
...
“Hatcihhh!!”
“Ini sudah yang ke 10 kali.” Aku melirik sebal Bayu mendengar ucapannya.
Jam setengah tujuh pagi ini, aku sudah mengganti pakaianku dengan dress selutut, hanya baju ini yang pantas untuk pergi ke kantor yang aku bawa. Pakaian yang sama saat menghadiri acara pertemuan keluarga tempo hari.
Tanganku masih terpasang jarum infus dan selangnya saat aku sedang duduk di sofa depan ranjang, bersama Bayu yang juga duduk di sampingku.
Untungnya tadi pagi jam lima, aku sudah bangun lebih dulu dari Bayu, cepat-cepat ke kamar mandi dan bersiap. Selesai mengganti pakaian dan membasuh wajah, lelaki ini bangun dan seperti yang aku duga, dia langsung mengomeliku karena aku keras kepala sampai sudah ganti baju dan juga mengungkit aku yang memakaikannya
masker.
Memang benar, setelah semalam suster Lia membelikannya, aku memakaikan lelaki ini juga masker karena sejak dulu ingin merawat kulitnya.
Sekarang, meja kaca kecil di hadapan kami sudah berantakkan alat-alat make up ku. Setidaknya aku harus menutupi wajah pucatku dengan make up.
Tisu juga menumpuk di atas meja karena aku yang sejak tadi bersin.
Mengingat lagi ucapan dokter Stefan tadi malam, aku sudah sadar kalau sekarang aku demam dan hal itu membuat Bayu semakin menyebalkan.
Tanganku hendak mencari eyeshadow tapi terhenti karena benda berbentuk kotak itu tidak ada. Padahal beberapa detik lalu aku melihatnya ada di hadapanku.
“Kau menyembunyikan eyeshadow ku? Berikan sekarang!” Aku melirik kesal Bayu yang masih diam bersandar di samping kananku.
“Kau seharusnya dengar suaramu itu! Kau pilek! Dengan keadaan seperti ini kamu mau pergi kerja?! Bagaimana kalau menular ke orang lain?” Itu nada dinginnya lagi.
“Aku akan pakai masker!”
“Jangan keras kepala! Tubuhmu butuh istirahat!”
“Aku sudah cukup beristirahat, dan aku sendiri yang tahu bagaimana kondisi tubuhku!”
“Kau hanya terlalu egois mementingkan pekerjaan dari pada tubuh lemahmu.”
“Apa kau bilang?! Tubuh lemah!!” Sekarang aku memekik kesal, berbalik, menghadapnya.
“Ya! Tubuh lemah, bahkan sekarang kamu tidak ingin mengakui kalau sedang demam.”
__ADS_1
“Aku mengakui kalau aku demam, hanya saja aku tidak mengatakannya secara terang-terangan!”
“Orang-orang kalau demam itu langsung tidur berbaring lagi. Bukan sibuk dandan dan bekerja! Jangan-jangan kamu dandan seperti ini karena ingin ada lelaki yang memperhatikanmu di perusahaan!” Aku mendengus kesal. Kalau dia sudah menuduh, aku jadi malas meladeninya.
Maka aku kembali berbalik dan berniat akan melewatkan memakai eyeshadow, aku akan memakai langsung lipstick dan setelah itu bedak untuk lebih cepat menghindar darinya tapi lagi-lagi aku tidak menemukan lipsticknya, bahkan liptint pun tidak ada!
“Aku akan menyita ini.” Aku berbalik cepat dan melihat Bayu yang sudah mengambil ketiga benda penting itu.
Aku semakin kesal melihatnya. “Kembalikan!”
“Tidak!”
“Kemba—hatciihh!” Cepat-cepat aku menarik tisu untuk mengusap ingusku yang keluar.
Bayu berdecak, dia tiba-tiba duduk tegak sembari menatapku tajam. “Jangan keras kepala! Kau tidak di izinkan untuk keluar dari sini!”
“Tidak!”
“Aku akan meminta anak-anak untuk berjaga di sini agar kamu tidak kabur.” Bayu sudah meraih ponsel yang tadi di letakkan di atas meja, membuka kuncinya dan sudah mendial kontak nomor seseorang, tapi tanganku lebih cepat merebut ponselnya.
“T.i.d.a.k!”
“I.y.a!”
“Kau tidak bisa keluar dari sini tanpa persetujuan wali. Aku terdaftar sebagai walimu di sini.” Bayu menarikku kuat hingga kepalaku hampir menabrak dadanya tapi dia menahannya.
