
...
Kakiku berjalan perlahan menuju gerbang besar di depan sana saat kepalaku tidak berhenti untuk menoleh ke belakang, setiap banyak langkah yang aku ambil, semakin jauh dari batu nisan itu.
Setelah mengunjungi bibi Rose dan meletakkan bunga di sampingnya, aku berbicara banyak padanya. Aku menceritakan semua bebanku padanya. Meskipun tidak mendapat jawaban, tapi hatiku terasa sedikit lega.
Angin kencang sejak tadi menerpa tubuhku, merusak tatanan rambutku yang tersisir rapih. Tanah luas ini terawat baik dan sangat sepi, hanya beberapa orang yang terlihat sedang terdiam berjongkok di depan batu nisan lainnya.
Saat aku sudah melewati gerbang besar pemakaman ini, aku melihat sebuah taksi baru saja berhenti tidak jauh dari tempatku berdiri. Taksi itu sedang menurunkan penumpang dan aku dengan cepat menghampirinya.
***
“Nona!” Aku tersentak kaget saat seseorang menyentuh tanganku. Seorang wanita paruh baya yang sejak tadi duduk di sampingku ini menatapku sambil tersenyum.
“Sepertinya nona sudah di panggil.” Katanya menunjuk pada seorang wanita yang berdiri di belakang etalase kaca yang tingginya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Aku mengangguk dan tersenyum mengucapkan terima kasih sambil berdiri menghampiri.
Apoteker ini menjelaskan padaku secara singkat pemakaian obat-obat yang mulai sekarang harus aku makan. Ada 3 jenis campuran tablet dan kapsul serta vitamin.
Satu jam lalu setelah aku pulang dari tempat pemakaman bibi Rose, dokter Stefan menelponku agar aku segera datang ke rumah sakit. Lelaki itu memberitahuku hasil penelitaan darahku yang sudah terkena racun.
“Dalam kasusmu, racun itu menurunkan fungsi jantung secara perlahan. Mulai sekarang kau harus memakan obat seperti pasien penyakit jantung lainnya. Kau tidak boleh melakukan akfitas berat, tidak boleh terlalu cape karena akan memacu serangan. Selain itu, aku tidak tahu apakah nanti penawar racunnya akan bekerja dan menghentikan
penurunan fungsi jantungmu itu atau—“
“Atau aku akan menjadi pasien penyakit jantung sampai aku menemukan donor jantung?”
Dokter Stefan menatapku dalam diam, tidak ada emosi di dalam matanya. Aku bisa menebak dia pasti merasa kasihan padaku.
“Apapun untuk kesembuhanmu, kita harus mencobanya. Keluargamu tidak memiliki riwayat penyakit jantung jadi kita punya harapan penawarnya akan bekerja.”
Mendengar dokter Stefan menyinggung tentang keluargaku yang tidak punya riwayat penyakit itu justru membuatku semakin memikirkannya. Memikirkan tentang siapa aku? Tentang ucapan ibu waktu itu bahwa aku adalah anak tiri bibi Rose? Lalu tentang pengakuan ayah tadi.
Apa aku harus mulai mencari tahu tentang perushaan itu? Grup Eternity?
“Terima kasih.” Kataku tersenyum lebar menatap apoteker di hadapanku ini setelah semua obatku terbungkus kantung kertas. Aku berbalik sembari menyimpan obat itu ke dalam tas selendangku ini.
Jam menunjukkan hampir pukul dua belas siang. Tengah hari ini cuaca sedikit mending dan berangin. Musim hujan tahun ini terasa berbeda dari tahun sebelumnya. Banyak sekali yang terjadi padaku dalam waktu singkat.
__ADS_1
BRUKK!!
Aku terjatuh saat seseorang menabrakku sangat keras di ambang pintu masuk. Seorang apoteker dan satpam yang berjaga di depan berlari menghampiriku untuk membantuku berdiri. Aku yang sedang mengusap bahu kiriku yang kesakitan ini tidak menyadari orang yang menabrakku ini tidak membantuku sama sekali.
“Pak, tolong hati-hati. Nona ini kesakitan—“
“Diam! Saya bisa melihat dia kesakitan. Dia ini pacar saya! Kalian jangan ikut campur!” Aku tersentak kaget mendengar suara dingin lelaki di hadapanku ini.
