EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 283


__ADS_3

...


 


 


 


 


Tiba-tiba suara notifikasi dari ponselku membuyarkan lamunan. Aku segera berdiri, melangkah menuju meja kecil di samping jendela, tempat ponselku di letakkan karena pengisian baterai. Beberapa pesan dari teman muncul di layar, tapi ada satu pesan masuk ke email yang menarik perhatianku.


 


 


Aku berbalik menuju laptop di atas meja, kembali pada sofa single empuk di depan meja yang tadi aku duduki, setelah itu membuka web, bermaksud ingin membuka email di laptop.


 


 


Tidak lama, web yang aku inginkan terbuka, dan sesuai dugaanku, sebuah email membuat jantungku berdetak cepat. Pasalnya ini bukan email biasa, tapi nama email itu adalah milik dokter Cilia.


 


 


 


 


Secepatnya kita akan bertemu. Takdir itu sudah ada sejak kau di lahirkan.


 


 


Kau akan tahu saat itu terjadi dan aku yakin kau tidak ingin orang lain tahu. Kau bisa menghubungiku lewat email ini dan aku akan membawamu ke tempat yang seharusnya.


 


 


Pada akhirnya, kau tidak akan bisa kembali, tidak ada yang bisa membantumu.


 


 


 


 


 


 


Aku merasa merinding dengan meningkatnya adrenalin yang kuat. Pesannya sangat ambigu tapi memiliki makna tersembunyi yang berbahaya, hal itu membuat rongga dadaku sakit dan ngilu.


 


 


Cepat-cepat keluar dari akun emailku dan menutup web. Aku tidak tahan untuk membaca pesan itu berulang kali. Firasat buruk yang sejak tadi siang bahkan lebih dekat lagi padaku.


 


 


 


 


Takdir?


 


 


Takdir apa yang di maksud. Tapi membaca kata ‘di lahirkan’, entah mengapa, aku menduga semua ini ada hubungannya dengan ibu kandungku. Mona Keilani.


 


 


Identitasnya rahasia, ayah juga tidak banyak bercerita, keluarga Danendra tidak menyinggung lebih jauh kalau aku sebenarnya anak dari Mona Keilani, mereka justru banyak membahas bibi Rose.


 


 


Satu-satunya hal yang aku dengar tentang ibu kandungku adalah bahwa dia dan bibi Rose bersahabat. Bibi tidak bisa memiliki anak, jadi dia rela mendekatkan sahabatnya pada ayah Evano, namun ternyata ibu kandungku harus meninggal setelah melahirkanku.


 


 


Aku berpikir, sebaiknya meminta ayah menunjukkan makam ibu. Sejak aku tahu kalau keluarga Danendra adalah keluarga kandungku, aku belum pernah mengunjungi makam ibu.


 


 


 


 


 


 


 


 


.


..


...


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


“Makam?”


 


 


“Ya. Aku ingin mengunjungi makam ibu kandungku.” Kataku yakin ketika pagi berikutnya, sebelum sarapan, aku menghampiri ayah yang sedang ada di ruang kerjanya.


 


 


Tangan yang sejak tadi mencari membulak balik berkas seketika terhenti saat aku menanyakan perihal makam Mona Keilani.


 


 


“Aku tidak pernah kenal sosoknya, jadi—“


 


 


“Tidak ada.”


 


 


“Apa?” Aku menatapnya bingung.


 


 


Ayah menghembuskan napas panjang, dia bersandar pada kursi kerjanya dengan kepala menengadah ke atas, seolah sedang mengingat lagi sosok wanita yang melahirkanku.


 


 


“Ayah tahu, cepat atau lambat kau akan menanyakan tentang Mona, tapi ayah tidak bisa memberitahumu lebih detail karena ini ada hubungannya dengan kasus Red Apple. Sebelum semuanya pasti, ayah hanya bisa menjawab kalau makam itu tidak ada.”


 


 


“Tidak ada di sini atau—“ Tiba-tiba sebuah dugaan gila membuatku bersemangat menatap ayah, “ibu masih hidup?”


 


 


Ayah tampak gelisah, dia segera bangkit dari duduk bersandarnya, hendak menjawab tapi harus terhenti karena suara ponselnya berbunyi.


 


 


 


 


Sembari menjawab panggilan itu, mata ayah melirikku sekilas sebelum dia berdiri kemudian berbalik, melangkah agak menjauhiku.


 


 


Bayu pasti sedang melaporkan sesuatu pada ayah. Lelaki itu belum menghubungiku sejak kemarin malam kami berdebat dan ponselku harus kehabisan baterai.


