
...
Tiga puluh menit berikutnya, setelah kami memesan makanan, aku bersyukur karena suasana meja makan lebih santai. Kami semua tertawa dan mengobrol sembari menunggu makanan datang. Selain itu, dua kursi kosong yang di sediakan untuk ibu dan Daniel masih belum terisi juga.
Meskipun nenek tidak ikut mengobrol, dia masih diam memperhatikan tapi aku cukup puas melihat Bayu yang tertawa dan mengobrol santai dengan yang lainnya.
Namun suasana ramai seketika terhenti pintu ruangan terbuka dari luar. Kami semua melihat ibu dan Daniel ada di ambang pintu.
“Kenapa kalian terlambat?!” Itu suara tajam nenek.
“Maaf nek, kami terlambat karena Ibu dan Daniel ingin berangkat bersamaku setelah aku menyelesaikan beberapa pekerjaan.” Seperti dugaanku, Henry tiba-tiba sudah ada di antar mereka berdua. Pria itu tersenyum lebar pada kami semua seolah tidak ada yang salah dengan keterlambatan mereka.
“Henry? Oh Bagus, sekarang kita bisa mengkonfirmasi semuanya!” Nenek berucap lega.
Aku melirik Bayu, lelaki ini tampak sedang memperhatikan Henry dengan serius, hal itu membuat hatiku tiba-tiba sakit. Aku ingin memberikan pertemuan yang terbaik antara Bayu dan keluargaku tapi aku tidak bisa memberikannya. Sekarang, Bayu harus ikut masuk ke dalam drama keluarga ini.
Dengan kedatangan ibu dan Daniel bersama Henry saja sudah memberitahu kami kalau yang di restui mereka berdua adalah Henry, bukan Bayu.
Lalu yang lebih membuatku tidak percaya di belakang Henry sudah berdiri seorang wanita. Jane Alexander.
Aku memang sudah memperkirakan wanita itu akan datang, tapi tetap saja membuatku semakin kesal.
“Dan ini Jane Alexander.” Ibu memperkenalkan Jane pada kami semua.
Sekarang aku benar-benar marah, ibu membawa orang luar ke acara makan keluarga yang aku sendiri rencanakan. Aku tidak tahu lagi harus se kecewa apa dengan ibu.
Rasanya aku ingin menangis, tapi aku tidak bisa. Aku tidak boleh menangis sekarang!
“Kita harus menambah kursinya.” Kata Daniel menyadarkan kami kalau hanya tersisa dua kursi saja di sini.
__ADS_1
“Aku akan memintanya—“
“Untuk apa memintanya?” Itu suara bibi Nuri memotong ucapan Daniel. Sesaat wanita itu melirikku dan kembali menatap ke empat orang yang masih berdiri.
“Kursi di sini memang sengaja di cukup kan untuk orang-orang yang di undang. Lalu atas dasar apa mereka berdua duduk di sini? Bahkan yang punya acaranya saja belum mengatakan apapun.” Baru pertama kali aku mendengar suara dingin bibi Nuri.
Seolah mendapat kekuatan baru karena ada orang yang membela ku disini, aku berdehem dan menatap Henry dan Jane bergantian. “Tidak apa. Karena kalian sudah ada di sini, kalian bisa bergabung untuk makan di sini. Acara ini untuk memperkenalkan Bayu pada keluargaku jadi—“
“Bukannya kamu akan bertunangan dengan Henry minggu depan? Aku kan sudah bilang saat itu kalau Bayu adalah tunanganku!” Jane memotong ucapanku.
Aku merasa Bayu hendak bersuara tapi aku menahan tangannya dan menggeleng pelan. Lelaki ini menghela napas pelan dan menyandarkan punggungnya di kursi dengan kedua tangan terlipat di atas perut.
“Jadi itu benar, Icha?” Nenek menatapku tajam.
Aku menghela napas jenuh sembari menatap ibu yang masih diam. “Bu, ada apa ini? Ibu tidak pernah mengatakan apapun padaku tentang acara pertunangan. Waktu itu ibu hanya mengatakan aku di jodohkan dengan Henry tanpa mendengar jawabanku. Ibu memaksaku padahal ibu tahu aku sudah punya pacar. Aku juga sudah mengatakan
dengan jelas pada Henry kalau aku menolak perjodohannya.”
