EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 272


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


 


“KAMU!!!” Daniel melotot marah, berdiri menunjukku tapi tangan ibu sudah lebih dulu terangkat, dengan cepat, hendak menampar pipiku tapi aku berhasil menangkap tangan ibu.


 


 


“Dari pada ibu menamparku, lebih baik ibu tampar Daniel, biar dia sadar kalau sikap acuh tak acuhnya ini tidak membantunya melunasi utangnya padaku, kegagalan investasimu selama ini, kau selalu mengatakan kalau kau meminjam uang dan akan mengembalikannya padaku.” Sesaat ekspresi Daniel terlihat panik tapi dengan cepat tenang dan dia kembali duduk.


 


 


“Aku meminjam uang? Buktinya mana?”


 


 


Sekarang aku yang diam, jelas sekali tidak ada! Saat dia meminjam uangnya, dia masih dalam mode adik yang baik.


 


 


Ibu dan Daniel tertawa puas melihat reaksiku.


 


 


“Tuan putri kita selama ini tidak sadar telah di bodohi.” Ledekan ibu seketika membuat rasa hormatku padanya turun drastis. Semua perkataannya selama ini sama sekali tidak mencerminkan sosok ibu bagiku. Kalau di pikirkan lagi, sudah jelas kalau ibu benar-benar tidak menganggapku anaknya, tapi seperti beban untuknya.


 


 


Aku menghela napas panjang, berusaha menekan emosiku yang meledak-ledak. Sikap mereka tidak pernah berubah dan terus seperti ini, maka aku tidak punya pilihan lain.


 


 


“Sikap ibu dan Daniel tidak pernah berubah, selama ini kau hanya memanfaatkanku, menyalahkanku atas perceraian dengan ayah Davin, membiarkan bibi Rose yang mengurus dan membiayai sekolahku selama ini dan sekarang, ibu dan Daniel tidak tahu malu dengan mengganti semua perabotan rumah milikku. Tuntutan kalian atas hak warisan dari bibi Rose juga tidak pantas di dapatkan.”


 


 


“Apa?!” Senyum ibu menghilang, Daniel segera berdiri, berjalan cepat menghampiriku dan berdiri di samping ibu dengan tatapan galak.


 


 


Bahkan, adik kecilku yang tidak lama sebelumnya menghormatiku kini ikut mengacungkan senjatanya padaku.


 


 


“Lebih baik untuk kita agar tidak saling berhubungan lagi, ibu dan Daniel, tolong keluar dari rumahku.” Kataku tenang, menyingkir dari hadapan mereka, mepersilakan mereka menuju ambang pintu. Aku semakin merasa tenang karena melihat Lucy ada di teras, mengawasi ke dalam rumah.


 


 


 


 


“Kau!! Anak durhaka! Berani mengusir ibumu—“


 


 

__ADS_1


“Tentu saja aku berani mengusirmu, ini rumah warisan dari bibi Rose untukku. Jadi ini rumahku.” Aku memotong perkataan ibu dengan cepat, terlalu sering mendengar ibu mngucapkan penghinaan.


 


 


“Tidak lama lagi ini jadi rumahku! Kau berjanji untuk memberikan rumah ini—“


 


 


“Kapan aku berjanji? Buktinya mana?” Balasku meniru nada suara Daniel tadi.


 


 


Seketika wajah ibu memerah menahan marah, Daniel juga menggertakkan rahangnya kesal. Lalu tanpa di duga ibu melangkah mendekatiku hingga wajahnya sudah sangat dekat di depan wajahku.


 


 


“Kau-mengatakan-akan-memberikan-semua-warisan-Rose-padaku.” Setiap kata yang ibu katakan penuh penekanan, berusaha agar aku takut, tapi nyatanya, aku masih sangat tenang.


 


 


“Rupanya kau sudah berani melawanku, hah? Kau sudah merasa hebat mendapatkan suami kaya. Kau harus ingat kalau secara hukum kau masih dalam kartu keluargaku.” Ibu berbisik pelan, sangat tajam dan tidak berbelas kasih. Sorot matanya tidak menunjukkan kasih sayang untuk anaknya, dia memandangku seperti musuh.


 


 


“Suami kaya? Aku tidak pernah kepikiran seberapa banyak Bayu memiliki uang. Memang betul, secara hukum aku satu keluarga dengan ibu, tapi ibu sudah lupa ya? Aku sudah menikah. Secara hukum, Bayu lebih berhak atas aku. Lagi pula, ibu lupa tentang keluarga Danendra? Sekarang mereka sudah mengenalku, aku yakin, ayah Evano akan membantuku kalau ibu mau menuntutku atas tuduhan ‘anak durhaka’. Bagaimanapun, ayah Evano lah yang seharusnya berhak atas aku.”


