
...
“Benarkah? Kalau gitu dimana salon itu--”
“Permisi sebentar nona-nona.” Zac memotong ucapan Alisya. Kami berdua kembali tersadarkan kalau masih ada Zac yang menemani.
“Obrolannya bisa di lanjutkan di dalam? Bunda Kirana dari tadi menatap terus ke sini.” Lanjutnya sembari menatap ke dalam restoran, di salah satu meja, ada bunda Kirana yang duduk di sana sendiri, menatap kearah kami.
Aku dan Alisya serta Zac segera masuk ke dalam restoran yang sudah di pesan sebelumnya.
“Bunda!” Panggilku ceria sembari memeluknya ketika wanita ini berdiri untuk menyambutku.
“Icha. Nak, gimana kabarmu? Tambah cantik aja nih menantu bunda.” Pujinya yang membuat wajahku memanas.
“Baik bun. Gimana kabar orang rumah? Bunda sehat ‘kan?” Tanyaku, mengajak mereka semua untuk segera duduk.
Bunda mengangguk, dia menatapku lekat-lekat, memperhatikan wajah dan penampilanku lalu berkata, “sudah empat bulan kamu belum pulang. Gimana di sini, betah?”
“Sebagian besar waktu di kantor bun, jadi tempat tinggal yang di sediakan perusahaan cuma untuk numpang tidur dan mandi. Sayangnya, aku belum keliling di kota ini, bun.” Jawabku mendesah panjang.
Cabang perusahaan ayah yang sedang bermasalah empat bulan lalu ada di luar kota, selama itu pun aku, Lucy, Dika, Yudha dan tiga karyawan pusat berada di kota ini.
“Bagaimana masalah kerjaan? Udah beres?” Tanya bunda.
“Empat bulan lalu, saat berdiskusi dengan ayah tentang metode yang aku sampaikan, aku pikir akan selesai dalam satu bulan, ternyata setelah datang langsung ke lokasi, banyak masalah rumit dan ayah menunjukku untuk membantunya menstabilkan cabang ini. Tiga karyawan pusat sudah kembali dua bulan lalu sedangkan kami tetap di sini untuk memantau dan menyeleksi karyawan baru.”
“Sudah dapat karyawan barunya?”
“Sudah bun, dua minggu lalu sudah ada yang cocok. Sebelumnya ketika merekrut karyawan baru, mereka hanya bertahan paling lama satu minggu.” Kataku mendesah lelah. Bunda tersenyum lembut dan mengangguk, ekspresinya mengernyit seolah dapat merasakan kelelahan yang aku rasakan selama empat bulan ini.
“Bunda sudah dengar dari ayahmu, setelah mendapat karyawan baru yang cocok, kamu akan langsung pergi menyusul Bayu ya? Jadi kita bertiga datang. Kapan akan pergi?”
“Mungkin tiga hari lagi, Icha belum bisa memastikannya karena melihat situasi di kantor dulu.”
__ADS_1
“Hati-hati di jalan ya, Cha. Kamu sendiri pergi, jadi bunda khawatir. Kamu sudah tahu kan lokasinya, tempat itu meskipun kota tapi tidak seperti di kota lainnya.”
Aku tersenyum lebar dan mengangguk, seketika ingat saat ayah mengizinkanku untuk melakukan perjalanan tanpa Dika dan Lucy beberapa minggu lalu. Dia mengatakan, “ayah setuju kamu pergi sendirian kesana, tapi mengingat kamu tidak bisa menyetir, dan kalau bisa pun ayah tidak akan izinkan, maka, syaratnya kamu harus memakai transportasi yang ayah pilih agar ayah tahu jadwal dan posisimu saat di jalan nanti. Kamu tidak akan bisa jalan-jalan dulu karena kalau tertinggal jadwal transportasi, maka satu-satunya jalan adalah kau harus kembali.”
“Iya bun, Icha pasti hati-hati.”
“Kak Icha, hubungan jarak jauh sama kak Bayu, pasti susah banget ya?” Tanya Alisya.
“Sudah empat bulan, memang hubungan jarak jauh selama ini banyak perdebatan. Kadang tingkat kecurigaan jadi lebih tinggi, kadang satu minggu tidak dapat kabarnya, kadang kita cuma bisa kirim pesan singkat. Tapi, semuanya baik, hanya sebatas pertengkaran kecil, itu wajar untuk hubungan jarak jauh ‘kan?” Jawabku, mengingat lagi bagaimana kami menjalani hubungan jarak jauh empat bulan ini. Memang tidak mudah, banyak kecurigaan dalam hal apapun, tapi pada akhirnya aku dan Bayu bisa seperti biasanya, saling mengungkap kata cinta.
“Bunda ahlinya, iya ‘kan bun?” Alisya menatap bunda dengan kerlingan mata.
“Kamu ini! Jadi bercandain bundanya sendiri!”
