
...
Senyumku mengembang ketika mendengarnya berteriak seperti itu. Padahal selama ini aku mengenalnya sebagai wanita yang tenang, pintar dan bijaksana. Aku tidak membayangkan sisinya yang seperti ini, obsesinya tentang penelitian.
"Apa yang bisa kau berikan padaku?" aku bertanya balik. Mata Cilia bergetar, berpikir cepat.
Namun sejak awal aku memang tidak punya niat untuk memberitahunya. Sejak awal setelah tahu kalau dia adalah salah satu orang kepercayaan Wendy, rasanya aku ingin memukul belakang kepalanya.
Hah!
Tapi senyumku semakin mengembang memikirkan kalau aku bisa memukulnya dengan cara lain.
"Apa?" tanyaku lagi, mendesaknya.
"U--uang?"
Aku mendesah kecil, ketika matanya menatapku, aku sengaja menggodanya dengan berkata, "aku akan memberitahumu." Sembari tanganku menepuk lengan Bayu.
Bayu tampak kaget tapi dia tidak mengatakan apa-apa dan memilih untuk sedikit membungkukkan badannya agar mulutku bisa mencapai depan telinganya.
"Cinta kita." Bisikku.
"Hm??" Bayu mengerutkan kening tidak mengerti. Alis mataku terangkat menunggunya berpikir sebentar, tapi karena lelaki ini tidak menunjukkan tanda-tanda mengerti, aku memberinya bocoran lain dengan sengaja mengeraskan suara hingga Cilia bisa mendengarnya.
"Anggur."
"Hm...?"
Dilihat dari sudut mataku, kelopak mata Cilia melebar, mengantisipasi jawaban yang selama ini dia cari, termaksud dua pria di dekat kami juga menatapku penasaran.
"Oh? Ahh..." Ekspresi wajah Bayu cerah, sembari mengangguk dia tertawa kecil.
Aku balas tertawa karena melihat ekspresinya yang lucu. Mataku kembali melirik Cilia dan menjawab dengan puas, "kamu tidak menawarkan apapun padaku. Jadi, selamat tinggal."
"Icha!! Kamu tidak bisa seperti ini!! BERITAHU AKU!"
Langkahku tidak terhenti walau dia menjerit dan ingin mengejarku karena dua pria di sampingnya menahan wanita itu. Bayu yang menuntunku keluar dari rumah ini terlihat puas dan lega.
Beberapa orang yang berjaga di luar sempat melirikku, tapi aku mengabaikan mereka, menyadari kalau akhirnya semua ini sudah berakhir. Ini lah apa yang aku tunggu, menghabiskan waktu berdua dengan Bayu.
Jeritan marah dan kegilaan Cilia seolah menjadi musik latar belakang, tapi aku puas. Setidaknya dia akan penasaran seumur hidupnya.
"Kamu sudah bekerja keras, sayang." Kata Bayu melirikku.
__ADS_1
Aku mendongak untuk melihat wajahnya, tampan seperti biasa dan tersenyum cerah untuk menjawab, "kamu juga sudah bekerja keras dengan semua ini. Aku bangga."
"Kita akan membeli anggur dalam perjalanan pulang." Aku mengangguk karena telingaku lebih menyukai kata pulang daripada anggur.
Duk!
Aku tidak sadar kalau bahuku di dorong oleh seseorang ketika tubuhku sudah akan jatuh tapi Bayu dengan sigap menahan punggungku.
"Maaf. Maafkan aku, kami sedang terburu-buru." Suara seorang wanita mengalihkan tatapanku.
Di depanku sekarang ada seorang wanita dan pria tua ditemani oleh pria yang memakai seragam yang sama dengan Bayu. Sebagian rambut mereka memutih dan garis wajah tegas mereka mengingatkanku pada seseorang.
"Tidak apa-apa." Jawabku.
Aku bisa melihat dari sudut mataku, sorot mata Bayu berubah tegang dan serius, untuk sesaat mata pria yang menemani mereka sempat melirikku kemudian melirik Bayu sembari berkata, "silakan lewat sini."
Pria itu menuntun dua orang itu menuju rumah di belakangku dengan lagkah cepat. Sekali lagi wanita yang tadi menabrak bahuku menatapku sebentar sebelum lanjut mengikuti pria di depannya.
