
...
“Selamat pagi bu Icha!” Sapa satpam -pak Ronald- menyapa saat aku sudah ada di dekat mereka berdua. Dani sempat mendongak dan tersenyum sebelum kembali membereskan pecahan kaca.
“Pagi.”
“Bagaimana keadaan bu Icha?”
“Baik, tidak usah khawatirkan tentang ini.” Jawabku melirik tangan kiriku karena pak Ronald dan Dani sempat melirik penyangga tanganku.
“Icha!!” Suara Camila yang sudah lama tidak aku dengar terdengar di belakangku. Aku berbalik dan mendapati dia bersama Tiwi dan Rima.
“Enggak apa-apa, Cha? Padahal istirahat aja dulu di rumah.” Tiwi berkata khawatir memperhatikan tanganku saat mereka bertiga sudah ada di hadapanku.
Aku menggeleng dan tersenyum lebar. “Gimana kerjaan? Apa ada masalah?” Tanyaku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Tiba-tiba Rima menarikku menjauhi pak Ronald dan Dani yang masih memperhatikan kami. “Apa benar?”
“Apa?” Camila dan Tiwi sudah mengikuti langkah kami menaiki tangga menuju lantai dua gedung.
Rima melirik ke sekitar takut ada yang memperhatikan, sebelum kami berempat berhenti di tengah-tengah tangga yang sepi dan wanita ini melanjutkan. “Aku dengar rumor di pusat, mereka sedang mengadakan rapat pagi ini untuk memperkenalkan direktur baru yang membeli setengah saham grup.”
Aku mengerutkan kening antara heran dan kaget. Rima memang salah satu bawahanku yang akrab dengan orang-orang pusat dan dia selalu tahu kabar apapun di sana. “Aku tidak tahu rumor itu. Lagi pula, kenapa mereka menjual setengah saham grup?”
“Aku dengar ini salah satu strategi untuk menutupi dua cabang yang bulan-bulan lalu mengalami kerugian besar. Juga masalah pajak.” Rima masih berbisik. Aku mengangguk, berharap dengan adanya dua direktur tidak mempengaruhi sistem kerja kami.
“Tapi bukannya terlalu mendadak? Kita tiba-tiba punya dua direktur di pusat.” Kata Tiwi saat kami mulai melangkah kembali menaiki tangga.
“Apapun itu, yang penting tidak mempengaruhi sistem kerja kita.” Jawabku.
Setibanya kami di ruangan, Bela dan Kiki sudah ada di depan meja mereka masing-masing dan seperti reaksi Tiwi, kedua wanita itu menyuruhku untuk kembali pulang dan istirahat.
“Aku benar tidak apa-apa. Ini hanya syarat agar aku di izinkan kembali kerja, sebenarnya tanganku tidak parah seperti yang kalian pikirkan.” Jawabku sembari duduk di kursi depan meja kerjaku. Rasanya rindu berada di kantor.
“Apa Yudha belum datang?”
“Belum.” Bela dan Kiki menjawab bersamaan.
__ADS_1
“Tapi ngomong-ngomong, aku ingin meminta maaf dulu pada kalian. Akhir-akhir ini aku sering tidak masuk kerja karena urusan pribadi.” Selagi Yudha belum datang, aku ingin memberitahu mereka tentang pernikahanku, mereka berhak tahu karena mereka sudah bersamaku lebih dari empat tahun.
Seperti yang aku duga, saat aku menceritakan tentang pemberkatan yang di adakan kemarin malam secara mendadak dan pribadi, mereka melayangkan protes bersamaan. Tidak aku tidak terganggu, justru aku senang.
“Mendadak sekali karena ada hal penting yang terjadi. Acaranya pun di rencanakan oleh kedua keluarga kami, aku bahkan tidak tahu apa-apa.”
“Coba ceritakan, apa kalian di jodohkan?” Kiki sudah duduk di sampingku, wajahnya menunjukkan ketertarikan mengenai cerita cintaku di bandingkan dengan yang lain.
Aku memutar mataku, berpikir sebentar. “Tidak tapi bisa di bilang ya. Maksudku, aku dan dia sudah kenal lama sekali, kami sudah jadi teman sejak kecil dan baru beberapa bulan ini bertemu lagi tapi aku juga baru tahu kalau ternyata kedua orang tua kami juga teman lama. Melihat bagaimana puasnya ayahku pada dia, aku pikir mungkin dalam pikirannya memang sudah sejak lama dia ingin menjodohkanku dengan anak temannya itu. Seperti itulah, tanpa ragu lagi mereka cepat-cepat menikahkan kami di samping suatu hal penting yang terjadi yang mengharuskan kami untuk menikah cepat.”