Jelas sekali suaranya bukan milik Bayu.
“Ya ampun aku dari tadi cariin kamu! Ternyata kamu ke apotek? Kenapa ga bilang.” Suaranya berubah 180 derajat menjadi lebih lembut dan perhatian.
Tanpa sadar aku menahan napas melotot tidak percaya lelaki ini ada di hadapanku. Sadar akan dua orang polisi yang biasanya mengikutiku sekarang tidak muncul, Rey pasti melakukan sesuatu pada mereka.
“A—apa yang kamu lakukan?”
“Ayo ikut!” Dia menarik tanganku cepat dan kasar untuk keluar dari apotek, aku melirik cemas pada satpam dan apoteker itu, keduanya menatap kami dengan pandangan bingung dan khawatir melihatku.
Saat aku ingin memberitahu mereka untuk menelpon polisi, Rey merangkulku di sampingnya dan memaksaku untuk bersembunyi di balik tubuhnya. Aroma segar parfumnya di campur keringat dari tubuhnya tercium jelas.
Aku memberontak dari pelukannya saat dia membawaku menuju mobilnya yang terparkir. Tapi dia segera mencengkram kedua pipiku sangat keras dan menggerakkan kepalaku untuk melihat pada mobil lain di sisi jalan.
Kaca mobil itu terbuka sedikit tapi aku bisa melihat dengan jelas dari bayangan di dalam mobil. Dua polisi itu tidak sadarkan diri di jok belakang dan dua orang lainnya mengarahkan pistol mereka pada masing-masing kepala anggota polisi itu.
__ADS_1
Rey mengancamku tanpa kata. Dia menatapku tajam sembari membukakan pintu mobilnya untukku. Tubuhku bergerak sendiri dengan masuk ke dalam mobil. Tentu saja aku takut sekali menghadapi lelaki ini, dengan diamnya seperti ini dia terasa lebih kejam dari sebelumnya.
Jantungku berdetak kencang saat Rey sudah masuk ke dalam dan duduk di kursi kemudi, dia memakai sabuk pengamannya sambil melirikku yang masih diam mematung. Lagi-lagi tanpa banyak kata, Rey mendekat padaku untuk memasang sabuk pengamannya.
“Bernapaslah!” Katanya saat dia mulai menyalakan mesin mobil. Dia sadar aku sejak tadi menahan napas di dekatnya.
Sial!
“Apa yang kamu inginkan sekarang?!”
Rey tidak langsung menjawab, dia sibuk menatap jalanan yang padat siang ini. Dari raut wajahnya dia tampak sedang kesal dan marah. Apa emosinya sekarang ada hubungannya dengan Bayu?
“Kamu mau bawa aku kemana??” Tanyaku lagi ketika Rey masih belum menjawabku. Dia melirikku sekilas dan kembali menatap ke depan. Karena kesal dan takut hal buruk akan terjadi, aku mendengus keras menatap keluar jendela. Berharap bias menenangkan pikiranku.
“Apa dia selalu seperti ini? Meninggalkanmu di saat kau berada dalam kondisi lemah?”
“Apa maksudmu??” Aku bertanya ketus, tidak mengerti apa yang dia katakan.
“Kamu baru saja di vonis memiliki penyakit jantung dan Bayu tidak ada di sini bersamamu---“
“Dia sedang bekerja! Berhenti mencampuri urusan orang lain. Sekarang turunkan aku!” Desakku mendengus sebal tidak ingin mendengar omelan darinya.
Kalau dipikir-pikir setiap kali aku bertemu dengannya kenapa Rey Orihara selalu berubah menjadi mellow dan sensitif seperti ini?
“Kau sedang sakit, lebih baik kamu tinggal bersamaku dari pada mengharapkan lelaki itu pulang. Dia tidak peduli padamu sama sekali.“
“Apa kamu lupa siapa yang membawa racun-racun itu??”
“Aku tahu! Aku minta maaf! Tapi bisnisku dengan Daniel terjadi sebelum aku bertemu denganmu. Aku akan memberikan penawar racun itu. Kau akan segera sembuh.” Aku tersentak kaget mendengar ucapannya.
Tidak mengerti jalan pikirannya.
__ADS_1
….