
...
Hari ini hari sabtu, pekerjaan ku hanya sampai setengah hari dan aku harus cepat-cepat pulang ke rumah untuk bersiap-siap ke pertemuan keluarga nanti sore. Rencanaku yang di bantu oleh tante Yuan dan bibi Nuri akan di laksanakan.
Tadi pagi keduanya sudah mengabari kalau mereka berhasil meyakinkan beberapa tetua di keluarga ibu untuk hadir hari ini. Aku mengundang mereka semua untuk makan bersama sore ini dengan tema acara kalau aku akan mengenalkan pacarku pada mereka.
Selama beberapa hari ini, meskipun sudah ribut-ribut sepupuku menanyakan siapa pacarku dan mereka mengira itu adalah Henry karena acara pertunangan yang sedang ibu siapkan.
Ibu juga belum menghubungiku sama sekali meskipun aku mengadakan acara ini. Aku tidak tahu apa yang ibu pikirkan, tapi aku yakin ibu juga sedang merencanakan sesuatu agar Henry di kenalkan sebagai calon tunanganku.
Aku yang sudah siap dengan dress selutut merah maroon lengan pendek yang di padukan dengan blazer panjang berwarna coklat. Sentuhan make up natural dan sepatu heels tali hitam 5 cm melengkapi penampilanku. Lalu rambutku sengaja di ikat kucir kuda untuk menambah kesan percaya diri.
Telingaku mendengar suara klakson mobil di luar, itu suara mobil jeep Bayu. Aku bergegas keluar kamar tidak lupa membawa paper bag berisi baju ganti dan sepatu juga tas selendangku karena memang rencananya setelah pertemuan ini, Bayu akan membawaku ke puncak, menghadiri acara kakeknya.
Ketika aku sudah keluar gerbang dan menguncinya, aku mendengar suara pintu mobil yang di tutup. Begitu berbalik, Bayu sudah berdiri di hadapanku dengan senyumannya.
Hari ini dia berpakaian rapih dengan celana jins dan kaos hitam yang di padukan jas merah maroon. Rambutnya juga tersisir rapih dan aku bisa mencium wangi maskulin parfumnya.
“Cantik.” Pujinya singkat tapi matanya tidak lepas menatapku.
Aku terkekeh pelan lalu merangkul tangannya untuk sama-sama berjalan menuju mobilnya.
.
..
…
“Sayang, apa kau gugup?” Aku bertanya pada Bayu yang sejak tadi di mobil diam saja.
Bayu melirikku dan jelas sekali dia sedang gugup. Aku tidak melihat senyuman yang biasa dia tujukan untukku. “Ini lebih gugup dari pada ketika aku harus mengintai.”
__ADS_1
Aku terkekeh dan menarik tangannya untuk bisa aku rangkul menuju pintu masuk restoran mewah di hadapanku ini. Hanya tamu-tamu yang sudah melakukan reservasi untuk bisa masuk.
Lalu seorang pramusaji mengantar kami ke ruangan khusus yang sengaja di pesan agar acara perkenalan Bayu lebih formal. Dari kejauhan aku bisa melihat tante Yuan bersama paman Ben sedang mengobrol di depan pintu yang tertutup.
Kedua kakak beradik itu menyadari kedatangan kami dan menghentikan obrolan mereka untuk menyambutku.
“Icha! Lama tidak ketemu!” Paman Ben melangkah mendekatiku, aku tersenyum lebar menyambut pelukannya.
“Paman, tante, perkenalkan ini Bayu.”
Ketiga orang ini saling menjabat dan memperkenalkan diri. “Pasti keponakan paman sering merepotkanmu ‘kan? Kau harus banyak bersabar.”
Aku menggerutu mendengar ledekan paman Ben seperti biasanya. Bayu melirikku sekilas dan menjawab. “Karena sudah terbiasa, jadi itu tidak masalah.”
Kedua lelaki ini justru tertawa. Aku yang memperhatikan mereka hanya menggeleng.
“Ayo Icha masuk. Tinggal ibumu dan Daniel yang belum datang.” Tante Yuan merangkul tanganku. Aku mengangguk dan mengikutinya untuk masuk ke dalam pintu yang tertutup di hadapan kami.
