
...
“Sudah beres. Semuanya baik-baik saja, bengkak dan sakitnya akan segera hilang, yang penting untuk beberapa hari ini lebih hati-hati.”
“Terima kasih dok, kami seharusnya tidak mengganggu.” Kataku menatap pergelangan tangan kananku yang sudah dibebat memakai kain kasa. Bayu membawaku ke rumah sakit tepat ketika dokter Stefan hendak pulang karena shift nya sudah selesai.
“Tidak masalah. Aku lega sekali, kupikir keadaanmu sangat darurat tadi, karena selama ini kau datang ke rumah sakit dengan keadaan cukup parah.” Jawabnya sembari membereskan peralatan yang tadi di gunakan padaku.
Bayu yang duduk di sampingku masih diam menatap pergelangan tanganku. Pandangannya terlihat kosong seolah pikirannya sedang tidak ada di sini.
“Aku akan ingatkan sekali lagi, bahu kirimu masih basah oleh jahitan, sekarang pergelangan tangan kananmu terkilir. Jadi, bagaimana keadaanmu? Merasa pusing?” Aku menggeleng cepat saat dokter Stefan menatapku penuh perhatian.
“Tidak. Maksudku sekarang tidak, aku baik.”
“Obat yang di resepkan, di makan teratur?”
“Ya.”
“Imbangi dengan istirahat yang baik.”
“Baik dok.”
“Sekarang di luar profesiku sebagai dokter, apa yang terjadi dengan tanganmu? Belum dua puluh empat jam sejak aku melihat kalian menikah. Dan apa yang terjadi padanya? Dia lebih diam.” Dokter Stefan berbisik pelan di akhir kalimat, melirik Bayu sekilas.
“Aku hanya tidak terlalu hati-hati dengan tangan—”
“Dia terlalu bersemangat menampar seseorang sampai tangannya terkilir.” Potong Bayu tenang, dia mengerjap, mengusir kekosongan di sorot matanya dan mendongak menatap dokter Stefan.
__ADS_1
“Bukan terlalu bersemangat, tapi terlalu marah!” Koreksiku, Bayu melirikku dan menyeringai.
“Bayu adalah satu-satunya orang yang sering mencariku untuk mengobati lukanya bahkan luka kecil seperti memar akibat perkelahian dan kau adalah pasien wanita yang sering bulak balik ke rumah sakit dalam kurun waktu singkat akhir-akhir ini.” Dokter Stefan berkata sarkasme.
“Masuk akal, itu berarti kita memang pasangan yang cocok.” Gumam Bayu di ikuti senyuman puasnya.
“Jadi, Bayu sering terluka, dok?” Perhatianku tidak bisa terpecah mendengar kata ‘sering’ dari pria di hadapan kami, seketika seringaian Bayu lenyap dan aku pikir lelaki ini memberikan kode pada dokter Stefan lewat tatapannya.
Tatapanku bulak balik dari Bayu ke dokter Stefan karena ada jeda yang cukup lama sebelum dokter Stefan balas melirikku.
“Ya, entah luka akibat perkelahian, luka sayat, luka karena terkilir atau memar. Di punggung, perut dan dadanya ada bekas dari luka itu, ‘kan?” Dokter Stefan balik bertanya namun seketika wajahku rasanya mulai panas dan udara di sekitar menipis karena tatapan heran pria di depanku ini.
Ada jeda canggung di ruang ini karena aku tak kunjung menjawab, sampai dokter Stefan berdecak seolah baru mengerti. “Aku mengerti. Ya! Kalau begitu—Bayu? Kau melupakan sesuatu saat tadi siang kau kesini—”
“Uhuk uhuk!!” Aku masih menatap penuh curiga pada dua pria ini saat Bayu sengaja batuk-batuk untuk menghentikan kalimat dokter Stefan.
berdua.
“Kalau begitu, ayo kita pulang Boo, bunda sudah menunggu kita.” Sekarang giliran Bayu yang tiba-tiba berdiri mengajakku pulang.
“Bukannya sudah jelas? Dokter Stefan pura-pura melupakan sesuatu dan keluar dari ruangan untuk memberi kita waktu?”
“Apa? Waktu apa?” Bayu bertanya, pura-pura tidak mengerti yang tentu saja gagal meyakinkanku.
