
...
“Apa??”
“Kita tidak bisa membatalkan pertunangannya! Lebih dari seminggu yang lalu ibumu telah meminjam uang padaku. katanya kau tidak memberikan uang untuk investasi adikmu dan dia setuju jika kita akan menikah asalkan aku membiayai semua investasi itu. kau tahu, awalnya aku tidak mau tapi ternyata kau lebih cantik dan seksi dari yang aku pikir.”
Oh Tuhan!
Rasanya aku ingin berlari menjauh dari semuanya. Apa hidupku harus seperti ini? “Aku akan membayar uang itu. Berikan nomor rekeningmu.”
“Aku tidak ingin uang itu kembali. Aku sudah menerimamu.”
“Kau gila! Aku tidak akan pernah mau! Kirimi aku nomor rekeningnya jika kau ingin uangmu kembali.” Aku berbalik, tidak ingin berurusan lagi degan lelaki ini tapi langkahku terhenti saat pergelangan tanganku di tahannya sangat erat.
Aku berbalik dan meringis langsung melepaskannya, menatapnya marah. Tapi dia dengan cepat menarikku kembali hingga wajah kekesalannya sudah sangat dekat dengan wajahku. Dia menahan kedua tanganku agar aku tidak mudah lepas.
Aku bisa mencium aroma mint dan manis dari hembusan napasnya, permen karet di mulutnya masih dia kunyah saat dia berkata. “Jadi kamu sedang memainkan karakter jual mahalmu itu? apa kamu tidak sadar bahwa ibumu itu telah menjualmu padaku? Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena masih bersikap baik dan sabar.”
Bisikannya tidak membuatku takut sedikitpun padanya, yang ada justru aku ingin menamparnya sekarang. “Kamu pikir ini jaman perjodohan yang dengan pasrah menerima begitu saja? Atau kau merasa sebagai karakter utama dalam cerita perjodohan dengan akhirnya kita akan saling jatuh cinta dan hidup bahagia? Ya ampun.”
Aku tersenyum kecil, menatapnya dengan pandangan meremehkan lalu menginjak kakinya dengan keras. Dia menjerit dan mengeluarkan kata-kata kotor untuk mengutukku sembari memegangi kaki kirinya.
Dari belakang punggung Henry, tidak jauh aku melihat dua orang lelaki yang sudah mengawasiku sejak di rumah sakit tampak tertawa pelan. Lalu aku merasa tangannya mencengkram lagi pergelangan tanganku sangat kuat hingga terasa sakit, tapi itu tidak membuatku harus mengaduh kesakitan padanya, aku justru memukul perutnya dengan lututku hingga sekali lagi dia jatuh berlutut memegangi perutnya sambil berteriak kesakitan.
Karena tidak ingin dia menahanku lagi, aku dengan cepat berbalik dan setengah berlari menjauhinya dengan mata tidak lepas mencari taksi di jalanan.
Aku berhasil mendapatkan taksi dan memilih untuk segera turun ketika melihat halte bus. Melihat orang-orang yang sedang menunggu di sana terlihat sangat normal mengingat akhir-akhir ini banyak sekali hal yang tidak pernah di duga, aku memutuskan untuk duduk di tempat itu.
__ADS_1
Rasanya seperti sudah lama sekali sejak terakhir kali aku sendirian di tengah keramaian. Aku sangat menyukai saat ini karena bisa membuatku berpikir tenang. Saat bus berwarna biru itu datang, beberapa orang mulai berdiri dan bersiap untuk naik.
Aku tersenyum kecil melihat seorang anak kecil meloncat turun dari dalam bus. Dia bersama ibunya terlihat senang dan keduanya tampak bergandengan tangan berjalan menjauhi halte.
Pikiranku terkadang tidak berhenti membandingkan ibuku dengan ibu lain yang tidak sengaja aku lihat saat mereka bersama anak mereka. Tapi lagi-lagi hatiku tidak bisa marah pada ibu jika mengingat lagi bagaimana kami tidak akur selama ini.
Perasaan ini selalu berakhir dengan aku yang menelaah sikapku pada ibu yang membuatnya seperti itu. Semuanya seolah kembali lagi pada kekurangan yang ada pada diriku. Dan aku sangat menyadari jika perasaan ini lah yang membuatku tidak bahagia.
