EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 256


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Tidak! Aku tidak akan melibatkan siapa pun agar menanggung bahaya untukku. Lebih baik kau berikan racun itu padaku.” Suara Nenek Nella tidak bisa membuat perasaanku lebih baik.


 


 


“Katakan dimana ledakan itu??” Aku menatapnya dengan seluruh amarah yang aku punya, berharap dengan begitu dia akan memberitahuku.


 


 


“Manis, kalau suamimu meninggal, aku siap menggantikannya.”


 


 


“DIAM!!” Aku meraung marah mendengar pria gemuk yang sedang di jaga oleh salah satu polisi mulai bicara.


 


 


“Terima ini dan aku akan menjawabnya.”


 


 


“Icha jangan! Kita harus memastikannya dulu.” Ayah menghampiriku, memegang kedua bahuku agar menatapnya tapi sebagian diriku rasanya sudah hilang begitu mendengar tentang Bayu.


 


 


“Kalian, periksa di sana.” Ayah memerintah tim keamanannya untuk memeriksa. Ketiga pria itu mengangguk dan segere berlari menjauh.


 


 


“Dalam hitungan tiga, kalau kau tidak mau menerima ini, aku akan menikam nyonya Nella.” Ancamannya kali ini terlihat lebih nyata karena tangannya berusaha mencekik nenek dari belakang.


 


 


Semua orang mulai panik lagi, dua polisi sudah mengeluarkan pistol mereka, mengarahkannya pada pelaku.


 


 


“Satu!!” Dia berteriak untuk mengendalikan situasi lagi.


 


 


“Dua!!” Aku ikut panik, sebenarnya tidak ingin bertindak influsif tapi kakiku mulai bergerak maju.


 


 


 


“Icha!” Ayah, paman Kenzo, bahkan tante Kenzie memanggilku.


 


 


“Ti--”


 


 


“Aku terima! Sekarang lepaskan nenek.” Aku sudah berlari mendekat, melepaskan dengan paksa tangan-tangan yang menahanku.


 


 


 


 


“Tidak bocah! Jangan mengorbankan diri untukku. Aku tidak akan pernah menerimanya!” Nenek menatapku marah tapi aku mengabaikannya dan segera meraih botol kaca kecil dari tangannya.


 


 


“Minum dulu dan aku akan melepaskannya.” Dia tersenyum kecil menatapku.


 


 


“Icha! Jangan bodoh!” Tante Kenzie menjerit.


 


 


Aku memejamkan mata sesaat, wajah Bayu melintas dalam ingatanku, dia yang menawan dan keren. Wajahnya memiliki tampang merajuk yang selalu membuatnya dicap pembangkang tapi justru dia adalah seorang anggota pasukan khusus bernama phonex dan kapten dalam tim.


 


 


 


 


 


 


Tidak!


 


 


Bayu tidak akan meninggalkanku seperti ini. Dia pasti sudah melewati banyak tugas yang lebih berbahaya dari ini, dia pasti selamat! Aku harus percaya kalau dia akan hati-hati. Dia adalah pria berbakat dan pintar.


 

__ADS_1


 


 


 


Ya!


Tentu saja seperti itu. Wanita ini hanya menakutiku, orang di belakang tindakannya ini pasti menginginkan aku memiliki kisah tragis.


 


 


Bagaimana kalau setelah aku meminum racun ini justru Bayu masih selamat, menemukanku sudah mati dan pria itu dengan rela membahayakan dirinya sendiri. Apa dia pikir ini kisah romeo dan juliet?


 


 


“Minum sekarang atau--” Dia menekan pisaunya di leher nenek yang seketika tetesan dari kembali keluar dari sana.


 


 


Aku dengan panik membuka tutup botol kecil ini, orang-orang di belakangku berteriak bahkan nenek juga ikut memaki tindakanku yang bodoh.


 


 


Setidaknya kalau ada pilihan negosiasi, aku harus mengambilnya. Maka dengan gerakan cepat, aku meneguk cairan dalam botol ke dalam mulutku. Detik berikutnya semua orang berlari mendekatiku.


 


 


Dalam suasana ribut seperti itu, polisi tidak menyia-nyiakannya untuk meringkus pelaku setelah melonggarkan cengkramannya pada leher nenek.


 


 


Melihat nenek sudah kembali dalam pelukan kakek membuatku lega. Ayah memegang kedua bahuku, wajahnya khawatir, sebelum aku menanggapi keributan mereka, sebuah motor sport besar biru tua berhenti di dekat kami.


 


 


 


 


 


 


 


Dia datang! Dia selamat!


 


 


 


 


 


 


 


 


“Terlambat!” Wanita paruh baya yang sedang di borgol oleh polisi memekik senang karena rencananya berhasil.


 


 


“Dia sudah meminum racunnya.” Paman Kenzo menatap Bayu prihatin.


