
...
“Kau hanya minum ini? Makanan apa yang kau suka? Aku akan mengambilkannya untukmu.” Ujar Renata setelah melirik gelas kosong di atas meja.
“Tidak usah! Aku tidak lapar.” Tolakku sehalus mungkin.
“Jangan begitu kaku denganku. Bagaimana pun kau akan jadi anak ku. Mulai sekarang kita harus membiasakan diri satu sama lain. Aku ingin mengenalmu lebih jauh.”
“Baiklah. Aku suka kue mangkuk.” Jawabku mengalah.
Tante Renata tampak senang dan mengatakan agar mununggunya sebentar.
Aku tidak tahu apa yang di rencanakannya tapi aku tahu, ini bukan se simpel mengambil makanan untukku. Aku kembali duduk menunggu, hingga suara ribut-ribut terdengar di salah satu stand.
Aku segera berbalik dan melangkah cepat mendekati kerumunan dan melihat kue mangkuk yang aku inginkan sudah jatuh berantakkan.
Tante Renata dan salah satu pelayan wanita sudah sama-sama terduduk jatuh di sana, ayah Evano juga sedang berdiri di belakang wanita itu, ingin membantu dia berdiri tapi tante Renata tampak sibuk membereskan kekacauan bersama pelayan wanita di sampingnya.
“Pelayan!” Teriak ayah ingin memanggil pelayan lain tapi tante Renata segera menahan tangan ayah.
“Tidak sayang, biar aku yang membereskan ini. Bagaimana pun ini salahku karena tidak sengaja menabraknya.”
“Kalau kau ingin kue ini, kau bisa memintanya pada pelayan. Tidak usah ambil sendiri.”
“Ini bukan untukku. Aku mengambilkannya untuk Icha. Dia suka kue ini.”
“Sudah sudah. Biar pelayan yang membereskannya.”
“Tapi mas—”
Perdebatan ayah dan tante Renata di perhatikan oleh tamu lain yang ada di sekeliling mereka. Ayah menarik wanita itu untuk segera berdiri dan memeriksa gaun nya yang kotor.
“Ayo di bersihkan dulu.”
“Tapi Icha suka—”
“Nanti biar aku suruh pelayan yang antar ke kamarnya!” Ucap ayah terdengar tegas, tidak mau di bantah dan menarik paksa tante Renata untuk keluar dari perhatian orang-orang.
Aku memperhatikan para tamu mulai berbisik-bisik, menduga mereka pasti membicarakan aku dan wanita itu. Mereka tidak sadar kalau aku juga memperhatikan di baris paling belakang.
Jadi ini rencana wanita itu untuk membuat namaku jelek? Dia membuat drama di pernikahanku?!
Sekarang aku benar-benar kesal! Aku ingin sekali memukul sesuatu!
__ADS_1
Aku berbalik, melangkah cepat-cepat menuju pintu lain yang terhubung ke dapur, ingin keluar dari aula ini mengingat sebagian besar tamu sudah kembali ke kamar masing-masing karena jam menunjukkan hampir jam satu pagi.
Namun langkahku terhenti saat seseorang menarik tangan kananku dari belakang. Aku hampir terjatuh ke belakang tapi dari aroma parfum yang tercium, aku tahu Bayu yang menarik tanganku dan menahan tubuhku dengan tubuhnya agar aku tidak jatuh.
“Wow! Boo, hati-hati.”
“Aku ingin memukul sesuatu!”
“Hah? Apa yang kau bicarakan?” Bayu menarikku agar aku berdiri menghadapnya.
“Aku sedang kesal sekarang!”
“Siapa yang membuatmu kesal?! Beritahu aku.” Ekspresi Bayu berubah serius menatapku.
“Itu—”
Tidak tidak! Aku tidak bisa berbicara di sini. Mungkin ada pelayan atau tamu yang mendengar, nanti aku jadi bahan gossip mereka lagi.
Tanganku terkepal kesal, tidak menjawab pertanyaan Bayu, aku menahan seorang pelayan yang lewat di sekitar kami.
“Tunggu, di sini ada gym? Bisa tunjukkan padaku?” Tanyaku menahan tangan pelayan wanita.
“O—oh tapi gym sudah di kunci—”
“Bisa tolong di buka? Nanti biar aku yang tanggung jawab jika ada apa-apa.” Potong Bayu meyakinkannya.
