
...
“Boo…” Aku berbalik mendengar suara Bayu saat kami berdua ada di halaman depan rumah ayah, depan mobil jeep milik Bayu tapi aku masih menatap ke teras rumah.
Di sana masih ada ayah, kakek, Wildan dan pelayan rumah tua itu sedang menatap ke arah kami, mengantara kepergian kami. Obrolan terakhir dengan kakek sebelum aku dan Bayu pamit pulang, dia setuju dengan permintaanku untuk menyerahkan harta warisan pada ibu.
Juga, tentang ayah yang mengatakan kalau ini adalah rumahku. Dari ucapannya sangat membekas di hatiku. Aku tidak pernah menyangka akan mendengar seseorang yang baru aku temui hari ini menunggu ku pulang, tidak dari ibu atau Daniel yang selama ini aku tahu sebagai keluargaku.
Saat aku akan membuka pintu mobil, sekali lagi aku berbalik menatap orang-orang itu di teras rumah. Ayah melambai yang otomatis membuat senyuman kecil terbit di wajahku. Aku balas melambai dan segera masuk ke dalam mobil.
Lalu mobil yang di kendarai Bayu perlahan melaju menuju gerbang rumah besar ini. Hatiku terasa campur aduk sekarang. Di satu sisi aku merindukan hangatnya sebuah keluarga, tapi sisi lain aku sudah bertekad dan memutuskan untuk tidak ikut campur dengan kehidupan keluarga ayah, hanya ingin hidup normal, menjauh
dari segala bahaya.
Pandanganku menatap ke luar jendela mobil, memperhatikan kendaraan lain melaju cepat melewati mobil kami. Sejak tadi tidak ada suara dari aku maupun Bayu, hanya ada suara mesin mobil dan bunyi klakson dari kejauhan.
Aku sadar kalau sekarang aku sedang melamun, menyandarkan kepalaku di jendela mobil. Sesekali terpejam karena pergerakkan semua benda di pinggir jalan bergerak cepat membuat kepalaku sedikit pusing.
Hingga mobil yang di kendari Bayu terhenti setelah sepuluh menit di perjalanan. Aku tidak berniat bergerak dalam posisiku saat mendengar suara pintu mobil terbuka.
Bayu keluar dari mobil meninggalkanku dengan mesin masih menyala, karena merasakan adanya kekosongan di sisi kananku yang entah mengapa membuatku tidak nyaman, maka aku segera bangkit dan memperhatikan tempat pemberhentian kami.
Mobil terpakir di sebuah parkiran luas tepat di depan supermarket besar. Banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk dari pintu itu, membawa belanjaan mereka.
Aku tidak ingat Bayu sempat menyinggung tentang dia harus berhenti untuk belanja dulu. Aku memutuskan untuk menunggu, mengingat mesin mobil masih menyala pertanda lelaki itu tidak akan lama.
Lima menit kemudian, dari pintu kaca yang terbuka otomatis di depan, sosok tubuh Bayu keluar dari sana membawa kresek. Cara berjalannya yang terlihat gagah membuatku diam-diam tersenyum kecil.
Mataku memperhatikannya yang langsung masuk ke dalam mobil. Dia tersenyum kecil dan memberikan kresek belanjaannya ke pangkuanku.
__ADS_1
“Apa ini?”
“Sesuatu yang mungkin bisa membuatku lebih baik.” Jawabnya sembari memasang sabuk pengamannya.
Aku segera membuka isi kresek yang di dalamnya ada tiga buah jeruk Sunkist, tiga coklat kacang almond, juga dua es krim cup.
“Coklat dan es krim masih bagus, tapi kenapa tiba-tiba ada sunkist?” Tanyaku bingung.
“Itu jeruk kesukaanmu.” Jawabnya singkat dan langsung menginjak pedal gas untuk bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya.
Aku tidak bisa menyembunyikan senyum lebarku, lelaki ini tidak mengatakan apapun dan langsung membelikan semua ini agar perasaanku bisa lebih baik. Dia bahkan tidak bertanya tentang obrolanku dengan ayah. Lelaki ini mengerti aku, dia akan menunggu aku untuk menceritakannya sendiri.
Bayu tahu kalau aku tidak suka pria yang cerewet untuk tahu semua urusan pribadiku. Mungkin ini salah satu kecocokan kami karena sejak dulu Bayu tidak pernah cerewet atau menuntut banyak penjelasan tentang masalahku, dia akan menungguku untuk siap berbagi dengannya.