"Ayo." Bayu menarikku saat aku hendak melihat mereka pergi. Aku tidak membantah dan mengikuti Bayu sembari melihat wajahnya. Ada sarat urgensi di ekspresi wajahnya yang menginginkan aku untuk segera menjauh.
Aku sangat paham kenapa dia seperti ini.
Garis wajah mereka mengingatkanku pada Wendy, mereka juga terlihat terburu-buru yang berarti hanya ada satu jawaban, mereka adalah orang tua Wendy, yang juga orang tua ibu kandungku, Mona.
...
..
.
"Kita akan pulang sebentar lagi."
"Oke."
"Aku akan kembali setelah melapor."
"Oke."
"Kau tidak sabar untuk pulang?"
Aku terkekeh pelan melihat ada kerutan samar di antara alisnya, "tentu saja, aku tidak sabar untuk berduaan denganmu."
Bayu tertawa puas sebelum mengusap puncak kepalaku, mengecup keningku dan berbalik untuk menjauh dariku.
__ADS_1
Aku yang berada di dalam mobil, dengan kaca terbuka lebar, menatap punggung Bayu yang semakin menjauh.
"Saya tidak pernah melihat pak Bayu tersenyum sesering itu." Suara pria asing dari arah belakang mobil terdengar seperti sedang melamun. Aku berbalik untuk melihat pria yang sebelumnya menjagaku, melangkah melewatiku untuk berdiri diam di dekat kap mobil.
"Memangnya seperti apa biasanya?" tanyaku penasaran dan lega karena dia mau bertegur sapa denganku.
"Pak Bayu sering menampilkan ekspresi wajah serius dan jarang sekali tersenyum."
"Kalau begitu, bukankah itu juga salah satu pesonanya?" nada suaraku berubah lebih kecil di akhir kalimat.
Pria itu melirikku sekilas dan ada tawa kecil sebelum dia mengangguk dan menjawab, "ya."
"Sebenarnya, dulu, yang pertama membuatku jatuh cinta padanya adalah ekspresi seriusnya di samping wajahnya ayng tampan. Ha ha ha. Tolong jangan beritahu dia."
Dia tertawa lebih keras dan kembali menangguk.
Ketika kami asik menertawakan sesuatu yang abstrak, tiba-tiba telingaku mendengar suara langkah kaki dari belakang. Namun sebelum aku sempat melihat, sosok pria yang memakai seragam yang sama dengan Bayu sudah dengan cepat berada di dekat kami.
"Oh! Kamu ada di sini? Kenapa? Seharusnya kamu ada di--"
Szzttt!
Aku tersentak kaget melihat tubuh pria yang menjagaku ini bergetar hebat karena dia tersetrum. Sebelum aku bisa bereaksi, tubuhnya sudah jatuh ke tanah, tidak sadarkan diri.
Apa-apaan ini?!
Jantungku berdetak cepat saat pria berbadan besar yang melakukan itu beralih padaku. Dia pasti salah satu anggota tim karena pria yang menjagaku ini sepertinya mengenal dia.
Wajahnya yang tertutup maskert, hanya menyisakan matanya, menatapku dingin dan jahat. Tanganku terasa merinding, perasaan takut yang lebih besar daripada saat ada teror bom membuatku sulit bergerak.
Dia tidak mengatakan apapun, tapi langkah tegasnya yang bergerak cepat mendekatiku dalam sekejap sudah ada di depan wajah.
Jeritan yang harusnya keluar dari mulutku tertahan di tenggorokkan saat aku dengan cepat mundur untuk menuju jok di sisi lain mobil. Napasku terengah, aku ingin menangis dan hendak meraih pintu tapi tangannya yang dingin menangkap pergelangan kaki kananku.
Aku tersentak kaget dan menandang tangannya dengan cepat untuk lepas, tapi dia yang setengah badannya masuk melalui kaca jendela terlihat sangat menyeramkan.
Tidak ada siapapun di sekitar kami. Hanya ada mobil dan orang-orang berkumpul jauh di depan, di tempat kejadian.
"L--lepas!!" aku tersisak pelan.
Matanya melotot, ada kekejaman dan niat menyakitiku terlihat jelas di dalam sana. Mataku dengan cepat mencari sesuatu untuk melepaskan tangan yang menahan kakiku.
...
__ADS_1
.