Aku selalu berakhir menyalahkan kekurangan diriku dan tidak pernah sekedar memuji diri sendiri atas sesuatu yang telah tercapai. Mengingat bagaimana ibu menjodohkanku dengan Henry, atau Jane yang membenciku karena dia adalah mantan tunangannya Bayu membuatku sekali lagi berpikir.
Permasalahan cintaku tidak selesai apa karena aku yang belum bisa mencintai diriku sendiri? Sehingga untuk mencintai orang lain terasa sulit? Apa aku harus menyerah dan mulai kembali menata diri terlebih dahulu sebelum memulai mencintai orang lain? Tapi aku juga memikirkan bagaimana kisah orang lain, terutama wanita yang seumuran denganku.
Apa mereka berpikir hal yang sama denganku? Apa kisah percintaan mereka berjalan mulus atau terasa sulit sama denganku?
Lamunanku buyar saat mendengar suara tabrakan yang cukup keras terjadi di tengah jalan raya di hadapanku. Orang-orang yang menunggu di halte ini langsung berdiri untuk melihat apa yang terjadi.
Sebuah mobil hitam menabrak mobil hitam lainnya dari belakang dan berhenti di tengah jalan. Bumper bagian depan dan belakang masing-masing mobil terlihat rusak dan penyok. Pengendara lain mulai berjajar di belakang mobil yang menabrak itu. Jalanan dalam sekejap berubah macet hingga suara sirine mobil polisi terdengar semakin
mendekat.
Orang-orang yang melihat di pinggir jalan beberapa mulai mendekati mobil itu, memeriksa apakah ada yang terluka. Semua orang di halte bus ini ribut-ribut karena penasaran. Pandanganku yang semula bisa melihat dengan jelas kejadian itu tertutup oleh punggung orang-orang.
__ADS_1
Berkali-kali aku meloncat ingin melihat juga tapi tinggi rata-rata beberapa pria yang berjajar tetap menghalangi. Suara sirine polisi begitu keras terdengar dan berhenti di dekat halte. Yang tidak pernah di duga adalah tiba-tiba aku mendengar suara panggilan pria.
“Icha! Natasha Icha Davindra!”
Suara pria yang tidak aku kenal memanggil nama lengkapku. Cepat-cepat aku mencari sumber suara itu karena orang-orang disini mulai saling pandang.
Saat aku berhasil menembus orang yang berkerumun di depan, dua orang lelaki yang wajahnya familiar karena selalu mengikutiku sejak dari rumah sakit sampai tadi di depan toko menatapku lega.
“Ayo pergi!”
“Kenapa?”
Salah satu dari mereka berlari masuk ke mobil untuk mengambil alih kemudi, sedangkan satu lagi mendekatiku lalu berbisik singkat. “Mike ada di sana.”
Aku hampir tersedak saat polisi ini menunjuk ke arah mobil yang mengalami kecelakaan di depan. Tanpa banyak bertanya aku berlari masuk ke dalam mobil diikuti polisi itu. kemudian mobil yang aku tumpangi berjalan cepat
meninggalkan tempat ini.
“Bagaimana bisa Mike ada di sini? Apa kalian tidak akan menangkapnya?” Aku bertanya penasaran pada dua lelaki yang duduk di kursi depan.
“Kami baru mendapat laporan kalau Mike terlihat kabur dan menuju ke daerah sini. Semua polisi sudah di kerahkan untuk menangkapnya. Kami hanya di beri perintah untuk menjauhkanmu darinya. Dia pasti akan tertangkap karena mengalami kecelakaan lalu lintas.”
Perasaanku mengatakan tugas Bayu tidak berjalan lancar. Aku jadi semakin khawatir dan penasaran dengan kabarnya.
***
Hari ini hari sabtu dan tepat satu minggu Bayu belum menghubungiku. Pagi ini sangat sepi dan tenang seperti biasanya di rumah. Dokter Cilia yang hendak menginap di rumahku tidak aku ijinkan karena dia telah menjagaku sepanjang hari kemarin. Lalu dokter Stefan juga sempat khawatir aku sendirian di rumah tapi aku meyakinkannya jika aku baik-baik saja dan akan segera menghubunginya jika aku kesakitan.
__ADS_1
...