
...
“Maaf menyusahkan dokter, terima kasih mau menemaniku.”
“Aku senang bisa membantu. Semuanya demi kesembuhanmu juga, jika ada apa-apa jangan sungkan untuk meminta bantuanku ya.”
Aku tersenyum kecil melirik Dokter Cilia yang sudah duduk tenang di hadapanku. Kami berdua berada di dalam kereta.
Setelah aku pingsan dua hari lalu, Dokter Cilia mengatakan padaku jika traumaku semakin dalam. Salah satu metode penyembuhanku adalah aku jangan lagi berhubungan dengan ibu hingga kondisiku sehat dan hal ini perlu waktu.
Langkah pertama adalah Aku memutuskan untuk memberikan semua warisan bibi Rose yang selama ini membuat ibu sangat agresif padaku. Apapun peraturan yang di ajukan pengacara nanti karena aku melanggar isi wasiat, aku tidak mau ambil pusing lagi. Jika perlu aku akan menjual semuanya dan memberikan semua uang itu pada ibu dan Daniel.
Bibi Rose pasti mengerti keadaanku. Aku ingin sembuh, aku ingin kembali bekerja. Aku ingin melanjutkan kehidupan yang lebih normal. Lalu tentang perkataan Ibu terakhir kali, yang membuatku ragu tentang siapa aku, aku akan mencari tahu nanti saat aku bisa berdiri sendiri.
Saat ini aku memerlukan seseorang untuk berbicara, suaraku masih belum terdengar. Tepat satu minggu aku belum mendengar suaraku sendiri dan hal itu membuatku merasa semakin kesepian di dunia ini.
Kereta yang membawa kami perlahan mulai melaju meninggalkan stasiun. Aku berencana membawa dokter Cilia ke sebuah bank jauh di luar kota ini. Tempat aku menyimpan semua dokumen yang berhubungan dengan wasiat bibi Rose. Tempo hari ibu marah padaku karena tidak menemukan sertifikat tanah di rumah warisan bibi yang aku tempati.
Sebelum aku memutuskan pergi menggunakan kereta, aku sempat mengabari pengacara pak Seno untuk membantuku mengambil kembali sertifikat tanah di Bali yang hendak ibu jual melalui pesan singkat. Setelah mendapat jawaban oke, barulah aku benar-benar memutuskan untuk mengambil semua sertifikat tanah.
Berharap dengan semua yang aku rencanakan ini berjalan lancar.
.
..
…
Aku membuka mataku perlahan begitu mendengar suara operator kereta memberitahu rencana pemberhentian kereta untuk istirahat di stasiun selanjutnya. Tujuanku masih ada lima jam perjalanan dan ini baru setengah jalan.
__ADS_1
Sejak kereta ini berangkat, aku yang duduk di samping jendela selalu merasa mengantuk dan lelah, dokter Cilia yang mengerti keadaanku tidak banyak berbicara, wanita itu tampak asik dengan laptop dan ponselnya atau sesekali dia membaca buku.
Aku menatap keluar jendela, pohon-pohon seolah berlarian mengejar kereta. Pemandangan siang ini terlihat berawan mendung, seperti akan hujan. Aroma udaranya tercium segar saat kereta ini berjalan melewati tanah seluas mata memandang dengan rumput hijau yang indah.
Perasaanku lebih baik sekarang, aku senang bisa melihat pemandangan ini. mungkin jika karetanya bisa berhenti, aku ingin pergi kesana. Hanya diam menikmati hembusan angin dan aroma tanah yang khas.
Ketika pemandangan tergantikan oleh pepohonan yang lebat, aku berbalik menatap dokter Cilia yang serius membaca buku. Wanita di hadapanku ini tidak terganggu sama sekali walaupun terkadang gerak kereta mengganggu konsentrasinya.
Kemudian mataku menangkap para penumpang di sekitarku. Sebelumnya aku tidak begitu menyadari jika ternyata ada segerombolan anak-anak memakai kaos seragam mereka sedang tertidur di kursi sampingku. Ada 10 orang anak bersama ibu mereka yang menemani.
Tanpa sadar aku tersenyum kecil memperhatikan hampir semua anak itu tertidur dalam pelukan ibunya. Mereka tampak tenang dan tidak terganggu sekali. Anak-anak itu tahu dengan jelas mereka akan aman di pelukan sang ibu. Semua anak pasti merasakan itu.
