EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 210


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


 


 


 


“Cha, kamu ingat Brigia Mitaharani? Panggilannya Gia!” Prof Bora langsung memberitahuku karena melihat ekspresiku yang masih menatap bingung gadis ini. Mendengar namanya tiba-tiba seperti ada lampu yang di nyalakan dalam kepalaku.


 


 


“Benar! Aku ingat sekarang. Kau gadis yang bersamaku saat penculikan di kereta api itu, ‘kan?” Gadis cantik berambut hitam panjang ini mengangguk semangat dan segera duduk di samping prof Bora. Dia gadis yang ada bersamaku saat penculik itu membawa kami ke desa. Dia terlihat berbeda, karena Gia yang ada di hadapanku ini terlihat lebih rapih di bandingkan saat itu.


 


 


“Sudah lama sekali aku ingin bertemu ka Icha, tidak sengaja melihat foto pernikahan yang di unggah prof Bora tadi pagi. Akhirnya aku menemukan ka Icha.” Ceritanya singkat.


“Gia murid di jurusan keperawatan di kampus lain, aku tidak tahu kalau ternyata dia juga menjadi korban penculikan di kereta karena markas besar meminta mereka untuk merahasiakannya.” Bisik Prof Bora di akhir kalimat. Aku mengangguk mengingat lagi saat kejadian itu, berita tidak menjelaskan tentang kesaksian korban, mereka menjelaskan pada media kalau bukan waktu yang tepat untuk meminta keterangan dari para korban.


“Orang tua anak-anak itu sempat menuntut dan ingin semua kejadian itu di sebar luaskan pada media tapi setelah berunding, akhirnya mereka setuju untuk merahasiakannya.” Tambah Gia.


“Tapi bagaimana keadaan anak-anak itu? Apa mereka baik-baik saja?” Tanyaku khawatir.


“Meski anak-anak itu terguncang, tapi aku dengar mereka sudah mendapat pengobatan konseling.” Jawab Gia.


 


“Lalu bagaiamana denganmu? Kau baik-baik saja, Gia?”


“Ya. Aku baik. Meski kejadian itu tidak akan pernah bisa di lupakan, tapi aku sudah baik. Aku juga dapat pengobatan konseling.” Gia tersenyum untuk meyakinkanku.


“Syukurlah.”


“Tapi ngomong-ngomong ada hal penting lain yang ingin Gia tanyakan.” Tiba-tiba ekspresi Gia dan prof Bora berubah serius.


“Ada apa?” Gia segera membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah tas kecil yang aku kenali.


“Gia ingin mengembalikan tas ini. Saat itu Gia tidak sengaja membawanya karena di dalamnya ada infus untuk Sari.”


“Ya! Aku ingat. Terima kasih.” Kataku masih menatap tas itu sembari berpikir keras bagaimana caraku mengembalikan tas ini pada dokter Cilia, terakhir kali aku bilang padanya kalau tas itu hilang di hutan dan menggantinya dengan yang baru, sengaja berbohong karena tidak mengharapkan akan di kembalikan.


Namun pandangan prof Bora berubah khawatir, tangannya meraih tanganku dan bertanya. “Apa kamu sakit, Cha?”


“Maaf, mungkin ini barang pribadi, tapi Gia menemukan ada citalopram di dalamnya. Alasan ini lah Gia mengajak prof Bora untuk ikut.” Bisik Gia yang juga berubah khawair menatapku.


Aku mengerutkan kening. “Cilo—apa?”


“Citalopram. Ini obat resep.” Jawab Prof Bora.


“Obat apa itu?”


“Jadi ini bukan obat kamu?”

__ADS_1


“Sebenarnya tas itu bukan punyaku.” Aku menjawab pertanyaan prof Bora. Tidak bisa kalau harus berbohong.


“Tapi tas itu di bawa karena memang untuk jaga-jaga kalau harus di gunakan untukku. Maksudku, saat kejadian itu aku sedang sakit.” Kedua wanita di depanku ini justru saling pandang seolah tidak tahu harus memulai dari mana.


“Jadi kamu sedang sakit, Cha? Sampai harus mengkonsumsi citalopram?” Tanya prof Bora terlihat hati-hati mengucapkannya. Aku diam sesaat, berpikir, menimbang-nimbang haruskah menjawabnya? Tentu saja aku tidak ingin menjawab mengingat masalah ini hanya Bayu yang tahu.


 


 


 


 


 


 


 


“Tapi apa citalopram?”


“Kamu tidak tahu? Citalopram adalah obat untuk mengobati depresi, obat ini tergolong obat SSRI atau selective serotonin reuptake inhibitor yang berfungsi mengembalikan keseimbangan serotonin dalam otak sehingga meningkatkan energi dan perasaan seseorang. Kamu harus benar-benar memperhatikan dosis dan efek samping jika mengkonsumsi obat ini. Jika citalopram di konsumsi terlalu banyak, akan menyebabkan hilang ingatan, kesadaran kacau, bahkan koma sampai kematian. Obat ini hanya diresepkan oleh dokter.” Aku terdiam mendengar penjelasan prof Bora. Dokter Cilia tidak pernah meresepkan obat itu padaku.


