EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 208


__ADS_3

...


 


 


 


“Ada apa sayang?” Bayu sudah berdiri di sampingku sembari kedua tangannya sibuk mengancingkan kemeja hijau lumutnya.


“Tetangga rumahmu menatap curiga pada mereka setiap kali ada yang lewat.” Jawabku.


“Mereka di pesan oleh ayahmu dan ayahku untuk menjagamu sampai motif sky di vila tertangkap.”


“Kenapa hanya aku? Kamu?” Tanyaku berbalik menatap Bayu.


Saat ini kami berdua ada di kamar Bayu, tidak menyangka padahal kemarin pagi saat aku berkunjung ke sini aku masih menjadi status kekasihnya tapi pagi ini aku di sini sebagai istrinya.


Bunda dan Alisya tidak ada, mereka masih di vila. Hanya ada aku dan Bayu di rumah ini, bahkan pembantu rumah tidak kelihatan.


Setelah sampai ke sini, kami tidak meneruskan waktu tidur kami tapi aku harus segera menyiapkan sarapan untuk lelaki ini dan menyiapkan seragamnya sedangkan Bayu pergi mandi. Aku kira kedua polisi itu hanya mengantar kami, tapi saat melihat ke luar jendela mereka masih berdiri di depan gerbang dengan pandangan galak.


 


 


“Aku  bisa menjaga diriku sendiri.” Jawabnya setengah menyeringai mengejek. Tapi pandanganku teralihkan menatap kerah bajunya yang masih berantakkan, sembari berdecak pelan, kedua tanganku terangkat mengurusi kemejanya, memasukkan lebelnya dan merapikan lipatan-lipatan di bahunya.


Namun konsentrasiku terpecah mendengar hembusan napas panjang Bayu. “Ada apa?”


“Aku tidak ingin berangkat kerja. Ini pertama kalinya aku sangat malas bekerja.” Katanya muram. Mendengar ucapannya, aku tertawa kecil, wajahku tiba-tiba saja memanas.


“Aku juga harus berangkat kerja setelah mengantarmu.” Aku melirik jam di meja samping tempat tidur, waktu menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit, aku masih punya satu jam untuk siap-siap.


“Aku tidak bisa mengajukan cuti. Ada sesuatu yang mendesak di markas.”


“Aku juga tidak bisa selalu cuti.” Balasku namun Bayu justru tambah cemberut.


“Kita sehati, ’kan?” Aku meminta pendapatnya sembari nyengir konyol. Kedua tangan Bayu tiba-tiba sudah berada di bawah ketiak ku, mengangkat tubuhku dan mendudukiku di atas meja depan tempat tidur, tempat sebuah laptop dan lampu meja di letakkan di sana. Aku menjerit kecil saat dia melakukan itu.


“Kau mengagetkanku!!” Aku memukul tangannya saat kini kami sudah memiliki tinggi yang sejajar, kedua tangannya berada di sisi tubuhku seolah dia sedang mengurungku. Bayu menatapku dengan senyum kecil.


“Kalau urusan di markas sudah selesai, aku akan mengusahakan untuk pulang dulu sebelum berangkat tugas.” Ucapannya terdengar seperti sebuah janji di telingaku.


“Aku akan menunggumu pulang.”


“Dan ini.” Sebelah tangannya merogoh saku celananya tanpa mengalihkan tatapannya dariku. Aku menunduk melihat dia mengeluarkan benda kecil berwarna merah muda dengan tutupnya berwarna putih.


“Liptint yang biasa aku pakai?? Kau membelikan itu untukku?” Tanyaku heran.

__ADS_1


“Ini liptint khusus hanya untukmu.” Jawab Bayu membuka tutup botolnya, mengeluarkan kuas kecil dari sana dan menyapukannya di atas bibirku. “Warnanya cocok untukmu.”


Aku tersenyum kecil, tidak bisa menyembunyikan pipiku yang memanas karena di tatap intens seperti ini. Tanganku segera mengambil alih benda itu dan aku sendiri yang memakainya di bibirku.


“Aku sudah mencobanya kemarin, saat melihat Alisya memakai lipstiknya aku jadi ingat ini untukmu. Rama pernah bilang kalau pacarnya selalu merapikan warna lipsticknya lagi setelah makan.”


“Memang betul karena benda yang wajib di bawa adalah pelembab bibir. Kau sudah mencobanya?” Tanyaku heran, membayangkan Bayu memakai sendiri liptint di bibirnya.


“Maksudku, seperti menjilatnya. Rasanya manis.” Aku langsung memukul tangannya dengan tawa keras.


“Kau menjilat ini?! Benar-benar menjilat? Kenapa harus di jilat!”


“Aku hanya penasaran.” Aku masih menggeleng menghadapi Bayu yang bertampang tak bersalah.


“Kalau penasaran, kenapa tidak bilang. Kau bisa mencobanya seperti ini.” Aku menarik bahunya agar lebih dekat lalu mencium bibirnya, memangutnya sebentar dan melepaskannya. “Bagaimana?”


Muncul seringaian jahil di wajahnya tapi lidahnya menjilat bibirnya sendiri dan menjawab. “Lebih manis.”


