
...
“Iya salah satunya untuk mencari lagi tempat-tempat yang digunakan Alferd untuk beroperasi. Mereka adalah
organisasi yang sulit di lacak keberadaannya, selain adanya dukungan finansial dari pembisnis, mereka juga membunuh, menculik dan mengajak orang-orang untuk bergabung dengan organisasi mereka. Bahkan penjualan narkoba.”
“Dan kau menyamar masuk begitu saja?” Tanyaku menuntut penjelasannya. Diam-diam aku meringis pelan mengusap dada kiriku saat panas itu kembali terasa.
“Yaa karena aku di tugaskan untuk menangani kasus ini.”
“Itu jawaban yang sangat kreatif.” Aku meledekknya dan di balas kekehan pelan darinya.
“Lalu bagaimana bisa kau ketahuan? Apa karena misi penyelamatan itu? Kalian ketahuan?”
Bayu terdiam, seperti mengingat lagi kejadian kemarin malam. “Beberapa orang di desa ini mengetahui penyamaranku dan mereka akan bekerja sama untuk menghancurkan organisasi ini dari dalam. Ada beberapa rencana yang seharusnya berhasil namun ternyata gagal padahal kami sudah menyusunnya sangat rapih tapi Mike tahu dan menggagalkannya. Aku menduga ada orang yang berkhianat. Maka dari itu tim Grey dan Lucifer sedang mencari tahu. Kami yakin jika pengkhianat ini tidak di temukan maka Alfred akan kembali lagi.”
“Lalu bagaimana kau ketahuan?” Tanyaku lagi karena Bayu belum menjawab pertanyaanku.
“Seharusnya malam itu aku bias menangkap Alfred dan orang-orangnya dengan pasukan yang datang tapi satu jam
sebelumnya aku merasakan ada yang tidak beres dengan mereka, ada yang mereka sembunyikan dan diam-diam mereka membereskan semuanya di belakangku. Aku teralihkan karena Alfred memberikan tugas padaku.”
“Mungkinkah Mike yang sudah tahu sejak awal?”
“Aku rasa tidak melihat dari ekspresinya. Mike bersamaku saat kami melakukan tugas itu dan dia tahu siapa aku saat Rey datang berkunjung.”
“Yang ternyata Rey berkunjung untuk memberikan data tentangmu?” Tambahku mengingat pembicaraan Rey. Bayu mengangguk sembari mengusap puncak kepalaku.
Aku terdiam berpikir, seperti ada yang hilang dari yang diceritakan Bayu, hingga tanpa sadar aku sudah berjalan
mendekati sebuah helicopter berwarna hijau. Aku tidak menyangka akan menaiki benda ini, aku hanya bisa melihatnya di drama atau film.
Di samping helicopter besar itu sudah berdiri lima pria dengan tubuh tegap dan pakaian serba hitam dengan
senjata lengkap memenuhi saku-saku mereka juga rompi anti peluru, juga headset di telinga kiri mereka masing-masing. Aku bisa mengenali salah satunya adalah Jack.
“Semuanya sudah siap?”
“Sudah kapten!” Jawab mereka serentak.
__ADS_1
“Ayo kita pulang! Snoopy, berikan aku kotak obat.” Kelima pria ini kemudian berpencar, dua orang masuk ke bagian
depan, dua lainnya membantuku naik sedangkan Jack yang sudah di dalam helicopter mencari kotak obatnya dan menariknya keluar.
Sekarang aku yang sudah duduk di samping kanan Bayu bisa melihat dengan jelas anggota timnya. ternyata dua dari mereka menjadi pilot dan co-pilot. Jack duduk di hadapan Bayu dan di hadapanku anggota yang lain lalu satu lagi di samping kananku dekat pintu. Kami sudah duduk saling berhadapan.
Bayu memasangkan sabuk pengaman dan headphone yang terhubung dengan mic di kepalaku lalu dia melakukan hal yang sama pada dirinya. Setelah semuanya duduk tenang di tempat masing-masing, aku bisa mendengar suara pilot di headphoneku jika helicopter akan segera berangkat.
Sesaat setelah kami sudah berada di udara, aku mendengar suara Bayu di headphone. “Red, kau sudah menghubungi dokter Stefan?”
“Sudah. Dia sudah standby di helipad.” Suara itu dari co-pilot.
