
...
“Dan jangan mengkhawatirkan aku. Di sini ada Dika dan Lucy yang akan menemaniku, aku juga bukan wanita lemah yang gampang di tindas.”
“Tentu saja!” Bayu mengangguk setuju.
“Selama menunggumu, aku akan bekerja keras dan membuatmu bangga.” Bayu tersenyum lembut dan mengagguk.
“Jadi perhatikan aku terus, aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku.” Bisik ku yang kali ini mendapat senyum lebar darinya.
“Aku mencintaimu.”
“Kata-kata yang tidak akan pernah bosan kudengar.” Jawabku melangkah maju untuk berjinjit dan mengecup pipinya.
Dia menyibak rambut dari sisi wajahku dan menyelipkannya ke belakang telinga dengan lembut. “Belum pernah kubayangkan hidupku begitu lengkap. Tak pernah kusangka aku akan memiliki semua yang kuinginkan. Kau segalanya untukku.”
Kata-katanya mengisi hatiku hingga meluap. Aku mencintainya dengan cara yang takkan pernah bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Dia bagian dari diriku dan aku bagian dari dirinya.
Kukalungkan lengan ke lehernya, sembari berjinjit kepalaku bersarang di lekuk pundaknya. Memeluknya seerat yang bisa aku lakukan.
Nyatanya Bayu tidak keberatan, dia balas memelukku tak kalah eratnya, seolah kami masih dibuat rindu meski sedang berpelukan seperti ini.
“Yo! Pasangan muda kita. Kalian merasa dunia hanya milik berdua.” Suara ledekan Lifer membuat Bayu terkekeh pelan, kami sama-sama menarik diri untuk melepaskan pelukan dan melihat Lifer dan Talia berjalan mendekat.
“Sebentar lagi kita berangkat menuju bandara. Ronald dan Benny sedang di belakang mengecek perlengkapan kita. Lebih baik kita cek juga.” Ajak Lifer yang di angguki Bayu.
Keduanya kembali meninggalkan aku dan Talia untuk lima menit berikutnya. Puluhan tentara tengah berbaris menaiki truk militer hijau besar dengan perlengkapan mereka masing-masing.
Setelah itu Bayu dan tiga orang temannya itu kembali membawa tas besar mereka untuk mengucap salam pamit sekali lagi pada kami sebelum mereka ikut bergabung masuk ke dalam truk bersama yang lain.
__ADS_1
Sekali lagi, Bayu, memeluk, mengecup keningku dan membisikkan kata cinta sebelum berlari naik. Ketika semua tentara sudah masuk dan mendapat komando agar tiga truk segera meninggalkan markas. Semua keluarga yang mengantar melambai pada orang-orang hebat itu sambil meneriakkan kata-kata penyemangat.
Aku tersenyum dan mengangguk sembari melambai pada Bayu yang juga sedang balas melambai dari dalam truk. Sampai tiga truk itu menghilang keluar dari gerbang jauh di depan untuk bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya, aku masih menatap ke jalan kosong itu.
Ada kekosongan yang amat nyata dalam rongga dadaku, seolah sebagian dari diriku telah pergi sampai membuatku lemas.
Saat ini aku tidak tahu arti kekosongan ini, aku kira dia mulai membuatku menunggu kepulangannya tapi nyatanya
Tapi aku sudah janji padanya untuk selalu berdo’a dan menunggunya pulang, untuk bekerja keras agar laki-laki itu bisa bangga padaku.
Ya! Sekarang waktunya kembali bekerja!
“Icha, tentang dokter Cilia, kita bertemu nanti malam, bagaimana? Sekalian aku akan mengajak Bora.” Talia berhasil mengalihkan perhatianku. Wajah Talia juga ada kekosongan yang nyata di sana setelah mengantar Lifer berangkat.
“Oke. Kabari aja tempatnya, nanti aku kesana.”
***
“Oh? Sudah datang. Selamat pagi.” Aku mendongak mendengar suara sapaan Rima ketika sedang konsentrasi membaca email-email masuk.
“Selamat pagi.” Jawabku tersenyum padanya dan kembali menatap layar laptop.
Setelah mengantar Bayu, aku datang ke kantor tiga puluh menit lebih awal. Seperti dugaanku, tidak ada siapapun di ruangan ini.