Seperti yang aku bayangkan saat aku masuk ada meja bundar di tengah ruangan dengan dua belas kursi mengelilinginya. Semua orang melirik padaku dan sebagian mereka ada yang menyapaku langsung.
“Jadi siapa ini? Ayo kenalkan pada kami!” Suara sahutan Gina dan Lina terdengar bersemangat.
Ketika semua orang sudah duduk, seketika sunyi melingkupi ruangan ini. Mereka semua menatapku, menunggu sambutanku.
Aku menghela napas pelan berusaha menormalkan detak jantungku yang sangat cepat. Sekarang aku juga sangat gugup.
“Pertama, terima kasih untuk nenek, paman, bibi, sepupu, semua yang hadir di sini.Sebenarnya Icha hanya ingin kita berkumpul dan bersantai makan bersama sekalian Icha ingin memperkenalkan lelaki ini.” Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum saat aku melirik Bayu yang duduk di samping kananku.
Terdengar suara sahutan menggoda dari si kembar Gina dan Lina. “Semuanya ini Bayu.”
Bayu tersenyum menatap satu persatu ke delapan orang di hadapan kami.
“Tidak usah gugup.” Paman Ben menepuk pelan punggung Bayu, pria yang duduk di samping kanan Bayu tersenyum lebar dan dia mulai memperkenalkan.
“Itu nenek Fina, di sampingnya ada bibi Rina, adik nenek Fina.” Bibi Fina tampak tersenyum kecil menyambut Bayu.
“Lalu ada si kembar Gina dan Lina, anak bibi Rina.”
__ADS_1
“Halo ka Bayu!” Mereka menyapa serempak yang membuat kami semua terkekeh pelan.
“Kemudian di samping si kembar ada Darius sepupu jauh Icha.” Darius mengangguk menatap Bayu, pria yang lebih tua satu tahun dariku itu masih sama seperti dulu, tidak banyak bicara.
“Dan kamu sudah kenal Yuan, dia adikku. Lalu yang terakhir ini Pia, istriku.” Paman Ben memperkenalkan dua wanita terakhir.
Aku melirik Bayu, lelaki ini masih terlihat gugup dan dia jadi tidak banyak bicara. “Selamat sore nenek Fina dan semuanya. Maaf karena sepertinya terlambat memperkenalkan diri. Nama saya Bayu Christ Jeremy. Senang berkenalan dengan kalian semua.”
“Ini beneran pacar kamu, cha?” Suara tegas nenek membuat ruangan seketika sunyi dan tegang.
Nenek Fina adalah tetua dari keluarga ibu, aku tidak heran kalau ibu pasti sudah menceritakan tentang rencana pertunanganku dengannya. Tatapan dingin itu sedang menatapku tajam sembari ia menyeruput secangkir teh hangat di tangannya.
Aku bisa merasakan sifat ibu ada pada nenek Fina. “Benar nek.”
“Nenek dengar dia adalah tunangannya anak perempuan Alexander.”
“Mereka sudah tidak lagi bertunangan. Ini juga hal yang mau Icha konfirmasi pada nenek kalau Bayu yang adalah pacarnya Icha.”
“Lalu nenek dengar tentang acara pertunanganmu dengan Henry. Bagaimana dengan itu?”
“Acara pertunangan? Aku tidak pernah tahu soal itu.” Kataku terdengar sepolos mungkin. Nenek memperhatikan dengan seksama, seolah sedang mencari kebohongan dari mataku.
“Kau tidak tahu? Ibumu sedang sibuk mempersiapkannya dan kau tidak tahu?!”
“Ibu tidak pernah mengatakan apapun soal acara pertunangan.”
“Sudah sudah nek! Kita tunggu ibunya dan Daniel saja untuk mengkonfirmasinya.” Bibi Pia menyentuh tangan nenek di atas meja, berusaha mencairkan suasana ruangan.
“Aku ingin memesan.” Itu suara Darius yang mulai membuka buku menu. Aku menghembuskan napas panjang begitu suasana sudah tidak sekaku tadi.
Lalu aku merasakan telapak tangan Bayu yang hangat menggenggam tanganku yang mengepal di pahaku. Aku menoleh padanya dan dia hanya tersenyum kecil seolah sedang menenangkanku.
...
__ADS_1