EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 114


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote yaa!!!


 


...


 


 


 


“Apa dia ibu tirimu?” Aku bertanya.


“Apa hubungannya dengan aku ibu tirinya?!” Wanita ini masih saja marah-marah.


Sonia menggeleng. “Dia hanya pacar ayah!”


Aku mengangguk lalu melirik petugas keamanan yang sejak tadi menungguku penasaran. “Intinya, dia tidak mau pulang ke rumah. Dia ingin bertemu ayahnya karena hari ini ayahnya pulang dari tugas setelah satu bulan.”


“Jangan banyak alasan! Dia harus pulang ke rumah sekarang! Kau tidak berhak melarangnya!” Aku melirik jenuh wanita di hadapanku ini.


“Apa tidak apa-apa aku mengatakan pada petugas apa yang kau katakan barusan?” Aku bertanya yang langsung di angguki Sonia.


Sekarang aku merasa dua wanita di hadapanku ini menegang. “Mereka tidak mengerti dan tidak bisa bahasa isyarat, Sonia bilang hanya ayahnya yang bisa. Wanita ini juga bukan ibunya tapi hanya pacar ayahnya. Alasan Sonia tidak ingin pulang karena mereka telah mengurung dan memukulnya selama satu bulan ini hanya karena


Sonia tidak bisa berbicara. Lalu—“


Aku menghentikan ucapanku merasakan suasana mulai tegang. Semua orang memperhatikanku. “Sonia mengatakan setelah dari pasar, mereka merencanakan untuk membuangnya dan mengatakan pada ayah Sonia kalau anaknya menghilang.”


Untuk beberapa detik berikutnya, kami semua terdiam menatap dua wanita di hadapan kami. Kemudian tawa meledak wanita muda di hadapanku terdengar. “Hahahah. Memangnya ini drama? Dia hanya mengarang saja.”


“Sonia juga bilang kalau mereka tidak mengerti bahasa isyarat. Jadi, dari mana kalau aku berbohong?” Jawabku tenang. Tapi mataku menatap pengasuh yang sekarang terlihat tegang.


“Berikan identitas kalian dan nama ayah anak ini!” Seru salah satu pria itu.


“Sebelum semua jelas, kalian tidak boleh pergi dari sini!”


Ada perdebatan antara wanita muda itu dengan petugas keamanan, tapi pengasuh itu hanya diam memperhatikanku. Karena terlihat mencurigakan, aku menepuk Sonia dan mengatakan.


“Apa kau tahu pengasuhmu?”


“Pengasuh lamaku sedang sakit sejak tiga hari lalu, dia gantinya.” Seperti yang aku duga.


Aku melirik Bayu yang sedang menatap pengasuh itu tajam, kemudian aku sedikit menariknya agak menunduk dan berbisik di depan telinganya. “Apa kita bawa saja dulu Sonia? Pengasuh itu bukan pengasuh lamanya. Dia di ganti tiga hari lalu.”


Bayu mengangguk tanpa melepaskan tatapannya pada wanita pengasuh. Kemudian aku berdiri sembari menggendong Sonia dan berjalan mendekati petugas keamanan lain yang agak jauh di dekat meja dan mengatakan kalau aku akan membawa Sonia hingga ayahnya kembali hari ini. Dia meminta identitas rumah dan Bayu segera memberitahu petugas itu.


 


 

__ADS_1


 


 


“Bu, kami akan membawa dulu Sonia sampai ayahnya kembali.” Kataku pada wanita muda itu.


“Tidak bisa!! Aku tidak mengijinkan!”


“Kami sudah mendapat ijin dari ayahnya. Dia akan pulang siang ini.” Tibat-tiba salah satu petugas berkata sembari mengangkat gagang telpon.


Karena tidak ingin lama-lama, aku dan Bayu berjalan keluar dari pos menghiraukan wanita yang marah-marah dan pengasuhnya yang hanya diam di tempat.


Kami berdua di antar keluar pos oleh salah satu petugas dan mengatakan kalau ayah Sonia akan langsung menuju rumah Bayu siang ini. Setelah mengucapkan terima kasih, aku yang masih menggendong Sonia berjalan di samping Bayu dalam diam untuk beberapa menit selanjutnya. Aku sempat melirik lelaki ini, dia diam menatap kedepan sedang memikirkan sesuatu.


“Ada apa?” Aku bertanya, tidak bisa mengerti arti lamunannya. Bayu menghela napas dan sebelah tangannya merangkul bahuku.


“Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir ingin memberimu semua kebahagian yang ada di dunia ini.” Ucapannya membuat pipiku memanas.


“Tiba-tiba?”


Bayu melirikku lalu dia menarikku dan mengecup beberapa kali puncak kepalaku.


 


Dia melakukan ini saat kami sedang jalan?! Apa terjadi sesuatu padanya?


“Apa kau sakit dan akan meninggalkanku?” Tanyaku terlalu banyak menonton drama. Bayu tertawa kecil dan mengusap puncak kepalaku.


“Tidak.”


“Hmm untuk waktu dekat ini, tidak!”


“Kamu selingkuh?”


“Kamu ingin aku selingkuh?”


“Kamu berani selingkuh?”


“Tidak!” Aku tertawa, merasa menang dengan perdebatan kecil kami.


“Sini biar aku gendong dia.” Bayu meminta Sonia. Gadis kecil ini melirikku, karena tidak ada penolakan aku segera memberikannya pada Bayu di tukar dengan belanjaan yang dia bawa.


Bayu hanya menggendong di lengan kirinya dan dia menarik tanganku dengan tangan kanannya. Setelahnya kami berjalan beriringan sembari tidak tahan aku tersenyum kecil menatapnya.


.


..



“Ada apa ini? Kalian di tinggal berdua satu malam dan sudah punya anak?!” Pekikkan dokter Stefan di ambang pintu membuatku malu.

__ADS_1


Bayu justru tersenyum dan berkata. “Kemajuan yang pesat. Bukankah itu bagus?”


Aku baru menyadari sekarang ada halaman depan ada 4 mobil terpakir. Salah satunya aku mengenali mobil milik dokter Stefan dan sisanya aku belum pernah liat.


“Ohh ada apa?” Prof Bora muncul di belakang dokter Stefan. Keduanya berada di ambang pintu.


“Siapa yang punya anak?” Muncul suara wanita lain di ambang pintu diikuti dengan langkah-langkah lain.


Sekarang aku bisa melihat ada dokter Stefan, prof. Bora, Lifer, Ronald dan dua wanita lain di samping mereka. Mereka semua keluar dari pintu dan kami sekarang bertemu di teras.


“Kalian sudah ada di sini? Padahal ini masih pagi!”


“Apa aku bilang, kita harusnya datang agak siang. Dia masih ingin berduaan.” Ucap Roandl membuat yang lain tertawa sembari menatap kami.


“Sayang, ini Icha. Yang pernah aku ceritakan padamu.” Lifer merangkul wanita berkulit putih cantik dan memiliki badan yang langsing. Rambutnya kecoklatan yang diikat. matanya yang bulat terlihat menarik, wanita itu memakai kacamata bulat yang trendi.


 



 


 


“Aku bisa lihat itu. Bayu yang biasanya tidak mempedulikan wanita yang aku kenalkan padanya sekarang secara terang-terangan bergandengan tangan di depan kami.” Jawabnya tersenyum jahil menatap Bayu.


Lelaki ini menghela napas pelan. “Dia Talia, istri Lifer.”


Aku segera melepaskan gandengan tangannya untuk menjabat Talia dan memperkenalkan diri.


 


“Dan ini Bianca, pacarnya Ronald.” Wanita yang di rangkul oleh Ronald tersenyum kecil padaku dan dia mengulurkan tangannya padaku. Dia memiliki kulit lebih putih dari siapapun yang ada di sini, rambut hitam pendeknya jatuh lurus di bahunya. Bola mata nya hitam pekat dan senyumannya memancarkan aura ketenangan.


 


 



“Dia siapa?” Dokter Stefan kembali bertanya mengenai Sonia, gadis kecil ini sejak tadi hanya diam memperhatikan.


“Ceritanya panjang. Ayo masuk dulu.” Ajak Bayu menggiring mereka semua untuk segera masuk.


Para pria sudah berjalan menuju ruang tamu depan sedangkan Talia dan prof. Bora berebut untuk membawakan belanjaan. Bianca mengikuti kami menuju dapur, lalu saat aku berjalan melewati ruang tamu, sudut mataku menemukan Benny yang duduk di sana bersama yang lain.


Meskipun dia sempat menatapku tapi aku hanya mengabaikannya dan lanjut jalan mengikuti dua wanita di depanku ini.


“Apa lelaki itu sudah mengganggumu?” Bianca bertanya di belakangku, aku menoleh menatapnya.


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2