 


 


Aku menghela napas panjang, lalu berdiri dan mengatakan, “ayah, aku keluar dulu.”


 


 


Ayah melirikku dan mengangguk, karena ayah tidak memberitahuku telepon itu dari Bayu, dan reaksi ayah ketika menjawab pertanyaanku tentang makam ibu kandungku masih ambigu, aku sadar kalau harus menunggu lagi.


 


 


Baru saja aku menutup pintu kerja ayah dan hendak menuju arah dapur untuk mencari sarapan, langkah kakiku terhenti karena ternyata Wildan, di temani seorang wanita yang familiar. Dia Diana, karyawan kepercayaan ayah, yang secara terang-terangan memberitahuku kalau karyawan di perusahaan sudah menganggapnya anak ayah Evano, mengingat tidak ada kabar kalau ayah punya anak.


 


 


“Selamat pagi, nona Icha.” Sapa Wildan tersenyum mengangguk padaku.


 


 


“Pagi.” Jawabku balas tersenyum padanya sedangkan Diana tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum kecil padaku sebagai sapaannya. Aku tidak ingin memaksa dan memutuskan untuk mengabaikan wanita ini.


 


 


“Cari Pak Evano? Ayah sedang menerima telepon, masuk saja dulu.”


 


 


“Kami akan menunggu di sini.” Jawab Wildan.

__ADS_1


 


 


“Kalau gitu, ayo ikut sarapan. Kebetulan aku akan ke dapur.” Ajakku.


 


 


Sebelum mereka berdua menjawab, kedatangan paman Felix, kepala pelayan di rumah ini, memberitahuku kalau sarapan sudah siap.


 


 


“Ayo pak Wildan, Diana.” Ajakku sembari berbalik mengikuti paman Felix menuju dapur.


 


 


Dua orang itu mengikutiku tanpa membantah, melihat dari tatapan para pelayan di rumah ini yang berpapasan dengan kami, aku bisa menduga kalau mereka pasti sudah sering datang ke rumah, keduanya tidak canggung sama sekali, terutama Diana yang sesekali menyapa beberapa orang yang dia kenal.


 


 


Melihat keakraban Diana dengan para pekerja di rumah Danendra, aku tidak bisa berhenti memikirkan kehadiranku di sini.


 


 


Ibu, Daniel dan ayah Davin, tiga orang yang selama ini aku anggap sebagai keluargaku, ternyata mereka bukan keluarga kandungku, mereka secara terang-terangan memanfaatkanku selama ini untuk harta. Lalu di keluarga Danendra, aku tidak bisa begitu saja bergabung dengan mereka, banyak rahasia yang mereka simpan, yang sebenarnya rahasia itu ada sangkut pautnya padaku tapi aku tidak bisa memaksa mereka untuk menjelaskannya. Posisiku sekarang seakan salah tempat.


 


 


Aku tidak tahu, apa dengan menunggu akan lebih baik? Atau justru yang aku tunggu adalah bom waktu?


 


 


Namun, pikiranku terhenti saat merasakan ponselku yang tergenggam bergetar pertanda panggilan masuk tepat sebelum aku duduk di kursi meja makan.


 


 


Nomor yang tidak di kenal.


 


 


Tanpa ragu, aku segera menjawab telpon itu, “Halo.”


 


 


“Icha? Ini Fiona. Ingat aku?”


 


 


“Ya. Aku ingat, kita bertemu di toilet.” ingatanku berputar pada hari itu, ketika bertemu Fiona di toilet mall. Wanita cantik itu mengaku sebagai cucu dari nenek Tiara yang katanya adalah peramal terkenal di komunitas peramal Prognoz.


 


 


“Maaf mendadak sekali, tapi bisa kita bertemu sekarang juga? Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu. Ini penting. Aku akan kirim alamatnya.”


 


 


“Begitu? Baik. Aku akan segera berangkat.”


 


 


 


 


Setelah percakapan singkat, aku mendongak menatap dua tamu yang sudah duduk di kursi masing-masing, lalu pada paman Felix.


 


 


“Maaf, kalian bisa melanjutkan sarapan. Anggap saja rumah sendiri. Aku ada urusan mendadak.”


 


 


“Oh? Nona Icha, anda tidak sarapan dulu?” Tanya paman Felix.


 


 


Aku menggeleng dan sekali lagi pamit pada mereka, tidak ingin sampai Fiona menunggu lama. Bagaimanapun, saat dia berkata ini penting, aku punya firasat pasti ada hubungannya dengan kegundahanku.


 


 


 


 


 


...

__ADS_1


 


 


__ADS_2