
...
“Siapkan apa saja. Kalian jangan terlalu memikirkan hal itu sekarang, nyatanya, ada orang yang ingin mencelakai keluarga Danendra adalah perkara yang lebih mendesak.” Kata suara Nenek tegas.
“Betul, makanan kesukaanku tidak mendesak, yang jelas sekarang semoga pelaku cepat tertangkap.” Aku menyetujui ucapan Nenek.
“Bagaimana kalau kami membawa nyonya menuju vila terdekat untuk beristirahat? Perjalanan kalian pasti melelahkan, dan sekarang masih jam tiga pagi.” Wanita di samping Nenek terdengar lebih bersemangat dari
sebelumnya.
“Lebih baik tunggu ayah dan yang lain.” Jawabku sebelum Nenek dan tante Kenzie menjawab.
Sekali lagi aku bisa membaca sorot tersirat kekesalan dari pancaran wanita paruh baya di samping Nenek terhadapku yang membuat dugaanku semakin yakin.
Angin kencang berhembus menerpa tubuh kami, terdengar suara samar deburan ombak di kejauhan. Apapun yang di pikirkan wanita ini terhadapku, pasti ada hubungannya dengan orang yang menelponku sebelumnya.
Tapi aku juga berharap dugaanku salah dan semua baik-baik saja. Setidaknya aku ingin merasakan liburan yang aman dan sepantasnya walau cuma satu hari.
Lalu suara ribut-ribut datang dari dalam vila, kami semua mendongak untuk melihat dua orang polisi berhasil membawa seorang pria berpakaian serba hitam di antara mereka yang berusaha untuk melepaskan diri tapi tenaga petugas polisi berhasil menaklukannya beberapa kali.
Kami berjalan mendekat mobil polisi begitu pria itu sudah di bawa untuk masuk ke dalam mobil.
“Apa yang terjadi?” Tanya ayah pada mereka.
Dua orang polisi itu sudah berhasil memborgol si pria dan menjatuhkannya di samping pintu mobil, di kerumuni oleh dua orang polisi lain dan kami semua.
“Setelah memotong saluran gas di dapur, kami menemukan dia sedang berusaha masuk ke dalam kamar terkunci yang di halangi lemari. Kita harus menunggu pemadam kebakaran datang untuk mengecek kondisi dalam vila karena kebocoran gas ini.” Jelas polisi di samping kanan pelaku.
“Jadi, apa ada orang di dalam kamar itu?” Tanya polisi di sisi lain pelaku.
__ADS_1
“Kamar yang di halangi lemari? Itu kamarku.” Kataku, menarik perhatian semua orang.
“Kamu kenal orang ini?” Aku menggeleng menjawab pertanyaan polisi, pria yang jatuh duduk di aspal itu memiliki badan besar dengan perut buncit, seolah hanya dengan dua tangan di borgol di belakang tubuhnya itu cukup melelahkan baginya karena keringat tampak membasahi wajahnya.
“Apa yang ingin kamu lakukan di kamarku?” Aku bertanya, menampilkan sikap tenang.
Pria ini mendongak menatapku, meski dia sudah tertangkap basah tapi sorot matanya tidak sedikit pun takut dan menyesal seolah kejadian ini baginya adalah hal biasa.
Lalu dia menatapku dari atas kebawah, menilai penampilanku di hadapan semua orang. Tingkahnya ini membuatku marah dan takut. Ada binar nafsu di sana.
“Aku hanya ingin mengambil hadiahku.” Dia menjawab dengan santai. Aku mengerti maksudnya, dan sepertinya semua orang di sini juga mengerti.
“Jelaskan lebih detail!!” Suara tajam polisi di samping kirinya mewakili kemarahanku.
“Aku ‘kan tadi sudah bilang.” Pria ini justru mendesah bosan. “orang itu hanya menyuruhku untuk mematikan kabel listrik, memotong saluran gas, lalu aku bisa mendapatkan hadiahnya di kamar itu.”
Aku juga ingin sekali memukulinya sampai babak belur. Aku merasa terhina dan malu karena menjadi sasaran nafsu pria ini. Aku marah kepada siapapun yang ada di balik serangan ini.
