
...
“Apa kau benar-benar akan di pecat kalau tidak kerja hari ini? Kalau begitu kau tidak usah mengkhawatirkan apapun, keluar saja! Ingat, kau sudah menjadi nona muda dari keluarga Jeremy, di rumah menemani bunda juga tidak apa-apa dan aku juga membutuhkan istri yang bisa menghabiskan uangku.” Aku tidak bisa menahan tawaku.
Aku tertawa puas mendengarnya yang langsung menular pada Bayu. Kami berdua tertawa konyol, mengabaikan Renata.
“Dan jangan lupa, kau bisa mulai memindahkan barang-barangmu ke rumah kita. Jika butuh bantuan, panggil saja Zac.” Aku mengangguk, senang sekali mendengarnya mengatakan ‘rumah kita’.
“Ingat, aku juga masih harus kuliah.”
“Oh betul! Jangan sampai kelelahan.” Bayu mengusap puncak kepalaku, dia tersenyum lembut hingga kedua matanya menyipit seperti bulan sabit.
Aku balas tersenyum padanya dan mengangguk lagi.
“Icha, kalau kau butuh bantuan, jangan sungkan padaku ya. Aku bisa membantumu memindahkan barang-barang. Aku akan mengenalkanmu pada orang yang biasa membantuku untuk memindahkan barang.” Aku dan Bayu melirik Renata begitu wanita itu kembali berusaha menyelip di antara obrolan kami.
Aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapannya sedangkan Bayu tidak menjawab, hanya merangkulku dan membawa tubuhku menempel dengan tubuhnya.
“Kau tenang saja Bayu, aku akan menjaga Icha. Dia sudah aku anggap sebagai anakku sendiri.” Renata kali ini melirik Bayu.
“Tidak ingin merepotkan, tapi aku sudah mengatur orang-orangku. Dan lagi aku pikir istriku ini lebih kuat dari yang terlihat.” Bayu mengalihkan pandangannya menatapku.
Aku mengangguk menyetujui ucapannya. Tidak pernah terpikir pagi-pagi sudah beradu argument dengan Renata tapi menghadapi orang seperti ini bersama Bayu di sampingku rasanya sangat lega. Aku tidak sendirian lagi.
Namun obrolan kami terhenti saat pintu terbuka, memunculkan sosok Talia yang di ikuti tiga pria di belakangnya, juga ada ayah Evano dan ayah Rasha mengikuti di paling belakang.
“Bagaimana?” Bayu bangkit berdiri, tidak sabar mendengar laporan dari Talia.
Sejenak, Talia melirik Renata, dari pandangannya aku tahu kalau dia enggan membicarakan perkembangan kasus di depan wanita itu. Tapi kelihatannya ayah Evano tidak mengatakan apa-apa untuk setidaknya ‘mengusir’ wanita itu, jadi akhirnya Talia tidak punya pilihan dan berkata. “Kami sudah mengintrograsi mereka berempat, untuk sementara 3 orang pelayan yang tadi kalian lihat mengatakan kalau ada tamu yang meminta mereka mengantar koper-koper itu. Kami sudah mencari orang yang mereka maksud, dan tidak ada di antara tamu.”
__ADS_1
“Tentu saja! Orang itu pasti sudah kabur. Dia tidak akan mengambil resiko untuk tetap di sini.” Jawab Bayu berdecak pelan.
“Dan kami sudah berdiskusi agar kalian segera pulang pagi ini juga. Semua yang ada di sini akan kami urus.” Talia melirik sekilas ayah Evano dan ayah Rasha yang diam mendengarkan.
“Tapi—”
“Jelas sekali kalau kejadian ini untuk mempermalukan kalian di acara penting ini. Maka, lebih baik kalian segera pulang.” Ayah Rahsa memotong bantahan Bayu. Kami berdua saling pandang tapi aku tahu, kami memikirkan hal yang sama.
“Baik.”
“Aku akan berkemas.” Kataku segera bangkit berdiri.
“Aku temani.” Talia merangkulku dan tanpa mengatakan apapun lagi, kami berdua segera keluar dari ruangan itu. Bayu tidak ikut denganku, aku melihatnya sedang mengobrol dengan yang lain.
“Aku tidak tahu kalau kau adalah seorang petugas kepolisian.” Kataku memulai percakapan saat kami berjalan beriringan di sepanjang koridor menuju kamarku.