 


 


“Lihat? Kau sudah sangat sombong, mimpimu ketinggian kalau Evano akan memperlakukanmu sebagai anaknya, dia pasti memanfaatkanmu, kalau tidak, untuk apa mengakui anak yang sudah dewasa terlebih sudah menikah.”


 


 


 


 


“Kakak jangan lupa kalau ibu selama ini mengurusmu—“


 


 


“Kakak? Mulai sekarang tidak usah memanggilku kakak. Kita tidak punya hubungan darah hingga aku harus merasa terhormat mendengarmu memanggil aku kakak.” Kali ini aku mengalihkan pandangan pada pemuda itu.


 


 


“Daniel, karena kau sudah memutuskan untuk membenciku dengan sikap aroganmu itu, aku tidak punya pilihan lain untuk menetapkan batasan di antara kita. Setidaknya dengan begini, aku tidak akan sungkan kalau kau berani macam-macam.”


 


 


“Anak tidak tahu diri! Kau—“


 


 


“Ibu mau menghinaku lagi? Seharusnya ibu sadar, di dunia ini ada yang namanya hukum sebab-akibat, atau hukum karma. Ibu masih berani menghinaku terus tanpa memikirkan karma yang akan ibu dapatkan?”


 


 


“Kau—kau yang akan mendapatkan karmanya! Saat itu terjadi, aku yakin, tidak akan ada yang menolongmu, bahkan Bayu sekalipun!” Setelah mengatakan itu, Ibu mengajak Daniel untuk keluar dari rumah. Mereka segera membereskan barang bawaan mereka dan melangkah keluar tanpa mengatakan apapun lagi.


 


 


Jantungku berdetak cepat, aku terdiam mematung di tempat, terngiang lagi perkataan ibu yang terakhir. Tidak akan ada yang menolongmu, bahkan Bayu sekalipun!

__ADS_1


 


 


Tiba-tiba saja aku merasakan sebuah firasat buruk.


 


 


 


 


“Nyonya, anda baik-baik saja?” Lucy sudah berada di dekatku, dia memegang bahuku pelan, ingin membangunkanku dari pikiranku sendiri.


 


 


Firasat ini, aku yakin ini bukan firasat menyesal karena aku bersikap seperti tadi pada ibu, tapi firasat tiba-tiba ini membuatku sedikit kalut, terlebih dengan semua informasi yang Talia berikan sebelumnya, ada sesuatu yang menungguku di dalam kegelapan yang perlahan mendekat.


 


 


“Aku baik.” Jawabku sembari melangkah dengan cepat untuk mengecek ruang lain. Selain ruang tamu, yang berubah juga meja makan dan kamar tamu. Ketiga ruangan itu memakai perbotan baru. Selebihnya tidak berubah, sepertinya ibu dan Daniel baru sempat mendekor tiga ruangan ini.


 


 


“Lucy, bisa tolong cek rekaman CCTV? Aku ingin melihat satu minggu terakhir.” Kataku menunjuk CCTV di ruang tamu.


 


 


CCTV yang di pasang oleh anggota tim Bayu ada empat. Di pintu gerbang, di teras, di ruang tamu dan di ruang makan. Lucy mengangguk tapi masih mengikutiku ketika aku mengernyit, ada aroma lain di ruang makan yang telah di ubah.


 


 


“Kau mencium aroma ini?” Tanyaku pada Lucy.


 


 


Wanita ini menarik napas dalam-dalam lalu mengangguk, “ini seperti aroma segera tanah basah sehabis hujan, tapi ada aroma lain yang—“


 


 


“Ini aroma daun rosmarin.” Aku mengerutkan kening, heran karena dua aroma ini sangat menyengat padahal ini adalah ruang makan.


 


 


Seketika ingatanku kembali pada kejadian penculikan di kerita yang membawaku ke sebuah desa, tempat dimana Bayu menyamar sebagai Rio.


 


 


“Kita harus mencari asal aroma ini.” Kataku segera memeriksa lemari piring dan meja, Lucy tidak berkomentar dan ikut melakukan pemeriksaan.


 


 


Tapi setelah beberapa saat, kami tidak menemukan apapun yang mencurigakan, meski perabot di ganti oleh ibu, tapi semuanya tampak normal.


 


 


 


 


...


 


 

__ADS_1


__ADS_2