EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 257


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


Lima belas menit kemudian, setelah nenek mengawasi dan memaksaku berkumur dengan minyak goreng dan air, lalu memaksaku untuk menyikat gigi di pinggir jalan setelah mengambil sikat gigi dan pasta gigi di dalam vila --paman Kenzo yang mengajukan diri untuk mengambilnya dengan cepat-.


 


 


Aku menolak karena malu di lihat mereka semua, tapi nenek melotot padaku, tidak ingin di bantah.


 


 


“Bawa ini ke rumah sakit untuk di cek. Aku sudah menghubungi direktur rumah sakit dan mereka berjanji akan mendapatkan hasilnya dalam beberapa jam, dua di antara kalian tunggu di sana.” Ayah menyerahkan botol racun yang sudah di bungkus plastik pada salah satu pria dari tim keamanan, keduanya mengangguk dan berbalik pergi.


 


 


 


 


“Jadi, Bayu, sebenarnya apa yang terjadi? Ledakan itu apa?” Pertanyaan suami tante Kenzie seolah menyadarkan kami semua tentang suara ledakan tadi.


 


 


Semua orang mulai menatap Bayu penasaran, tahu dia menjadi pusat perhatian, lelaki ini berdehem pelan sebelum melirikku dan berkata. “Kamu ingat wanita yang menelpon tadi?”


 


 


“Tentu saja.”


 


 


“Dia adalah istri Luc, pria yang ada di balik perdagangan senjata ilegal dan narkotika. Kami berhasil menangkapnya kemarin sore dalam operasi gabungan. Lalu istrinya tiba-tiba hilang, setelah di lacak, dia sedang bergerak ke sini, ternyata mengikutimu.” Bayu melirik ku, aku bisa merasakan tante Kenzie menghela napas kaget.


 


 


“Karena kau mengulur waktu berbicara dengannya, kami berhasil mendapat posisi pasti. Dia ada satu kilometer dari pantai, di sebuah rumah dengan menyandera anak kecil bersama bom aktif.” Sekarang semua orang semakin kaget mendengar ada bom dekat sekali dengan kami.


 


 


Bayu kembali menatap ayah dan yang lain sembari melanjutkan “Sebelum aku sampai ke sana, ternyata Lifer dan yang lainnya berhasil menangkap wanita itu, melepaskan bom pada anak itu tapi tidak cukup waktu untuk menjinak kannya, jadi yang aman kami lepaskan di laut. Syukurlah itu hanya bom dengan jangkauan ledakan tidak lebih dari tiga meter. Aku bergegas kembali ke sini setelah dapat kabar dari Benny kalau wanita itu beberapa kali menghubungi ke vila ini. Ternyata, dia memanfaatkan dendam pegawai di sini untuk mencelakai kalian.”


 


 


Aku bisa menebak sorot mata Bayu padaku ketika dia kembali menatapku, seolah berkata ‘sebenarnya, dia menargetkanmu dengan perantara orang lain karena kau adalah istriku. Dia balas dendam karena aku menangkap suaminya.’, tatapannya sayu dan muram. Aku ingin memberinya pelukan tapi kami aku tidak mau melakukannya di hadapan keluarga Danendra.


 


 


“Jadi begitu.” Kakek Alvaro mengerutkan kening berpikir keras, wajahnya menengadah ke atas, menatap langit malam yang gelap, tidak ada bintang sama sekali.


 


 


“Maaf melibatkan kalian, karena kejadian ini berakar dari orang-orang yang kami tangkap.” Bayu terdengar bersalah.


 


 


Kakek menggeleng cepat. “Tidak tidak! Itu bukan salah siapa-siapa Nak, kau tak perlu minta maaf. Bagaimanapun, wanita itu melihat peluang pada pegawai kami yang memendam dendam, yang akhirnya ter realisasikan.”


 


 


Ayah Evano melangkah mendekati Bayu dan menepuk bahu lelaki ini sambil berkata “ayah benar. Kita sekarang sudah satu keluarga, jadi tak perlu minta maaf. Kau pasti lelah karena baru selesai misi tapi sudah harus mengurusi kasus lagi.”

__ADS_1


 


 


“Untuk datang menemui Icha di manapun, aku tidak lelah sama sekali.” Ayah tertawa dan mengangguk, yang aku rasakan justru wajahku memanas.


 


 


“Yaa… ayahmu dan aku berutang tempat bulan madu untuk kalian. Setelah menikah, kalian harus kembali ke pekerjaan masing-masing, kalau saatnya tiba, kalian boleh minta tempat manapun untuk menghabiskan waktu berdua.”


