EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 287


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Aku sudah tanya pada ayah Evano tentang kasus Red Apple, dia tidak ingin memberitahuku, memintaku menunggu sampai mereka punya bukti lengkap. Ayah Rasha dan Bayu juga ikut merahasiakannya dariku.”


 


 


“Apa kau curiga kasus itu juga ada hubungannya dengan Osa?” Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.


 


 


Talia menghembuskan napas panjang, selanjutnya kami diam, sibuk dengan pikiran masing-masing, hanya di temani dengan suara hembusan angin malam yang menerbangkan daun-daun kering.


 


 


 


 


“Oh ya satu lagi!” Ujarku tiba-tiba mengingat sesuatu. Talia melirikku ketika aku menyerahkan USB kecil padanya.


 


 


“Ini rekaman CCTV rumahku, dokter Cilia masuk ke dalam rumah, mungkin kita bisa melacaknya dengan mengikuti rute saat dia kabur.”


 


 


“Dia datang? Apa yang dia lakukan?”


 


 


“Aku tidak yakin. Dia hanya menyemprotkan sesuatu, aku akan minta dokter Stefan untuk memeriksanya besok.” Jawabku, lupa tentang apa yang di lakukan dokter Cilia, seharusnya aku segera memeriksa rumahku tapi karena pesta dan obrolan bersama Fiona, pikiranku teralihkan.


 


 


Lalu getaran ponselku membuat perhatian kami teralihkan. Talia pamit untuk masuk ke dalam rumah Camila, tidak ingin menggangguku.


 


 


Begitu membaca nama Bayu yang tertera di layar ponsel, aku memejamkan mata sejenak dan menghela napas panjang untuk menetralkan suaraku. Bagaimanapun, sekarang suasana hatiku sedang gundah dan tidak bersemangat.


 


 


 


 


 


 


Malam ini Bayu tidak menghubungiku dengan panggilan video, hanya panggilan biasa. “Halo.”


 


 


“Icha? Kamu sedang apa?”


 


 


“Aku sedang ada di rumah Camila.” Jawabku pelan.


 


 


“Siang ini aku tidak menerima pesan darimu. Biasanya kau mengirimiku pesan tentang apa yang sedang kau lakukan. Apa mungkin kau masih marah?”


 


 


Aku terdiam sebentar, sebenarnya jika mengingat tentang kejadian kemarin malam, aku masih jengkel padanya. Tapi nyatanya, justru rinduku lebih besar lagi, aku ingin dia ada di sampingku sekarang juga.


 


 


“Tidak.”


 


 


 


“Suaramu terdengar aneh. Ada apa?”


 


 


“Banyak yang terjadi hari ini. Aku hanya agak lelah.”


 


 


“Ada apa? Kau tidak ingin menceritakannya?”


 


 


Tiba-tiba ingatan tentang Bayu yang menelpon ayah Evano tadi pagi muncul. “Bukannya kau yang sedang menyembunyikan sesuatu dariku?”


 


 


“Apa maksudmu?”


 


 


“Aku tahu kau, ayah Rasha dan ayah Evano sedang melakukan penyelidikan diam-diam yang ada sangkut pautnya denganku. Iya ‘kan?”

__ADS_1


 


 


Ada jeda panjang sebelum aku mendengar Bayu menjawab, “tentang itu. Maafkan aku. Pencarian ini berbahaya, melibatkan sesuatu yang besar. Kami bertiga sudah tahu garis besarnya, untuk bisa mengekspos mereka dan mengungkapkan kebenarannya padamu, masih butuh waktu.”


 


 


Aku mendengar nada bersalah dari suaranya, “tentu saja. Aku hanya tmenunggu hasilnya dan harus bersabar menunggu kalian mengungkapkannya. Benar-benar kerjasama yang mengagumkan.” jawabku jengkel.


 


 


“Icha.”


 


 


“Pernahkah kalian berpikir, ketika kalian sibuk mencoba melindungiku dengan menjauhiku dari fakta-fakta itu, justru ada seseorang yang diam-diam berdiri di belakangku untuk menangkapku di waktu yang tepat?”


 


 


“Apa maksudmu?!” Sekarang Bayu terdengar gelisah.


 


 


“Hari ini, seseorang memberitahuku tentang madam Carol atau Nindy. Bukannya itu orang yang ada sangkut pautnya dengan pengkapana Rey? Aku ingat saat itu kau terluka dan meninggalkan hasil CT di rumah sakit. Hari itu adalah hari kau menangkapnya ‘kan?” Tuntutku dengan luapan emosi yang perlahan naik.


 


 


“Icha~~”


 


 


“Sammy Antonio. Temanmu yang datang saat kita joging, di hari ayah Rasha mempekerjakan Dika dan Lucy, orang itu sebenarnya datang untuk menyusun rencana pengepungan di gedung peramal Prognoz. Kau tidak hanya memberi mereka informasi ‘kan? Tapi kau juga ada dalam rencana itu—oh! Atau saat kau bertemu dengannya di rumah sakit, di hari aku masuk UGD, apa pada saat itu kalian merencanakan penangkapan madam Carol? Itu bahkan sebelum kita menikah.” Kebingungan, kekesalanku sepanjang hari ini rasanya meluap-luap pada Bayu.


