
...
“Hipnotis?”
“Ya. Pengobatan ini mengatasi gangguan psikosomatis yang beberapa tahun ini kamu rasakan. Aku ingin melihatmu menjalani hidup yang bahagia.”
“Tapi kenapa?” aku masih tidak mengerti, sore ini dokter Cilia datang berkunjung dan kami sedang mengobrol di kamar inapku. Wanita ini memberi kabar agar aku melakukan pengobatan dengan cara hipnotis untuk mengatasi sakitku ini.
Aku memang takut jika suatu saat nanti aku benar-benar tidak bisa berbicara.
“Kau bingung kenapa aku tidak merekomendasikannya dari dulu?” Dia menjawab kebingunganku.
“Karena aku bisa melihat sekarang kau terlihat lebih bahagia dari sebelumnya. Ada yang berbeda dari sorot matamu saat kau hanya menyebut nama Bayu. Dia adalah sosok yang membuatmu bisa lebih baik. Kita akan melakukan pengobatannya bersama, jadi bawa dia saat kau siap ya.”
Aku tidak bisa menyembunyikan senyum malu ku. “Apa terlihat jelas?”
“Sangat jelas!” Kami berdua tertawa bersama setelahnya. Dokter Cilia benar, aku belum pernah tertawa seperti ini bersamanya. Biasanya pertemuan kami berdua hanya membahas tentang aku dan masalahku.
“Jadi maksud dokter, Bayu menjadi salah satu alasan dalam keberhasilan pengobatanku ini?”
“Ya. Mendengar cerita cinta tentang kalian berdua, aku rasa dia orang yang tepat. Terlebih lagi kalian sudah kenal sejak kecil ‘kan?”
“Tapi pengobatan ini beresiko. Jika hipnotisnya gagal keadaanmu akan terus seperti ini atau bahkan lebih buruk.”
Tiba-tiba aku ingat tentang Jane, wanita itu masih tetap marah padaku. Apa Bayu masih belum menyelesaikan urusannya dengannya?
“Bagaimana jika dia bukan pria yang tepat?” Terlihat jelas senyum dokter Cilia surut seketika. Sepertinya dia tidak
menyangka akan mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1
“Begitukah? Apa dia tidak seperti yang aku kira?” Wanita ini bertanya balik yang belum bias aku jawab sepenuhnya.
“Kalau begitu kita coba pengobatan yang lain saja.” Lanjutnya.
Aku hanya bisa diam, larut dalam pikiranku sendiri. Akhir-akhir ini aku terlalu over thinking akan semua hal dan sejujurnya membuat aku sangat lelah. Dan yang lebih menyebalkannya lagi apapun yang aku pikirkan tidak bisa begitu saja ada penyelesaiannya.
Tiba-tiba tepukan halus di bahuku menyadarkanku. Dokter Cilia tersenyum kecil menatapku dan dia mengusap lenganku lembut.
“Jangan terlalu banyak berpikir. Gunakan waktumu di sini untuk istirahat.” Aku tersenyum kecil, benar-benar bersyukur memiliki sosok dokter yang baik sepertinya.
Lalu, ponselku yang tergeletak di sampingku ini bergetar beberapa kali ada pesan masuk. Aku segera memeriksanya dan moodku yang semula senang berubah serratus delapan puluh derajat setelah membaca isi pesan tersebut.
Kemudian sebuah ide muncul begitu saja saat menyadari dokter Cilia ada di hadapanku. “Dok, bisakah kau membantuku?”
“Hm? Apa yang bisa aku bantu?”
“Bantu aku berbicara pada dokter Stefan untuk mengijinkanku pulang besok.”
“Aku akan kembali nanti sore. Berjanjilah kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Dan ingat! Sesampainya di dalam rumah segera pasang infusnya ya.”
“Oke. Terima kasih dok! Hati-hati di jalan.” Aku melambai dan menatap kepergian mobil milik dokter Cilia. Butuh sedikit perdebatan dan kesepakatan saat dokter Stefan akhirnya mengijinkanku untuk pulang.
Di punggung telapak tangan kiriku sudah terpasang jarum yang di lekatkan dengan plester. Sebelum pulang aku sempat di ajarkan oleh suster Rini bagaimana menghubungkan jarum infus ini dengan selang cairan infus.
