EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 249


__ADS_3

...


 


 


 


 


“Apa mereka menyulitkanmu?”


 


 


Aku mengangkat bahu. “Sudah tidak aneh dengan gosip di dalam perusahaan. Mungkin mereka melihat timing yang pas ketika aku banyak meminta cuti beberapa minggu ini dan tentang kunjungan grup Eternity, mungkin juga memberi mereka tekanan.”


 


 


“Maaf.” Ayah meringis bersalah.


 


 


“Aku tidak bermaksud soal itu—tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka kelihatan takut sekali dengan kunjungan ayah?”


 


 


“Kau tahu Cha, saat ayah memutuskan untuk membeli saham mereka, sebenarnya perusahaan tempatmu bekerja sedang mengalami kesulitan, mereka terlibat dengan pajak lima tahun lalu.”


 


 


“Pajak dari perpindahan manajemen sebelumnya?” Tebak ku.


 


 


Ayah mengangguk. “Kau tahu kan, kalau sudah berurusan dengan pajak di perusahaan, pasti membutuhkan waktu lama untuk membereskannya, jadi ayah bantu sedikit dalam hal itu. Mungkin mereka sedang berusaha terlihat baik-baik saja, salah satunya dengan membereskan karyawan yang bagi mereka bermasalah, dengan adanya gosip-gosip itu, mereka memutuskan untuk mendesakmu mengundurkan diri. Tapi selain itu, seorang informan ku di dalam mengatakan kalau ada semacam konspirasi di balik semuanya.”


 


 


“Aku dengar ada sebuah perusahaan membantu menyelesaikan masalah di pusat, sebagai imbalan, mereka ingin memasukkan seorang untuk bekerja di cabang tempatku.”


 


 


“Ingat proyek besar yang di lakukan perusahaanmu?”


 


 


“Mereka membuka diskon besar di aplikasi online dengan persediaan barang 200% lebih banyak dari normal. Sebenarnya itu langkah yang jelek karena mereka tidak punya tempat penyimpanan.”


 


 


“Ya, untuk mendapatkan profit besar dalam waktu singkat. Perusahaan itu menyelesaikan masalah gudang perusahaanmu saat itu. Mereka menyewakan dengan biaya lebih rendah sampai 50% dari harga normal. Kalau orang yang bertanggung jawab dalam proyek ini tidak bisa menyelesaikan masalah gudang penyimpanan, dia akan di pecat. Mengingat ini proyek dengan keuntungan besar, tentu saja dia ingin melakukan apapun untuk itu. ”


 


 


“Melakukan apapun?”


 


 


“Apa itu namanya yang anak muda zaman sekarang katakan?”


 


 


“Memperjual belikan jabatan.” Suara Wildan menjawab kebingungan ayah.


 


 


Pria yang selalu aku lihat di samping ayah sudah kembali dengan membawa tiga minuman untuk kami dan tiga jenis kue potong.


 


 


“Betul. Itu dia.”


 

__ADS_1


 


“Aku masih belum mengerti, kenapa perusahaan itu menyewakan lebih rendah 50%? Bukannya mereka akan rugi?”


 


 


“Demi satu tujuan.” Ayah menarik gelas minuman kehadapannya dan menyesapnya. Aku masih diam memperhatikannya karena menunggu kata selanjutnya. “Perasaan manusia, kita tidak pernah tahu. Terlalu rumit.”


 


 


“Ayah mengatakan itu seolah kita bukan manusia.” Jawabku.


 


 


Ayah tertawa, bahkan Wildan ikut tersenyum menatapku.


 


 


“Lalu yang kedua.” Ayah melirik Wildan yang langsung menyerahkan ponselnya yang menyala padaku. Aku mengerutkan kening sesaat dan setelah melihat di layar ponsel apa yang ingin ditunjukkan ayah, aku menatap mereka berdua.


 


 


“Ada apa? Itu aplikasi lamaranku.”


 


 


“Ayah memintamu untuk membantu di perusahaan langsung, tidak usah mengirimkan lamaran—“


 


 


“Tapi kalau ayah ingin aku membantumu, maka hal yang paling baik adalah aku mengirimkan lamaran. Aku juga ingin tahu langsung sistem kerjanya. Mereka harus menganggapku seperti karyawan biasa agar tidak ada yang perlu di sembunyikan, kalau tiba-tiba aku muncul di samping ayah, mereka akan mudah meremehkanku dan menjaga jarak denganku.”


 


 


“Kalau gitu, Yudha tidak akan mungkin menjadi asistenmu dalam waktu dekat?” Aku menggeleng.