 


 


“Kau pintar. Aku tidak bisa membantah pernyataanmu.”


 


 


“Hah! Bagus sekali! Diam-diam kau merencanakan semua itu dan tidak melibatkanku!”


 


 


“Maaf. Kamu harus percaya padaku. Aku melakukan semua ini untuk kebaikanmu juga. Apa selama ini kau menurutiku berakhir dalam bahaya? Tidak ‘kan.”


 


 


“Sepertinya apa yang di katakan Fiona benar, kita adalah pasangan bertipe alpha, sama-sama percaya diri dengan kelebihan, kemampuan dan naluri alami masing-masing.”


 


 


“Intinya kita sama-sama keras kepala.” Bayu menyimpulkan.


 


 


 


 


 


 


“Aku mengaku salah. Maafkan aku, hm?”


 


 


“Memangnya apalagi yang bisa aku lakukan? Orang tercerai berai karena mereka saling melupakan, tapi orang tetap bersatu karena mereka saling memaafkan.”


 


 


“Senang mendengarnya.” Ada kekehan kecil di akhir kalimat.


 


 


“Jadi, apa saja yang sudah kau tahu? Aku tidak ingin ada informasi yang salah dan mengakibatkan kita salah paham.”


 


 


“Aku tidak mau mengatakannya di telpon.”


 


 


“Kenapa?”


 


 


“Tiba-tiba saja aku punya ide untuk menyusulmu ke sana.”


 


 


“Hah?”


 


 


“Mengingat sekarang aku sedang menganggur, kenapa tidak kepikiran lebih cepat untuk ikut denganmu? Menunggu enam bulan terlalu lama.”


 


 


“Baru dua hari aku bekerja di sini, kenapa tidak lebih cepat aku kepikiran untuk mengajakmu ikut bersamaku ya?” Kali ini terselip nada jahil di nada suaranya.


 

__ADS_1


 


“Kenapa reaksimu seperti itu? Kau tidak senang aku datang?”


 


 


“Senang! Tentu saja senang!”


 


 


Aku menyipitkan mata, “mencurigakan.”


 


 


“Jadi kapan kau ke sini? Besok?”


 


 


“Mungkin besok atau lusa, atau minggu depan, bahkan aku bisa berangkat sekarang juga. Tapi aku tidak akan mengatakannya!”


 


 


“Kalau kau tidak mengatakannya. Aku akan berharap kau datang lebih cepat.”


 


 


“Kau tidak suka kejutan?”


 


 


“Tentu saja suka! Tapi yang namanya kejutan, tidak membocorkannya. Sedangkan untuk hal ini, kau sudah mengatakannya, jadi bukan kejutan lagi ‘kan?”


 


 


“Menyebalkan! Seharusnya kau pura-pura saja terkejut nanti.”


 


 


“Baik baik. Aku akan menuruti rencanamu dan terkejut nanti.” Aku tertawa mendengar jawabannya.


 


 


“Aku mencintaimu.” Tawaku terhenti mendengar ungkapannya.


 


 


Aku tidak bisa untuk tidak merona, jantungku berdetak cepat, ada sensasi menggelitik di perut dan rongga dadaku yang membuatku tanpa sadar menyentuh dada kiri. Dalam sekejap saja rasanya malam ini berubah jadi indah.


 


 


“Aku juga cinta kamu.”


 


 


 


 


 


 


***


 


 


 


 


 


 


Aku menguap lebar ketika pagi berikutnya keluar dari kamar setelah mandi dan berpakaian rapih. Meski sudah berendam sebentar, tapi aku bisa merasakan tubuhku masih lelah.


 


 


Pulang dari rumah Camila jam 10 malam dan ayah Evano masih mengharapkan aku untuk menginap di rumah keluarga Danendra, jadi sekarang aku sedang melangkah menuruni tangga menuju ruang makan.


 


 


Mengingat kalau dua malam ini aku tidak banyak bertemu dengan ayah dan paman Kenzo, jadi rencananya hari ini aku harus menyapa mereka, setidaknya saat jam sarapan.


 


 


Namun, ketika sampai di ambang pintu, aku melihat punggung seorang wanita, dia sudah duduk di salah satu kursi. Meski dia sedang memunggungiku tapi aku sudah tahu siapa wanita ini.


 


 


“Pagi, tante Kenzi.”


 


 


 


 


 


...


 


 


Note : Ada salah satu pembaca yang mengatakan kalau visual Bayu yang dia bayangkan mirip aktor Keanu Reeves di film Speed.


Kalau menurut kalian, siapa??

__ADS_1


 


 


__ADS_2