Aku dan Alisya saling melempar tawa dan baru berhenti saat Zac tiba-tiba datang membawakan empat minuman di atas nampan yang dia bawa dari meja kasir.
***
Tok tok tok
Aku yang sedang melipat baju untuk di masukkan ke dalam koper segera beranjak menuju pintu, tahu kalau yang datang pasti ayah Evano karena sebelumnya ayah mengabariku akan datang sore ini.
“Ayah! Paman!” Sapa ku begitu membuka pintu, mendapati ayah dan paman Kenzo ada di sana.
“Ayo masuk.” Ajakku pada mereka.
“Kemana Lucy, Dika dan Yudha?” Tanya ayah begitu masuk dan terasa sepi.
Rumah yang selama empat bulan ini kami tempati memang terdiri dari empat kamar, dengan seorang pembantu untuk membersihkan rumah secara rutin. Ayah biasanya berkunjung dalam satu bulan bisa empat kali, jadi dia sudah hafal kebiasaan orang di rumah ini, dia terbiasa dengan kehadiran tiga orang itu di sekelilingku.
“Mereka baru saja pergi ke depan, beli cemilan.” Setelah mengatakan itu, paman Kenzo langsung menyerahkan kantung plastik putih tebal berisi makanan kepadaku. Cemilan kesukaan kami berempat, aku tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih padanya.
“Jadi, kamu beneran mau pergi sendiri?” Paman Kenzo sempat melirik ke dalam kamarku yang pintunya terbuka.
__ADS_1
“Tentu saja!”
Lalu ayah menyerahkan amplop putih kecil padaku. Aku segera menerimanya dan membukanya, sudah menebak kalau di dalamnya adalah tiket dan kartu nama dari pengemudi transportasi yang akan aku naiki.
“Tiket dan kartu nama itu, kau sudah paham ‘kan? Tiket itu, kau harus gunakan tepat waktu dan kartu namanya, ayah sudah memastikan mereka untuk mengenalmu.”
“Kak, apa tidak terlalu berlebihan?” Paman Kenzo mengeluh, ayah menjitak keningnya pelan dan menjawab, “kalau kau sudah punya anak, kau akan mengerti.”
“Iya iya deh. Selama ini, mata memang kakak tidak pernah kehilangan Icha dari jarak jangkauan.”
“Jarak jangkauan apanya?! Kamu pikir Icha sinyal? Dasar! Bahasamu kadang mirip sekali dengan Kenzie.”
“Tentu saja karena kami kembar.” Bantah paman.
Aku tertawa kecil dan menggeleng. Selama empat bulan ini pun, aku sudah mulai memahami sifat keluarga Danendra, terutama ayah dan paman Kenzo, di balik sikap formal dan perfeksionis mereka, ternyata tetap saja keduanya adalah kakak adik yang bisa bercanda atau saling meledek.
“Tapi ngomong-ngomong, setelah kau kembali nanti, ayah ingin kau bergabung di perusahaan.” Ayah menatapku, mengabaikan paman Kenzo yang masih menatapnya dengan pandangan meledek.
“Akan aku pikirkan, Yah. Awalnya aku punya niat ingin bekerja saja di luar--”
“Tidak! Ayah ingin kamu mulai membantu di perusahaan. Sudah banyak yang tahu kalau kamu putri ayah, para manajer di perusahaan menaruh perhatian lebih padamu, awalnya mereka tidak percaya kau bisa menstabilkan cabang yang bermasalah di kota ini, tapi usahamu tidak sia-sia. Mereka puas dengan hasil kerja kerasmu selama empat bulan ini dan ingin melihatmu terus berkembang.” Aku terdiam mendengar itu.
Memang, sudah ada orang-orang dari kantor pusat yang kebetulan atau sengaja datang mengunjungi cabang, tapi aku tahu, pada akhirnya mereka justru ingin mengenalku.
“Tapi aku justru ingin Icha terus bersama Bayu.” Paman Kenzo mematahkan suasana serius di antara kami bertiga.
“Tumben sekali kamu mengatakan itu.” Ayah menatapnya dengan kening berkerut.
“Kakak ini gimana sih! Kalau kakak terus memonopoli Icha untuk perusahaan, kapan kakak akan punya cucu?! Sudah lama suasana keluarga kita ini suram!”
“Dasar! Kakak benar-benar marasa kalau justru Kenzie yang ada di sini. Bukan Kenzo.”
Wajahku memanas, kedua pria ini mulai saling ledek lagi. Paman Kenzo mengingatkanku sesuatu, nyatanya aku dan Bayu memang belum melewati malam pertama. Astaga!!
__ADS_1
...
-Terkadang badai terbesar membawa keindahan terhebat. Hidup bisa menjadi badai, tapi harapan Anda adalah pelangi dan teman serta keluarga Anda adalah emas- Steve Maraboli