
...
“Hahahah… Ya ampun sayang, aku enggak keberatan kalau kamu punya lemak di perut. Pasti kelihatan seksi.” Dia tertawa puas.
Aku langsung memukul dan mencubitnya bertubi-tubi meski dia berusaha menghindar dengan tawa konyol yang sangat menyebalkan.
Hingga kedua tanganku berhasil menyentuh lehernya, aku mencengkram lehernya, berpura-pura ingin mencekiknya harus sedikit berjinjit. Sedangkan Bayu, dia justru terlihat pasrah dengan kedua tangannya jatuh di kedua sisi tubuhnya, tidak berusaha untuk melepaskan tanganku yang mencengkram lehernya.
“Wanita itu paling sensitif kalau di singgung tentang berat badan! Kamu harus lebih peka!” Kataku penuh penekanan.
“Aku rela mati karena cintamu.”
“NGAWUR! JANGAN KONYOL!!” Aku semakin menjerit kesal mendengar jawabannya.
Tubuh lelaki ini bergerak-gerak pasrah terbawa oleh guncanganku yang membuatnya semakin terlihat konyol. Aku tidak bisa menahan tawaku melihatnya yang seperti ini.
Menyerah dengan sikapnya, aku tertawa kecil sembari melepaskan cengkramanku di lehernya tapi tubuh Bayu tiba-tiba jatuh dan berbaring di atas rerumputan yang sedang kami pijak.
Aku menggeleng dan semakin tertawa kencang melihat akting nya ini.
“Bangun Romeo! Kalau kamu mati, aku akan bunuh diri.” Kataku terdengar dramatis sembari berlutut di sampingnya dan mengguncang-guncang tubuhnya.
Meski kedua mata Bayu terpejam tapi ekspresi wajahnya terlihat sedang berusaha menahan tawa. “Mungkin, kalau kau menciumku, aku akan bangun.”
“Jadi kamu ingin mengubah ceritanya jadi putri salju atau putri tidur??”
Bayu membuka matanya, masih berbaring, dia menatapku dan mengangguk semangat. Lalu tangannya terangkat dan jari tangannya menyentuh bibirnya, menandakan aku harus mencium bibirnya.
Aku hanya bisa menggeleng dan tertawa sembari kembali mencengkram lehernya dan mengguncang-guncangnya lagi. “Kamu mau mengambil kesempatan, hah??”
“Aku akan mati! Aku akan mati karena cinta yang meluap ini! Arrgghhh!!!”
Aku tidak bisa lagi menahan tawaku, sekarang aku tertawa keras, melepaskan tanganku dari lehernya karena melihat Bayu yang masih saja berakting mati.
__ADS_1
“Astaga! Apa yang kalian lakukan??”
Permainan kami terhenti mendengar suara wanita di belakangku. Refleks aku menoleh ke belakang dan Bayu bangun duduk di sampingku.
Seorang wanita berpakaian gaun abu-abu yang berkilau dengan kulit putih dan rambut lurus sepunggung, bibirnya berwarna merah terang dan wajahnya cantik sekali. Melihat wajahnya mengingatkan ku pada paman Kenzo.
“Kenzie! Biarkan mereka bersenang-senang!”
Suara lain berasal dari vila menyadarkan kami berdua kalau sekarang ayah kandungku, bunda Kirana, ayah Rasha, kakek Jeremy, kakek Alvaro, Wildan, Peter bahkan 2 wanita lain yang belum pernah aku lihat sebelumnya ada di sana, memandangi kami.
Paman Kenzo yang tadi bersuara sudah berdiri di samping Kenzie.
“Cha, ini Kenzie. Saudara kembar ku. Panggil dia tante Latinka.” Ucap paman Kenzo
“Kenapa harus Latinka?” Tante Kenzie melirik pria di sampingnya dengan bingung.
“Karena saat ini, pakaian mu lebih cocok dengan nama Latinka dari pada Nama Kenzie.”
Aku ingat, nama adik dari ayahku ini adalah Kenzie Latinka Danendra.
“Panggil saja aku kakak.” Wanita ini tersenyum manis padaku.
Aku dan Bayu cepat-cepat berdiri, menghadap keduanya.
Pria dengan kulit agak gelap, berbadan tegap dan aku bisa merasakan kharismanya, berdiri tegap di samping tante Kenzie. Tangannya merangkul pinggang wanita ini dengan mesra.
“Ini suamiku, Giliant.”
Aku tersenyum dan mengangguk kecil pada pria itu. Lalu aku dan Bayu mulai saling berkenalan dengannya.
“Jadi ini pasangan yang akan menikah malam ini?”
“Ya sayang, Ini Natasha, putri kak Evano.”
