EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 230


__ADS_3

...


Aku mengerutkan kening, ada lagi nama baru yang berkaitan denganku. “Lalu, dimana dia?”


“Saat Mona mengatakan itu, aku menyelidikinya dan mengawasi dia, ada beberapa hal yang tidak aku sukai darinya. Kenyataan kalau dia pergi begitu saja saat Mona tiada membuatku semakin tidak menyukainya.”


“Dia pergi? Kenapa?”


Ayah meraih ponselnya yang tadi tergeletak di atas meja, mengotak atik sebentar lalu tiba-tiba ada getaran di ponselku sendiri.


“Orang yang mengawasinya memberiku laporan ini setiap minggu. Ayah sudah mengirimkannya padamu.” Aku segera membuka pesan darinya.


Ketika file nya di buka, sosoknya yang cantik langsung terpampang di layar ponsel. Wanita ini sudah paruh baya tapi terlihat cantik dan modis, bulu matanya tampak tebal hitam, bibirnya merah dan pipinya tirus. Kulitnya tampak mulus namun sorot matanya tajam.


“Dia menikah dengan seorang aktor namun bercerai setelah dua tahun pernikahan, sekarang dia adalah istri dari seorang pejabat pemerintah. Dia juga seorang selegram terkenal.”


“Kenapa selama ini dia tidak menemuiku?” Ada perasaan kesal pada wanita ini. Dia di tunjuk oleh ibu kandung ku menjadi wali, tapi tidak pernah sekalipun dia muncul di hadapanku.


Ayah menggeleng pelan lalu menjawab. “Wildan sudah mengawasinya beberapa tahun terakhir ini, mungkin dia akan datang mencarimu cepat atau lambat setelah kabar putri keluarga Danendra tersebar.”


Aku bisa baca dari tatapan ayah Evano, bukan nya dia tidak tahu kenapa Sara Arina tidak datang sebagai waliku sejak ibu kandung ku tiada, tapi pria paruh baya ini ingin aku tahu langsung dari pada mendengar perkataan darinya.


“Aku mengerti maksud ayah.” Ayah Evano tersenyum dan mengangguk padaku, kemudian suara ketukan pintu mengalihkan tatapan kami.


“Masuk.”


“Pak, ada yang harus anda tanda tangan—apa aku mengganggu?” Seorang wanita muda berpakaian modis dan memakai sepatu heels hitam muncul di ambang pintu, ucapannya terpotong saat matanya menemukan ku.


“Tentu saja tidak, nak. Ayo masuk.” Mendengar bagaimana ayah memanggilnya sangat akrab membuatku menatap wanita ini sepenuhnya.


Jika di lihat dari wajahnya, mungkin dia seumuran denganku. Wajahnya cantik dengan polesan make up yang merata. Rambutnya di ikat kuda dan rapih. Kartu karyawan tergantung di lehernya dan tangan kanannya menggenggam map hitam tebal.


“Ini MOU kerja sama yang sudah di revisi.” Katanya menyerahkan map itu.

__ADS_1


Saat ayah Evano sedang membaca sekilas isi berkas di pangkuannya, wanita itu memperhatikan ku dari atas sampai bawah, menilaiku.


Aku yang sedang meraih gelas kopi dari atas meja, sekilas tersenyum kecil padanya yang di balas senyuman dari nya.


“Katakan pada manajer pemasaran untuk membuat laporan padaku setelah peresmian.”


“Baik pak. Jadi yang memimpin rapat di atas pak Wildan?”


“Ya. Ngomong-ngomong Cha, ini Diana. Diana, ini Natasha Danendra.” Ayah akhirnya memperkenalkan kami.


Aku segera berdiri dan mengulurkan tangan yang di balas olehnya. “Senang bertemu denganmu, Diana.”


“Natasha Danendra, pak?” Diana melirik ayah Evano dengan tangan masih menjabat tanganku, seolah tidak percaya apa yang di dengarnya. Entah mengapa sikapnya ini bagiku sedikit tidak tahu malu. Jelas bisa terlihat dari wajahnya raut ke kecewaan. Apa dia selalu seperti ini berbicara dengan direktur utama perusahaan tempatnya bekerja?


Ayah Evano tersenyum lebar dan mengangguk masih menatap kami. “Benar. Dia putri ku.”


Aku bisa merasakan Diana melepaskan jabatan tangannya denganku kelewat cepat. Ekspresi wajahnya kentara sekali kaget. “Ahh, benarkah? Senang bertemu denganmu juga.”