“Jadi kamu enggak tahu?” Aku menggeleng kaku menatap prof Bora yang masih berusaha mendesakku berkata jujur, tapi mungkin karena melihat ekspresi kagetku, dia menatapku sesaat dan menimbang-nimbang apa aku jujur atau tidak, lalu dia menghela napas lega.


“Syukurlah kalau memang ini bukan obat milikmu.” Katanya. Ketika prof Bora dan Gia mulai memanggil pramusaji untuk memesan minuman, pikiranku masih bertanya-tanya apa mungkin dokter Cilia bermaksud untuk memberikan obat itu? Mengingat terakhir kali kondisiku yang menurun. Tapi dia tidak pernah mendiskusikan denganku tentang penggunaan obat baru.


 


 


 


“—Cha? Jadi gimana?”


“Aku tanya, gimana kalau kita sekalian makan malam? Kamu enggak lagi buru-buru, ‘kan?”


“Enggak! Aku tunggu Bayu jemput, tapi sepertinya dia masih lama.” Prof Bora mengangguk dan menyerahkan buku menu padaku, selanjutnya kami bertiga tidak lagi membahas tentang obat itu ataupun tentang kejadian penculikan. Sepertinya pikiran Gia dan aku sama, kami tidak ingin mengingat itu dan prof Bora yang mengerti tidak memaksa kami.


 


 


 


 


***


 


 


 


 


 


 


 


 


“Kalau sekarang aku mengatakan dunia itu sempit, sepertinya memang begitu.” Aku mengangguk, memandang ke arah yang sama dengan prof Bora, dimana Gia baru saja pamit pulang duluan setelah makanan yang kami pesan habis. Gadis itu sekarang sedang berjalan di lapangan parkir tepat di depan jendela dekat tempat duduk kami. Lalu tubuhnya menghilang di antara mobil-mobil yang terpakir.

__ADS_1


“Kamu mulai kerja lagi, Cha? Enggak minta cuti? Padahal kalian baru menikah.” Aku menggeleng, sedikit cemberut. Sudah sering sekali hari ini orang-orang merekomendasikan cuti.


“Tentang penemuan sky di vila, bagaimana perkembangannya?” Dia berbisik pelan dan hati-hati. Sekali lagi aku menggeleng.


“Aku belum dapat kabar apapun, seharian ini banyak sekali pekerjaan di kantor.”


“Aku dengar dari Talia, para tamu memang tidak suka mereka di tanyai pagi ini, beberapa dari mereka sempat ingin datang menemui kalian berdua, membuat keributan, tapi ayah Rasha telah mengamankan vila agar tidak ada yang bisa keluar dan ayahmu yang berbicara untuk menenangkan mereka.”


“Begitukah?”


“Bunda Kirana sempat marah karena mereka justru membiarkan kalian berdua meninggalkan vila dan tidak menjelaskan secara langsung pada para tamu.” Sebelum aku bisa menanggapi ucapan prof Bora, ponselku yang ada di atas meja bergetar ada panggilan masuk.


 


 


“Ini dari Talia.”


“Ayo angkat!” Wanita ini berseru semangat.


 


 


“Halo.”


“Icha, apa kamu bersama Bayu?”


“Apa? Bayu? Tidak. Aku justru sedang menunggu dia datang.”


“Dia belum datang? Ya memang aku juga dengar dari orang kantornya kalau Bayu sudah meninggalkan markas, sebelumnya dia sempat memintaku mengabarinya secepat mungkin jika laporan tentang barang yang di temukan di vila keluar.”


“Ada perkembangan apa? Sudah menemukan pemiliknya? Barang itu beneran ‘langit’?” Tanyaku berbisik pelan, berhati-hati menyebut tentang sky. Prof Bora juga terlihat sangat penasaran, dia mencondongkan tubuhnya ke depan agar lebih dekat.


 


“Setelah pemeriksaan lab, itu bukan barang seperti yang kita duga. Meski bentuk dan warnanya sama persis tapi itu hanya obat yang di golongkan dalam kegunaan psikotropika yaitu antidepresan.”


“Antidepresan?”


“Jangan-jangan barang itu juga citalopram??” Aku menatap prof Bora melotot, terkejut.


“Itu Bora? Kau sedang bersamanya? Ya! Bora menebaknya dengan benar. Komposisi dalam barang ini ternyata mirip dengan citalopram.” Aku mengangguk sama terkejutnya dengan prof Bora yang masih diam kaku menatapku.


“Apa itu benar antidepresan? Bukan antipsikotik atau anti-anxiety agents, mood stabilizers atau bahkan mungkin stimulan?” Tanya wanita di hadapanku ini masih berusaha meyakinkan.


“Hasil pemeriksaan lab adalah antidepresan.” Talia di ujung telpon mendengar pertanyaan prof Bora tanpa perlu aku sampaikan padanya.


“Katanya, hasil lab adalah antidepresan.” Aku menyampaikan jawaban.


“Icha, ini tidak mungkin cuma kebetulan, ‘kan?”


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2