EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 259


__ADS_3

...


 


 


 


 


“Aku tidak setakut yang di pikirkan, hanya saja, mendengar pria mesum itu mengincarku dan berbicara di hadapan semua orang, harga diriku terasa di injak-injak. Dia menatapku seolah sedang menelanjangiku!” Aku mengepalkan tangan kesal, melotot ke hamparan laut yang luas, berharap pria itu tenggelam saja.


 


 


 


“Berani-beraninya dia menatapmu seperti itu! Apa perlu aku keluarkan matanya?”


 


 


“Aku ingin menenggelamkan nya saja.”


 


 


Lelaki ini mengangguk lagi. “aku akan mengaturnya. Sebelum dia masuk ke penjara, dia harus di tenggelamkan.”


 


 


“Apa?! Tidak! Aku hanya kesal saja. Tidak usah melakukan itu.” Bayu terkekeh pelan dan mengangkat tangannya, menepuk puncak kepalaku beberapa kali. Seketika, semua kemarahanku lenyap.


 


 


Lalu, getaran ponselnya membuyarkan tatapan lembutnya, dia segera merogoh saku celana, menjawab dengan suara formal ketika ponselnya sudah di depan telinga.


 


 


Aku diam-diam menggigit bibirku, sekarang aku tidak ingin Bayu tiba-tiba harus pergi begitu menjawab panggilannya. Aku masih ingin dia disini.


 


 


Menunggu sambil harap-harap cemas, setelah panggilan berakhir, lelaki ini melirikku. “Aku harus pergi.”


 


 


“Sekarang?!” Mendapat anggukan dari Bayu membuatku seketika menjatuhkan diri ke pelukannya, melingkari lehernya seperti ular air.


 


 


“Jangan pergi.”


 


 


Bayu mendesah berat sembari memeluk pinggangku sangat erat, wajahnya terkubur di leherku, dia menghirup aroma tubuhku dalam-dalam sebelum menjawab “Aku benci karena harus pergi. Bahkan aku lebih benci karena kita belum punya waktu melakukan sesuatu yang sepantasnya.”


 


 


Aku menarik diri, masih melingkari lehernya “yang sepantasnya?”


 


 


“Tentu saja malam pertama kita.” Seketika wajahku memanas tapi tidak mengalihkan tatapan matanya. Bahkan dari cahaya api unggun kecil kami, telinga Bayu memerah, dia pasti sedang gugup.


 


 


 


 


 


“Quesadilla isi alpukat.”


 


 


“Apa?”


 


 


“Tiba-tiba aku ingin Quesadilla isi alpukat.” Kataku, tidak tahu lagi harus mengatakan apa padanya. Sejujurnya aku tidak terbiasa dengan serangan frontalnya, tapi aku juga tidak bisa menolak.


 


 


“Boo, kamu berusaha mengalihkan topik pembicaraan kita.” Bayu menyipitkan matanya, karena tidak ingin melihatnya kecewa, aku mendekati telinganya.


 


 


“Aku baru saja selesai menstruasi, lalu aku akan menyerahkan hatiku, tubuhku, hidupku, untukmu, sekarang juga.”


 

__ADS_1


 


Bayu mendorongku menjauh, dalam sekejap aku bisa melihat pipinya merona dan rahangnya mengatup keras. “Boo, kalau kau menggodaku seperti ini, aku mungkin akan mengabaikan perintah dari markas.”


 


 


Aku tertawa kecil, mengangkat tanganku untuk mengusap sisi kepalanya dengan lembut lalu menjawab “bekerjalah dengan baik. Aku mengerti kau tidak bisa mengabaikan perintah, meski aku cemburu karena pekerjaanmu, tapi aku akan menunggu. Ketika kau pulang nanti, aku akan siap untukmu.”


 


 


“Aku akan kembali secepat mungkin. Lebih cepat dari yang kau pikirkan.”


 


 


“Oh, benarkah? Tolong jangan memberi harapan--”


 


 


“Bagaimana kalau aku berhasil meminta izin untuk bulan madu kita?” Aku tidak bisa menahan senyuman lebarku, memikirkan dia bisa mendapat izin, ditambah aku sepenuhnya punya waktu luang mulai besok lusa karena serah terima di lakukan besok, maka kami punya banyak waktu.


 


 


“Tapi bukannya kamu harus pergi selama enam bulan ke perbatasan?”


 


 


“Ya. Tapi dengan menangkap penjahat-penjahat kelas berat selama satu minggu ini, mungkin aku bisa mulai bernegosiasi. Sepertinya aku juga akan minta bantuan kakek atau ayah.”


 


 


“Jangan terlalu memaksakan diri, oke?”


 


 


Bayu tersenyum kecil dan mengangguk. “Kalau gitu, ayo aku antar ke hotel.”


 


 


Lelaki ini sudah berdiri, memadamkan api unggun kecil di hadapan kami, lalu mengulurkan tangannya padaku.


 


 


Sebuah ide muncul, aku menggeleng dan berkata. “Gendong!”


