EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 32


__ADS_3

...


 


Tepat setelah Rey brengsek ini mengatakannya, suara tembakan terdengar membuat semua orang tambah panik. Bayusegera merangkulku dan membawaku ke dalam pelukannya, menghindari orang-orang yang ingin segera keluar dari gedung.


Meskipun sekarang Bayu sudah mendekapku dan pria yang memakai pakaian lengkap ini berdiri di hadapanku untuk melindungiku tapi aku masih bisa dengan jelas mendengar detak jantungku sendiri.


Sejak awal sampai sekarang, Rey tidak pernah mengubah targetnya, dia ingin aku menderita. “Dengar? Jika kamu tidak bergegas sekarang, aku akan menembak dua orang lainnya. Dan jika kamu tetap diam aku akan menembak empat orang. Terus berlipat seperti itu.”


Aku tidak tahu mendapat keberanian dari mana, tapi tanpa sadar aku sudah melepaskan dekapan Bayu sekuat mungkin dan berlari masuk ke dalam kerumunan orang-orang di dalam mall, menerobos mereka yang berlarian ke arahku.


Beberapa kali mereka menabrak bahuku dan beberapa kali pula aku hampir terjatuh. Aku mendengar suara teriakkan Bayu di belakang, berusaha menyusulku.


Melihat bagaimana escalator yang mengarah ke atas kosong, aku bisa dengan leluasa berlari cepat. Sekilas aku


juga melihat polisi yang berjaga di sudut gedung lantai dasar itu sibuk karena seseorang terluka.


Mungkinkah itu ulah Rey??


 


“ICHA!! BERHENTI SEKARANG JUGA!”


“Rey menginginkan sesuatu dariku!” Aku memekik dengan suara bergetar takut, menatap kebawah di mana Bayu dan salah satu anggota timnya itu sedang mengejarku di escalator.


“TIDAK! JANGAN!” Aku hampir menangis mendengar bagaimana suara teriakkan Bayu setengah memohon padaku. Lelaki ini pasti sudah menduga apa yang akan terjadi.


Aku masih terus berlari menaiki setiap escalator, seolah melupakan bagaimana harus bernapas, melupakan jika aku sudah kelelahan karena harus berlari. Beberapa kali aku sempat di halangi oleh tim keamanan mall yang melihatku berlari dan di kejar oleh Bayu, tapi aku dengan cepat dan gesit menghindar.


Kakiku sudah menginjak escalator menuju lantai lima, tepat saat itu suara dua tembakkan menggema menakutiku. Aku menjerit dan menunduk, memikirkan Rey telah melukai atau mungkin membunuh dua orang lainnya.


Korban itu bisa saja orang yang di tunggu kehadirannya di rumah atau orang yang mungkin saja seorang anak, seorang ayah, atau seorang ibu dari sebuah keluarga. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kekacauan di sini.


Memikirkannya saja membuat hatiku rasanya kesakitan. Aku menangis pelan dan mengusap pipiku yang basah dengan lengan jaketku.


Aku sudah ada di sini, di lantai lima. Aku harus mencari tabung apar. Tabung merah itu pasti ada di tempat yang


mudah di jangkau.

__ADS_1


“Icha berhenti!!” Bayu berhasil menarikku dan menghentikan langkahku yang sedang sibuk mencari. Aku melihat


wajahnya, dia terlihat khawatir dan kesal padaku.


“Apa yang dia inginkan?! Katakan padaku!” Bayu membentakku. Kedua matanya memerah seperti menahan air mata.


Aku sedang berusaha menormalkan pernapasanku karena berlari. Balas menatapnya dan mengabaikan salah satu


anggota tim Bayu yang memandang kami.


“Suntikan! Dia ingin aku menyuntikkan lagi benda itu. Jika tidak, dia akan menembak empat orang di mall ini. Dia sudah menembak satu dan dua tadi.”


“Apa? Tidak! Jangan lakukan itu! Anggota timku sedang mencarinya dan menghentikan kegilaannya!”


Aku menggeleng, menatapnya memohon. “Dia sudah menempati penembak jitu di sini. Dia mengancam akan menembakmu dan anggota timmu!”


“Omong kosong! Kau lebih percaya padanya dari pada aku, hah?!” Bayu sudah sangat marah, aku belum pernah


melihatnya seperti ini.


Tapi bagaimanapun Bayu marah padaku, aku bisa melihat dari sudut matanya setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Dia menangis menatapku.