“Waktu untuk kau menjelaskan sesuatu padaku! Jadi tadi siang kau ke sini? Kenapa? Apa kau terluka?” Tanyaku bercampur antara khawatir dan kesal karena dia tidak menceritakan hal penting ini.
“Tidak sayang, dokter Stefan hanya sedikit berlebihan—”
“Aku tidak peduli kalau itu berlebihan sekalipun karena semua ini adalah tentangmu! Aku harus tahu juga!” Bayu menghela napas panjang, ia kembali duduk dan sepertinya sudah menyerah mencari alasan.
__ADS_1
“Seperti yang tadi dokter Stefan bilang, itu hanya memar kecil. Kau tidak perlu khawatir.”
“Kau bukan tipe orang yang datang ke rumah sakit karena memar kecil.” Kataku.
“Kenapa kau tidak bilang kalau kau terluka! Kapan? Apa yang terjadi?”
“Kejadiannya tadi siang, aku berhasil melacak keberadaaan Rey Orihara yang ada di dalam kota, aku takut dia pergi lagi jadi aku ke sana sendirian. Aku terlalu ceroboh dan buru-buru untuk menangkapnya, meski aku sudah menduga dia tidak akan muncul begitu saja jika tidak ada pengamanan yang kuat. Perkelahian tidak bisa di hindari, dia tahu kalau tentara tentu saja tidak bisa melibatkan warga biasa, jadi dia membuat orang-orang yang ada di tempat itu menghalangiku bahkan hendak memukulku. Rey menyebarkan info kalau aku adalah mafia kejam yang selalu memburunya, dia bahkan mengingatkan orang-orang itu kalau aku pasti mengaku sebagai tentara seperti yang sering aku lakukan sebelumnya untuk menipu orang lain, jadi saat aku berkata aku adalah tentara, mereka tidak percaya. Seseorang memukul tanganku saat aku akan mengeluarkan tanda pengenal, mereka pikir aku mau mengeluarkan senjata. Lalu bantuan datang dan baru lah mereka percaya. Aku sempat mengejar Rey dan berkelahi dengan pengawalnya, tapi tetap saja dia berhasil kabur. Kalau saja aku menunggu sedikit lebih lama, mungkin kesempatan kami menangkap Rey lebih tinggi karena Lifer pulang dari tugasnya dan bergegas bergabung dengan tim bantuan dari markas. Aku tidak sehebat yang kau pikirkan, tugas menangkap ******* seperti Rey selalu berhasil karena kami melakukannya berempat, kalau aku sendirian, aku tidak banyak peluang.” Bayu bercerita panjang lebar yang aku dengarkan penuh konsentrasi.
“Tentu saja karena kalian berempat adalah tim. Untuk menangkap tim Rey, kau harus melawannya dengan kerja sama tim juga. Tidak hanya dalam kasus criminal saja, tapi bahkan kasus sederhana di dalam perusahaan, kalau tidak ada kerja sama tim admin di kantorku, aku juga tidak sehebat yang kau pikirkan.”
“Benar! Aku bahkan melupakan pengertian sederhana itu, tim lawan tim akan seimbang. Ck, bodoh sekali! Aku terlalu terburu-buru ingin menangkapnya!”
“Jadi, coba lihat bagian mana yang sakit?” Tanyaku mencoba sedikit mengalihkan ratapan penyesalannya.
“Di sini.” Bayu menunjuk lengan atas sebelah kiri yang tertutup kemeja hijau lumutnya.
“Apa sakit? Apa yang di katakan dokter Stefan?” Tanyaku meringis pelan membayangkan sakit ngilunya di pukul.
“Katanya aku beruntung karena tanganku tidak patah setelah tahu aku di pukul oleh patung pahatan kayu—”
“APA?? SIAPA YANG MEMUKULMU?? KATAKAN PADAKU!!” Aku menjerit marah sembari berdiri gelisah.
“Ini berlebihan! Bagaimana mungkin ada orang yang tega seperti itu! Satu lawan banyak orang dan punya kesempatan untuk memukulmu??”
“Orang itu sudah di tangkap dan aku sudah menuntutnya, Boo.” Bayu menarik tanganku lembut agar aku kembali duduk dan mengusapnya untuk menenangkan emosiku, tapi itu percuma, aku masih marah besar! Ingin rasanya sekarang juga menemui orang itu dan balas memukulnya.
Tidak peduli kalau pergelangan tangan kiriku yang mungkin akan terkilir pada akhirnya.
...
__ADS_1