Tanganku terkepal keras, rahangku mengatup marah, jantungku berdetak sangat cepat dan kedua mataku rasanya memanas menahan gejolak emosi.
“Kalau tahu hadiahku secantik ini, aku pasti datang ke kamarmu dulu.” Dia berkedip kurang ajar padaku.
Dua polisi di kanan kirinya langsung memukul kepala penjahat ini dengan marah.
“Sudah tahu di tangkap tapi masih saja menggoda nona ini. Kamu mau hukumannya di tambah?” Pekik salah satu polisi itu dengan keras.
“Pak polisi tolong segera bawa dia, aku sudah mengirim orang ke kantor polisi untuk menuntut nya, dia akan segera sampai.” Pernyataan ayah Evano membuatku meliriknya.
__ADS_1
Dia baru saja menurunkan ponsel dari telinganya, menatap galak pada penjahat di hadapan kami. Dalam hati aku menghela napas panjang, sedikit tidak percaya ayah bisa mendapat koneksi orang di sini dan langsung menuruti permintaannya meski sekarang masih jam tiga pagi.
“Tunggu dulu! Lalu kenapa dia datang ke sini untuk mencelakai kita? Aku tidak mengenal dia.” Tante Kenzie mengingatkan kami dengan hal penting.
“Aku akan jujur, aku tidak tahu! Orang itu hanya mengirim uang padaku untuk memotong selang gas di dapur, tapi di detik terakhir sebelum masuk ke dalam vila, dia menambahkan kalau aku boleh mengambil bonusku.” Dia menatapku dengan senyum kecil. “Hadiah yang sangat cantik.”
Sebelum aku sempat bereaksi, paman Kenzo sudah lebih dulu maju dan memukul wajah pria itu dengan kepalan tangannya disusul dengan bunyi krak yang menyakitkan, seketika itu dua polisi menahan tubuhnya agar tidak
melanjutkan perkelahian.
“Berhenti menatapnya!” Pekik paman Kenzo marah.
“Kenzo! Hentikan!” Kakek Alvaro melangkah mendekati anaknya itu, menepuk bahunya dan berhasil menenangkannya “kita akan menuntutnya dan memastikan dia tidak akan keluar dari penjara.”
Tubuhku rasanya di penuhi perasaan hangat, melihat bagaimana paman Kenzo membelaku, aku merasa terhormat. Faktanya, kami baru saling kenal dalam waktu singkat tapi yang aku rasakan paman Kenzo sudah menganggapku bagian dari keluarganya.
“Kenzo, kita akan mencari tahu orang di balik pria ini.” Kali ini ayah Evano yang berusaha menenangkan adiknya, sekilas dia melirikku dan kembali menatap penjahat di depan kami “kita akan mencari tahu dengan cepat. Bayu juga pasti akan membantu. Dia tidak akan melepaskan orang yang ingin mencelakai Icha lolos lebih lama.”
Aku tersenyum kecil, merasa sangat lega dan aman. Tapi ternyata perasaan ini tidak berlangsung lama. Ketika semua orang fokus pada paman Kenzo, suara bunyi gesekan antara logam terdengar sangat nyaring di belakangku.
Tepat saat aku berbalik, wanita paruh baya yang tadi ada di samping nenek secara mengejutkan mengeluarkan sebuah pisau lipat yang langsung di arahkan ke bawah leher nenek Nella.
Aku sangat terkejut, semua orang menyadari apa yang terjadi, tiga orang pria berpakaian serba hitam hendak maju tapi tekanan yang di berikan pisau pada leher nenek semakin erat.
“Mundur!!” Teriaknya dengan mata melotot, menyala penuh kebencian.
Betul. Aku baru sadar kalau tiga pria berpakaian serba hitam ini adalah orang yang di bawa ayah sebagai tim keamanan. Bahkan dengan adanya mereka dan polisi di sekitar kami, hal penyanderaan tak terduga seperti ini tidak bisa di cegah.
...
__ADS_1