Aku tidak bisa menahan tawaku dan hendak melompat turun tapi Bayu menahanku lalu berkata seduktif. “Tidak bisa! Kau masih punya lipstick yang lain, ‘kan? Aku mau coba juga.”


 


 


.


..


 


 


“Rencananya kan aku yang mau mengantarmu, kenapa jadi kamu yang antar aku?”


“Lagian kita searah, bahumu masih sakit, tentu saja aku harus memperhatikan istriku ini.” Bayu berkata lembut saat mobil jeep hitam nya mengatarku sampai di depan gedung perusahaan.


“Tidak ada yang ketinggalan, ‘kan?” Tanyaku lagi memastikan, pasalnya tadi sebelum mobilnya keluar dari pintu gerbang, Bayu sudah dua kali kembali masuk ke rumah untuk mengambil yang tertinggal. Sesuatu yang baru aku ketahui tentangnya, katanya biasanya bunda Kirana yang mengingatkan.


“Tidak ada, semuanya sudah lengkap.” Jawabnya tersenyum kecil.


“Baiklah kalau gitu, kau hati-hati di jalan, jangan ngebut.”


“Siap! Dan kau juga jangan terlalu bekerja keras. Ingat bahumu terluka.”


“Mereka tidak akan berani menuntutku terlalu keras kalau melihatku seperti ini.” Jawabku menunjuk tangan kiriku yang memakai Arm sling Harness berwarna hitam yang di berikan dokter Stefan, aku harus memakai ini sebagai salah satu syarat Bayu mengizinkanku mulai bekerja hari ini.


“Baiklah, sampai jumpa.”


“Tunggu dulu.” Bayu menahanku saat aku hendak membuka pintu mobil, sembari berbalik meliriknya, aku menatap heran.

__ADS_1


“Berikan aku pelukan.” Katanya sembari merentangkan kedua tangannya, menyambutku datang.


Tanpa membantah, aku tersenyum kecil dan segera memeluknya, melingkatkan tangan kananku di sekitar bahunya, menyandarkan kepalaku di sisi kepalanya dan menghirup wangi tubuhnya dalam-dalam.


“Aku akan merindukan pelukanmu.” Bisikannya terdengar seperti melamun. Aku mengerutkan kening heran dan segera menarik diri, melepaskan pelukan kami.


“Kenapa? Bukannya tadi kau bilang akan pulang dulu setelah urusan di markas selesai?”


“Ya, itu rencananya, tapi aku ketagihan untuk memelukmu.” Bayu nyengir. Maka sekali lagi tanpa banyak bantahan, aku kembali masuk ke dalam pelukannya, kali ini Bayu memelukku lebih erat, membungkus tubuhku dengan tangannya, perasaan untuk melepaskan pelukannya semakin ingin aku tolak, aku masih ingin seperti ini lebih lama lagi.


Sebelum melepaskan pelukan kami, Bayu mengusap puncak kepalaku dan wangi tubuhnya yang menenangkan sekarang hilang.


“Baiklah, aku harus berangkat.”


“Kabari aku.” Kataku yang di angguki Bayu. Kemudian aku tersenyum balas mengangguk dan segera membuka pintu mobil, keluar perlahan dari dalam mobil dan menutup pintunya. Seperti yang aku duga, jendela pintu mobil terbuka dan sekali lagi Bayu tersenyum lebar dan melambai padaku.


Aku balas melambai dan tersenyum lebar padanya, tanganku masih terangkat ketika mobil jeep hitamnya melaju meninggalkan lapangan parkir.


 


 


PRANG!!


 


Saat mobil yang di bawa Bayu sudah bergabung dengan mobil lain di jalan raya, suara keras dari dalam gedung perusahaan mengagetkanku. Aku melirik cepat ke asal suara, melihat Dani, office boy itu sedang menunduk memungut pecahan kaca tak jauh dari pintu utama gedung.


“Dani, ada apa? Kenapa pecah?” Tanya pak Ronald, satpam yang berjaga sembari ikut jongkok membantu Dani membereskan pecahan kaca. Aku berjalan mendekati mereka untuk melihat apa yang terjadi.


“Botol minuman ini mau di taruh di depan, tapi enggak sengaja jatuh.” Jelas Dani kelihatan takut-takut saat matanya menangkap aku yang sudah ada di dekat mereka.


Sekarang aku bisa melihat dengan jelas pecahan kaca berserak kan di dekat pintu, botol minuman kaca berwarna hijau. Tiba-tiba saja ada setitik rasa sakit tak terlihat di rongga dadaku.


Sebuah perasaan tak tenang merasuki hingga kulitku merinding, kepalaku dengan cepat menoleh ke tempat terakhir tadi aku melihat mobil jeep hitam Bayu menghilang. Aku tahu, perasaan yang sulit di jelaskan ini berhubungan dengan lelaki itu.


Semoga di baik-baik saja, tentu saja dia bisa menjaga dirinya sendiri, seperti yang tadi pagi dia katakan. Ya—aku jangan terlalu memikirkan hal yang belum pasti.


 


 


 


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2