“Panggil saja Icha.” Jawabku.
“Jangan ngobrol di luar, ayo masuk. Semuanya udah nunggu.” Paman Kenzo menginterupsi sembari berbalik di ikuti tante Kenzie dan suaminya.
Aku melirik sekilas Bayu yang ternyata sedang menatapku juga. Tanpa kata, kami juga mulai melangkah, mengikuti mereka menuju vila di depan kami.
“Udah enggak gugup lagi, ‘kan?” Suara bisikan Bayu terdengar di samping kiriku.
Aku mendongak menatapnya dan tersenyum kecil. Jadi aktingnya tadi untuk membuatku melupakan perasaan gugup? Dia manis sekali.
__ADS_1
Aku bergelayut manja di sampingnya, merangkul tangannya sembari berkata. “Aku lapar.”
Tepat saat kita sampai di depan pintu, Bayu memesan makanan pada pelayan vila yang berjaga di sana. Dia juga menambahkan catatan agar tidak yang pedas dan pastikan makanan hangat.
Setelah pelayan ini mengangguk dan pergi dari tempatnya, barulah kami masuk ke dalam vila.
Pandangan pertama yang aku lihat adalah ayah Evano dan seorang wanita yang tidak aku kenal sedang tertawa bersama orang tua Bayu. Mereka terlihat sangat akrab. Lalu di sudut lain ada paman Kenzo yang sedang mengobrol dengan Peter. Selain itu, kakek Jeremy, kakek kandungku dan wanita tua lainnya sedang menikmati cemilan.
“Kau ingat di laporanku ada wanita bernama Nella Syana tanpa foto? Kita belum bertemu dengan nenekmu tadi pagi.” Bisik kan Bayu menjawab pertanyaanku.
Aku terdiam, mengingat isi laporan tentang perusahaan Eternity, memang ada satu lembar tentang Nella Syana tanpa foto dan informasinya pun sedikit.
“Lalu, wanita itu? Aku tidak ingat kau melampirkannya di laporan.” Tanyaku melirik wanita modis dan cantik di samping ayah Evano.
Bayu melirikku dan menggeleng.
“Kalian tidak ingat wajahnya? Wajahnya cukup terkenal.” Tiba-tiba suara tante Kenzie terdengar di sampingku. Aku meliriknya yang sedang menatap lurus ke depan.
“Aku tidak ingat.” Jawabku.
“Renata Velixia. Dia actress yang sedang terkenal tahun ini, usianya kepala tiga. Dan yang terpenting dia adalah pacar ayahmu.” Tante Kenzie menatapku, tersenyum menggoda.
“Oh begitu?”
“Kau tidak kenal wajahnya?”
Aku menggeleng yang langsung di sambut gelak tawa wanita cantik ini. Tante Kenzie kemudian merangkul bahuku dan berkata. “Senang rasanya ada orang yang tidak mengenalnya. Kau tahu, saat dia bersama kak Evano, orang-orang langsung mengenalnya dan berebut minta tanda tangan dan foto bersama.”
“Aku jarang sekali menonton TV, jadi aku benar tidak mengenalnya.” Kataku jujur.
“Bayu! Icha! Ayo duduk sini.” Ajak Bunda menginterupsi obrolanku dengan tante Kenzie.
Aku melirik Bayu sekilas lalu kami berdua melangkah bersama mendekati orang-orang yang telah menunggu dan berkumpul sembari mereka duduk di sofa hitam yang di letakkan di tengah ruangan.
.
..
…
Aku menghela napas untuk ke sekian kalinya saat aroma lavender memenuhi ruangan ini. Langit malam yang gelap tidak menampakkan satu bintang pun dari jendela yang terhalang gorden.
Saat ini, aku sedang berendam di dalam bath up yang sudah di isi sabun beraroma lavender khusus untuk menenangkan pikiranku sebelum aku memakai gaun pengantin malam ini.
Namun obrolan kami tadi di ruang tengah vila masih sulit aku percaya.
“Acara pemberkatan terjadwal di lakukan jam sebelas malam. Tamu undangan yang datang adalah orang-orang dekat dari kedua belah pihak juga ayah dan ibumu, Daniel akan datang. Semua persiapan sudah di handle oleh orang kepercayaan dari Kenzie. Ini memang mendadak tapi kita tidak bisa menunda lagi. Ayah harap, Icha dan Bayu tidak merasa terbebani karena pernikahan kalian kami atur seperti ini. Kalian bisa mengadakan resepsi yang megah setelah ini. Tapi yang terpenting dari semua ini adalah kalian saling mencintai, kedua keluarga juga mendukung.”
...
__ADS_1