Talia tampak melirikku sekilas dan tersenyum lebar. “Karena hampir di setiap kasus aku harus menyamar, jadi mungkin penampilanku tidak terlihat seperti seorang polisi.”
“Begitu? Pasti lelah sekali harus menyamar menjadi orang lain. Maksudku, bukankah lebih bahagia menjadi diri kita sendiri?” Talia tampak terdiam, seolah merenungkan perkataanku.
Aku tertawa kecil melihatnya, tersipu malu. “Well, kami menghabiskan waktu di gym setelah acara—tidak seperti yang kau pikirkan, Talia! Setelah itu, aku tidak sengaja melihat 3 pelayan itu di gedung belakang melakukan sesuatu yang mencurigakan, seperti yang kau tahu kemudian.”
Talia berdecak, seolah sedang menyayangkan pengalamanku. “Seharusnya ini menjadi malam istimewa untuk kalian berdua. Tapi aku bersyukur, kalian kelihatan bahagia sekali.”
“Benar! Hehehe.. Aku memang tidak pernah menyangka akan menikah secepat ini meski bisa di bilang, keadaan yang memaksa. Tapi aku cukup bahagia.” Dalam waktu singkat kami sudah berada di depan pintu kamar, ketika aku membuka pintu dan hendak meminta Talia masuk tapi wanita itu menggeleng cepat.
“Aku tunggu di sini. Aku tidak ingin masuk ke kamar pengantin.” Katanya dengan tatapan jahil. Kemudian aku mengangguk tidak ingin berdebat.
Hanya menghabiskan waktu kurang dari lima menit, aku sudah memasukan beberapa barang mengingat sebenarnya kami tidak membawa baju ke vila. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan, aku segera keluar menemui Talia.
“Ayo! Mobil sudah siap.” Katanya, sekali lagi aku mengangguk dan mengikutinya pergi menuju ke pintu vila depan.
Di sana sudah tersedia dua mobil hitam, salah satunya jeep milik Bayu. Ayah Evano, ayah Rasha, Bayu dan 2 orang pria rekan kerja Talia, sedang berkumpul membicarakan sesuatu.
Ketika aku sudah di dekat mereka, pembicaraan mereka terhenti seolah memang ter interupsi oleh kehadiranku.
__ADS_1
“Oh Icha. Kau akan pulang bersama Bayu, di antar oleh mereka.” Ayah Rahsa berkata sembari melirik 2 pria tegap yang jelas sekali mereka dari kepolisian. Aku bisa melihat sesuatu yang mengkilat di sisi sabuk mereka.
Mulutku sudah setengah terbuka ingin menanyakan kenapa sampai harus di antar oleh polisi, tapi aku urungkan dan hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu ayah Evano melangkah mendekatiku sembari kedua tangannya memegang bahuku, matanya menatapku penuh perhatian dan intimidasi, aku bisa merasakan kalau ucapan selanjutnya tidak ingin di bantah.
“Pagi ini kau pulang ke rumah Rasha dan Kirana. Tidak boleh keluar sendirian. Seseorang akan ada di sana saat Bayu akan berangkat kerja nanti.”
“Seseorang? Siapa?”
“Dia akan menjadi asistenmu. Dia orang yang sudah ayah kenal dengan baik.”
“Asisten?? Tapi aku tidak butuh asisten!”
“Untuk hal lain, nanti kita bicarakan setelah ini, oke?”
“Tapi—”
“Dia sudah kenal Icha juga dan ayahmu sudah memeriksa latar belakangnya. Jadi tidak usah khawatir.” Ayah melirik Bayu yang aku baru sadari sesaat tadi ekspresi wajahnya ingin berbicara.
“Kalau begitu, kalian segera berangkat.” Kata ayah Rasha mengakhiri perdebatan singkatku dengan ayah.
***
“Apa mereka harus berjaga terus di depan?” Dengan tangan di pinggul, aku menatap ke luar jendela sekali lagi. melihat bagaimana dua orang pria sedang berdiri di depan gerbang, duduk di kap mobil depan dengan pandangan mata tajam menatap ke sekitar, seolah hanya dari tatapan mereka saja bisa menangkap pencuri paling hebat.
__ADS_1
...