apa ada yang bisa kami bantu?” Kali ini aku tersenyum lebar pada Dika yang menawari bantuan. Sekilas dia melirikku dari kaca spion.


 


 


Sebelum aku menjawab, panggilan masuk ke ponselku mengalihkan pandanganku. Ternyata Talia yang menelepon.


 


 


“Halo.”


 


 


“Icha! Kau serius? Dia menemukan sesuatu? Apa aku harus ambil sekarang barangnya untuk di selidiki?”


 


 


“Jangan dulu. Mila sepertinya ketakutan, biar dia berbicara padaku dulu besok. Tapi tolong jaga dia malam ini.”


 

__ADS_1


 


“Baik. Aku sudah mengutus dua orang menjaganya dari dekat. Dia tidak akan menyadarinya.”


 


 


Namun, aku berpikir ulang, sepertinya aku harus malam ini datang ke rumahnya. Takut dia dalam bahaya.


 


 


“Tidak! Aku akan ke rumahnya sekarang. Kau bersiaplah nanti kita bertemu di dekat rumahnya. Mungkin aku akan sampai dalam satu jam, semoga tidak macet.”


 


 


“Satu jam? Kau ada di luar sekarang?”


 


 


“Ya. Baru keluar gerbang tol, tapi macet sekali.”


 


 


“Baiklah. Kita bertemu di sana. Sebelum kau datang, aku akan mengawasinya langsung.”


 


 


“Oke. Makasih Talia.” Lalu sambungan telepon terputus dengan berakhirnya obrolan singkat kami.


 


 


Seperti yang aku duga, Lucy dan Dika menatapku dari kaca spion, “ada sesuatu yang mendesak. Antarkan aku ke alamat ini.” aku menunjukkan alamat rumah Camila dari aplikasi map ponselku pada Dika.


 


 


Rumah Camila agak jauh dari arah gerbang tol. Membutuhkan waktu satu jam perjalanan, itupun jika mobil ngebut dan tidak terjebak lampu merah.


 


 


“Baik nyonya.”


 


 


 


 


Aku menghempaskan punggung ke sandaran jok dan mendesah panjang, sembari menatap keluar jendela mobil, tiba-tiba aku jadi teringat teman-teman kampus saat kemacetan sudah bergerak dan mobil perlahan melaju melewati gedung universitas.


 


 


“Aku jadi ingat, teman laki-laki pertamaku di kampu pernah mengatakan ini. Kebenaran akan selalu mencari jalan untuk mengungkapkan dirinya. Lalu menurut Celeb CC, sahabat paling baik dari kebenaran adalah waktu, musuhnya yang paling besar adalah prasangka dan pengiringnya yang paling setia adalah kerendahan hati.”


 


 


 


 


 


 


 


 


***


 


 


 


 


 


 


 


 


 


“Memang benar. Ini heroin.”


 


 


Aku dan Camila saling pandang cemas ketika Talia sudah memastikan kalau bungkus plastik kecil dengan kapsul putih di dalamnya adalah heroin.


 

__ADS_1


 


Talia bersama dua orang pria yang merupakan rekan kerjanya membuka salah satu kapsul, mereka menyentuh bubuk putih dari dalam kapsul, mencium wanginya sebentar dan tahu kalau itu barang terlarang.


 


 


“T—tapi, Dimas tidak akan pernah memakai barang ini! Merokok pun dia tidak! Dia pria yang baik.” Camila mulai gelisah.


 


 


“Kita belum bisa memastikan apa-apa, yang terbaik sekarang adalah mencari petunjuk lain mengenai ini.” Talia menunjuk tulisan yang memakai spidol merah, Osa.


 


 


Aku menepuk-nepuk pelan punggung Camila ketika wanita ini mulai terisak pelan. Tidak tahu harus mengatakan apa.


 


 


Namun melihat pandangan Talia, dia sepertinya ingin bicara berdua denganku. Maka, aku segera pamit sebentar pada Camila saat dia sedang di tanya oleh dua rekan Talia.


 


 


“Sepertinya kita harus memeriksa dia juga mengingat suaminya telah meninggal. Bagaimana menurutmu?” Bisik Talia melirik Camila sesekali.


 


 


Kami berdua sudah ada di teras rumah Camila, pintu depan yang terbuka lebar memperlihatkan wanita itu sedang duduk di sofa ruang tamu, dengan dua pria di hadapannya.


 


 


“Aku kenal Camila cukup lama. Menurutku dia orang yang tidak mungkin memakai atau mengedarkan barang ini, dia teman dan rekan kerja yang terlalu polos. Pernah suatu ketika dia ditipu minum air mineral yang justru isi di dalamnya alkohol. Tapi semua tergantung keputusanmu, kalaupun dia harus di periksa, Mila akan bekerja sama.”


 


 


Talia mengangguk, “tapi firasatku jelek tentang Osa ini.”


 


 


“Oh benar! Tadi pagi aku bertemu orang yang menceritakan tentang wanita bernama Nindy, dia di tuduh melanggar undang-undang narkotika.”


 


 


“Maksudmu Nindy yang tertangkap di gedung komunitas peramal Prognoz?”


 


 


“Itu dia!”


 


 


“Sayangnya saat itu bukan aku yang menangkap, tapi tim lain.”


 


 


“Nindy, dia ada hubungannya dengan Osa.” Bisikku yang membuat mata Talia melebar.


 


 


“Fiona, wanita yang aku temui adalah cucu ibu Tiara, peramal terkenal di Prognoz. Dia bercerita kalau Nindy dan Rey saling kenal. Aku pikir mereka berdua ada hubungannya dengan Osa, ada hubungannya dengan racun yang Rey berikan padaku, juga aku curiga soal tante Marisa, bisa kau bantu aku cari tahu tentang masa lalu tante Marisa? Aku pikir sakitnya putri tante Marisa yang bernama Hanna, ada hubungannya dengan Osa.” Ujarku.


 


 


Talia tampak berpikir sebentar, mencerna semua perkataanku tapi pada akhirnya dia mengangguk tegas.


 


 


“Tapi, aku menyarankan kau harus menceritakan semua ini pada kedua keluarga.” Ujar Talia. Aku tahu maksudnya adalah keluarga Jeremy dan keluarga Danendra.


 


 


 


 


 


...


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2