 


 


 


 


Aku tersenyum lebar ketika Bayu sudah berjongkok di depanku dengan punggung menghadap padaku. Tanpa ragu lagi, aku segera mengalungkan tangan ke lehernya dan mulai naik.


 


 


Punggungnya keras dan berotot, tapi hangat dan lembut. Bahunya yang lebar terasa sangat nyaman. Begitu Bayu sudah berdiri, dia menopang kedua pahaku dengan kedua tangannya yang kuat. Aku tertawa puas sembari menyandarkan kepala di belakang kepalanya.


 


 


 


 


“Pemberhentian selanjutnya, hotel Uni.” Katanya melompat-lompat kecil yang otomatis membuat tawa ku semakin keras.


 


 


“Oh ya ngomong-ngomong, terima kasih atas bunga dan coklatnya. Kapan kau menyiapkan itu semua?”


 


 


“Sebelum berangkat, sekitar satu minggu lalu.”


 


 


“Aku belum pernah melihat sisi romantismu seperti ini ketika kita pacaran dulu.”


 


 


“Begitu? Ssshh.. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu sekarang, jadi sisi romantisku keluar.” Jawabnya bangga. Aku mengusap-usap puncak kepalanya penuh kasih sayang sembari tersenyum lebar.


 


 


 


 


Sepanjang perjalanan, kami tertawa, bercanda dan menertawakan hal-hal yang kami lewati. Rasanya bahagia sekali, meski udara pagi terasa sangat dingin.

__ADS_1


 


 


Begitu kami sampai di depan hotel, Bayu tidak berniat melepaskanku, dia berjalan tenang masuk ke hotel, menuju lift untuk mencapai kamarku. Untungnya suasana hotel sangat sepi, hanya beberapa pria dari tim keamanan yang di bawa ayah, sedang berkeliaran.


 


 


“Tidak bisakah aku melihatmu berangkat?” Tanyaku saat Bayu membuka pintu kamarku dengan kartu.


 


 


Bayu menggeleng. “Meski penjagaannya sekarang bertambah ketat, tapi aku akan lebih tenang kalau melihatmu sudah di kamar.”


 


 


Bunyi klik yang khas pertanda pintu telah di terbuka. Dia mendorong pintu dan membawaku masuk, lalu menurunkan ku di atas tempat tidur.


 


 


Setelah itu, Bayu mulai memeriksa seluruh kamar, dari perabotan sampai dinding dan lampu gantung.


 


 


Aku berdiri, menghampirinya, mengikutinya untuk berkeliling memeriksa sampai dia berhenti, barulah Bayu berbalik menghadapku. “Baiklah, sekarang aku harus berangkat.”


 


 


“Apapun yang akan kau lakukan, tolong hati-hati. Aku tidak mau kau terluka atau kehilanganmu.” Aku satu langkah lebih dekat, menarik tangannya hingga wajah kami sudah sangat dekat, lalu, aku masuk ke dalam pelukannya, menempelkan pipiku erat di dadanya sembari memeluk pinggangnya.


 


 


Bayu membalas pelukanku, membungkus tubuhku dengan dua tangannya yang hangat. Beberapa kali dia mengecup puncak kepalaku dan mengubur hidungnya di sana, menghirup aroma shampo yang aku gunakan hingga dia mendesah puas. “Aku akan hati-hati, kau juga, jangan nakal. Aku akan segera kembali.”


 


 


Aku mengangguk. “Aku sayang kamu.”


 


 


“Aku juga. Icha-ku. Kau milik ku.”


 


 


Aku terkekeh pelan mendengar jawaban Bayu yang terdengar sangat serius. Mendongak untuk menatap kepalanya, ternyata ekspresi wajah Bayu memang sedang serius.


 


 


“Tentu aja aku milikmu.” Mengangguk setuju.


 


 


Tanpa basa basi, Bayu mendekatkan kepalanya, hidung kami bersentuhan, lalu kening dan pada akhirnya dia mengecup bibirku dengan lembut. Hanya dari kecupannya, aku bisa merasakan bagaimana dia mencintaiku, bagaimana aku terlalu mencintainya. Perasaan yang sangat memikat ini membuat darahku mendidih hampir seketika.


 


 


Bayu menarik kepalanya, kali ini mengecup kening, pipi, hidung bahkan daguku yang mendapat tawa kecil dariku karena terasa geli. Sekali lagi dia mencium bibirku, lebih dalam dari sebelumnya.


 


 


Meski belum puas, tapi dia menarik diri, memberiku pelukan erat sebelum tubuh kami benar-benar terpisah.


 


 


Dia menatapku, aku tahu dia tidak sanggup lagi mengatakan kata pisah lagi, jadi aku mengangguk dan memberinya senyum lebar yang menenangkan.


 


 


Bayu berbalik, melangkah menuju pintu kamar, begitu sampai di depan pintu, dia berbalik untuk melambai padaku.


 


 


Akubalas melambai seiring dengan pintu yang di tutup olehnya dari luar, lalu keheningan yang mencekam sekali lagi menyelimuti kamarku.


 


 


 


 


 


 


...


 

__ADS_1


 


__ADS_2