 


 


Bayu melotot tidak percaya, dari wajahnya yang berkeringat, aku menduga dia pasti langsung ke sini setelah wanita yang menelponku tadi tertangkap.


 


 


 


 


 


PLAKK!!


 


 


Suara tamparan keras mengejutkan kami semua.


 


 


Nenek Nella ada di depan wanita itu, napasnya tampak memburu, rahangnya terkatup dan sorot matanya yang penuh dendam seperti laser untuk membunuh.


 


 


“Wanita tidak tahu terima kasih! Aku sudah menganggapmu sebagai keluargaku. Lihat saja, kau dan keluargamu akan menyesal. Kemana pun kamu dan keluargamu kabur! Aku akan menemukannya!”


 


 


“Sayang, jangan mengatakan itu di depan polisi.” Kakek mendekat, setengah bergurau untuk meredakan amarah istrinya tapi nenek Nella mengacuhkannya.


 


 


Aku melihat setitik darah keluar dari sudut mulut pelaku. Ya, pelaku! Bahkan namanya pun aku tidak tahu.


 


 


“Aku terpaksa melakukan ini nyonya--”


 


 

__ADS_1


“Jangan panggil aku lagi, aku tidak sudi mendengar namaku keluar dari mulutmu!” Nenek melirikku sesaat dan kembali pada pelaku untuk berkata “meski bocah itu bodoh tapi dia adalah cucu pertama keluarga Danendra! Siapapun yang mencari masalah dengan keluarga Danendra, aku akan membuatnya menyesal!”


 


 


“Icha, apa yang kau rasakan? Mana yang sakit? Kita harus ke rumah sakit.” Suara Bayu mengalihkan tatapanku padanya, semula ayah yang ada di hadapanku, sekarang Bayu yang menggantikannya.


 


 


Aku mendorongnya dengan cepat saat lelaki ini hendak memelukku.


 


 


“Icha, maafkan aku. Tolong katakan mana yang sakit?” Bayu memelas, memohon, suaranya bergetar dan matanya tampak berkaca-kaca.


 


 


 


 


Aku tidak ada waktu menanggapinya, berbalik dan berlari dengan cepat untuk mencari tong sampah.


 


 


Sepuluh meter tong sampah besar di pinggir jalan menjadi tujuanku. Aku berlari secepat yang aku bisa tapi yang menyebalkan ternyata Bayu sudah menyusulku dengan langkah ringan seolah ritme lari cepatku bukan apa-apa baginya.


 


 


Aku mendorongnya setengah kesal setengah geli karena ekspresi khawatirnya, dia mungkin berpikir aku ingin meninggalkannya tapi bukan seperti itu.


 


 


 


 


Begitu sampai di depan tong sampah, segera aku memuntahkan cairan yang ada di mulutku. Tentu saja aku tidak sebodoh itu langsung menelan racun, dari sudut mataku, Bayu melongo menatapku.


 


 


Telingaku menangkap suara langkah kaki orang-orang, mereka sudah ada di sekelilingku untuk melihat apa yang terjadi.


 


 


 


 


 


“Apa itu racunnya?” Tanya Bayu syok, tanpa ekspresi. Aku mengangguk yang seketika mendapat helaan napas lega dari anggota keluarga Danendra.


 


 


Sebelum aku bisa menjelaskan semuanya, tiba-tiba nenek sudah ada di sampingku, tangan kanannya terangkat, jari telunjuk dan jempol di tekan di kedua pipiku hingga pipiku sedikit mengembung dan bibir mengerucut, wajahku jadi terlihat jelek.


 


 


“Jangan berbicara, jangan menelan apapun. Cepat ambilkan air!!” Nenek menjerit pada anak-anaknya, hal itu membuatku kaget karena mereka semua melongo. Seolah auro dominasi kakek Alvaro saat tadi bicara pada pelaku tidak ada apa-apa di bandingkan nenek.


 


 


Paman Kenzo yang berlari untuk mencari air.


 


 


 


“Bawakan aku minyak.”


 


 


Tanpa sadar aku mengulang, bertanya “Niyak?”


 


 


“Jangan bicara!” Nenek menatapku penuh ancaman.


 


 


“Minyak goreng, minyak kayu putih, minyak telon. Apapun yang bisa kalian bawa, CEPAT!!” Tante Kenzie, Giliant, ayah bahkan kakek tersentak kaget, mereka berbalik mulai menyebar.


 


 


Tanganku sudah terangkat, hendak ingin melepas tangan nenek tapi nenek sudah bicara pada Bayu “Tahan tangannnya.”


 


 


Bayu mengerjap beberapa kali, bahkan dia pun untuk sesaat melongo menatap nenek. Tapi tidak membantah, Bayu menahan tanganku agar tidak bergerak sesuai instruksi nenek.


 


 


Ya ampun!


 


 


 


 


...


 

__ADS_1


 


__ADS_2