EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 342


__ADS_3

...


Pagi ini, matahari terbit dari belakang gunung terlihat indah ketika cahaya nya mengubah warna langit yang biru tua perlahan berwarna oren kemerahan. Kabut embun pagi yang menutupi gunung terlihat sangat indah begitu cahaya matahari menyentuh itu. Pohon-pohon, tanaman yang ada di sana memang terlihat menyeramkan, tapi aku tidak bisa berhenti menatap mereka.


“Icha?” Suara Bayu membuyarkan perhatianku. Aku menoleh menatapnya, dia sedang menurunkan masker yang menutup mulut dan hidung. Sekarang wajahnya terlihat jelas ketika dia mengerutkan kening.


“Apa kamu sakit? Sejak tadi aku memanggilmu.” Kami menghentikan langkah, tangan lelaki ini menyentuh dahiku.


Senyumku mengembang setelah satu pikiran terlintas di kepalaku, “sepertinya, di daerah pergunungan, tidak buruk juga, iya ‘kan?”


Raut wajah Bayu tambah bingung, “Apa?”


Aku menjawab dengan penuh semangat, “tentu saja bulan madu kita!”


“Uhuk!!” mataku mengerjap mendengar suara batuk kecil dari belakang. Aku menoleh dan mendapati dua rekan Bayu yang tadi menjagaku dan datang bersamanya mengalihkan pandangan agar tidak bertatap mata denganku.


Aku kembali beralih menatap Bayu, berharap mendapat tanggapan darinya. Tapi, lelaki ini mengatupkan bibirnya keras dengan sudut mulut yang di tahan agar tidak naik. Dia sedang menahan tawanya di hadapanku.


Namun aku tidak peduli, masih menatapnya untuk menunggu jawaban Bayu. “Bagaimana?”


“Kita bisa merencanakan itu.” Bayu mengangguk cepat sembari menepuk-nepuk bahu ku. Tapi aku justru mengerutkan kening karena tidak biasa dengan reaksinya.


“Pokoknya, sekarang Cilia menunggu.”


“…Ya.” Setelah mendengar jawabanku yang sedikit terlambat, tangan Bayu pindah untuk merangkul bahu ku. Mataku yang sejak tadi mengikuti wajahnya, melihat ada tawa kecil tanpa suara di sela ekspresi seriusnya.


Obrolan singkat kami terhenti sampai di situ saat aku sudah bergabung dengan orang-orang berbadan besar dan tinggi dengan setelan seragam seperti Bayu. Mereka sempat menatapku sebentar sebelum salah seorang pria paruh baya melangkah mendekatiku.


Dia memperkenalkan diri dengan singkat sebelum berterima kasih karena mau membantu rencana mereka. Di lihat dari bagaimana sikapnya, aku pikir dia adalah komandan dalam tim.


Dia ingin aku menahan Cilia selama sepuluh menit untuk memberi waktu tim lain yang akan memeriksa bom di sekitar desa. Setelah menjelaskan semuanya dengan singkat, dia mengarahkan aku dengan cepat menuju sebuah rumah kecil tak jauh dari ledakan sebelumnya.

__ADS_1


Bayu yang tidak melepaskan genggaman tangannya padaku tidak mengatakan apa-apa. Tapi di lihat dari rahangnya yang mengatup keras, sepertinya dia menahan untuk tidak membawaku pergi.


Sebelum aku masuk ke rumah kecil itu, sekarang aku bisa dengan jelas melihat keadaan desa.


Semua rumah di sini kosong, tidak ada tanda-tanda orang yang tinggal. Ada juga jejak longsor di beberapa tempat dan sebagian bangunan rusak. Melihat bagaimana jarak dari rumah satu dengan yang lain, desa ini dulunya pasti ramai oleh penduduk. Untuk beberapa hal aneh, punggungku terasa merinding karena berada di desa kosong.


“JANGAN MENDEKAT!!” Teriakkan Cilia dari dalam rumah mengalihkan pandanganku.


Ada tiga orang pria di dalam yang berusaha menenangkan Cilia. Wanita itu sedang mengarahkan pisau ke lehernya sendiri dengan tangan kanan dan di tangan lain tergenggam sesuatu yang kecil.


“Sudah turunkan pisaunya. Kami membawa Natasha ke sini, oke?” ucapan salah satu pria di dalam ketika aku masuk mengalihkan tatapan semua orang.