“Kau hanya wali nama di atas kertas. Bagaimapun caranya aku akan keluar dari sini!” Aku mendongak, menatapnya tajam.
Bayu tidak menyurutkan tatapan dinginnya. “Kalau kau ingin keluar dari sini, kau harus mengalahkan aku dulu!”
Hah? Memangnya ini pertarungan!! Lelaki ini benar-benar tidak mau mengalah!
Aku menyentakkan genggaman tangannya lalu berdiri dengan cepat dan melangkah menjauhinya sembari membawa tiang infus dengan kasar.
“Ayo cepat berdiri! Aku akan mengalahkanmu!”
Bayu tersenyum meremehkan tapi dia berdiri juga. Melangkah mendekatiku sampai kami sudah berdiri saling berhadapan dengan jarak kurang lebih enam puluh senti.
“Apa yang coba kamu tantang, huh? Kamu enggak bisa mengalahkanku dengan tubuh lemahmu itu!” Bayu benar-benar terdengar sangat menyebalkan.
“Tubuhmu terlalu berat, mana mungkin kamu bisa bergerak selincah aku!”
__ADS_1
“Cih! Kamu enggak sadar atau terlalu bodoh untuk menantangku berkelahi? Aku ini seorang tentara, sehari-hari membawa barang berat sedangkan kamu? Hanya duduk di depan komputer, ototmu tidak berguna di sini.”
Aku tidak tahu mengapa tapi aku sama sekali tidak memikirkan itu. Yang aku pedulikan sekarang adalah mengalahkannya bagaimanapun caranya.
“Apa kamu juga enggak malu harus melawan perempuan??” Bayu melipat kedua tangannya di atas perut, menatapku tajam.
Aku sudah siap memasang posisi tubuh siaga akan menerjangnya hingga keadaan aneh di antara kami terhenti begitu pintu kamar terbuka dari luar dengan keras.
Di ambang pintu, sudah muncul dokter Stefan yang sepertinya baru selesai mandi. Meskipun dia tidak memakai jas putih dokternya, hanya kemeja dan celana katun tapi penampilannya sudah rapih.
Titik-titik air jatuh di ujung rambutnya yang belum tersisir. Baru kali ini aku melihat rambut dokter Stefan menutupi seluruh keningnya, dia punya potongan poni yang rapih di bandingkan dengan gaya biasanya yang forehead. Dan lagi, warna rambutnya terlihat lebih gelap dari biasanya.
“Apa yang kalian lakukan?!” Dokter Stefan berdecak menatap kami bergantian.
Aku menurunkan tanganku yang semula terkepal dan terangkat ingin melayangkan tinjuan pada Bayu, sedangkan Bayu sendiri sudah berdiri lebih tegak dan kedua tangan sengaja di masukkan ke saku celana.
“Kami tidak melakukan apapun.” Jawab Bayu tenang.
Aku baru sadar kalau ada setidaknya lima orang suster mengintip di pinggir kusen pintu meski dokter Stefan berdiri di tengah-tengah.
“Aku belum selesai mengeringkan rambutku dan kalian sudah membuat keributan!”
“Keributan apa? Kami tidak ribut!” Aku bertanya tidak terima.
Dokter Stefan mendengus keras lalu menjawab. “Suara perdebatan kalian itu sampai terdengar ke luar. Suster-suster di sini khawatir kalian akan berkelahi jadi mereka memanggilku.”
“Maaf, kami mendengar perdebatan kalian sejak sejam yang lalu.” Itu suara suster Rini mewakili.
“Dok, yang benar saja. Mana mungkin tubuh lemahku ini mampu melawan tubuhnya yang berotot!” Aku melirik Bayu sekilas, bermaksud menyindirnya.
“Benar dok! Mana mungkin tubuh lemahnya itu berani menerjangku duluan untuk berkelahi. Dia terlihat bodoh kalau berani menantangku duluan!” Bayu menatapku sepenuhnya, menyindiriku juga.
“Kamu yang menantang duluan! Aku hanya akan membuktikan walaupun aku wanita tapi aku tidak akan kalah!!”
“Hah?? Bodoh!”
“Yang bodoh itu kamu! Bodoh karena menentang wanita!”
“Karena kamu keras kepala!” Bayu melangkah mendekatiku.
“Kamu yang keras kepala! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Aku tidak bodoh untuk tidak menyadari kondisi tubuhku!” Aku ikut maju tidak ingin kalah.
__ADS_1
...