“Icha, kita kan sudah kenal lama. Kamu yang dulu mengejarku dan aku sudah berjanji untuk menikahimu setelah pulang dari amerika.” Henry tampak memelas menatapku. Semua orang masih terdiam memperhatikan kami.
“Henry Zeng. Aku memang mengenalmu sejak SMP. Kau adalah temannya dari teman jauhku. Hanya sebatas itu dan tidak lebih. Aku tidak tahu sejak kapan kau menjadi temanku. Apa sejak kau meminjamkan ibuku uang?” Semuanya tampak kaget mendengar pertanyaan terakhirku.
“Ka, kamu meminjam uang pada dia? Kalau kau butuh uang, aku bisa meminjamkannya padamu.” Paman Ben bertanya membuat ibu yang kesal padaku mengacuhkannya.
“Dan kamu Jane. Apa kau tidak malu? Sejak lama kau yang duluan memutuskan pertunangan dengan Bayu sekarang kau mengaku-ngaku menjadi tunangannya setelah Bayu bersamaku? Kemana kamu yang selalu datang marah-marah padaku karena benci ibuku dekat dengan ayahmu?” Aku tersenyum sinis pada Jane.
“Alexander? Kau masih berusaha mendekati pria yang masih punya istri?” Nenek bertanya marah pada ibu.
“Nenek tidak tahu? Jane Alexander sering marah-marah padaku karena ibu mendekati pak Alexander.”
__ADS_1
“Tutup mulutmu! Kamu memang tidak tahu terima kasih, mempermalukan ibumu sendiri di hadapan orang lain!”
“Maafkan aku bu karena aku berkata jujur. Lalu bagaimana dengan ibu? Apa niat ibu membawa mereka ke sini?”
“Ibu mengundang Henry karena dia membantu ibu saat susah. Kalau kau mana ada membantu ibu. Bahkan untuk meminjam uang saja kau perhitungan sekali! Ibu hanyaingin membalas kebaikannya dengan menjodohkan kalian. Dan Jane, anak ini sudah ibu anggap putri ibu sendiri! Ibu hanya ingin membantunya mendapatkan apa yang menjadi miliknya.” Aku berdehem tidak peduli. Benar-benar bosan dengan alasan yang selalu ibu berikan.
Meskipun rasanya kedua tanganku bergetar karena marah yang meluap ini tapi aku tidak ingin meledak di sini. Aku harus menahannya. Bagaimanapun aku tidak boleh melewati batas, aku harus bisa mengontrol emosiku.
Tiba-tiba pintu terbuka, tiga orang pramusaji memasuki ruangan dengan hidangan yang kami pesan. Daniel meminta pelayan itu untuk memberikan dua kursi tambahan.
Selama hidangan di sajikan, kami semua tidak ada yang berbicara. Sesekali mereka semua menatapku dan Bayu juga Henry dan Jane.
“Kau tahu kan, batas kesabaranku adalah kamu.” Aku menoleh menatap Bayu yang berbisik serius padaku.
Aku mengangguk mengerti ucapannya, lelaki ini akan bertindak kalau melihat aku yang tidak baik-baik saja.
“Jadi sebelum makan, sekali lagi kita harus meluruskan masalah ini.” Kata nenek setelah semua hidangan tersedia dan para pramusaji keluar.
“Nak Henry, benar ibunya Icha meminjam uang? Berapa?” Nenek bertanya pada Henry yang duduk di hadapannya.
“Eh-hmm.. Bukan seperti yang di bayangkan. Uang yang—“
“Bu, Henry hanya membantuku dan sudah seharusnya aku membalasnya dengan perjodohan ini. Aku melakukan ini juga karena tidak ingin anak ku merebut tunangan orang lain. Lagipula Icha selalu perhitungan setiap kali aku meminta uang padanya.” Ibu mengerut sedih. Aku bisa merasakan sesuatu menusuk rongga dadaku.
“Icha, apa benar??”
Aku melirik Daniel dan menjawab. “Daniel, bagaimana kalau kamu yang jelaskan pada nenek dan semuanya tentang uang yang selama ini kakak kasih. Apa yang kau lakukan dengan uang itu dan berapa banyak masalah yang kau timbulkan yang pada akhirnya berbalik padaku.”
….
__ADS_1