“Lalu, kenapa sekarang kamu masuk kerja?! Kalian harus segera bulan madu!” Camila berseru penuh semangat mengingat di antara kami yang sudah menikah adalah Rima, Tiwi dan Camila.
Aku menggeleng. “Karena mendadak, dia belum mengajukan cuti dan ada tugas penting, aku juga sudah terlalu lama cuti.”
“Jadi, bahkan kalian belum menikmati waktu sebagai sepasang suami istri kurang dari dua belas jam?” Kiki bertanya dramatis.
Aku hanya bisa terkekeh pelan dan tidak membantah. “Semuanya terjadi terlalu mendadak. Aku masih belum begitu merasakan perbedaannya, hanya saja sekarang sebelah tempat tidurku tidak kosong.” Mereka semua berseru dan tertawa menggodaku.
Obrolan kami terhenti saat pintu ruangan terbuka dari luar. Wajah pak Ginanjar, kepala divisi marketing muncul, seperti biasa dia mengajakku untuk berbicara di ruangannya.
.
..
…
“Sampai jumpa.” Aku melambai pada kelima wanita yang seharian ini memaksaku untuk lebih detail menceritakan bagaimana pernikahanku kemarin malam. Tampaknya topik aku yang menikah dadakan lebih menarik perhatian mereka di bandingkan dengan berita tentang sebagian saham grup perusahaan ini telah berpindah tangan pada direktur baru.
Pak Ginanjar sempat membahas itu tadi pagi saat kami mengobrol, katanya sudah di pastikan kalau ada orang yang memang membeli sebagian saham grup pagi ini. Karena seharian ini pekerjaanku sudah menunggu, banyak laporan yang harus di periksa dan harus di berikan, tidak ada yang membahas tentang berita itu lagi. Di tambah, ternyata Yudha tidak masuk hari ini, dia minta izin ada urusan pribadi yang mendadak.
Pintu ruangan tertutup di susul kesunyian yang mendadak. Jam menunjukkan pukul lima tepat dan di ruangan ini hanya aku sendiri yang masih sibuk memeriksa berkas dan data-data di laptop. Aku membiarkan mereka pulang tepat waktu mengingat mereka sudah bekerja keras beberapa hari belakang ini.
Suara detik jarum jam terdengar lebih keras di telingaku di susul dengan bunyi keyboard laptop yang aku tekan menemani ruangan yang sunyi.
Tangan kiriku sudah di bebaskan dari arm sling harness sejak tadi pagi, meski sedikit kebas di tempat luka ku yang terjahit, tapi aku tidak tahan kalau harus mengetik dengan sebelah tangan.
Lima menit kemudian, getaran ponsel sedikit mengagetkanku. Aku melirik layar yang menyala dan menemukan prof Bora di sana.
__ADS_1
“Halo.”
“Cha. Kamu di kantor?”
“Yaa. Ada apa prof?”
“Bisa bertemu sekarang? Ada hal penting yang ingin aku bahas. Kami sedang menuju ke tempatmu.” Aku tidak pernah mendengar suara prof Bora yang panik seperti ini.
“Yaa. Kita bertemu di café dekat sini. Aku akan kirim tempatnya lewat pesan.”
“Oke. Sampai jumpa.”
Merasa kalau ini pasti hal penting, aku cepat-cepat membereskan semua berkas dan menutup laptop sembari mengirimkan pesan pada prof Bora tempat kami bertemu.
Tapi apa katanya tadi? Kami?
***
“Setelah selesai di sini, aku akan menjemputmu.”
Aku tersenyum kecil membaca balasan pesan dari Bayu. Dia mengatakan kalau di markas, urusannya hampir selesai dan akan menjemputku di sini setelah dia tahu aku bertemu dengan prof Bora. Itu berarti dia belum berangkat untuk tugas pentingnya mengingat janjinya tadi pagi untuk pulang.
Saat ini aku duduk sendirian di meja sebuah café dekat kantor, prof Bora belum datang, membayangkan jalanan pasti macet karena ini jam pulang.
Seorang pramusaji datang mengantarkan minuman dan cemilan yang tadi aku pesan, sampai setengah dari makanan itu habis barulah prof Bora datang tergesa-gesa bersama seorang gadis di sampingnya.
“Maaf Cha, jalanan macet.” Prof Bora terengah-engah seperti habis berlari.
“Tidak apa-apa. Aku juga sudah memesan minuman duluan.”
Mataku melirik gadis itu yang masih berdiri, melihat wajahnya dari dekat rasanya familiar. Dia balas menatapku dengan senyum lebar.
“Ya benar! Dia orangnya prof.” Katanya pada prof Bora.
Aku melirik mereka berdua heran, tapi tidak bertanya karena masih berusaha mengingat dimana aku pernah bertemu dengannya.
...
__ADS_1