EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 334


__ADS_3

...


“Bunda!!” Aku berseru senang melihat bunda muncul di ambang pintu yang semula tertutup.


“Icha. Kita harus keluar dari bandara.” Bunda mendekatiku, matanya menatapku dari atas sampai bawah, seolah sedang memastikan tidak ada yang terluka.


Aku mengangguk, meski mendengar teriakan di luar sana, tapi aku harus ikut rencana yang Bayu sampaikan sebelumnya.


“Untuk menghindari perhatian, tidak akan ada yang mengawal sampai kita bertemu Dika.” Aku mengangguk siap.


“Mungkin kita harus lari, tapi bunda pastikan tidak akan membebani tubuhmu.” Bunda melanjutkan, menatapku serius namun ada sorot perhatian di sana.


Sekali lagi aku mengangguk, bunda yang melihat responku yang tenang, tersenyum kecil lalu meraih tanganku.


“Ayo.” Ajaknya.


Bunda berjalan di depanku, sebelum kami keluar dari ruang khusus di mini market bandara, bunda melirik ke sekitar yang masih ramai oleh orang yang berlarian. Tangan kami saling menggenggam erat agar tidak terpisah saat berada di keramaian.


Setelah memastikan tidak ada orang yang membawa senjata api, Bunda melirikku sembari mengangguk, aku bisa menduga itu pertanda kalau kita akan bergabung dengan orang-orang.


Kami berdua tidak berlari, tapi berjalan cepat di antara keramaian yang semakin memadat.


Bahuku sejak tadi banyak tersenggol oleh orang-orang yang ingin cepat menjauh dari sumber masalah di belakang kami. Aku juga melihat beberapa orang petugas keamanan bandara memimpin kami menuju tempat aman.


“Kenapa kita tidak di arahkan ke pintu keluar?” Bisikku panik melihat para petugas tidak mengarahkan kami ke pintu keluar.


“Itu berarti, mereka sudah menguasai pintu agar orang-orang tidak keluar. Ayah Rasha sempat mengatakan itu, mereka akan memblokir pintu, tapi bunda tidak berharap akan secepat ini.” Bunda berbisik khawatir.


“Ayo, kita lewat sini.” Namun dengan cepat bunda memimpinku ke jalan yang lain.


Aku tidak ingat apa yang terjadi, tapi kami melewati beberapa jalan koridor sempit dan pintu-pintu, bergabung dengan orang-orang yang panik dan mengabaikan tubuh kami yang terombang ambing oleh keramaian. Jika ada pintu yang terkunci, entah dari mana tapi bunda selalu punya kuncinya dari dalam saku.


Tak lama kemudian, pintu terakhir yang bunda buka di depan ku ternyata menuju ke lapangan lepas landas pesawat, karena tidak ada keramaian di sini, hanya beberapa staf bandara yang melihat kami dengan ekspresi waspada dan sedang bersembunyi, bunda mengajakku untuk terus jalan cepat menuju sisi lain gedung bandara.


Kami tidak banyak bicara tapi aku bisa tahu dengan hembusan napas bunda kalau dia juga sama gugupnya denganku.


Angin berhembus kencang menerpa tubuh kami. Suara orang-orang yang menjerit panik masih terdengar di dalam gedung.


Jantungku yang sejak tadi berdebar kencang terasa ngilu kalau memikirkan Bayu  sedang mengatasi situasi kacau di dalam bersama tim nya.


“—Ini dia.” suara bunda membuyarkan lamunanku.


Kami sudah ada di depan sebuah sepeda motor yang terparkir tak jauh di dekat pesawat yang sedang dalam perbaikan.


Lalu bunda mengeluarkan kunci motor, aku yang melihat tangan bunda gemetaran segera mengambil alih.


“Biar Icha yang pakai bun, ini yang akan membawa kita ke terminal ‘kan?” aku mengambil kunci dari tangan bunda untuk memasukkannya ke dalam lubang kunci motor.

__ADS_1


Bunda mengangguk, tidak berdebat tentang ini.


DOORR!


Aku dan bunda tersentak kaget mendengar suara pistol dalam gedung. Aku bisa merasakan keringat dingin semakin deras keluar dari wajah dan telapak tanganku. Tanpa sadar tanganku juga bergetar gugup.