Setelah mengambil dokumen yang sudah di tandatangan ayah Evano, Diana segera berbalik menuju pintu. Suara sepatunya yang nyaring di ruangan sunyi ini terdengar lebih keras.


“Apa itu? Dia terlihat sangat kecewa.” Tanya ku penasaran.


Ayah justru tertawa kecil dan menggeleng. “Tidak usah di pikirkan, hanya gosip anak-anak.” Aku mengangguk pelan, menyetujui. Lalu suara getaran ponselku mengalihkan perhatianku.


“Ada pesan dari Bayu, dia sudah ada di pintu depan dan akan segera naik.” Kataku pada ayah.


“Kalau gitu, ayo kita susul Bayu di lift, kita harus makan siang bersama!” Ayah melompat, berdiri. Dia tampak bersemangat sekali. Aku segera mengirim pesan pada Bayu agar dia menunggu saja di lobi.


Sambil tertawa kecil melihat tingkahnya, aku segera mengikutinya berdiri mendekati pintu kali ini tanpa kursi roda.


“Ayah tidak mau pakai kursi roda?” Tanyaku sebelum dia mencapai pintu.


“Tidak. Ayah bisa pakai ini.” Ternyata ayah meraih tongkat hitam di samping pintu, aku tidak memperhatikannya tadi.

__ADS_1


“Meski sekarang ayah bisa jalan normal lagi, tapi terkadang kaki ayah cepat lelah dan membutuhkan tongkat atau kursi roda. Belum terbiasa.” Ceritanya singkat.


Aku cepat-cepat membuka kan pintu untuknya yang langsung di sambut Lucy dan Yudha. “Lalu saat pernikahanku, ayah pasti kelelahan.”


“Kalau saat itu ayah sudah sangat siap. Tenang saja.” Ayah merangkul bahuku dan menepuk-nepuknya pelan dan hati-hati.


“Bagaimana bahu dan tanganmu? Ayah dengar kau terluka.” Ayah Evano masih merangkulku sembari kami berjalan beriringan menuju lift.


Dua sekertaris ayah dan karyawan yang berpapasan dengan kami sesaat menatapku. Tahu begini aku seharusnya berpakaian lebih rapih. Mengingat saat ini hanya celana jins biru tua dengan kaos polos hitam, jaket denim biru tua terlipat di tangan kiriku.


“Sudah sembuh, bahkan aku tidak ingat tentang jahitan dan memar itu.” Kataku jujur. Aku benar-benar lupa kalau bahuku di jahit dan pergelangan tangan kananku di perban.


“Tidak! Apalagi luka jahitan, itu harus di periksa lebih lanjut. Ayah akan meminta dokter—“


“Beneran tidak usah ayah. Dokter Stefan juga cukup. Aku pasti akan periksa lebih lanjut padanya. Bayu sama cerewetnya dengan ayah tentang luka ku ini, dia bahkan memintaku memakai Arm sling.” Kami sudah sampai di depan 2 pintu lift yang tertutup. Beberapa karyawan yang sama-sama menunggu lift menyapa ayah Evano.


Lucy dan Yudha yang berjalan di belakang kami hanya diam mengikuti. “Lalu kenapa kamu enggak memakainya?”


“Tanganku benar sudah sembuh dan tidak perlu alat itu, ayah.” Jawabku sedikit merajuk padanya.


Ayah Evano tertawa kecil dan mengangguk. “Baiklah. Kau sendiri yang tahu bagaimana tubuhmu, ayah tidak akan memaksa.”


Aku tersenyum lebar, merasa momen sederhana ini yang selama ini aku impikan, bisa mengobrol santai dengan ayah, itu adalah hal yang tidak pernah aku lakukan seumur hidupku.


“Pak Evano, saya dapat pesan dari pak Wildan, ada email penting yang harus di lihat langsung.” Suara Yudha mengalihkan pandangan kami padanya.


“Harus sekarang?” Tanya ayah yang di angguki Yudha.


“Ayah bisa menyusul kami nanti. Aku akan kabari tempatnya.” Usulku karena melihatnya tampak ragu-ragu.


“Oh itu ide bagus. Kalau gitu biar Diana yang antar kalian ke restoran di samping perusahaan. Tolong panggilkan Diana.” Ayah meminta Yudha memanggilkan wanita tadi.


...

__ADS_1


__ADS_2