EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 311


__ADS_3

...


 


 


 


 


Pada akhirnya kami berempat ikut bergabung dengan para penghuni apartemen yang sedang berkumpul di depan gedung. Semuanya melihat ke satu titik, jauh di atas sana, di lantai dua puluh lima samar-samar memang terdengar suara ribut-ribut kecil.


 


 


Tidak lebih dari lima menit, sirine mobil pemadam kebakaran tiba dan dua orang pria yang masih memakai celana kamuflase hijau lumut menunjukkan ke 2 orang petugas pemadam kebakaran di mana terjadinya kebocoran gas.


 


 


Aku, Bayu, Dika dan Lucy hanya memperhatikan semua itu tanpa melakukan apapun. Beberapa penghuni ada yang sempat mengobrol dengan Bayu dan menyapaku sebentar, selebihnya kami hanya menonton.


 


 


Tidak tahu berapa lama, tapi kami yang sedang duduk di undakan yang memisahkan jalan aspal lapangan parkir dan tanah yang di tumbuhi tanaman, berjajar duduk bersama penghuni lain, kepalaku berkali-kali jatuh menyentuh bahu Bayu. Meski di sekitar kami masih ribut-ribut, tapi aku tidak bisa menahan kantuk. Situasi ini terjadi lebih lama


dari yang aku kira.


 


 


Bayu membawaku mendekati mobil jeep hitam yang sangat mirip dengan miliknya, tapi lelaki ini mengaku kalau mobil itu adalah inventaris kantor yang di pinjamkan selama dia tugas di sini.


 


 


Dia menyuruhku untuk tidur saja di dalam, dan Lucy menemaniku, sedangkan dua pria itu menjaga kami di luar mobil sembari memperhatikan perkembangan yang terjadi.


 


 


 


 


“Padahal dia kerja pagi ini. Tapi malah aku yang—Hoammm.... yang ngantuk.” Keluhku pada Lucy.


 


 


Lucy duduk di kursi kemudi, sedangkan aku di sampingnya. Karena kami sudah bersama setiap hari selama empat bulan terakhir, jadi kami berdua sudah tidak canggung lagi dan sangat akrab.


 


 


Wanita ini terkekeh kecil dan menjawab, “nyonya, kau tahu, tadi saat pak Bayu menelpon kami, dia panik sekali.”


 


 


“Oh? Kenapa? Apa karena situasi gas bocor itu?” Mataku sudah setengah terpejam, tapi masih penasaran dengan perkataannya.


 


 


“Ya. Salah satunya. Tapi awalnya dia justru ingin membawamu tanpa di bangunkan.”


 


 


“Heh? Kenapa?” Aku semakin bingung.


 


 


“Katanya, nyonya tidurnya nyenyak sekali, tidak tega membangunkannya. Jadi dia rela mau menggendong nyonya ke luar gedung, tapi aku sarankan harus di bangunkan, takutnya itu akan menghambat kalian untuk segera keluar.” Perkataannya di akhiri dengan tawa kecil yang menular padaku.


 


 


“Sampai segitunya? Padahal dia bisa membangunkanku.” Aku melirik Bayu dan hanya bisa melihat lelaki itu dari belakang.


 


 


Dia sedang duduk bersandar di kap mobil bersama Dika. Keduanya tampak mengobrol sembari menunjuk ke atas gedung berkali-kali.


 


 


“Hah...” Lucy mendesah kecil, dia bersandar ke punggung kursi jok dan menatapku dengan senyum menggoda, “Lucy benar-benar iri deh sama nyonya. Kayanya jarang menemukan suami yang lembut kaya pak Bayu. Teman-teman Lucy sering cerita kalau setelah menikah, manisnya saat pacaran mereka itu hilang. Tapi kalau pak Bayu kayanya makin manis sama nyonya, iya ‘kan?”


 


 


“Hahaha.. apa sih kamu! Dari tadi ngegodain terus.”


 


 


“Tapi beneran deh nyonya, kalau liat tatapan pak Bayu untuk nyonya itu—umm kaya tatapan lembut yang mendamba dan sangat menghormati gitu.”


 


 


Aku tersenyum lebar dan menjawab, “kamu bisa liat itu? Sejelas itu?”


 


 


“Itu kesan yang aku tangkap kalau pak Bayu sedang menatap nyonya. Sedangkan kalau liat nyonya, kayanya tatapan nyonya untuk pak Bayu itu seperti tatapan ‘kamu hanya untukku’ atau ‘kamu milikku dan aku rela berikan hidupku padamu’.” Aku tidak bisa lagi menahan tawa keras, tindakan itu sempat membuat Bayu dan Dika melirik kami.


 


 


“Hahaha... Kayanya kamu ngantuk, iya ‘kan?”


 


 


“Iihh nyonya!! Ini serius!!” Desak Lucy.


 


 


“Lalu kriteria suami Lucy yang kaya gimana? Mirip-mirip pak Bayu ya?” Godaku tertawa kecil.


 


 

__ADS_1


“Bukan sepenuhnya mirip pak Bayu. Tapi tipe pria yang Lucy suka itu tipe penjelajah. Pria yang gemar dengan aktivitas outdoor, bersepeda atau berselancar. Biasanya tipe pria ini punya pikiran terbuka, optimis dan suka melakukan hal-hal baru.”


 


 


“Kalau Dika, bagaimana?” Tanyaku menggodanya.


 


 


“Dika?” Lucy melirik rekannya itu sekilas lalu menggeleng, “tidak! Dia sudah aku anggap sebagai rekan dan temanku. Tidak lebih.”


 


 


“Anggapan bisa berubah, iya ‘kan?”