“Oh tidak.” Bunda mendesah pelan, raut wajahnya sedih dan gugup. Bunda hampir menangis.


Hal itu membuatku sadar kalau mungkin ke khawatiran ku tidak ada apa-apa nya di bandingkan dengan bunda. Di dalam bukan hanya ada anak bunda yang sedang ada dalam misi, tapi suaminya pun, ayah Rasha, pasti ikut bergabung dengan Bayu.


Beberapa menit lalu melihat bunda yang dengan gagah berani memimpin ku untuk keluar dari situasi ini, punggungnya tampak besar untuk melindungiku. Tapi sekarang, ke khawatiran bunda tidak bisa di sembunyikan. Bahunya bergetar pelan menatap ke gedung bandara.


DOR!


DOR!


DOR!


PRANG!!


Rasanya jantungku akan berhenti mendengar suara tembakan pistol lainnya. Tidak bertambah satu, tapi tiga. Jeritan orang-orang di dalam semakin terdengar nyaring yang menambah ke khawatiran kami.


Bagaimana ini? Bayu ada di dalam. Dia begitu dekat tapi mengingat tadi ketika Bayu tidak melihat ke belakang saat pergi, aku yakin kalau dia ingin aku mengikuti rencananya. Tapi, apa itu satu-satunya yang terbaik? Dengan mendorongku pergi? Setidaknya, kalau aku ada di sini, meski khawatir, aku akan dengan cepat menemuinya begitu semua ini selesai.


Aku menyerah.


“Bunda, kita tidak boleh pergi.”


“Tapi—”


DOR!!


“Arrrggghhh…!”


Aku tersentak kaget karena suara itu terdengar sangat dekat, seolah ada di gedung belakang kami. Tapi sebelum aku bisa merespon semua itu, tiba-tiba saja bunda menarik tanganku menuju ke kardus-kardus yang tersusun di pojok. Kardus yang memuat speartpart bagian pesawat.


“Ssstt…” Bunda melarangku untuk bersuara.


Aku mengerutkan kening, kenapa kami harus bersembunyi, tapi detik berikutnya pertanyaanku terjawab mendengar suara langkah sepatu beberapa orang semakin mendekat dari arah kami datang tadi.


“Kamu yakin ada yang ke sini tadi?”


“Iya. Aku melihatnya tadi. Sekilas dua orang wanita ke sini.”


“Kamu tahu kan, tuan akan marah kalau kita membuang-buang waktu seperti ini, sedangkan kita harus secepatnya memindahkan barang itu.”


“Aku sangat yakin! Salah satu nya mirip dengan orang yang tuan cari.”

__ADS_1


“Sial!! Ini semua jadi merepotkan karena kita ketahuan oleh mereka. Tapi jumlah kita banyak, mereka akan kewalahan.”


“Oh lihat! Benar kan apa yang aku katakan! Ini ada kunci menggantung di motor. Mereka pasti mau kabur dari sini.”


Aku terlalu ceroboh! Tadi aku yang memasangkannya.


Bunda meremas tanganku erat, dia sama gugupnya denganku, kami sama-sama saling menahan napas dan tidak bergerak.


Dua orang itu masih ada di dekat motor, sepertinya sedang mengecek motor itu apa benar untuk yang melarikan diri.


“Sepertinya mereka sedang bersembunyi di sini.” Bunda dan aku saling menatap dengan gugup mendengar dugaan salah satu pria itu.


Tap


Tap


Tap


Mereka tidak lagi berbicara, tapi aku bisa mendengar suara langkah sepatu mereka berkeliling memeriksa.


Aku menunduk, memejamkan mata, berpikir.


Apa yang harus kami lakukan. Kalau kami ketahuan, mungkin kami bisa langsung di tembak.


Tidak!


Setidaknya aku harus melindungi bunda.


Tap


Tap


Suara sepatu mereka semakin mendekat ke arah kami, tapi otakku tidak bisa memikirkan apapun. Jantungku seolah tenggelam karena aku sangat gugup.


Tap


Aku bisa merasakan mereka ada di depan kardus-kardus yang menghalangi kami.


Apa?


Apa yang harus aku lakukan?!


Sekarang aku hanya bisa memikirkan Bayu.


Bayu!


Sruk—

__ADS_1


...


.


__ADS_2