 


 


 


 


“Ayah, beri aku waktu untuk mengenal perusahaan ayah, tolong rahasiakan aku yang ternyata anak ayah dalam perusahaan.” Sesaat ayah tampak keberatan, dia melirik Wildan yang hanya bisa menggeleng kepala.


 


 


“Apa kau tidak suka dengan statusmu sebagai putri ayah?”


 


 


“Tidak! Bukan seperti itu.” Aku cepat-cepat menampik prasangkanya. “beneran, aku hanya ingin menggunakan cara perlahan, aku harus memahami dari bawah dulu. Ayah mungkin tahu bagaimana aku bisa seperti sekarang, mendapatkan jabatan di umurku yang masih muda dan bisa memimpin tim yang kompak dan hebat, itu karena aku memulainya dari staf biasa, aku bisa memahami cara kerja mereka, cara mereka berpikir tentang pekerjaan mereka sendiri.”


 


 


“Nona Icha memang mengingatkan saya pada anda.” Wildan melirik ayah dengan senyum kecil, ada sorot nostalgia dari tatapan matanya ketika dia melirikku lagi.


 


 


“Oh baiklah, tapi ayah tidak bisa menghentikan si kembar kalau mereka sampai tidak tahan menunjukkan keinginan untuk berdekatan denganmu, ketika kau bekerja nanti.”


 


 


“Aku yang akan berbicara pada mereka tentang itu.” Aku mengangguk dan memberikan senyum senang karena ayah setuju.


 


 


“Lalu yang terakhir, ayah ingin mengajakmu liburan ke vila pinggir pantai hari ini. Bersama si kembar, kakek dan nenekmu.” Pernyataannya yang terakhir membuatku agak kaget, mungkin reaksiku agak berlebihan, tapi ayah tampak berusaha menahan tawanya.


 


 


“Ayah mengajakku?”

__ADS_1


 


 


“Tentu saja. Kami sudah lama tidak liburan bersama, jadi… kamu mau ikut?”


 


 


“Tuan Evano, kenapa anda tidak mengatakan yang sejujurnya pada nona Icha?” Pertanyaan Wildan membuatku meliriknya bingung, tapi ayah tampak menatap pria di sampingnya dengan pandangan mengancam.


 


 


“Apa?” Aku jadi penasaran.


 


 


Sepertinya Wildan sudah tidak asing lagi dengan tatapan ancaman yang di berikan ayah Evano, dia dengan tenang menatapku dan menjawab. “Liburan kali ini, tuan Evano sendiri yang mengadakannya, dia ingin liburan bersama nona Icha, berharap bisa membuat nona senang setelah kesibukkan di kantor, juga agar nona tidak murung karena tuan muda Bayu sedang bertugas.”


 


 


“Ahh… ya.” Aku melirik ayah penuh rasa syukur. “Baiklah, aku ikut.”


 


 


Ayah mengangguk puas dengan sedikit perubahan warna pada telinganya menjadi agak merah karena efek penjelasan Wildan. Aku tersenyum kecil karena mengenal hal baru dari kebiasaan ayah Evano.


 


 


 


 


 


.


..



 


 


 


 


 


 


Liburan dadakan yang di usulkan ayah membuat suasana hatiku senang dan gugup, padahal selama beberapa hari terakhir ini terasa muram. Setelah pertemuan di cafe, ayah akan menjemputku dua jam lagi di rumah Bunda.


 


 


Rencananya kami semua akan berangkat malam ini untuk menghindari kemacetan dan mempersingkat waktu karena liburan ini hari minggu, di hari senin kami harus kembali dengan kegiatan masing-masing.


 


 


Setelah mengambil beberapa pakaian kasual di lemari rumah warisan bibi Rose, Dika mengantar ku ke rumah orang tua Bayu. Pakaian yang aku bawa selama satu minggu ini adalah pakaian formal untuk kerja, namun rasanya aneh sekali pulang ke rumah ku sendiri dengan suasana hati senang, jarang terjadi.


 


 


Begitu aku masuk ke dalam rumah, bunda Kirana yang sendirian sore itu menyambutku dengan semangat, dia sudah mendengar tentang rencana liburan kami, ayah Evano yang memberitahunya beberapa menit sebelum kedatanganku.


 


 


Bunda menyiapkan makanan perbekalan, menyuruhku untuk makan sesuatu dulu sebelum pergi. Tidak tega untuk menolak karena di rumah tidak ada Alisya dan Zac, aku menuruti semua perkataan bunda lalu membantunya


di dapur.


 


 


 


...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2