 


 


“Tidak tidak! Aku tidak suka kalau harus pacaran dengan rekan kerja.”


 


 


“Begitu ya? Memang sih, aku juga punya pikiran seperti itu. Pacaran dengan rekan kerja itu, akan canggung.” Aku mengangguk menyetujui.


 


 


Lucy terkekeh pelan, yang seketika tertular padaku. Kami berdua jadi membahas tentang tipe pria dan gaya berpacaran orang-orang. Semua itu membuat kantuk ku lenyap.


 


 


 


 


 


 


.


..


...


 


 


 


 


 


“Jadi, apa yang terjadi dengan pak Baron dan istrinya?” Tanyaku penasaran saat aku dan Bayu sedang ada di depan pintu apartemen kami.


 


 


Tangan Bayu sedang menyentuh kombinasi angka untuk membuka kunci pintu. Tidak hanya kami, tapi penghuni lain juga di perbolehkan untuk kembali ke apartemen mereka masing-masing setelah situasi kebocoran gas terkendali dan di pastikan tidak ada lagi bahaya.


 


 


“Aku dengar, pertengkaran mereka kali ini cukup serius sampai membuat istrinya nekad naik ke atap.”


 


 


 


 


Tatapanku langsung tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh pagi.


 


 


“Apa yang akan kita lakukan, Boo?”


 


 


“Apanya?” Tanyaku heran mendengar pertanyaannya.


 


 


“Jam segini kalau tidur lagi rasanya tanggung, aku tetap harus bangun jam lima.” Bayu menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah.


 


 


Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya sembari mengangguk, “ah ya betul sekali. Tapi lebih baik kamu tidur lagi, biar nanti aku yang bangunkan kamu.”


 


 


“Sayang, kamu tidak akan meneruskan jam tidurmu?”


 


 


“Gara-gara tadi aku ngobrol sama Lucy, aku sudah tidak ngantuk lagi.”


 


 


“Aku punya ide, apa yang harus kita lakukan.” Lelaki ini tiba-tiba duduk tegap dan melirikku dengan seringaian kecil.


 


 


“Apa?!” Aku mengerutkan kening penasaran. Bayu mendekatiku dan berbisik.


 


 


Entah mengapa aku sudah menduga apa maksudnya, tapi aku tetap ingin mendengar darinya langsung.


 


 


Wajahku memanas, suara bisikan dan hembusan napasnya terasa panas di telingaku. Ide yang dia maksud membuat jantungku berdetak cepat.


 


 

__ADS_1


“Hah??” Aku menatapnya tidak percaya.


 


 


Wajah Bayu yang sudah kembali ada di depanku hanya menyeringai kecil sembari menjawab, “bagaimana?? Apa kau tidak penasaran juga? Kita bisa mencobanya satu ronde.” telinganya berubah merah.


 


 


“Satu ronde?”


 


 


“Hanya satu ronde!” Dia mengangguk dan tanpa mendengar jawabanku lagi, lelaki ini sudah menggendongku, mengangkatku dengan mudah, membawaku ke tempat yang tadi di usulkannya hingga tawa kami terdengar memenuhi ruangan apartemen ini.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


.


..


...


 


 


 


 


 


 


“....sudah! Kau akan terlambat!” Aku mendorong dadanya pelan, menjauhkan bibirnya yang menempel di pipiku ketika aku mengantarnya ke pintu.


 


 


Tapi bukannya melepaskan, dua tangan lelaki ini menarik pinggangku hingga kening ku hampir menabrak dagunya. Sebelum aku bisa protes, dia sudah membungkam bibirku dengan bibirnya. Menciumku dengan lembut dan agak


mendesak.


 


 


Akhirnya aku balas ciumannya, membiarkan tangan ku menyentuh pipi dan leher belakangnya. Menikmati momen di mana Bayu sangat memanjakanku dengan sentuhannya.


 


 


 


 


 


 


“Tas!! Tasnya lupa!!!!” Aku memekik, melepaskan ciuman kami ketika sadar kalau dia tidak bawa apa-apa.


 


 


Aku ingat tas punggung hitam miliknya terakhir kali terlihat di atas kasur. Maka tanpa menunggu reaksinya, aku segera lari ke kamar, mengambil dan membawanya.


 


 


Begitu aku kembali ke depan pintu, ternyata Bayu sudah memakai sepatu, hanya tersisa mengikat kirinya.


 


 


“Aku ingin mengantarmu ke depan, tapi aku belum mandi.” Kataku sembari menyerahkan tasnya.


 


 


Bayu menerima tas itu, menyampirkannya ke bahu kanan dan menatapku sembari tersenyum kecil, “apa bagi wanita, sebelum ke luar rumah memang harus mandi dulu?”


 


 


“Tentu saja! Itu peraturan tersirat di hampir semua wanita.” Jawabku yakin.


 


 


“Sayang, apa kamu lupa? Sebenarnya kita sudah mandi.” Bayu mendesah kecil, hal itu membuat wajahku panas.


 


 


“Ayo cepat sana berangkat! Hati-hati di jalan.” Aku mendorongnya, membiarkan dia yang membuka pintu dengan tergesa-gesa karena doronganku.


 


 


Di ambang pintu, Bayu terkekeh, menyeringai jahil, lalu dia tidak lupa mengecup keningku dan berkata, “aku mencintaimu.”


 


 


“Pulang cepat hari ini ya. Hati-hati di jalan. Aku juga cinta kamu.” Aku tersenyum lebar, balas mengecup pipinya dan melambai sebelum Bayu menutup pintu dari luar.


 


 


 


 


 


...


 

__ADS_1


 


__ADS_2