 


 


Tante Kenzie terkikik pelan lalu berkata “bagaimana dengan kami, Kak?”


 


 


“Penawaran ini hanya untuk pengantin baru.”


 


 


“Kalau gitu, bagaimana kalau kita nikah lagi, sayang?” Tante Kenzie merangkul lengan suaminya, di balas seringaian dan anggukan dari Giliant.


 


 


“Konyol.” Ayah menggelengkan kepala, melirik pasangan suami istri itu dengan senyum kecil.


 


 


“Sudah dapat kamar hotel?” Ayah bertanya pada seorang pria dari tim keamanan yang datang menghampiri kami.


 


 


“Sudah. Mobil sudah menunggu.” Katanya menunjuk ke belakang. Kemudian ayah berbalik menatap kami semua.


 


 


 


 


Lelaki ini ternyata juga sama sedang memperhatikanku, entah telepati atau memang aku mengerti sorot matanya. Dia menanyakan apa aku baik-baik saja hanya dari tatapannya.


 


 


Aku mengulurkan tanganku, menyentuh lengannya dan menariknya mendekat dan berkata “aku sungguh baik-baik saja.”


 


 


Dia mengangguk kecil dan menurunkan tanganku menuju telapak tangannya, menggenggamnya erat.


 


 


“Ayo pergi. Bayu, kau juga masuk mobil. Motornya biarkan saja, nanti di bawa.” Ayah menatap kami berdua. Bayu mengangguk dan kami melangkah bersama di belakang keluarga Danendra.


 


 


Mobil polisi masih menunggu kami, dua pelaku yang tertangkap dimasukan ke mobil terpisah. Salah satu polisi datang menghampiri ayah, berbicara sebentar dengannya.


 


 


Bayu melepaskan genggaman kami, menaruh kekuatan di lengannya, menarik tubuku dengan lembut agar lebih dekat, berbisik lembut. “sayang, aku cinta kamu.”


 


 


Seluruh tubuhku menggigil, memeluk pinggang Bayu dengan kuat dan menempelkan wajahku erat ke dadanya. “Berapa kalipun mendengarnya, aku tidak akan pernah bosan. Aku juga cinta kamu, Bayu-ku.”


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


***


 


 


 


 


 


 


Pantai.


 


 


Setelah ayah Evano membawa kami semua ke hotel dan memberikan kunci kamar masing-masing, aku dan Bayu memutuskan untuk keluar ketika yang lain memilih tidur sebentar sebelum melihat matahari terbit.


 


 


Waktu menunjukan hampir jam empat pagi. Kami berdua bergandengan tangan erat menuju pasir pantai, memilih untuk duduk di dekat cahaya lampu yang samar-samar menerangi pantai.


 


 


Suara gemuruh deburan ombak terdengar konsisten, hanya ada kegelapan di hadapan kami, siluet samar ombak yang menerjang pantai sedikit menakutkan tapi ternyata bukan hanya kami yang ada di sekitar sini, sekumpulan anak-anak muda dan beberapa pasangan juga memilih untuk mengobrol dan menyalakan api unggun kecil.


 


 


Bayu memesankan minuman hangat untuk kami, dia juga berhasil menyalakan api unggun kecil dengan sisa-sisa sampah dan kulit kelapa yang di temukan dengan cepat, lalu entah dari mana, lelaki ini membawa selimut besar hijau tua yang cukup untuk membungkus kami berdua, dari aromanya, ini selimut baru.


 


 


Setelah semua itu, aku menyampirkan selimut juga pada tubuhnya, kami duduk berdempetan agar lebih hangat.


 


 


 


“Bukankah seharusnya kita istirahat saja? Kau akan pergi bekerja beberapa jam lagi ‘kan?” Tanyaku meliriknya.


 


 


Meski wajahnya terlihat lebih lelah dari terakhir kali, tapi pancaran matanya justru campuran senang dan tenang.


 


 


“Kelelahan kekuatan mentalku sudah hampir puluh, pada dasarnya sudah dipulihkan tanpa perlu istirahat dengan adanya kamu di sampingku.” Jawabnya benar-benar mengerti apa yang aku pikirkan.


 


 


Aku diam, mengerutkan kening menatapnya, sedikit tidak percaya kami selalu mengerti satu sama lain tanpa perlu di bicarakan secara detail.


 


 


 


...


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2