“Panggil dokter Stefan! Suruh dia datang ke sini sekarang juga!” Bayu berteriak memerintah anggota timnya.


Sedikit terlonggar dari perhatiannya, cepat-cepat aku berlari mencari tabung merah itu. “Kamu tidak percaya pada tim ku? Kamu lebih percaya padanya?” Bayu masih menuntut jawabanku atas pertanyaannya.


Aku menemukan tabung itu ternyata berada di dekat tempat bioskop. Cepat-cepat aku mengeceknya dan menemukan sebuah suntikan tepat di samping tabung itu.


“Tidak! Aku tidak akan membiarkan lelaki itu seenaknya begini!” Bayu merebut suntikan itu dariku.


“Berikan padaku! Dia akan menembak lagi!”


 


DORR!!!


Rasanya jantungku hampir jatuh saat tembakan itu lolos beberapa senti di samping lengan Bayu dan melubangi tembok di sampingnya. Kakiku seolah menjadi jelly, aku ambruk seketika di hadapannya. Menangis pelan menatapnya.


“Berikan padaku. Please!”

__ADS_1


“Tidak!”


“Dia akan membunuhmu! Jika kamu tidak ada di dunia ini aku harus bagaimana?!”


“Lalu bagaimana denganku? Apa kamu tidak memikirkan aku? Bukan hanya kamu yang takut kehilangan! Aku tidak mau kehilanganmu untuk yang kedua kalinya!” Bayu sudah berteriak menatapku, dia menangis dalam diam dan hal itu semakin membuatku dilema.


Namun perasaan bersalah lebih kuat, Bayu benar, aku tidak memikirkan perasaannya. Aku hanya memikirkan perasaanku sendiri. Aku memang egois!


“Maafkan aku!” Aku berbisik, mulai berdiri menghadapnya. Matanya masih merah, hidungnya juga merah dan bibirnya melengkung kebawah.


Bayu tampak masih marah dan khawatir menatapku. Aku seharusnya percaya padanya dan timnya, aku seharusnya tidak takut pada Rey!


Selama ini Rey berani mengancamku karena aku yang begitu saja memperlihatkan ketakutanku padanya.


Cepat-cepat aku memeluknya, melingkarkan kedua tanganku di lehernya, meskipun harus berjinjit tapi aku hanya ingin menenangkannya. Memeluknya. Mengatakan jika semuanya baik-baik saja.


“Aku percaya padamu. Kau tidak akan membiarkan Rey seenaknya seperti ini ‘kan? Kau akan menangkapnya ‘kan?” Bisikanku membuat tubuhnya yang tegang perlahan lebih santai.


Bayu balas memelukku dan aku merasakan dia mencium sisi kepalaku beberapa kali.


“Bagaimana?” Bayu bertanya pada anggota timnya itu, tidak membiarkanku melepaskan pelukannya.


“Penembak itu sudah tertangkap. Carlie juga sudah mengamankan penembak jitu di lantai ini.” Aku menghela napas lega dan semakin mengeratkan pelukanku padanya.


“Sepertinya tadi aku benar-benar menjadi gadis bodoh dan egois.” Ucapku sembari melepaskan pelukan kami. Tangan Bayu menepuk-nepuk puncak kepalaku pelan, aku baru menyadari belanjan yang tadi di bawanya sudah tidak ada.


“Gadis yang dengan bodohnya berlari mencari bahaya karena takut aku akan terluka?” Tanyanya sarkastik.


“Maafkan aku.” Jawabku sekali lagi, benar-benar menyesal telah meragukannya. Aku tidak pernah berpikir dari sudut pandang Bayu.


“Kapten! Rey sudah kabur keluar dari gedung ini dan polisi sedang mengejarnya. Semua penembak itu sudah di amankan.”


Bayu mendongak menatap pria satu timnya itu. “Lalu bagaimana keadaan di bawah. Apa sudah terkendali?”


“Sudah. Polisi berhasil menangkap dua orang tersangka penculikan dalam bank. Di duga mereka juga ada kaitannya dengan Rey.” Aku baru ingat, lantai dasar tempat para polisi berkeliling di sudut lantai itu tempat satu-satunya bank swasta yang buka, bank yang biasanya melayani setor tunai dan layanan costumer service. Walaupun tempatnya kecil tapi selalu ramai.


 


...

__ADS_1


__ADS_2