“Terima kasih. Hanya dengan kau membelikan semua ini saja, aku sudah jauh lebih baik.” Jawabku kali ini menatapnya perhatian. Bayu balas tersenyum padaku sembari tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepalaku.
“Sebelum kita sampai ke rumahmu, aku ingin membelikan dulu makanan untuk bunda. Makanan apa yang bunda sukai?”
“Aku tidak yakin apa yang bunda sukai akhir-akhir ini, tapi—“ Bayu terdiam, berpikir keras.
Selagi lelaki ini memikirkannya, aku mulai membuka salah satu jeruk Sunkist yang aroma nya langsung tercium segar di dalam mobil.
“Baiklah, sepertinya aku tahu tempat yang cocok.”
.
..
…
“Sepertinya sudah lama sekali aku tidak datang ke sini.” Kataku tepat setelah Bayu mematikan mesin mobil di depan pintu garasi yang masih tertutup.
Saat SMA dulu, aku memang sesekali pernah main ke rumah Bayu, terakhir kali aku ingat warna cat rumah Bayu masih warna putih, sekarang cat nya berubah menjadi warna oren. Pagar dan letak tanaman yang ada di halaman depan juga di perbaharui menjadi lebih rapih dan padat.
__ADS_1
“Di rumah hanya ada Bunda, dan sepertinya sedang ada arisan.” Jawab Bayu melihat ke pintu rumah yang terbuka setengahnya. Terdengar suara ribut dan tawa-tawa perempuan dari dalam sana.
“Kemana Alisya?” Tanyaku tiba-tiba mengingat kalau Bayu punya adik perempuan yang berbeda tiga tahun darinya.
“Dia sedang sibuk menyusun tugas akhir kuliahnya. Jadi jarang ada di rumah.”
“Ayo lewat pintu belakang.” Lanjut Bayu mengajakku untuk segera turun.
Aku segera membawa makanan yang tadi di belikan Bayu dan yang khusus aku belikan untuk bunda sebelum keluar dari mobil. Lalu lelaki ini menggenggam tanganku, menariknya untuk ikut masuk ke pintu belakang rumah.
“Oh? Nak Bayu, sudah pulang!” Tiba-tiba wanita pendek dewasa dengan aura ke ibuannya berpapasan dengan kami di pintu dapur.
“Iya bi, bunda lagi sibuk ya?” Tanya Bayu tanpa berniat melepaskan genggaman tangannya padaku.
Sesaat, wanita ini melirik tangan kami yang saling bertaut, lalu naik menatap wajahku dan tersenyum lebar. “Iya, nyonya lagi ngadain arisan. Mau bibi panggilkan?”
“Engga usah! Biarin aja.” Jawab Bayu cepat. Aku melirik jam tanganku, sekarang masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Hari ini adalah pagi yang panjang lainnya.
“Kalau gitu, bibi permisi dulu.” Pamitnya melangkah melewati kami.
Aku sempat menatap punggungnya yang semakin menjauh, melangkah keluar halaman rumah hingga tarikan Bayu mengalihkanku.
Dia menaikkan kedua alisnya saat tatapanku sudah teralihkan sepenuhnya padanya. “Kenapa?”
Aku menggeleng menjawab pertanyaannya, sebenarnya aku hanya mengingat saat dulu pertama kali bertemu pembantu rumah Bayu, wanita itu terlihat sangat muda dengan tubuh yang kurus.
Lelaki ini membawaku ke lantai atas. Mempersilakan aku untuk duduk di sofa ruang tengah, ada TV dan PS juga rak-rak di samping layar TV berisi berbagai jenis buku yang sebagian sudah lusuh. Sekilas dari warna nya saja aku bisa tahu itu buku anak-anak.
Bayu pamit sebentar untuk masuk ke kamar nya yang berada agak di ujung, dia sempat cerita kalau bunda sengaja memindahkan kamar Bayu di sana karena mengingat dia jarang di rumah semenjak bekerja di kemiliteran.
Ketika aku sedang asik melihat-lihat buku bergambar dengan cerita-cerita rakyat di rak dekat TV, tiba-tiba Bayu muncul di sampingku dan menarik tanganku.
“Aku izinkan kamu untuk lihat kamarku.” Katanya sembari kami berjalan menghampiri kamarnya.
__ADS_1
...