Langit yang berwarna oren terlihat lebih jelas dari atas. Aku tidak menyangka akan melihat matahari terbit seindah ini hingga tangan bayu menyentuh bahu kiriku.
Aku meliriknya dan membantunya untuk sedikit membuka jaket dan bajuku. Tangan kiriku masih di sangga oleh kain pemberian wanita pemilik rumah itu jadi pergerakan ku agak susah.
Bayu melepas sabuk pengamannya lalu dia pindah berlutut di hadapanku. Helicopter ini sedang melaju tanpa guncangan hingga memudahkannya untuk membantuku sedikit membuka bajuku di bagian bahu.
Jack membantu Bayu dengan memberikannya kapas beralkohol, lelaki ini sudah melepas perban yang menutupi
lukaku yang penuh dengan darah.
“Kita akan sampai dalam tiga puluh menit.” Itu suara dari pilot.
“Ini luka tembak.” Jawab Bayu sedang membersihkan darah di sekitar luka ku.
“Betul! Kau melihatnya sendiri.”
“Bagaimana jika terinfeksi?”
“Kau mendo’akan lukaku lebih buruk?” Aku bertanya kesal.
“Setiap luka itu buruk, sayang.” Sekarang aku bisa mendengar suara tawa tertahan anggota lainnya mendengar Bayu mengatakannya.
“Bagaimana jika berbekas?” Tanyanya lagi terdengar santai. Aku menyipitkan mata menatapnya curiga.
“Luka pasti berbekas. Apa ada luka yang tidak berbekas?”
“Ada luka yang berbekas tapi tidak terlihat. Luka hati. Hahaha.” Ledekan itu terdengar dari anggota yang duduk di
hadapanku, di samping Jack. Lalu terdengar gelak tawa mereka semua. Aku menggeleng, berusaha menahan tawa dan kembali menatap keluar jendela, langit pagi ini terlihat sangat indah.
__ADS_1
“Pilot!! konsentrasi!” Semuanya langsung terdiam mendengar suara datar Bayu.
“Siap kapten!” Jawab lelaki di belakang kemudi itu.
“Oh iya, bagaimana dengan Mike? Apa dia di tangkap? Bukankah kau memukulnya?” Tiba-tiba aku teringat Mike, sejak saat itu aku tidak mendengar perkembangannya.
“Dia tertangkap. Dia tetap di sana sedang di intrograsi.” Bayu melirik ke belakang yang langsung di berikan perban
kecil oleh Jack.
“Jadi rencana apa yang ketahuan oleh Mike? Ceritakan!” Aku merasa sangat tertarik.
“Apa? Kenapa?”
“Tentu saja aku ingin tahu!” Aku menjawab semangat.
“Waah melihat dari ekspresimu, kau baik-baik saja!” Bayu mengangguk sembari membenahi kembali baju dan jaketku. Tidak, sebenarnya rasa panas itu masih terasa di dada kiriku yang sekarang seolah menembus ke punggungku tapi aku ingin mengabaikannya saat ini.
“Jadi??” Aku menunggunya bercerita.
Sesaat Bayu menatapku masih dengan posisi berlututnya. Lalu dia memutar matanya mencari kata yang tepat. “Mike tahu jika aku dan penduduk lain ingin menghancurkan gudang senjatanya. Di sana tempat dia dan orang-orangnya membuat senjata bahkan bom.”
“Di hutan ini mereka membuat bom?” Bayu mengangguk.
“Lalu, Bagaimana bisa Mike kenal dengan Rey?” Tanyaku lagi merasa pastinya sebelum Bayu memutuskan untuk
menyamar, dia akan mencari tahu orang-orang itu. Terutama Mike yang menjadi salah satu kepercayaan bos besar, Alfred.
“Dia di kenalkan oleh broker lain.”
Aku mengerutkan kening, memutar otak. Sepertinya benar apa yang di duga Bayu, bahwa ada penghianat di antara
penduduk desa.
“Siapa saja penduduk desa yang tahu kau menyamar? Tidak kah kau mencurigai mereka yang membocorkan rencana itu?”
Bayu mengangkat tangannya, menyentuh kerutan di dahiku dan mengusapnya kerutan itu hilang. “Berhenti memikirkan itu. Kau masih demam.”
...
__ADS_1