EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 36


__ADS_3

...


 


 


Akhirnya aku dan Bayu memutuskan untuk bertemu di café yang sedang aku kunjungi ini, The Titanium Café.


Bela yang mengetahui aku akan bertemu dengan pacarku itu hanya bisa kabur setelah menemaniku tiga puluh menit sebelum waktu Bayu akan datang. Katanya, Bela harus segera pulang dan dia tidak ingin menggangguku.


Sekarang aku hanya bisa diam, menatap balok jenga di hadapanku yang sudah aku dan Bela mainkan tadi. Lalu gantian menatap meja ini yang hanya tersisa segelas minuman bersoda pesananku. Semua piring dan gelas kosong sudah di angkat oleh pramusaji.


Aku melirik sekilas jam di layar ponsel, sudah hampir mendekati jam Bayu akan datang. Aku merasakan telapak tanganku basah dan jantungku berdetak cepat. Aku juga sempat mengeluaran cermin kecil, bedak dan liptint untuk memastikan wajahku tidak pucat dan make up tipisku baik-baik saja.


Setelah memastikan wajahku di depan cermin, aku juga menatap bajuku, membenarkan sedikit bagian yang berkerut.


 


Ohh ya ampun, aku merasa gugup sekali!!


Dua minggu tidak bertemu dengannya, tentu saja aku menantikan pertemuan ini. Berharap kesan pertamanya setelah lama tidak bertemu tidak buruk. Maksudku, aku adalah wanita yang pasti berpikir seperti ini. Aku yakin semua wanita pun akan sama, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk tampil cantik dan baik di hadapan pacarnya.


Perhatianku teralih saat aku merasakan ponselku bergetar tanda panggilan masuk. Nama Daniel tertera di


layar.


“Ohh Daniel, ada apa?”


“Kak, kamu dimana? Bisa kau pulang ke rumah? Ibu ingin bertemu.”


“Ada apa? Apa sangat mendesak? Kakak ada janji. Nanti malam kakak akan kesana—“


“Ibu sedang marah besar kak. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Setelah perempuan itu datang, Ibu mengomeliku untuk meminta kakak segera datang.”


Aku mengerutkan kening bingung, perempuan itu?


“Perempuan itu?”


“Aku tidak ikut mengobrol bersama mereka. Kakak cepatlah datang! Ibu sudah memecahkan barang-barang. Aku tidak pernah melihat ibu seperti ini.”


“Oke.. Kakak berangkat sekarang.” Aku memutuskan sambungan telpon dan berusaha mengingat apa yang aku lewatkan sehingga ibu marah. Terlebih menyangkut seorang perempuan yang datang.


Tapi sejauh yang aku ingat, aku dan ibu tidak pernah mendebatkan seorang perempuan. Karena sangat penasaran,

__ADS_1


akhirnya aku segera berdiri dan membereskan semua barang-barangku. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal aku buru-buru menuju meja kasir untuk membayar minuman tadi.


Sembari berjalan keluar café, aku mendial nomor telpon Bayu, bermaksud ingin mengabarinya tapi tepat saat aku


membuka pintu café, disaat yang bersamaan Bayu hendak masuk.


“Ohhh.. Icha?” Bayu tampak bingung dan senang melihatku.


“Kamu akan pergi?” Tanyanya membiarkan aku keluar café. Bayu berjalan mundur masih menatapku bingung.


“Barusan Daniel menelpon, Ibu mencariku, jadi aku mau ke rumah Ibu dulu. Aku hendak mengabarimu.”


“Kalau begitu ayo aku antar.” Ajaknya tampak bersemangat sembari berjalan cepat menuju mobil jeep yang terparkir di pinggir jalan raya.


Aku tersenyum kecil memperhatikannya. Lelaki ini terlihat lebih tampan dari terakhir aku bertemu dengannya. Celana skinny hitam di padukan dengan kaos polos abu dan jaket denim biru tua.


Aku melihatnya sudah membukakan pintu mobil untukku.


 


 


“Jangan melakukan ini lagi. Aku tidak nyaman.” Kataku setelah berdiri di hadapannya.


sangat aku rindukan.


Aku tidak tahu apa yang terjadi, hanya saja aku dan lelaki ini masih betah diam saling menatap. Hingga beberapa detik berikutnya senyum lebar perlahan mengembang dan kami terkekeh pelan tanpa alasan.