Hanya saja mungkin tidak denganku, aku hampir lupa bagaimana rasanya mendapat pelukan seorang ibu. Ahh memikirkan tentang bagaiamana ibu selama ini membuat aku tiba-tiba kesulitan bernapas. Aku menepuk pelan dadaku sembari memejam mata. Menghembuskan napas perlahan agar detak jantungku kembali normal.
Aku merasakan dokter Cilia menyentuh bahuku dan berkata. “Tenanglah. Ayo bernapas pelan-pelan.”
Aku mengikuti arahannya saat menghembuskan napas, saat sudah mulai tenang aku membuka mata untuk mendapati dokter Cilia tengah menatapku dengan sebuah botol air minum di tangannya.
Aku menggeleng pelan dan tersenyum kecil padanya sebagai jawaban bahwa aku aku akan baik-baik saja. Maksudku hari ini meskipun aku merasa tubuhku lelah sekali tapi tetap saja aku bias melanjutkan perjalanan ini.
“Makanlah roti ini. Aku akan mencari nasi. Kamu belum makan siang ini, dan tadi pagi juga sepertinya hanya makan
satu potong roti.”
Aku menggeleng cepat, mencegah dokter Cilia hendak berdiri. Nafsu makanku selama seminggu ini turun drastis, aku benar-benar tidak mood makan di kereta.
“Tidak! Kamu harus makan yang lain. Tubuhmu akan semakin lemah jika seperti ini. Kamu tidak mau kan aku harus
menyuntikkan infus untuk makananmu? Percaya atau tidak aku membawa kantung infus di sini.” Dokter Cilia mengancamku sambil menunjuk tasnya. Aku tidak bias membantah dan hanya menghela napas pelan.
__ADS_1
Merasa dia sudah menang, wanita ini segera berdiri sepertinya berniat mencari pramugari kereta di gerbong lain.
Sesaat aku menatap kepergiannya bersama dua wanita paruh baya lain mengikutinya dari belakang.
Sepeninggalan dokter Cilia, aku refleks menyentuh leherku. Mencoba untuk berbicara tapi tetap tidak ada suara
dari sana. Mencoba berteriak sekuat tenaga tetap tidak bisa justru sekarang tenggorokkanku terasa perih.
Aku menghela napas pelan, kepalaku bersandar ke jendela tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar aku bisa
sembuh. Aku tidak ingin seperti ini. Lalu dari ekor mataku, aku melihat seorang anak kecil yang duduk di sampingku ini memperhatikanku.
Aku meliriknya dan memperhatikannya, kami sama-sama terdiam. Ketika anak-anak lain tampak sudah bangun dan sedang bercengkrama dengan ibu mereka masing-masing, anak itu hanya sendirian dan masih diam.
Kemudian dia berdiri dari tempatnya duduk, mendekatiku dan tiba-tiba menyodorkanku sebuah permen. Aku yang bingung dan sedikit kaget hanya menatap wajah gadis ini dan tangannya berkali-kali. Karena tidak diberikan respon cepat, anak ini menyimpan permennya di telapak tanganku dan dia berbalik kembali ke tempatnya sendiri.
Aku tertawa kecil memperhatikannya, lucu sekali. Tidak ingin membuatnya kecewa, aku memakan permen pemberiannya saat dia kembali menatapku ketika sudah duduk di tempatnya.
“Terima kasih.” Aku hanya menggerakkan mulutku, gadis itu mengangguk dan tersenyum mengerti ucapanku.
Aku tidak sadar apa yang terjadi, tiba-tiba pintu dari gerbong di arah belakangku terbuka keras dan cukup kasar.
Semua orang di dalam gerbong ini terlonjak kaget melihat ke sumber suara, begitupun denganku. Terdengar suara tembakkan diikuti suara jeritan orang-orang.
Jantungku berdetak cepat dan tubuhku terasa kaku melihat lima orang pria membawa pistol berteriak mengancam orang di dalam gerbong ini untuk diam di tempat masing-masing. Belum reda kekagetanku, dari pintu gerbong lain muncul dua orang pria yang sama membawa pistol laras panjang di tangan mereka.
“JANGAN BERGERAK! DIAM DI TEMPAT MASING-MASING!!”
__ADS_1
...