“Tunggu sebentar, saya panggilkan petugas yang berjaga.” Dia pergi menjauh untuk memenuhi permintaanku. Aku melirik Bayu, dia juga tengah menatapku penuh selidik tapi aku masih tidak ingin berbicara di sini.
Sudah sepuluh menit aku memukul samsak gantung di hadapanku dengan sarung tinju yang membungkus kedua tanganku dalam diam. Memikirkan orang-orang yang aku temui hari ini, ada yang berbicara dengan memandang rendah aku, ada yang menipuku, ada yang sengaja membuat namaku jelek, terlebih ini hari pernikahanku!
Bayu terdiam memperhatikanku dari tempatnya duduk tak jauh dari tempatku. Lelaki itu dengan sabar menemaniku tanpa berbicara, dua minuman hangat dan anggur yang tadi di pesan dari pelayan sudah ada di atas meja di hadapannya.
Jas kebesaran milik Bayu yang masih aku pakai terasa panas sekarang. Aku menghentikan pukulanku dan masih dengan emosi yang meluap, aku membuka sarung tinju di kedua tanganku untuk membuka jas hitam Bayu.
“Boo, aku kira kau sudah selesai melampiaskan semuanya.” Bayu berjalan menghampiriku saat aku kembali memakai sarung tinju ini.
“Aku belum puas!”
Lelaki ini menghela napas namun dia tidak membantah, dia justru berdiri di hadapanku, di sini lain samsak tinju ini.
“Ayo pukul!” Pekiknya memegangi samsak itu agar tidak bergerak.
Aku tersenyum kecil melihat bagaimana Bayu seolah sedang mengajariku. Tanpa aba-aba aku memukul sekuat tenaga samsak yang di tahan lelaki ini.
“Pukul lagi! Bayangkan ini adalah orang yang membuatmu kesal!”
__ADS_1
Bugg
Bugg Bugg..
“Kurang! Kau kurang keras memukulnya!” Ujar Bayu penuh semangat.
“Rasakan ini!” Pekik ku tidak peduli keringat yang sudah membasahi wajah dan leherku.
Bugg..
“Boo, aku akan membelikan mu samsak dan sarung tinju di rumah.”
“Bagus! Mulai sekarang aku pasti membutuhkan itu!”
“Mulai sekarang? Orang itu akan mengganggumu lagi?”
“Pasti! Ibu dan Daniel semakin dingin padaku meski aku mengatakan telah meminta ayah mengganti nama warisan dari bibi Rose, sekarang di tambah nenek yang tidak suka padaku, dia seperti ibu versi lebih tua. Dia tidak suka aku yang adalah perempuan, sejak dulu nenek mengharapkan pewaris laki-laki. Lalu ada artis itu! Dia bermain drama di sini! DI PERNIKAHANKU!!”
“Apa kejadian kue mangkuk tadi?”
“Ya! Dia membuat seolah aku yang memaksanya mengambil kue itu! Orang-orang yang melihat mulai membicarakanku!” Aku memekik kesal dan menghentikan tinjuan ku.
Tidak ingin lagi memukul, sekarang aku merasakan tubuhku sangat lelah.
Kaki ku melangkah mendekati sofa kecil yang tadi di duduki Bayu, lalu melempar diriku ke sana dan bersandar sembari menormalkan napasku.
Bayu yang masih diam di tempatnya mulai berjalan perlahan mendekatiku. Mataku melihat kedua kakinya hanya memakai kaos kaki hitam tanpa sepatu. Refleks aku duduk tegak dan mencari kemana sepatunya.
Aku hanya melihat sepatu high heels perak yang berkilau tak jauh dari kaki meja, itu milikku.
Ahh benar! Aku lupa, tadi tanpa sadar Bayu membantuku melepaskan sepatu heels sebelum aku mulai memukul samsak dan menggantikan miliknya.
Marah-marah memang sangat merugikan. Perhatian kecilnya saja tidak aku sadari.
Bayu mengulurkan handuk kecil padaku saat dia sudah duduk di sampingku. Aku menerimanya perlahan, merasa bersalah karena mengabaikan lelaki ini untuk sibuk dengan emosiku sendiri.
“Maaf.” Bisikku menunduk sembari mengelap wajahku yang penuh keringat.
__ADS_1
...