Lensa mata hitamnya seolah menyedotku untuk terus menatapnya. Jantungku terasa berdetak cepat tapi aku tidak ingin melepaskan tatapan ini, aku tidak ingin dia hilang dari pandanganku.


Tiba-tiba tangannya menarikku lebih dekat dengannya. Lalu kedua tangan Bayu melingkari leherku, dia memelukku erat. Aku merasakan dia mencium puncak kepalaku beberapa kali sambil bergumam.


“Senang rasanya bisa pulang.”


Aku terkekeh pelan, membalas pelukannya sebentar dan segera melepaskan pelukan kami mengingat ini masih di


tempat umum. Aku sempat memukul punggungnya pelan karena Bayu sempat tidak mau melepaskannya.


Kemudian aku segera masuk ke dalam mobilnya. Bayu berlari kecil untuk sampai di sisi lain mobil.


“Bagaimana kuliahmu?” Tanyanya begitu sudah masuk ke dalam mobil.


Aku mengangguk menatapnya. “Hmm.. Lancar.”

__ADS_1


“Apa pengacara sudah ada yang menghubungimu?”


Aku berseru mengingatnya. “Belum! Aku hampir saja melupakan itu.”


“Pak Mark mengabariku tadi. Katanya semuanya sudah beres.”


Ketika Bayu sudah menginjak pedal gas nya aku menoleh tidak mengerti. “Apa? Sudah beres? Benarkah?”


“Iya, Memang ada apa?”


“Aku tidak menyangka akan secepat itu.”


“Aku akan menceritakannya nanti.” Gumamnya pelan. Saat mobilnya berhenti di lampu merah Bayu menoleh menatapku.


“Aku baik-baik saja dengan tugas yang sudah diatur, Sesulit apapun pekerjaan yang di berikan padaku aku masih bisa bertahan, tapi melihatmu menangis dan mengalami waktu yang sulit menjadi satu-satunya kesulitan untukku.”


Rongga dadaku terasa menghangat, entah mengapa rasanya ingin sekali aku menangis. Mendengar bagaimana Bayu begitu peduli padaku, menjadikan aku lebih spesial di matanya seperti sebuah keajaiban.


Aku belum pernah menceritakan masalah keluargaku padanya. Dulu dia hanya tahu kedua orang tuaku sudah


bercerai, hanya itu saja.


Ketika lampu lalu lintas berganti hijau, Bayu kembali pada posisinya dan segera menginjak pedal gas menuju rumah ibu. Aku ingin sekali menceritakan semua pada Bayu, tapi aku adalah tipe orang yang tidak mudah mengungkapkan hal-hal seperti itu.


Kesulitanku adalah aku tidak ingin menjadi beban orang lain. Aku juga tidak ingin di pandang kasihan oleh mereka.


Yaa egoku sangat tinggi, bahkan aku juga tidak menyukai sifatku yang ini.


“Dibandingkan dengan kesedihanmu, di luar kamu adalah sosok yang bersinar kuat. Kesedihan adalah kesempatan untuk menyadari banyak hal yang perlu diperbaiki, diubah dan dikerjakan dalam hidup.”


“Keberhasilan adalah hadiah bagi mereka yang berjuang, bertahan dan memiliki keberanian.” Aku menimpali. Bayu melirikku sekilas lalu tersenyum.


“Kamu bisa mengatakannya padaku. Katakan jika kamu sedang marah, katakan jika kamu sedang senang, Katakan jika kamu sedih, Katakan apapun yang kamu rasakan, aku akan suka mendengarnya.”


Aku menunduk, menatap buku-buku jariku. Mengerti arah pembicaraan Bayu. “Terima kasih sudah mau menerimaku yang belum bisa dengan bebas menceritakan waktu sulitku. Sejujurnya selama ini banyak sekali hal yang terjadi padaku. Alasan mengapa aku memutuskanmu waktu itu hanya dengan pesan karena masalahku. Aku tidak ingin menjadi beban bagimu. Aku tidak ingin kamu ikut kesulitan dengan masalahku. Aku juga tidak ingin kamu di manfaatkan karenaku.”


Aku menghela napas, tidak berani menatapnya, hanya menatap keluar jendela. “Ada hal yang aku malu sekali untuk menceritakan padamu. Setidaknya itu yang aku pikirkan tapi aku sadar, aku tahu batas kemampuanku sekarang. Aku pasti akan menceritakannya padamu ketika aku tidak bisa lagi menahannya.”


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2