“Ngomong-ngomong, tamu di depan, mau ketemu siapa?” Pertanyaan Rima membuatku kembali mendongak melihat keluar ruangan. Pintu kaca transparan dari dalam memperlihatkan Lucy yang sudah memakai pakaian kasual –tanpa jas hitam- duduk di meja tunggu depan.
“Itu temanku, dia akan di sini menemaniku.” Jawabku tidak yakin harus beralasan apa. Aku tidak bisa memberitahu mereka kalau 'hei! Perkenalkan dia Lucy. Mulai sekarang dia jadi bodyguard ku karena suamiku sedang pergi tugas keluar kota. Dia khawatir sekali dengan keamananku jadi ada 2 bodyguard yang akan gantian menjaga.' Jelas sekali aku tidak mungkin mengatakan itu semua.
“Oh ya, bagaimana dengan pekerjaan? Ada masalah atau hal darurat yang harus segera di kerjakan?” Aku cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan yang seketika saja membuat Rima langsung berceloteh bagaimana mereka ketika aku hadir. Intinya Yudha ikut membantu mengorganisir semua.
__ADS_1
Lalu tidak lama, semua admin telah datang dan mereka memekik senang begitu melihatku sudah ada di depan laptop.
Kesedihan yang sempat menguasaiku karena Bayu telah pergi bertugas seketika tergantikan dengan kesibukan bekerja. Untuk sesaat pikiranku tidak lagi merenung tentang Bayu atau tentang cincin yang tadi dia berikan, seharian ini aku benar-benar mencurahkan sepenuhnya perhatianku pada pekerjaan yang harus di organisir ulang karena ketidakhadiranku di selingi dengan gosip-gosip terkini tentang karyawan di perusahaan ini.
Kondisi Camila juga tampak sudah lebih baik, dia ikut tertawa ketika seseorang melontarkan lelucon tapi aku bisa melihat tatapan sedihnya masih ada di sana.
Lalu sore harinya, ketika semua telah memberikan laporan harian mereka dan satu per satu anak buahku pamit pulang, Pak Ginanjar selaku kepala cabang yang mengepalai tim marketing muncul di ambang pintu.
“Icha, ada waktu? Ayo ngobrol.” Ajaknya yang langsung aku angguki. Aku segera berdiri untuk mengikutinya ke ruangan sebelah, ruangannya, melewati Lucy yang hendak berdiri mengikutiku tapi aku mengangkat tangan mencegahnya dan dia kembali duduk di tempatnya.
“Duduklah.” Katanya sembari dia duduk di kursi putar empuk miliknya.
“Ada apa pak?” Tanyaku setelah aku duduk di kursi hadapannya.
Laptop hitamnya yang masih menyala di atas meja berada di antara kami. Ada tumpukan kertas-kertas yang sedikit berantakkan di sisi kananku.
Ruangan ini lebih dingin karena Pak Ginanjar jarang berada di ruangan. Kemudian pria paruh baya ini tersenyum kecil dan mulai meletakkan kedua tangannya di atas meja, bersidakep untuk menatapku. “Aku senang Icha sudah kembali kerja setelah sebulan terakhir ini kau selalu minta izin cuti. Apa ada masalah di rumah?”
Aku tidak sadar kalau sebulan terakhir ini banyak sekali mengajukan cuti. Mengingat lagi keadaan yang di luar kendaliku, lagi-lagi aku tidak bisa menceritakan yang sesungguhnya pada Pak Ginanjar “Ada beberapa masalah di rumah, tapi semuanya sudah beres.”
“Begitukah? Kau yakin sudah tidak ada masalah lagi?” Tanya nya terdengar skeptis dan aku tidak suka kalau dia sudah seperti ini. Artinya akan ada perdebatan sebentar lagi.
“Bapak bisa langsung to the point. Apa ada yang ingin Bapak diskusikan dengan saya?
“Yahh, banyak sekali yang ingin di diskusikan padamu.”
“Oke. Bapak bisa mulai dari awal.” Jawabku.
Senyuman Pak Ginanjar yang tadi di tunjukkan sudah surut di gantikan ekspresi kesal yang nyata, sorot matanya mulai serius dan menuduh.
__ADS_1
...