Setelah banyak pertimbangan, dokter Stefan mengijinkanku pulang satu hari ini dan aku harus kembali besok. Melihat ekspresinya tadi yang sempat khawatir, aku merasa jika sebenarnya keadaanku tidak memungkinkan ku untuk keluar, terlebih aku masih harus di infus meskipun harus dengan membawanya seperti ini.
Selain itu dokter Cilia tidak ingin membiarkanku sendirian, siang ini dia harus kembali ke rumah sakit dan berjanji akan menginap bersamaku. Aku pasti sangat merepotkan mereka berdua tapi aku tidak tahu apalagi yang harus di lakukan selain harus segera pulang. Aku harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di grup chat keluarga ibu sebelum semuanya semakin jauh.
Pagi ini hari keenam Bayu belum menghubungiku. Aku sempat melirik mobil hitam yang sejak tadi mengikuti kami. Itu mobil milik anggota polisi yang mengikutiku.
Aku segera merogoh saku celana untuk mengeluarkan kunci gerbang di hadapanku ini. Sembari mencari, aku tahu tetangga ku yang pagi ini keluar untuk memulai aktifitas mereka sempat melirikku penasaran. Sudah lebih dari seminggu aku tidak terlihat, bisa menebak ibu-ibu yang biasa berkumpul di tukang sayuran yang tidak jauh dari rumah ku ini sedang menatap ke arahku.
__ADS_1
Berusaha untuk tidak mempedulikannya, aku segera masuk ke dalam rumah saat pintu gerbang ini bisa terbuka sembari membawa tasku.
Aku berdiri mematung di ambang pintu saat pintu rumah ini terbuka lebar. Bukan suasana sepi yang seharusnya aku temukan, aku tidak menyangka akan menemukan ibu, bibi Pia, bibi Nuri dan tante Yuan.
Ke empat wanita itu sudah duduk diam di sofa ruang tamu rumah ini, mereka semua menatapku dalam diam seolah tidak kaget aku pulang.
“Akhirnya kau pulang juga ya. Bagaimana liburannya?” Ibu berkata dengan nada menyindir. Tanpa sadar aku menelan susah payah salivaku. Bibi Pia dan bibi Nuri adalah adik ibu, mereka memang tidak seperti ibu tapi jika sudah mendukung sepenuhnya ibu, keduanya akan cerewet dan itu sama saja dengan menghadapi tiga kali lipat
semua sindiran ibu. Sedangkan tante Yuan, dia adik dari paman Ben –suami bibi Pia- yang aku tahu tante Yuan sering menetap di jepang, melihatnya berada di sini dan di rumah ini apalagi, memang tidak biasa.
Satu-satunya tante Yuan yang tersenyum kecil padaku di antara mereka. Seingatku, dia adalah sosok wanita lembut, penyayang yang suka sekali dengan anak kecil. Sudah lebih dari lima tahun aku tidak bertemu dengannya.
Refleks aku menyembunyikan tangan kiriku ke belakang dengan gerakan senatural mungkin.
“Ibu tahu ‘kan aku tidak liburan.” Jawabku melangkah masuk melewati mereka untuk menyimpan dulu tas ku di dalam kamar. Lalu aku segera memilih mengganti baju kemeja ku ini dengan sweater kebesaran hingga menutup sampai ujung jari tanganku.
Aku keluar dari dalam kamar dan bergabung bersama keempat wanita ini berharap ibu bisa lebih mendengarkanku jika bersama saudaranya.
“Dari mana saja kamu seminggu ini tidak ada di rumah?” Pertanyaan bibi Nuri membuatku sedikit lega karena dari nadanya terdengar lembut dan tidak menuntut.
“Aku—“
“Kau di rumah sakit? Kata ibu mu ini kau bahkan tidak menjenguknya saat dia di rawat di rumah sakit beberapa hari lalu.” Sekarang suara bibi Pia terdengar kesal padaku.
Aku menghela napas pelan sebelum menjawab. “Aku juga sedang sakit dan—“
“Ibu tahu! Kau hanya beralasan agar tidak bertemu dengan ibu ‘kan? Kau sudah muak dengan ibu yang selalu memintamu berbagi warisan dari Rose pada Daniel! Meskipun itu semua milikmu tapi kamu juga jangan lupakan Daniel yang nantinya akan menjadi kepala rumah tangga. Sebagai perempuan mau sekolah setinggi apapun tetap kita di takdirkan untuk mengurus rumah!”
...
__ADS_1