Bayu berjalan di depanku, menghalangiku dari pandangan Cilia.


Aku menepuk punggungnya pelan dengan maksud tersirat kalau aku baik-baik saja menghadapi Cilia.


Cilia yang wajahnya berantakkan, menatapku tajam. Ada sedikit kelegaan dalam ekspresinya saat aku mulai melangkah untuk mendekatinya.


Mataku melirik dua kursi yang di letakkan berhadapan dan berujar, “ayo duduk dulu.”


Kemudian, Bayu sudah berdiri di sampingku dan tiga pria yang tadi membujuk Cilia berdiri di sampingku yang lain. Melihat tidak ada siapapun yang memecah keheningan ini, aku kembali menunjuk kursi lain dengan daguku pada Cilia.


Dia perlahan mundur untuk duduk, matanya tidak lepas menatapku ketika dia mulai tenang. Aku yang melipat dua tangan di atas perut mulai berkata, “kamu ingin berbicara denganku? Ada apa?”


Ekspresi wajahku serius karena memikirkan harus membagi waktuku yang berharga hanya untuk menemaninya mengobrol, sementara aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian atau dengan Bayu.


Cilia seperti sedang menyusun apa yang harus dia katakan padaku karena pandangannya terlihat bingung untuk sesaat. Namun, kalimat yang dia jawab membuatku tersentak kaget.


“Kenapa kamu baik-baik saja?”


“Apa?! Apa maksudmu?? Apa aku harus tidak baik-baik saja??”

__ADS_1


“Wendy… dia sudah menyuntikkan racun itu.”


“APA!! BRENG—” Bayu berteriak marah, dia akan menerjang Cilia jika tidak di tahan oleh dua pria di belakangnya.


“Jelas-jelas Wendy menyuntikkan racun itu dengan dosis dua kali lipat saat kamu tidur! Tapi kamu terlihat sangat baik. Seharusnya kamu langsung ke sakitan, terlebih karena Bayu ada—”


“Ha ha ha.” Aku tertawa, memotong kalimatnya. Raut wajahnya dengan jelas mengatakan kalau dia akan tenang setelah tahu apa yang terjadi dengan tubuhku. Dia sudah terobsesi dengan penelitiannya.


Hah! Benar-benar tidak habis pikir! Ternyata Wendy berhasil menyuntikkan racun itu!


Sebenarnya, sejak penculikan ini, aku sudah memikirkan hipotesis yang masuk akal kenapa racun hormon itu tidak berpengaruh padaku.


“Jadi, Wendy menyuntikkan racun padaku tadi malam? Tapi sekarang aku sangat baik. Cilia, kamu sangat penasaran kenapa aku tidak terpengaruh ‘kan? Sebenarnya aku sudah tahu kenapa.” Mata Cilia terbuka lebar, ada keserakahan di matanya.


“Kenapa?? Apa kamu sebelumnya meminum sesuatu untuk menahan racun??”


Aku menggeleng, “bukan. Tapi aku tidak ingin menjawabnya.”


“Apa?!” Cilia tersentak kaget, dia langsung berdiri yang mengakibatkan dua dari empat pria yang menemaniku, menodongkan pistol. Salah satunya milik Bayu.


“Ini merugikanku. Aku yang sudah kalian racuni. Aku juga yang memberi kalian jawaban. Bukankah itu tidak adil? Timbangannya jadi berat sebelah.” Jawabku tenang. Aku harus memimpin obrolan kami.


“A—apa maksudmu?” mata Cilia terlihat bergetar putus asa.


“Kalian telah menculikku, meracuniku dan menyulitkan penyelidikan Bayu. Tiga hal! Kalau kamu ingin tahu jawabannya, aku harus dapat tiga hal darimu.” Dari sudut mataku, aku bisa melihat Bayu melirikku dengan ekspresi penasaran, tapi tatapanku tidak teralihkan dari Cilia yang sekarang sudah duduk lagi.


Sorot matanya yang bergetar karena bingung seperti orang lain, karena selama ini Cilia yang aku kenal memiliki aura pintar dan percaya diri.


“A—apa yang kamu mau?” dia bergumam pelan tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.


Sudut mataku terangkat, tersenyum kecil karena dia masuk ke perangkapku. Ini waktunya untuk mendominasi keadaan.

__ADS_1


...


.


__ADS_2